Kekasih Bayangan
Kekasih Bayangan
Author: Mandja
1. Gelisah

Mendung berkabut. Dokter Nico melirik jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Saatnya Nico untuk pulang. Namun ia enggan untuk beranjak dari ruangannya. 

Dokter Nico sudah melepaskan jas putih kebanggaannya. Ia duduk bersantai dengan menyesap kopi susu hangat di tangannya. Entah apa yang membuatnya akhir-akhir ini lebih memilih berlama-lama di rumah sakit meski jam kerjanya telah habis. 

Tok, tok, tok... 

Seseorang mengetuk pintu ruangannya. Lalu seorang dokter perempuan muda dan cantik dengan memakai kacamata berbingkai emas membuka pintunya.

"Apa aku boleh masuk? "

"Silahkan dokter, apa ada yang bisa saya bantu? "

Nicolas Xander adalah seorang dokter umum yang bekerja di sebuah rumah sakit besar di kota. Pria muda berperawakan tinggi, tampan, kaya dan berbakat itu selalu berhasil menarik perhatian banyak orang di rumah sakit. 

Seperti pria yang menjadi peran utama dalam sebuah cerita. Nico selalu terlihat sempurna dan tanpa cacat, banyak gadis yang mengidamkannya namun belum ada yang berhasil menarik perhatiannya. Ia masih sendiri bahkan di usianya yang sudah 26 tahun

"Jangan terlalu kaku, jam kerja kita sudah selesai. Aku hanya ingin berbincang denganmu, kenapa kau belum pulang? "

"Aku hanya sedang merasa bosan."

Shella tertawa ringan. "Apa ada masalah? "

Sheila Karina, Dokter spesialis jantung. Cantik, tinggi, putih. Kriteria idaman banyak lelaki. Namun karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter, ia masih belum menikah meski sudah tiga tahun menjalin hubungan dengan Dimas, sahabatnya. 

Nico hanya mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Sheila. Ia juga tidak merasa memiliki masalah serius di kehidupan pribadinya. 

"Lebih baik kita mencari udara segar, apa kau setuju? "

Nico mengulurkan tangannya sebagai isyarat bahwa ia setuju. Mereka berdua keluar dari ruangan dan berjalan santai.

"Aku akan menghubungi Dimas agar ikut bergabung bersama kita." Nico mengangguk. 

Dimas adalah seorang arsitek yang bekerja di sebuah perusahaan terkenal. Namanya cukup populer di masyarakat karena ia juga seorang selebgram tampan. 

Mereka bertiga adalah sahabat sejak mereka sekolah SMA. Persahabatan yang manis, yang tetap terjalin hingga mereka dewasa. 

Banyak wanita yang iri dan cemburu dengan kedekatan Nico dan Sheila, mereka berdua terlihat sangat serasi dan cocok. Siapa pun yang melihat mereka, pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih. Namun, kenyataannya Sheila adalah kekasih Dimas sejak tiga tahun lalu. Mereka menjalin hubungan setelah beberapa kali mereka gagal dengan kekasih mereka masing-masing sebelumnya. 

"Dimas akan menyusul ke cafe tempat kita biasa berkumpul."

Nico melajukan mobilnya dengan pelan. Jalanan tampak penuh dengan kendaraan yang saling berdesakan. Jam saat makan malam adalah saat-saat dimana jalanan sangat ramai. Setengah jam kemudian, Nico dan Sheila telah sampai di cafe tujuannya.

"Tumben bapak dokter ngajakin nongkrong,"

Sheila terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar di dekat telinganya. "Sudah sampai? "

"Iya, lagi ada di deket sini."

Nico yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya hanya melihat sekilas kemudian kembali fokus pada ponselnya. 

"Belum pesan minuman? " Dimas bertanya ketika melihat meja mereka masih kosong. 

"Kita juga baru sampai."

Dimas mengangguk. Ia lalu bangkit dan memesan kopi untuk mereka bertiga. Ketika kembali ke tempat duduknya, Dimas mengangkat dagunya pada Sheila sebagai isyarat pertanyaannya. Sheila mengedikkan bahu sebagai jawabannya. 

"Apa kau ada masalah Nic?"

"Tidak." jawab Nico santai. 

"Lalu, kenapa kau terlihat murung?"

Nicolas hanya diam tak menjawab pertanyaan Dimas, ia menengadahkan wajahnya menatap langit gelap di atasnya. Dimas mengehela nafas. 

