Share

4. Penggalan Kisah Duka (Zea & Habibi)

Aku mengangguk, lalu mengusap lagi perutku. Tendangan itu antara terasa dan tidak. Mungkin karena kelelahan. Sejak kemarin acara ini dimulai dan sejak kemarin pula, aku ikut membantu mengurusinya.

"Adek, baik-baik, ya, sayang … kita bobo setelah Abi rawuh (datang),"

Merasa lebih lelah dari sebelumnya. Menahan sebisa mungkin jantungku yang berdegup lebih kuat, hingga terasa agak sesak.

Malam ini Mas Abi belum kembali ke kamar bahkan sudah hampir jam satu malam. Mbak Laila sudah kuminta kembali ke kamarnya sejak dua jam yang lalu. Ada tamu dari Jogja katanya, mereka saudara sepupu suami yang datang ke sini bersama rombongan santri baru yang hendak mondok di pesantren kami.

Sebenarnya, aku sedang membutuhkan Mas Abi di sampingku. Punggung pegal, kakiku bengkak sejak siang tadi. Kepalaku pusing dan sepertinya demamnya makin tinggi. Butuh suamiku untuk mengoles minyak sereh di punggung dan betis, tapi ... dia belum kembali.

Aku mencoba merebahkan diri, berharap sakitnya berkurang. Namun, makin lama suhu ruangan terasa makin dingin. Gigiku gemeretak, punggungku seperti tuas yang ditarik menahan dingin yang semakin menjalari tubuh. Mengigil ketakutan. Duh, Gusti. Kram di area bawah perut semakin terasa membuatku menggigil dalam ketakutan.

Aku susah bernapas, sepertinya oksigen sudah ditarik dari bumi dan tidak menyisakan sedikit pun untukku. Mencoba untuk berteriak, rasanya sudah tak sanggup kulakukan bahkan hanya untuk mengeluarkan suara berupa cicitan saja, aku tak sanggup. Sampai itu seberkas cahaya benderang perlahan berubah menjadi cahaya kekuningan kemudian menjadi jingga dan entah detik ke berapa sinar  gelap mulai menyerangku dari segala arah.

***

POV Habibi

Terbangun di sebuah ruangan berwarna tembok serba putih ditambah dengan aroma obat yang terhidu tajam, membuatku segera meraba bagian perut. Di mana bayiku bergelung nyaman selama tujuh bulan lamanya. Namun sayangnya, ketika kedua tangan sampai di sana benda bulat yang biasa bergerak-gerak nyata-nyata sudah mengempis. Aku tidak tahu mengapa, tetapi rasanya tidak percaya dan mungkin tidak akan mungkin pernah bisa percaya bila kini—pada saat ini—tidak kutemukan atau kurasakan keberadaan-nya.

Penjara cinta yang bisa membuatmu merasa betah adalah perasaan jatuh sayang karena bahkan ketika kamu telah kehilangan, rasa-rasanya terluka dan perih yang parah tidak cukup menggambarkan bagaiman bentuk hatimu saat ini.

Hancur.

Ataukah, sudah tak lagi bisa dibentuk dan dirasakan.

Betapa hancur.

Hampa dan merasakan kekosongan teramat hebat di balik dada. Sehingga ketika tanpa sadar bening kesakitan mewujud nyata berupa air mata, seakan tangan tidak dibutuhkan untuk menghapus lelehannya.

“Yang,” panggilan sayang serta usapan lembut pada sisi wajah membuatku mengalihkan atensi. Mas Abi terlihat rapuh dan kuat dalam satu waktu, tetapi justru aku memilih mengabaikannya.

“Aku ingin melihat-nya.”

Ya Allah, Gusti ….

Kuraba punggung Mas Abi yang gemetar hebat saat dia memberiku dekapan penuh kasih sayang. Aku tahu jika kami sedang terluka. Sama-sama terluka. Akan tetapi, perasaan sesak yang kini menghimpit tidak bisa membuat kehampaan yang terasa berkurang.

Entah sudah berapa puluh menit berlalu, saat mendapati Mas Abi tidak berada di dalam kamar inap, dengan langkah tertatih aku meninggalkan ruangan ini. Ingin mencari udara segar. Sepertinya aku membutuhkan oksigen lebih banyak agar bisa mengurangi sesak.

Namun, laju kaki tidak membuatku melangkah kea rah taman yang seharusnya, tetapi justru berbalik arah ke sebuah ruangan bayi. Aku menatap box bayi dalam ruangan tersebut.

