CLBK - Cinta Luar Biasaku
CLBK - Cinta Luar Biasaku
Author: Ayastoria
CLBK #1

...

Waktu pertama kali

Kulihat dirimu hadir

Rasa hati ini inginkan dirimu

Hati tenang mendengar

Suara indah menyapa

Geloranya hati ini tak ku sangka

Rasa ini tak tertahan

Hati ini slalu untukmu

Terimalah lagu ini dari orang biasa

Tapi cintaku padamu luar biasa

Aku tak punya bunga

Aku tak punya harta

Yang kupunya hanyalah hati yang setia

Tulus padamu

Hari-hari berganti

Kini cintapun hadir

Melihatmu memandangmu bagai bidadari

Lentik indah matamu

Manis senyum bibirmu

Hitam panjang rambutmu anggun terikat

...

Nisa tersenyum menatap bingkai foto berwarna biru itu. Foto yang diambil 5 tahun lalu, saat ia masih memakai seragam SMA. Masa-masa indah yang tidak akan mungkin terulang lagi.

Lalu pandangan mata Nisa beralih menatap seseorang yang berdiri di sebelahnya. Mukanya terlihat tengil tapi hatinya baik. Dia cinta pertama Nisa dan sahabat hidupnya.

Namanya Argani Biantara.

Kira-kira sudah 3 tahun ini Nisa tidak bertemu dengan Arga. Dua tahun mereka pacaran dan setelah lulus sekolah Nisa pindah ke Surabaya, ia kehilangan kontak dengan Arga. Hubungan Nisa dan Arga juga tidak jelas. Tidak ada kata putus ataupun break. Nisa pernah sekali menghubungi nomer Arga tapi sayangnya sudah tidak aktif lagi. Nisa bener-bener kehilangan Arga.

Menghela nafas pendek dan kembali meletakkan bingkai foto itu. Dua detik setelah Nisa berdiri dari tempat duduknya, benda keramat yang tergelatak di atas meja berdering nyaring.

Untuk kedua kalinya Nisa menghela nafas pendek dan membuangnya cepat. Ia hafal betul siapa yang menelponnya jam 12 siang ini.

"Ya, Ma.." seru Nisa sedikit lemah.

"Kok gitu jawabnya, Nis? Kamu nggak suka Mama nelponin kamu?"

Nisa membuang nafas untuk yang kesekian kalinya. "Nisa lagi banyak kerjaan, Ma."

"Mama tau, makanya itu Mama nelfon kamu. Jangan lupa makan, yang banyak. Minum susu sama vitamin--oh iya buahnya dimakan setengah jam sebelum makan nasi!"

"Iya, Ma---"

"Awas kalo Papa Mama datang kamu masih kayak tengkorak berjalan!" ancam Kania, Mama Nisa yang super protektif.

"Ma, sadis banget deh sama anak sendiri. Masa dikatain tengkorak berjalan?" protes Nisa tidak terima.

"Trus apa namanya? Badan kurus kering kayak nggak keurus gitu. Padahal kalo mau, kamu bisa loh Nis membeli seluruh restoran yang ada di Surabaya."

Nah kan Mama mulai lagi. Kalo menyangkut soal pola makan selalu bawa-bawa hal yang aneh-aneh. Nisa mendumel dalam hati.

"Kalo Mama terus nelpon, kapan Nisa makannya, Ma?"

Seketika terdengar suara tawa dari seberang sana. Nisa kangen sekali dengan suara itu walaupun Kania terlalu kelewat protektif tapi sebenarnya beliau sayang sekali sama Nisa.

"Makan apa kamu siang ini?"

"Mendung-mendung gini pengennya ngebakso, Ma---"

"JANGAAAAAN!!!!" teriak Kania sesaat setelah mendengar kata Bakso yang Nisa sebut. "Itu makanan apaan, Nis? Mana ada gizinya? Kuahnya juga terlalu banyak micin trus baksonya nggak higienis. Buatnya di pasar tradisional belum lagi nanti kalo ditambahin Borax gimana?"

"Ma. Mama ini ngomong apaan sih? Jangan suudzon ah!"

"Kok Mama yang disalahin? Kamu itu harus makan makanan yang bergizi, terjamin kebersihannya. Jangan suka jajan di pinggir jalan ah, Mama nggak suka." putus Kania.

"Iya-iya!" jawab Nisa pada akhirnya.

"Ya udah Mama mau video call sama kamu. Mau liat makan siang kamu!"

