Share

50. Jangan Kasihan (Zea)

Rahmat meminta nomor ponsel Asna ketika ia hendak pamit pulang ke Banyuwangi.

"Hanya berjaga-jaga saja, aku takut Ning Ze ngilang tanpa jejak." Ya Allah, dia mencoba berkelakar lagi. Ck!

“Adik keterlaluan!” Kupukul pelan lengannya yang kokoh. Doakan ningmu ini semoga bisa menemukan sedikit ketenangan. Pintaku dalam hati.

Dia terkekeh kemudian, punggung tangannya terulur mengusap pipiku.  “Aku – kami semua percaya, Ning Ze kami bisa melewati masa-masa sulit ini. Oh, jangan terlalu banyak menangis di tempat orang, malu." Dia kembali terkekeh. Beruntung kami sedang berada di tempat yang tak terlalu ramai, jadi ketika dia menggoda setidaknya takkan mempermalukan reputasi kami.

"Aku bisa berbohong pada Mas Habibi tentang tempat persembunyianmu ini, tapi aku tidak bisa membohongi Abah dan Ibu, oke?" Lanjutnya, sambil mengerlingkan mata kanannya.

Aku mengangguk. Membohongi mereka adalah nomor kesekian dari pikiranku saat

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP
DMCA.com Protection Status