Agar bisa secepatnya keluar dari tempat ini, aku harus bisa terlihat baik-baik saja. Sedikit kuceritakan padanya bahwa pada malam itu, menjelang pagi, aku baru saja kembali ke kamar. Yang pertama kali kulihat adalah Zea yang tidur dalam kondisi menggigil, keningnya kuraba. Demam tinggi. Kaki membengkak, dan dia tidur dalam keadaan mengigau. Tidak mau menunggu lama, segera kubawa ke IGD.

Satu jam terpanjang yang pernah kurasa, menunggu di luar ruangan gawat darurat terasa begitu menyiksa, kemudian dokter mengabarkan kalau bayi kami harus segera dikeluarkan sebab ada masalah yang membuatnya tidak bisa bertahan lama, atau nyawa mereka berdua yang yang menjadi taruhannya.

Saat mendengarnya, tanpa sempat berfikir. Mengapa tidak menyelamatkannya

bayinya saja? Oh, apakah aku sehina itu sampai tercetus ide gila tersebut? Tujuh bulan lebih kurasa sudah cukup matang untuk seorang janin, meskipun premature. Meskipun begitu pilihan yang sulit harus segera kupilih.

“Maaf. Keduanya dalam kondisi kritis dan kami harus segera menyelamatkan ibunya lebih dahulu.

Dini hari itu, aku menandatangani surat pernyataan bahwa takkan menuntut apapun jika terjadi sesuatu selama dalam prosesnya.

“Ya. Selamatkan ibunya, dokter.”

Sebuah keputusan berat yang harus dipilih saat itu juga.

Di pagi yang dingin itu menjadi saksi penyiksaan secara psikis bagiku, Ummi dan Abah. Bayi kami meninggal di dalam kandungan sudah sejak satu jam sebelumnya. Satu jam sebelum aku kembali ke kamar kami untuk merebah. Setiap mengingat hal itu, kedua tanganku selalu terkepal kuat sampai buku jariku memutih.

Tak peduli setelahnya Abah sekuat tenaga melonggarkan genggamanku. Rasa sakit akibat kuku yang menancap pada telapak tangan takkan pernah sepadan dengan rasa sakit yang menjalar mengungkungku tanpa ampun, tapi dia tak boleh tahu. Biar aku bawa rasa marah ini dan menyembunyikannya di sudut hati yang terdalam.

Aku hanya bisa terdiam mendengarkan isak tangis kehilangannya. Setiap menit seakan berada di tempat asing dan menyakitkan. Melihatnya terpuruk membuat jiwa kelelakianku meronta. Tenanglah, Nduk. Ada aku di sini. Mari kita saling menggenggam dan menguatkan.

Kita butuh bersama di saat duka tengan diguyurkan Tuhan di bawah langit kita.

Mengatakan pada diri sendiri, bahwa aku tidak boleh cengeng. Aku sudah merasakan nikmat menjadi calon ayah meskipun hanya tiga puluh dua minggu lamanya. Setidaknya, Gusti Allah sudah kerso (memberi izin) merasakan tendangannya malam demi malam. Menyaksikannya tumbuh, dari embrio hingga lengkap semua organ dan inderanya.

Ya Allah, aku harus kuat menghadapi kenyataan ini, tidak boleh gugur oleh berbagai prasangka buruk yang akan mempertanyakan keikhlasanku dalam menerima ujian.

Langkahku terhenti saat melewati ruangan perinatologi terasa mengiris hati.

Seseorang sedang berdiri di sana. Di depan sebuah kaca tembus pandang.

Dia terlihat khusyuk mengamati satu persatu makhluk mungil yang tergeletak di box bayi. Mereka pasti terlihat sangat mungil aneka ekspresi di wajah-wajah kecil itu sudah membuat jari Zea menempel di kaca, ingin menyentuh salah satu dari mereka. Tanpa sadar air mataku menderas saat merasakan ngilu pada dada saat istriku itu menyentuh payudaranya.

Aroma ASI mungkin saja menguar menguasai indera penciumannya, kala air kehidupan itu merembes melewati penutup dada. Aku terisak dalam diam menyaksikan Zea berusaha membekap mulut dengan punggung tangan yang terlihat sangat jelas sedang gemetaran. Dia bergerak mundur perlahan kemudian berjalan secepat mungkin kembali ke kamar.

***

Love 

Mahar

Related chapters

DMCA.com Protection Status