Sweet Passion
Sweet Passion
Author: Pena Indah
Gea Gladys

Seorang gadis periang dan pekerja keras bernama Gea Gladys. Nama itu yang ada di gelangnya saat ia masih bayi merah. Umurnya 18 tahun bulan depan, Ia sekolah di salah satu sekolah ternama di Kotanya, kelas 12 dan salah satu murid paling cerdas.

Jangan tanya siapa orang tuannya, di mana orang tuanya. Mengapa ia tak memiliki orang tua? Karena ia hanyalah anak angakat dari pasangan Kakek Nenek renta dan memiliki seorang Kakak angkat bernama Dita.

Mengapa tidak tinggal bersama orang tuannya?

Ya! Entah dibuang atau hilang saat masih masih bayi. Gea di temukan pertama kali oleh sepasang Kakek Nenek itu di depan toko saat hujan deras serta petir menyambar. 

Kakek angkatnya hanyalah pensiunan perwira yang tidak di akui lagi oleh negara (miris). Mereka hanya hidup dengan hasil jualan Neneknya sebagai penjual gorengan, uang pensiunan Kakeknya pun hanya cukup untuk membayar kuliahnya Dita.

Karena itu Gea terpaksa harus bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Senin sampai rabu, Gea akan ikut angkat-angkat di toko besi. Kamis sampai sabtu ia mengamen dan minggunya ia harus ikut borongan proyek. Tubuhnya memang kecil, namun sejak kecil hidupnya penuh dengan perjuangan.

Kakeknya pernah berkata padanya, "Jika kita ingin mendapatkan apa yang kita ingin dan di hargai seseorang, maka kita tidak boleh lelah untuk berjuang." Kakek angkatnya meninggal 5 tahun lalu, dan Neneknya baru meninggal 3 bulan lalu karena sakit, mungkin juga karena faktor usia.

Gea sampai sekarang tidak pernah berharap akan bertemu orang tua kandungnya lagi. Dalam benaknya merekalah yang harus mencarinya. Akan tetapi, Neneknya selalu berkata, "Bagaimanapun keadaan orang tua kandungnya, Gea harus menghormatinya, memaafkannya karena sudah menelantarkannya. Gea juga harus berusaha ikhlas dengan apa yang sudah berlalu." itu kata Neneknya sebelum meninggal. 

Ada keburukan yang dilakukan Gea dari kecil sampai sekang. Gea ini juga sering berkelahi, sejak kecil ia hanya bermain dengan teman laki-laki. Bahkan sampai di juluki jagoan di kampungnya. Meskipun begitu, ia tetap menjadi anak baik untuk Kakek dan Neneknya.

-----------------------

Hari ini hari Senin, saatnya bagi Gea semangat bersekolah. Ketika di jalan, tidak sengaja ia melihat seorang wanita, yang mungkin seumuran dengan Kakaknya, yakni Dita, sedang kebingungan di pinggir jalan.

"Ini memang sudah hampir telat. Tapi, aku kok nggak tega, ya ... dengan, Kakak itu." gumamnya. 

Karena memang merasa tidak tega, Gea pun menghampirinya. Dalam pikirannya, bagaimana jika dirinya ada diposisi wanita itu jika tidak ada yang menolongnya, pasti akan merasa kebingungan. 

"Kakak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Gea ramah. 

Wanita itu melihat Gea dari ujung rambut hingga ujung kaki. Entah apa yang dipikirkan wanita itu tentang Gea. Hanya saja, mungkin wanita itu tidak yakin jika ada orang yang mau menolongnya. Awalnya malah Gea sendiri juga merasa curiga, namun ia yakin  bahwa wanita itu, saat ini memerlukan bantuannya.

"Em ini, lho, saya kan baru disini, mau pulang tapi tas Kakak tadi di rampok. Ponsel dan dompet saya ada di tas itu, jadi bingung mau pulang nggak ada ongkosnya," ungkap wanita itu dengan wajah murung dan kebingungan. 

Uang saku Gea tidak banyak. Hanya sisa dua lembar sepuluh ribuan saja. Ia terus berpikir, jika uang itu ia berikan kepada wanita malang itu, maka dirinya tidak bisa jajan hari itu juga. Namun, jiwa sosial Gea meronta-ronta, wanita itu pasti kebingungan sekali. Ia harus membantunya, ia bisa cari uang lagi nanti.