"Aku tahu, mungkin kau sedang merasa bosan dengan dirimu sendiri. Kau sudah seharusnya memikirkan kekasih."

Diantara mereka bertiga, hanya Nicolas yang belum pernah memiliki kekasih. Pria tampan itu terlalu sibuk belajar dan menjadi cupu meski penampilannya selalu menarik. Sedangkan Dimas dan Sheila sudah menjalin hubungan sejak satu tahun yang lalu setelah beberapa kali berganti pasangan. Dan kini hubungan mereka dalam tahap pertunangan.

"Kau mungkin terlihat sempurna Nic, tapi tanpa perempuan disisimu, kau takkan sempurna." Dimas melanjutkan kata-katanya. 

Nico hanya diam mendengar nasihat sahabatnya, bukannya ia tidak ingin memiliki kekasih, bahkan sudah berulang kali ia mencobanya. Namun, setiap kali ia berniat untuk menjalin hubungan yang lebih serius, seolah ada dinding besar yang secara alami memberikan jarak antara mereka. Dan sudah bisa ditebak bagaimana selanjutnya. Nico sama sekali belum pernah memiliki kekasih. 

"Aku curiga kau tidak tertarik pada perempuan." Sheila menahan tawanya.

"Jangan sembarangan !" Nico melempar putung rokok sisa Dimas merokok tadi ke arah Sheila. 

Sheila menghindar dan ia tak sanggup menahan tawanya.

"Jangan-jangan jodoh kamu udah meninggal." Dimas tak mau kalah ikut meledek sahabatnya.

Nico hanya meliriknya, ia menghembuskan nafas berat. Dimas seketika diam dan terus memperhatikan sahabatnya. Ia belum pernah melihat Nico seperti ini. 

"Oke, baiklah ... sepertinya masalah sahabat kita kali ini sangat serius Shei, coba kau perhatikan sikapnya."

"Sebaiknya kau datang ke dokter Nina untuk berkonsultasi." Sheila memberi saran. 

"Aku akan mengambil cuti beberapa hari." kata Nico

"Sepertinya itu lebih baik." Dimas menimpali. "Kau harus lebih banyak beristirahat, mungkin kau terlalu lelah."

"Baiklah, aku akan kembali lebih dulu, kalian bersenang-senanglah." Nico melangkah pelan meninggalkan kedua sahabatnya. 

⭐⭐⭐

Hari ini adalah hari terakhir Nico bekerja, ia berencana izin cuti untuk satu minggu ke depan. Seperti biasa, Nico bekerja hingga pukul delapan malam. Pasien terakhirnya baru saja keluar, disaat ia membereskan berkas-berkas data pasien, seseorang pengetuk pintunya. 

"Silahkan masuk."

Seorang gadis mungil muncul di balik pintu. Perempuan itu berusia sekitar 19 tahun. Kulitnya exotis, rambutnya coklat sedikit ikal. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Dia terlihat begitu manis dan menggemaskan. 

Nico mengernyitkan alisnya. 

"Ada yang bisa saya bantu? "

"Dokter, aku ingin kau memeriksa keadaanku."

"Apa kau sudah mendaftar di depan? ."

Gadis itu menggeleng, "Di depan tidak ada orang."

Nico menghembuskan nafasnya. "Baik, kemarilah ... siapa namamu?"

Gadis itu duduk di kursi, di seberang meja Nico. 

"Namaku Amanda, dokter."

Nico mengangguk dan mencatat nama Amanda di sebuah catatan kecil. 

"Baiklah Amanda, ceritakan keluhan yang kamu rasakan."

"Aku tidak tahu dokter, aku tidak bisa merasakan apapun."

Nico kembali mengernyitkan alisnya, ia melipat tangannya di atas meja. 

"Kamu tidak merasakan sakit? "

Amanda menggeleng. 

Nico kembali menghembuskan nafasnya. 

"Lalu, apa yang membuatmu berpikir, jika kamu harus ke dokter? "

Nico masih mencoba untuk bersabar. Amanda tampak berpikir sejenak kemudian ia menjawab dengan pasti. 

"Aku hanya merasa tidak nyaman dokter."

"Apa kamu memiliki masalah? "

Amanda kembali tampak berpikir, kemudian ia menggeleng. 

"Dokter, tolong coba kau pegang tanganku. Aku tidak bisa merasakan apapun."

============

Haii.. Semoga suka ya untuk ceritaku yang satu ini.. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status