The Secret Mirror
The Secret Mirror
Author: Hyune
Pindah Rumah

Chung Ae menatap jendela kamarnya. Hari ini adalah hari terakhirnya tinggal di kamar itu. Setelah sekian lama tinggal di rumah mungilnya, keluarganya harus berpindah ke kota lain. “Aku sudah sangat nyaman disini, kenapa aku harus pindah dari kota ini?” gumam Chung Ae. Ia kemudian bangkit dan menyentuh kaca jendelanya yang cukup usang. Chung Ae dibesarkan di rumah itu, sejak lahir ia dan keluarganya sudah menetap di kota itu.

“Bukankah, aku akan kehilangan teman-temanku?” gumam Chung Ae dalam hati. Tiba-tiba sang ibu membuka pintu kamarnya. “Ae, kau sudah bersiap?” tanya Seo Yeon.

“Bu, kenapa kita harus pindah? Jujur saja aku sudah nyaman disini.” Keluh Chung Ae. Seo Yeon tersenyum lalu melangkah mendekat ke putrinya. “Ae, kau sudah tahu alasannya bukan?” tanya Seo Yeon.  “Ini semua karena pekerjaan ayahmu. Tapi kau tidak boleh marah padanya.”

“Aku sama sekali tidak marah pada ayah, hanya saya bagiku cukup berat meninggalkan kota ini.” Ucap Chung Ae.

“Sejak kecil aku disini, teman-temanku semuanya disini. Terlalu banyak kenangan disini.”

“Ibu tahu Ae. Kita punya banyak kenangan di rumah ini. Jangan khawatir, kau tetap bisa berkunjung kemari saat libur sekolah.” Kata Seo Yeon.

“Aku takut tidak mendapat teman di sekolah yang baru. Bukankah kita datang dari kota kecil?” ucap Chung Ae.

“Aku juga takut, aku tidak bisa mengikuti pelajaran disana lalu nilai-nilaiku turun. Sebentar lagi aku harus mengikuti ujian masuk universitas kan?”

“Tenang saja Ae, kau pasti bisa melewati itu semua. Kalau kau khawatir pada nilai-nilaimu, mama akan mencari guru untukmu supaya kau juga bisa belajar di rumah.” Ucap Seo Yeon.

“Kami sudah memikirkan itu sayang, jangan khawatir. Ayah sudah mencari sekolah baru untukmu dan adikmu.”

“Ah Dong Jun, kenapa dia bisa bersemangat untuk pindah?” gumam Chung Ae.

“Kata adikmu, ada lebih banyak gadis cantik di kota besar.” Jawab Seo Yeon sambil tertawa.

“Ah dasar, dia pikir berapa umurnya?” ucap Chung Ae dengan kesal. Seo Yeon hanya tertawa melihat putrinya yang kesal. Kedua anaknya memang punya karakter yang sangat berbeda.  “Ibu yakin kau akan mendapat teman baik di sana, dan mungkin juga akan ada pria yang mencintaimu disana.” Ucap Seo Yeon.

“Ibu.. “ gumam Chung Ae dengan kesal.

Lagi-lagi Seo Yeon tertawa melihat sikap putrinya. “Kau sudah lebih dari delapan belas tahun tapi hingga sekarang kau bahkan belum punya kekasih.” Kata Seo Yeon.

“Ibu, tidak semudah itu mencari pria.” Jawab Chung Ae.

“Kau hanya belum menemukannya disini, mungkin di tempat baru kau akan segera menemukannya.” ucap Seo Yeon.

Chung Ae menghembuskan napasnya dengan kasar sembar melihat punggung sang ibu yang berlalu pergi.  Ia lalu berpaling ke arah koper besarnya, lalu merapikan beberapa pakaian yang sudah ia ambil. Dalam hati, Chung Ae masih tidak percaya ia harus pindah ke kota lain. Ia beberapa kali membayangkan hal buruk yang mungkin saja terjadi disana.

Hari semakin siang, Seo Yeon memanggil putrinya itu untuk makan. Tak lama, Chung Ae datang dari kamarnya. “Cepat makan makananmu selagi masih hangat.”

Chung Ae duduk di kursi tempatnya biasa makan lalu segera menyantap masakan sang ibu. Meski masakan itu terasa enak seperti biasanya, tetap saja Chung Ae tak terlalu bersemangat. “Kak, ada apa denganmu?” tanya Dong Jun, adiknya.

“Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja.” Jawab Chung Ae.

