Share

Dunia ini tidak Seburuk atau pun Seindah yang Kau Kira
Dunia ini tidak Seburuk atau pun Seindah yang Kau Kira
Author: desope

Alfa?

Pernahkah kau memimpikan seorang pahlawan?

Seperti apakah dia?

Kekar?

Kuat?

Tampan?

Berani?

Celana dalam diluar?

Kebanyakan dari kita pasti mengidamkan pahlawan seaneh itu kan? Namun, buku ini tidak akan menceritakan pahlawan seperti itu.

Namun, dalam benakku terbayang sosok pahlawan yang aneh. Dia tidaklah kuat apalagi rupawan, tidak pintar tapi juga tidak bodoh. Serius deh, dia adalah tokoh utama dari cerita sederhana ini dan untuk jaga – jaga, aku akan ambil bagian dalam cerita ini agar cerita ini tidak menjadi lebih kacau dari yang ku perkirakan.

“Woy! Cepetan woy! Aku udah siap-siap dari tadi!”

Oh, itu tokoh utamanya. Ya sudah, nikmati saja cerita sederhana ini ya. Selamat membaca.

Konon, legenda beratus - ratus ditambah puluhan tahun berkata bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dilanda peristiwa besar. Dikatakan yang mendalangi peristiwa ini adalah kelompok misterius berjubah polkadot dengan tujuan untuk membangun negri impian mereka sendiri. Juga dikatakan bahwa kelompok aneh ini akan dikalahkan oleh kelompok yang dipenuhi oleh orang – orang aneh yang dipimpin oleh seorang pemuda yang sangat aneh yang menggunakan gelang besi sebagai senjatanya. Oleh karena itu, seorang keluarga besar dipilih untuk mencari pemuda aneh tersebut.

Selama berabad – abad mereka mencari – cari orang itu. Mereka berkelana menggunakan kuda, perahu, pesawat jet, segway, dll namun, mereka belum berhasil menemukannya. Baiklah jadi jelasnya keluarga besar ini adalah keluarga bangsawan yang dikepalai bapak Raku dan ibu Onodera.

“woy.” Seru si tokoh utama.

“Apaan?” Tanyaku.

“Nggak usah jelasin keluarganya satu – satu lah!”

“Lah?!  Kan yang namanya cerita harus lengkap kan?”

“Iya, tapi nggak gitu juga. Ini kan ceritaku bukan cerita keluarga yang nggak jelas itu…. Apaan lagi itu? Raku harusnya sama Chitoge woy! Move on lah mas! Terima kenyataannya lah.” (P.S yang belum ngerti googling aja Nisekoi: team Chitoge vs team Onodera)

“Lah terserah aku lah! Yang ngarang aku ini.”

“Ya udah, fine, aku resign ya.”

“Ye jangan dong! Iya, iya aku cepetin deh. Baru mulai aja udah ngambek.”

Pada tahun 1983…..

“Aku belum lahir woy.”

Pada tahun 2095….

“Lah keburu bau tanah.”

Pada tahun 2945….

“Ngajak ribut nih penulis.”

“Ok, ok, sorry.”

Pada tahun 2017, suasana kota Bandung masihlah ramai. Terlihat kemacetan yang tiada habisnya, orang – orang yang lalu lalang di trotoar dan penjahat lengan panjang yang terlihat sedang lari marathon + halang rintang di jalanan. Terlihat seorang wanita cantik berjalan diantara kerumunan itu. Dia adalah wanita yang cantik, berambut panjang, rambutnya bewarna hitam, mengenakan dress putih dan mengenakan kalung dengan permata biru ditengahnya. Ia terlihat sedang berjalan sambil menengok ke kanan dan kiri terus menerus seolah –olah ia kehilangan sesuatu yang penting. Lalu, lama kelamaan ia tidak memperhatikan langkahnya dan berujung menabrak seseorang. Wanita itu pun terjatuh kesakitan. ”Aduh, maaf pak saya kurang hati – hati.” Katanya takut.

Orang itu pun menoleh dan membalikan tubuhnya. Ia terlihat marah. Wajah tuanya yang terlihat sudah bau tanah dan nikotin lengkap dengan kulitnya yang bewarna coklat toska, keringat yang bercucuran dengan indah dan nafas bau rokok dan bangkai tikus seolah – olah nafasnya dapat melelehkan besi menunjukan bahwa ia benar – benar marah.

