Pria Berhati Malaikat
Pria Berhati Malaikat
Author: Mandja
Bab 1. Hari Pertama Sekolah

Ini adalah hari pertamaku sekolah. Akhirnya, hari yang aku nantikan tiba. Aku menjadi murid SMA. Ingin rasanya aku berteriak. Menjadi anak SMA itu artinya hari dimana aku perlahan - lahan akan dianggap sebagai anak remaja. 

Namaku Karina Salsabila, keluargaku biasa memanggilku Karin, aku anak perempuan terakhir dari lima bersaudara. Dan aku sudah tidak mempunyai ayah ketika aku berusia dua tahun. 

Kehidupanku sangat jauh dari kata mewah, ibuku harus berjuang dan bekerja sendiri demi mencukupi kebutuhan keluarga kami. Namun begitu, kami cukup bersyukur apapun itu.

Sebagai anak dari keluarga yang kurang mampu sering kali membuatku kurang percaya diri. Meskipun dari segi wajah, bisa dibilang diatas rata - rata sehingga tidak terlalu tampak seperti orang yang benar - benar susah. 

Aku tinggi ramping, kulitku putih dan halus. Aku memiliki tulang hidung yang panjang dan mata coklat dengan bulu mata yang lentik. Bibirku kenyal dan merah. Bukannya aku terlalu percaya diri, tapi setidaknya itulah yang teman - temanku katakan. Sehingga tak jarang dari mereka yang iri melihat kecantikanku. 

Hari pertamaku di sekolah berjalan lancar, bahkan saat masa orientasi siswa aku tidak terlalu mengalami kesulitan karena kakak senior yang menyukaiku. 

Karena aku yang memang kurang percaya diri sehingga membuatku sulit untuk berinteraksi dengan teman baru. Apalagi dirumah, aku adalah anak terakhir yang artinya, kemanapun aku pergi, aku akan selalu ditemani. 

Namun aku bertekad, ketika aku mulai menyandang sebagai murid SMA, aku harus bisa lebih percaya diri dan mandiri. 

⭐⭐⭐

Author Pov. 

"Perkenalkan nama saya Arva Fatah," Karin yang sedari tadi menunduk kemudian mendongak menghadap murid yang tengah berdiri di depan kelas. 

"Panggil saja saya Arva."

"Apa? Larva? " celetuk Karin dengan usilnya yang sontak mengundang gelak tawa teman - teman lainnya. 

Arva melirik ke arah Karin yang tengah terkikik geli bersama teman - temannya. Arva menceritakan bahwasannya ia baru masuk sekolah saat teman - teman yang lain sudah masuk sekolah lebih dari satu minggu dikarenakan sakit. 

"Dasar nggak punya sopan santun." Arva berkata ketus saat berjalan melewati Karina. 

Dan sejak saat itulah, Karin merasa Arva menjaga jarak dengannya, mereka tak pernah bertegur sapa bahkan seolah - olah Arva tak mengenalnya. Karin sedikit merasa bersalah tapi ia tak peduli karena Karin pikir, itu adalah hal biasa jika mereka usil pada siswa baru. 

Namun siapa sangka, di balik sikap acuh dan cuek Arva, ia diam - diam selalu memperhatikan Karin. Hingga suatu hari, teman satu kelas merencanakan untuk liburan semester bersama. Karin kira, ibunya akan menyetujui jika ia ikut, karena ini adalah liburan pertamanya bersama teman satu kelas. Nyatanya ibu Karin melarang. 

Ibu Karin belum bisa merelakan anak gadisnya bermain tanpa pendampingan dari keluarga. Karin sempat marah, ternyata status menjadi siswa SMA saja belum cukup untuk memberi kepercayaan pada ibunya. 

"Huftt ...." Karin mengehembuskan nafas berat ketika Ajeng sahabatnya mennghubunginya dan bertanya kenapa ia tak ikut serta liburan ke pantai bersama teman - teman lainnya. 

"Ibu belum mengizinkanku." jawabnya. 

"Baiklah, selamat bersenang - senang." Karin menggeser tombol merah di handphonenya dengan lemas. Liburan kali ini akan sama membosankannya seperti biasa, pikirnya. 