"Astaga Mama. Jangan lebay ah. Udah ya, Ma. Aku mau makan dulu, satu jam lagi aku meeting nih."

"Tapi janji ya jangan makan bakso!"

"Iya, janji. Udah dulu ya, Ma. Sayang Mama. Assalamualaikum!"

"Sayang Nisa. Wa'alaikumussalam."

Huft! Nisa membuang napas pendek.

Itulah Kania, ribet sekali kalau berhubungan dengan makanan. "Bisa jadi wartel berjalan kalo Mama telpon dan membahas menu makan gue."

...

"Oke semuanya. Rapat siang ini selesai dan silahkan kembali ke ruangan masing-masing!"

Sekitar 7 orang yang ada di dalam ruangan itu mengangguk serempak dan langsung bergegas meninggalkan ruang rapat saat Nisa kembali duduk di kursi hitamnya.

"Nis, lo kurusan deh akhir-akhir ini." celetuk Mila tiba-tiba, sekretaris yang sudah mengabdi selama 3 tahun ini di kantor Nisa.

Mood Nisa masih belum baik dan kali ini Mila membuat mood Nisa semakin memburuk. Dengan gerakan kasar, Nisa menutup laptop biru miliknya dan menatap jengah ke wajah Mila.

"Kalian kenapa aneh gini, sih?" seru Nisa nggak terima. Mila malah melongo dengan kening mengkerut dan alis saling bertautan. "Hobi banget ngomentarin body gue? Tadi Mama dan sekarang lo, Mil. Kerjaan lo emang udah beres semua sampe koment soal body gue?"

"Nisa?"

Sesaat Nisa sadar. Apa yang ia ucapkan salah. Nisa memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang. Tidak seharusnya Mila menjadi pelampiasan amarahnya. Tapi Nisa merasa sebel, kenapa mereka selalu berkomentar mengenai bodynya.

Setelah agak tenang, Nisa membuka mata dan mendapati Mila masih menatap heran ke arahnya.

"Sorry!" ucap Nisa pelan. Mila mengangguk tanpa menjawab. Nisa berdiri sambil merapikan blazer abu-abunya. "Dua puluh menit lagi lo ke ruangan gue. Gue tunggu!"

Mila masih tidak menjawab dan Nisa bergegas keluar. Ia butuh sesuatu untuk meredam emosinya. Begitu masuk ke dalam ruang kerja, Nisa langsung menuju ke ruangan yang ada di pojok kanan belakang.

Smooking Room.

Memilih duduk di sudut ruangan, Nisa mengambil obat penenang dari balik saku blazernya, membuka bungkusnya dan mengambil sebatang rokok lalu mengapitnya di antara bibir tipis merah miliknya.

Hanya butuh beberapa detik saja ujung rokok itu sudah menyala. Dengan nafas kuat, Nisa menghisap benda kecil itu hingga kepulan asap keluar dari mulut dan lubang hidungnya.

Rasanya nikmat dan tenang.

Pandangan mata Nisa menatap ujung rokok yang menyala dan sedikit mengeluarkan asap. Perlahan memori Nisa berkelana. Mengembara ke masa silam dan bayangan wajah Arga seketika melintas.

Senyum itu, tatapan mata teduh itu semuanya terekam jelas dalam memori Nisa. Jujur, Nisa sangat merindukan sosok Arga. Andai saja pekerjaan ini bisa Nisa tinggal, ia ingin pergi ke Jogja untuk mencari Arga. Nisa bisa datang ke rumah Arga dan menemui orang tuanya.

Silaturahmi, itu alasan yang tepat menurut Nisa.

Nisa sedikti terhenyak dari lamunannya saat benda pipih itu berdenting beberapa kali. Dengan gerakan malas Nisa merogoh saku blazer dan membaca beberapa notif yang masuk.

Kening Nisa mengernyit saat membaca sebuah notif di Instagram.

ArgaBian meminta untuk mengikuti Anda.

Untuk beberapa detik Nisa tercengang. Nama itu begitu familiar dan tidak asing buat Nisa. Matanya mengedip beberapa kali sebelum akhirnya Nisa membuka profil miliknya.

Namun sayangnya, akun itu terkunci dan Nisa hanya bisa melihat foto profilnya yang tidak begitu jelas. Foto seorang laki-laki dengan posisi berdiri membelakangi kamera.

Apa ini Arga? Pikir Nisa.

Arga yang selama ini Nisa rindukan?

...

Surabaya, 23 Januari 2021

...AyaStoria...

DMCA.com Protection Status