Share

Damian Argantara

Siswa siswi SMA Angkasa Raya berhamburan dari dalam kelasnya ketika mendengar bunyi bell istirahat. Tujuan utama yang hendak mereka datangi adalah kantin.

Suasana kantin yang semula sepi, seketika riuh dengan suara-suara yang berasal dari celotehan, canda dan tawa para murid. Hampir tak ada meja kosong yang tersisa saking banyaknya yang ke kantin.

"Mel, duduk di mana kita?" tanya Cessa, matanya menyusuri seluruh isi kantin mencari meja kosong yang bisa mereka tempati.

"Nah, di sana ada meja kosong," Amel mengangkat tangannya menunjuk ke arah meja yang berada di sisi kanan paling pojok.

Cessa mengangguk lalu berjalan menuju ke meja tersebut diikuti Amel di belakangnya. Setelah tiba di tempat tujuannya, Cessa dan Amel pun mendudukan tubuhnya di atas kursi tersebut.

"Kamu mau pesan apa, Cessa? Biar sekalian aku yang pesankan," Amel menawarkan diri memesankan makanan untuk Cessa.

Gadis itu menatap teman barunya lalu menyunggingkan senyum di bibirnya. "Gak perlu, kita pesan sama-sama saja, ya!" tolak Cessa secara halus, hal itu membuat Amel mengerutkan alisnya.

"Kenapa?" tanya Amel singkat,

Cessa memperlihatkan lagi senyumnya kepada Amel, senyum itu terlihat sangat manis sekali membuat Amel sesaat terpana melihatnya. Apa bila Amel seorang lelaki sudah pasti ia akan meleleh hanya dengan melihat senyum itu. Untungnya Amel seorang wanita, dan normal!

"Aku pengen tahu daftar makanan yang dijual di kantin sekolah kita," ucap Cessa. Amel mengangguk-angguk paham.

Baru saja mereka hendak pergi, tiba-tiba saja niatnya diurungkan karena entah sejak kapan tiga orang lelaki sedang berdiri menghalangi jalan mereka.

Amel dan Cessa mengernyitkan alisnya menatap ketiga lelaki tampan di hadapannya.

"Hai, Amel!" sapa Dika menyebut nama Amel tetapi matanya malah menatap Cessa. Hal itu membuat Amel memutar bola matanya, jengah.

"Yang disapa siapa, yang dilihatnya siapa. Dasar aneh!" Amel menggerutu kesal, sementara Dika malah terkekeh geli mendengar sindiran Amel kepadanya.

"Boleh, kita bertiga duduk di sini?" tanya Dimas sambil memperlihatkan senyum yang paling manis di bibirnya.

"Boleh kok, ini tempat umum. Bebas kalau mau duduk di sini," ucap Cessa ramah.

Sementara Amel semakin mengerutkan kedua alisnya. Merasa ada yang aneh dengan tiga lelaki yang kini sudah duduk di meja yang sama dengan dirinya dan Cessa. Pasti ada udang di balik batu! Pikirnya.

"Oh iya, kita belum kenalan nih! Namaku Dimas cowok paling ganteng diantara kita bertiga," ucap Dimas penuh percaya diri

"Ganteng kalau dilihat dari belakang!" Cessa terkekeh geli mendengar ledekan Dika kepada Dimas.

"Jangan iri, karena sifat iri itu tanda tak mampu!" Dimas membalas ledekan Dika seketika Dika menoyor pelan kepala Dimas. Cessa dan Amel terkekeh pelan melihat Dimas dan Dika saling berbalas ledekan. Damian yang sedari tadi hanya diam, menyunggingkan senyum tipis tak terlihat menatap sekilas wajah Cessa.

"Giliranku sekarang," ucap Dika sambil mengusau-usap telapak tangannya pada celananya. "Kenalin, namaku Dika! Cowok terkeren, tertampan, terpopuler, dan terbaik deh pokoknya." ucap Dika tangannya terangkat mengajak bersalaman dengan Cessa, tetapi tangan itu segera ditepis oleh Amel.

"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu kan sudah tahu namanya, jadi gak perlu ngajakin Cessa bersalaman lagi buat kenalan. Dasar modus!" seru Amel menatap sengit kepada Dika, namun yang ditatap malah bersikap acuh seolah tak merasa punya salah.

"Dan teman kita yang satu ini namanya Damian Argantara, cowok terpopuler di seantero SMA Angkasa Raya," Dika mengenalkan Damian kepada Cessa.

Cessa mengalihkan pandangannya menatap sekilas pada Damian yang kebetulan saat itu Damian pun sedang menatapnya. Sejenak pandangan mereka saling beradu dan terkunci. Entah mengapa Cessa merasa tidak asing dengan nama itu, tetapi Cessa sendiri tidak tahu siapa dan di mana ia pernah mendengarnya.