"Ayo, kak, ikut aku. Di sana kan ada tukang ojek, nanti saya yang bayarin. Tenang saja, kebetulan beberapa a tukang ojek di sana, saya kenal, kok." tunjuk Gea. 

"Tapi …." wanita itu masih ragu. 

Tanpa basa basi lagi, Gea menarik tangan wanita itu, dan membawanya ke ojek pengkolan, menghampiri Pak Jono (tukang ojek) .

"Pak, ini tolonglah saudara saya, ya. Ini uangnya, saya sudah telat eh. Antar saja kemana dia akan pergi!"  Gea memberikan dua lembar sepuluh ribuan itu ke Pak Jono.

"Sampai jumpa, aku sekolah dulu, ya .... sudah telat, nih!" seru Gea melambaikan tangannya ke wanita itu. Gea terburu-buru karena gerbang sekolah sudah hampir ditutup oleh security kesayangannya. 

Mengapa Gea menyebutnya kesayangan? Karena beliau selalu saja membantunya saat dirinya mengalami kesulitan. Semua keluarga security itu sangat baik kepadanya. Ada dua security di sekolah itu yang sangat baik kepada Gea. 

"Woo ...  anak nakal kamu, ya. Telat terus, cepat masuk, guru tampan-mu sudah masuk, lho!"  security itu menjewer telinga Gea. 

Guru tampan yang di sebut Pak Rohim (nama dari security itu), adalah guru magang yang baru beberapa waktu lalu masuk ke sekolah. Beliau masih sangat muda masih kuliah di mana nanti Gea juga ingin kuliah di tempat yang sama. 

Karena sudah sangat telat, Gea berlari sangat kencang dengan sekuat tenaga. Senin memang jadwalnya upacara, dan sudah di mulai. 

Ia akan di hukum karena terlambat. Gea menambah kecepatan berlarinya menuju kelas secepat mungkin. Masih harus mengambil topi dan menaruh tasnya di kelas dulu. Ia sering kali menaruh topinya di laci kelas, agar tidak tertinggal di rumah.

Kelasnya sudah kosong. Semua sudah ada di lapangan sekolah, sudah di mulai beberapa detik lalu. Gea menambah kecepatan berlarinya sambil merapikan baju yang tidak pernah ia rapikan dari rumah.

Tidak sengaja tubuhnya yang mungil itu menabrak Guru tampannya, yang bernama Zaka. Usianya baru menginjak 25 tahun, dan menurut semua siswi perempuan, Pak Zaka ini tampan, putih, tinggi, dan juga murah senyum.

Bruk!! 

"Aduh, gitar spanyol-ku .…" rintih Gea sembari mengusap-usap pinggangnya yang mental di lantai.

Sedangkan yang ia tabrak tidak jatuh sekalipun. Jangankan jatuh, goyah saja tidak.

"Maaf, kamu tidak kenapa-napa, 'kan? Sini saya bantu." tanya Pak Zaka dengan mengulurkan tangannya.

Suara dari Pak Zaka mampu menggetarkan dadanya Gea yang memang sudah senam jantung karena berlari. Ini kali pertama Gea jatuh cinta dengan seorang lelaki. Akhirnya, gadis tangguh yang tak pernah roboh, bisa jatuh cinta dengan guru Bantu yang dikenal pendiam di sekolah. 

"Sungguh memalukan!" batin Gea dengan menyembunyikan wajahnya. 

Pak Zaka menyentuh tangan Gea dengan hati-hati. Sungguh mesum pikiran Gea sampai ia harus mendesah dalam batinnya. 

"Oohhh ... halusnya tangan, Pak Zaka. Tak seperti tanganku yang kasar dan hitam kusam ini ...." batinnya. 

Perlahan, Pak Zaka menarik tangan Gea. Karena Gea merasa lemas, akhirnya ia terjatuh dalam dekapan Pak Zaka. Sontak membuat Gea kaget dan segera menghindarinya. Takut jika security akan keliling dan mengetahui jika dirinya tidak mengikuti upacara. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status