“Jalan pake mata dong!” Hardiknya.

“Kyaaa!! Maaf, maaf pak. Saya nggak sengaja.” Kata wanita itu dengan takutnya.

Orang yang ada di sebelah pria itu pun menepuk pundak pria itu dan berkata. ”Udahlah, jangan kasar – kasar ke cewek kayak gitu, gentle dikit lah.”

“Iya tuh bener! Dengerin tuh!” Tambah wanita itu dengan polosnya.

“Diam!” hardiknya.

Wanita itu pun terdiam karena takut.

“Udahlah, kita bawa dia ke gang sempit aja dan….” Kata teman pria itu sambil menaikan kedua alisnya dengan wajah mesumnya.

Pria itu pun tersenyum dengan senyum menjijikannya dan berkata. ”Ide bagus.”

Pria tambun bernafas busuk itu pun mendekati wanita itu secara perlahan diikuti oleh temannya yang bertubuh kurus kering itu. Wanita itu tampak ketakutan karena dia tahu lari adalah tindakan bodoh namun berdiam diri pun lebih bodoh lagi. Dia pun menggenggam permata dikalungnya dengan erat dan menutup kedua matanya berharap dia akan baik –baik saja.

Tiba- tiba terlihat seorang pemuda seumuran wanita itu, berjaket hitam tebal yang jaket bagian kanannya tidak dipasang dengan benar berlari kearah mereka sambil berteriak. ”Tunggu!!!”

Kedua pria itu pun terkejut melihat melihat orang yang berlagak seperti pahlwan itu berlari menghampiri mereka.

Pemuda itu pun berhasil mendekati mereka walaupun dia terlihat kelelahan.

“Bocah tengik, apa yang kau lakukan disini?” Tanya pria itu kesal.

“Bentar.” Katanya masih mengatur nafasnya. ”Woy penulis! Kenapa kau buat aku terihat seperti orang bodoh?!!!” Teriaknya marah.

“Terserah aku lah.” Jawabku.

“Dimana – mana tokoh utama harus muncul dengan keren tau!” Keluh si tokoh utama.

“Itu sudah kuno! Makanya aku bikin kayak gini biar lebih unik.” Jawabku.

“Tapi nggak gini juga kali!!!!” Keluh si tokoh utama.

Dan si tokoh utama pun terus berdebat denganku. Anehnya si tokoh utama nggak sadar bahwa dia terlihat seperti orang gila: dia ngomong sendiri. Itu karena hanya tokoh utama yang diberi kemampuan untuk berbicara dengan penulis. Errr, dalam kasus ini menghina penulis ya.

Sementara itu mereka bertiga terlihat kebingungan dengan apa yang mereka lihat saat ini,

“Dia ngapain sih?” Tanya pria itu.

“Entahlah, aku juga bingung.” Jawab temannya canggung.

“Dia bodoh atau apa sih?” Tanya wanita itu.

Tiba – tiba wanita itu terkejut melihat pemuda gila itu. “Tidak Mungkin!” Ucap benaknya tidak percaya.

“Yaudah, kalau kamu mau cerita ini jadi lebih epic. Tuh kalahin 2 orang bejat disana. Aku nggak mau novel ini berubah jadi novel dewasa.” Ujarku.

“Bukannya kamu suka novel dewasa ya?”

“Eh buka kartu lagi. Iya aku memang suka, tapi nanti pembacaku akan merasa tidak nyaman.”

“Oh, iya juga ya. Aku hampir lupa. Baiklah.” Katanya. Dia pun menatap kedua orang itu dengan tajam. Kedua pria itu merasa sedikit terintimidasi olehnya.

Dia pun menunjuk mereka berdua dan berteriak. ”Hei orang – orang aneh!”

“Yang aneh itu kamu!” Balas mereka kesal.

“Beraninya sama cewek tak berdaya. Kalau kalian berani.” Katanya. Dia pun mengunakan jempolnya menunjuk dirinya sendiri. ”Lawan aku!” Tantangnya PD.

“Cewek tak berdaya?” Pikir wanita itu kesal.