“Kakakmu itu sedang sedih, dia tidak ingin pindah ke kota.” Sahut Seo Yeon.

“Kenapa harus sesedih itu kak? Kita tidak tahu mungkin saja di kota itu kehidupan kita akan lebih baik.” Ucap Dong Jun.

“Kemungkinannya selalu ada dua kan Dong Jun? Lebih baik, atau lebih buruk.” Ucap Chung Ae.

“Jangan berkata seperti tu Ae, adikmu benar. Mungkin saja kehidupan kita akan lebih baik disana.” Ucap Seo Yeon.

“Itu benar kak, lagipula pekerjaan ayah juga semakin baik bukan?” ucap Dong Jun.

Chung Ae mengangguk pelan. “Tapi semua temanku ada di sini.” Jawab Chung Ae.

Dong Jun tersenyum. “Kak, teman akan sellau berganti. Mereka mungkin juga akan menemukan teman baru setelah kakak pindah.”

“Kenyataannya, mereka tahu kakak akan pindah besok tapi tidak ada satupun dari mereka datang kemari untuk membantumu atau mengucapkan salam perpisahan.”

“Kakak juga akan mendapat teman baru disana.”

“Itulah kenapa aku mengatakan kalau mencari teman baru itu sulit. Kami yang sudah kenal bertahun-tahun rasanya masih seperti orang lain.” Ucap Chung Ae.

“Kalau begitu, berarti mereka bukan temanmu.” Jawab Dong Jun

“Sudahlah, cepat habiskan makanan kalian.” Kata Seo Yeon.

Setelah makan, Chung Ae kembali ke kamarnya. Ia kembali mengisi koper besarnya dengan pakaian, dan buku-bukunya. Tak lama, Seo Yeon kembali datang ke kamar Chung Ae. “Kau butuh bantuan?” tanya Seo Yeon.

“Tidak Bu, sebentar lagi aku selesai.” Jawab Chung Ae.

“Oh ya, seperti apa rumah kita disana? Apakah lebih besar dari rumah ini?”

“Tentu saja. Rumah itu punya dua lantai. Dua kamar di lantai atas. Jadi kau dan Dong Jun akan tidur di lantai 2.” Kata Seo Yeon.

“Apa kita menyewanya?” tanya Chung Ae. Seo Yeon tersenyum ke arah putrinya, “TIdak, kita sudah membelinya. Jadi kau jangan khawatir.”

“Ibu tahu kau sangat memikirkan kondisi ekonomi kita, karena itu ayahmu berusaha sangat keras untuk mendapat promosi.”

“Aku akan mencari kerja paruh waktu setelah kita pindah.” Kata Chung Ae.

“Tidak perlu Ae. Ibu hanya ingin  kau belajar dengan benar.” Jawab Seo Yeon.

“Aku ingin membantu ayah.” Ucap Chung Ae sambil menata buku-bukunya di kardus. ‘Aku tahu ayah bekerja keras. Dong Jun juga masih belum bisa diandalkan.”

“Kalau ayahmu memberi izin, kau boleh pergi. Tapi jika ayahmu tidak mengizinkanmu, kau tidak bisa pergi.” Ucap Seo Yeon.

“Aku akan bicara pada ayah nanti.” Kata Chung Ae.

***

Setelah memastikan putrinya selesai, Seo Yeon kembali ke kamarnya. Ia juga harus mengemasi beberapa barang miliknya dan suaminya. Sejenak, Seo Yeon duduk di atas ranjangnya. Ia kembali memikirkan kedua anaknya yang sangat berbeda. Chung Ae, seringkali sulit bersosialisasi dengan orang-orang baru. Gadis yang maish polos itu, entah kenapa sulit mencari teman baru. Sedangkan Dong Jun, dia sangat ramah pada semua orang, jadi tak perlu khawatir Dong Jun tidak mendapat teman.

Seo Yeon tahu persis bagaimana putrinya. Meskipun Chung Ae berwajah imut, ia sudah berpikir seperti orang dewasa. Sayangnya, hal itu yang seringkali Seo Yeon khawatirkan. Ia takut putrinya itu tak bisa menikmati masa mudanya sendiri, dan malah menghabiskan waktu dengan buku-bukunya.

“Mungkin, aku harus mulai mengubahnya.” Gumam Seo Yeon

Comments (1)
goodnovel comment avatar
alanasyifa11
kayaknya Chung Ae ini tipikal Female lead kesukaanku deh~ yeesh btw author ada sosmed engga? mau follow dong
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status