***

Malam hari di dalam kamarnya, Cessa merebahkan tubuhnya seraya membolak-balik buku yang di bacanya. Rasa sesak, sakit, kecewa, marah sekaligus keinginan untuk membalaskan dendam bercampur aduk dalam hatinya.

Cessa membaca seluruh isi dari buku catatan peninggalan mamanya. Ia menjadi teringat akan tujuannya pindah ke Jakarta ini adalah untuk mencari keberadaan Rio Argantara. Lelaki kejam dan tak berperasaan yang sudah menyia-nyiakan mama dan juga dirinya.

Ceklek

Pintu di dorong dari luar, Cessa melihat ayahnya masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu memperlihatkan senyumnya menyambut kedatangan sang ayah yang baru pulang dari kantor.

"Ayah kapan pulang dari kantor?" tanya Cessa,

"Ayah baru saja tiba, dan langsung ke kamar putri ayah untuk melihatnya apa sudah tidur atau belum," jawab Langit seraya mengusap lembut puncak kepala Cessa.

"Cessa belum mengantuk, Yah! Apa ayah sudah makan?" ujar Cessa seraya bertanya kepada ayahnya.

"Sudah, kamu sendiri apa sudah makan?" Langit bertanya balik pada putrinya, Cessa mengangguk mengiyakan bahwa dirinya pun sudah makan.

"Bagaimana hari pertama sekolahmu?" tanya Langit lagi.

"Cukup baik ayah, Cessa sudah mendapatkan seorang teman di sana," jawab Cessa seraya memperlihatkan senyumnya. Langit mengangguk-anggukan kepalanya,

"Syukurlah...," ucap Langit.

Hening beberapa saat, keduanya seolah larut dalam pikirannya masing-masing.

"Ayah, apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Cessa memecah keheningan, Langit tersenyum lalu menganggukan kepalanya.

"Apa yang ingin kamu inginkan dari ayah, hm? Ayah akan mengabulkannya semampu ayah," ucap Langit yakin.

"Benarkah?" Langit mengangguk kembali, dengan ragu Cessa memberanikan diri untuk mengatakan niatnya kepada ayahnya.

"Apa ayah mau membantuku untuk mencari tahu keberadaan orang yang ada dalam foto ini, untukku?" tanya Cessa dengan hati-hati, ia berucap seraya menunjukan selembar foto pada ayahnya.

Langit mengernyitkan alisnya menatap foto yang ditunjukkan Cessa padanya. Rio Argantara, lelaki yang sudah menyakiti Istrinya bahkan hingga berusaha mencelakai istri dan juga putrinya itu.

"Untuk apa kamu mencari tahu tentangnya?" tanya langit menyelidik,

"Cessa ingin tahu tentang mereka semua yang terlibat untuk menyakiti mama. Cessa ingin membalas semua yang mereka lakukan kepada mama," ucap Cessa lirih. Langit menghela napas dalam lalu membuangnya,

"Kamu tidak perlu melakukan itu semua," ucap Langit, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Cessa mengerutkan alisnya mendengar perkataan ayahnya.

"Tapi ayah...," Cessa menghentikan niatnya untuk melanjutkan ucapannya saat melihat Langit menggelengkan kepalanya seraya tersenyum padanya.

"Biarkan itu semua menjadi urusan ayah. Tugas kamu hanyalah belajar dengan sungguh-sungguh! Jangan pikirkan apa pun kecuali sekolahmu. Kamu mengerti?" tegas Langit. Mendengar perkataan ayahnya, Cessa memberenggut dan menatap kesal kepada Langit. Lelaki paruh baya itu terkekeh melihat sikap putrinya.

"Sekarang kamu harus istirahat, jangan sampai besok bangun kesiangan!" Langit menarik selimut tebal hingga menutupi sebagian tubuh Cessa, ia mengusap wajah Cessa lembut lalu mendaratkan kecupan di kening putrinya.

Meskipun kini Cessa sudah tumbuh remaja, tetapi Langit masih memperlakukan Cessa seperti putri kecilnya yang dulu.

"Ayah sangat menyayangi Cessa dan juga mama Indah. Ayah pasti akan melakukan apa pun untuk kalian berdua," ujar Langit sebelum akhirnya melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar Cessa.

"Ayah...," panggil Cessa lirih, Langit membalikan tubuhnya untuk melihat putrinya itu. "Terima kasih," ucap Cessa tulus, Langit memperlihatkan senyumnya lalu mengangguk kecil.

"Tidurlah!" seru Langit pelan, Cessa pun mengangguk lalu memejamkan matanya. Melihat hal itu Langit segera melanjutkan niatnya keluar dari kamar Cessa.

Related chapters

DMCA.com Protection Status