Hari - hari berlalu begitu saja, tanpa terasa waktu sudah memasuki semester dua kelas satu. Karin merasa tidak ada yang istimewa karena meski sudah SMA, ia sama saja seperti dulu. Sangat jauh dari perkiraannya yang membuat perasaannya seolah meledak - ledak saat itu. 

Karin dan Ajeng tengah menikmati es krim di kantin ketika Yessi yang baru saja datang berbicara dengan suara nyaring bersama teman - temannya. 

"Eh, liat deh fotoku sama Arva waktu di pantai, so sweet kan ... sayang banget yang enggak ikut." Yessi berkata sambil sesekali melirik ke arah Karin yang seolah tak mempedulikan mereka. 

Karin yang sudah menghabiskan es krimnya memilih untuk kembali ke kelas tanpa mempedulikan Yessi. 

⭐⭐⭐

Karin Pov

Aku masuk ke dalam kelas dengan sedikit kesal mendengar ucapan Yessi yang seolah menyindirku, aku memang sepertinya selalu kesal jika ada yang membahas tentang liburan itu, meski bukan aku satu - satunya murid yang tidak ikut. 

Dan satu lagi, entah mengapa aku merasa Yessi selalu sensitif terhadapku, aku tidak pernah berbicara dengannya meski kami adalah teman satu kelas. Dari sikapnya, ia seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah gadis yang cantik dan berkelas. Aku sama sekali tak peduli tentang itu. Namun, menurut teman - temanku, Yessi memang tidak menyukaiku karena ia tidak ingin ada gadis lain yang lebih cantik dan modis darinya. 

Ssksk, itu lucu. Aku bahkan gadis miskin yang tak perlu dijadikan saingan olehnya. Aku tidak pernah memakai barang branded dan bahkan handphone yang aku pakai adalah handphone jaman dulu, sangat berbeda dengannya yang selalu update fashion terbaru. 

Ya, aku tahu, masih menurut teman - temanku, aku bahkan lebih modis dari Yessi meski aku hanya memakai pakaian seadanya.

Bel tanda masuk telah berbunyi, guru yang mengajarkan matematika telah masuk ke dalam kelas. Semua murid mengeluarkan buku sesuai dengan perintah guru. Aku memperhatikan guru yang tengan menjelaskan di depan dengan menopang dagu. Jam pelajaran matematika selalu seperti waktu yang berjalan sangat lambat. Aku mengantuk. 

Akhirnya, jam pelajaran telah usai. Aku menunggu ibuku menjemputku, hingga setengah jam aku tidak melihat sosok ibuku. Sekolahku cukup jauh dari rumahku, biasanya ibu akan berangkat lebih awal dari jam kepulanganku. Namun hari ini aku tidak melihat ibuku datang meski sudah hampir satu jam menunggu. 

Langit mulai gelap, dan gerimis mulai turun. Sekolah sudah hampir sepi. Aku mulai panik karena nomor ponsel ibuku juga tidak dapat dihubungi. Aku menggurutu dan marah pada ibuku. Mataku terasa panas dan berkaca - kaca. Ku hentak - hentakkan kakiku kesal. Saat menunduk, tiba - tiba ada suara motor menghampiriku, aku mengangkat kepala dan siap mengomel pada ibuku. Namun ternyata bukan ibuku yang ada di depanku. 

"Belum di jemput? Aku antar yuk."

Aku terkejut melihat pria di depanku, tanpa sadar aku menganga tanpa menjawab pertanyaannya. 

"Hallo," Arva melambaikan tangannya di depanku.

"Ah, enggak. Itu, anu, aku ... aku di jemput ibuku." kataku gugup. 

"Udah mau hujan, aku lihat udah hampir satu jam kamu berdiri disini."

Aku kembali terkejut. Apa? Arva tahu? Arva sejak tadi memperhatikanku? Apa aku tidak salah? 

Ya, pria yang datang mendekat itu adalah Arva, pria yang mendiamiku seolah tidak mengenalku sejak aku usil menyebut namanya saat perkenalannya di depan kelas. Tapi, tadi dia mengatakan sejak tadi ia memperhatikanku? Sejak kapan dia peduli? Tiba - tiba aku tersenyum dalam hati. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status