Enigmasif
Enigmasif
Author: siskaayu
PROLOG

"Ay, masih suka senja?"

Spontan Ayesha membalikkan tubuhnya ke belakang. Ia menemukan seorang laki-laki berperawakan cukup tinggi dan berkulit putih. Ia tersenyum menatap Ayesha. Sementara Ayesha membalasnya menatap heran.

Siapa dia? Pikir Ayesha.

"Siapa kamu?" Ayesha melontar tanya. Mengapa laki-laki itu mendekatinya ketika ia bertahan menatap senja di pesisir pantai Kuta, Pulau Bali.

Ayesha memang perempuan penyuka senja. Lebih benarnya, sang pecandu senja. Ia menobatkan dua kota yang dijadikannya sebagai rumah senja, dua rumah senja itu ialah pulau Bali dan kota Yogyakarta. Ayesha juga penyuka traveling, beberapa kota di pulau jawa telah ia jelajahi. Setiap kali menjelajahi kota, Ayesha tak pernah sendiri, ia juga sempat mengajak teman, saudara, bahkan Ayahnya, untuk menemaninya jalan-jalan.

Mengingat Ayesha masih berstatus single, status yang menurutnya masih tak aman berpergian seorang diri. Apalagi ia juga mengerti bahwa di dalam Agama Islam, tak diperbolehkan seorang perempuan melakukan perjalanan lebih dari sehari semalam tanpa seorang mahram. Dan berada di pulau Bali pun, Ayesha memutuskan mengajak sang adik.

"Kenalkan, aku Hazmi, suami resmi dari Ayesha Salshabila Senjaya." Laki-laki itu berkata sembari menyodorkan telapak tangannya di hadapan Ayesha.

Ayesha semakin bingung. Mengapa laki-laki yang masih berdiri di sisinya itu-menganggap bahwa ia sebagai suami Ayesha? Lantas, darimana dia tahu namaku?

"Itu namaku!"

"Memang, salaman dulu, dong."

"Nggak mau, bukan mahram."

"Aku mahrammu, Ay. Bahkan jika aku menyentuhmu sekarang, masih halal, kok."

"Jangan gila, ya! Sejak kapan aku nikah? Bahkan aku nggak tahu kamu siapa, dan sekarang malah ngaku-ngaku bahwa kamu suamiku. Aneh kamu! Jangan mengkhayal kalau kita suami istri."

Daripada hati Ayesha semakin panas, lebih baik ia memilih bergegas pergi. Ayesha sangat benci sejak laki-laki itu memberikan pengakuan yang aneh. Ayesha pikir ... otak Hazmi sudah konslet. Bahkan Ayesha belum tahu siapa Hazmi.

"Ay! Ayesha!" Tangan Hazmi berhasil merangkul lengan Ayesha. Hingga perlahan ia memundurkan sentuhannya ketika Ayesha berusaha menarik lepas lengannya dari cengkeraman Hazmi.

Perempuan berkerudung cokelat tua itu kembali gondok menatap tingkah Hazmi. Berani-beraninya ia menyentuh Ayesha, padahal Ayesha sudah menegaskan bahwa laki-laki itu bukan suaminya.

"Ay ..."

"Nggak usah menyentuhku! Kamu itu bukan suamiku. Bahkan aku nggak ngerti apa maksudmu yang mengatakan kita sudah menikah. Aku nggak punya ingatan apapun tentang kamu."

"Ay ..."

"Tolong berhenti mengaku bahwa kamu suamiku!" Ayesha kembali memutar tubuhnya setelah memotong perkataan Hazmi yang berusaha memberikan penjelasan. Kali ini Ayesha berusaha menghindari Hazmi, meski Ayesha merasa Hazmi masih mencoba mengejarnya lagi.

Dari arah belakang, Hazmi menghentikan derap langkahnya mengejar Ayesha. Ia tetap memerhatikan Ayesha yang sudah berjalan menjauhinya. Suasana pantai Kuta masih tetap ramai seperti biasa. Apalagi menikmati mentari tenggelam di sore hari adalah hal yang paling berkesan bagi para tourist di pantai Kuta.

"Ayesha! Kamu boleh lupa sama aku! Tapi aku nggak mungkin lupa sama kamu! Kamu itu tetap istriku, dan kamu akan selalu jadi istri Hazmi! Kamu pun harus tahu bahwa aku tetap mencintaimu!" teriak Hazmi dengan lantangnya. Ia percaya bahwa Ayesha mendengarkan suaranya. Meskipun langkah perempuan itu sudah berjalan cukup jauh darinya.

Ok, kali ini apalagi derita yang ingin disampaikan oleh semesta padaku? Bahkan aku saja tak mengenalinya, mengapa ia mengakuiku sebagai istrinya? Lalu, pertanyaanya, sejak kapan aku menikah dengannya? Ayesha hanya bisa bergerutu di dalam hatinya. Saat ini ia benar-benar kesal.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status