“Jangan ikut campur!”Hardik pria itu.

“Aku tidak bisa membiarkan orang - orang aneh seperti kalian mengganggu cewek seenak jidat kalian.” Tantangnya.

“ Hei, jangan kepedean gitu lah.” Kataku.

“Berisik! Ini novel fantasi kan? Aku yakin kalau aku pasti menang.” Kata tokoh utama dengan PDnya.

“Iya, tapi tahu diri lah.”

“Berisik! Nulis yang bener sono! Biar aku yang urus mereka berdua.” Katanya.

Tiba –tiba munculah cahaya di sekeliling tubuh pemuda itu.

“Tidak mungkin!! Gelangnya mengeluarkan aura Iru?!!!” Kata wanita itu dalam benaknya. Wanita itu terkejut melihat apa yang ada di depannya saat ini.

Kedua pria itu pun terlihat takut pada cahaya itu. Wajah mereka terlihat panik takut dihabisi oleh pemuda aneh itu.

Pemuda itu pun berlari ke arah mereka melayangkan pukulan kuatnya dan saat ia berhasil memukul pria itu, pria itu tidak merasa kesakitan sama sekali.

Hening.

Suasana pun menjadi hening.

Pemuda itu yang malah dihabisi kedua pria itu.

“Dasar bodoh!” Teriak wanita itu kesal.

Wanita itu pun mengeluarkan aura berwarna biru yang lebih besar dari cahaya pemuda itu. Aura itu membentuk sebuah raksasa dengan lengan dan tangan yang besar.

“Pelidung Gerbang Utara! Cakra!” Seru wanita itu.

Raksasa itu pun menggenggam kepala pria itu di tangan kirinya dan kepala tea di tangan kanannya. Ia menghantam kedua kepala mereka terus menerus sehingga mereka tak sadarkan diri dengan bejol –benjol imut di kepala dan gigi yang rontok bagaikan ketombe.

Sosok raksasa itu pun lenyap dalam sekejap. Wanita itu pun menghampiri pemuda itu yang sedang pingsan dengan indahnya.

“Hei, apa kamu baik – baik aja?!” Tanya wanita itu khawatir.

“Kenapa malah jadi begini?” Keluh pemuda itu.

“Kan aku udah bilang, makanya jangan congkak. Di bagian ini kamu belum tau kekuatanmu itu apa.” Kataku.

“Kenapa kamu nggak bilang? Bisa nulis yang bener nggak sih?!” Seru tokoh utama kesal.

“Kamu ngarep apaan? Kesamber petir terus dapat kekuatan super? Yang ada malah jadi azab Illahi.” Jawab ku.

“Dasar penulis sialan.” Keluh tokoh utama kita ini.

“Maaf, apa kamu baik – baik saja?” Potong wanita itu.

Pemuda itu pun bangun dari pingsan indahnya dan berkata. ”Iya,  aku baik –baik saja.”

“Kamu sebenarnya kenapa sih? Dari tadi bicara sendiri terus kayak orang gila.” Tanya wanita itu heran.

“Aku tadi lagi ngomong sama penulis novel ini.” Katanya.

“Dasar bodoh.” Kataku.

“Penulis? Ngaco aja. Kamu benar – benar nggak sayang nyawa ya? Untung aja aku bisa nolong kamu tadi.” Kata Wanita itu risih.

“Tuh dengerin.” Tambahku.

“Iya, iya, makasih ya….” Katanya berusaha mencari panggilan yang cocok untuk wanita ini.

“Kartika. Namaku Kartika.” Potongnya.

“Iya, Kartika.. namaku Alfi.” Balasnya berusaha berdiri. ”Kenapa kamu bisa diganggu orang – orang bejat itu? Kelilit utang?” Tambahnya.

“Bukan, aku sedang mencari seseorang.” Jawab Kartika.

“Kau tau?” Tanya Alfi padaku melalui telepati.

“Tau.” Jawabku

“Kasih tau dong.” Pinta Alfi.

“Ogah, Kalau aku kasih tau bisa langsung tamat nih novel lah.” Tolakku.

“Biarin lah, biar kelar.” Bujuk Alfi.

“Matamu!”

“Ma.. Maaf, kalau boleh kamu boleh tinggal dirumahku.” Ajak Kartika dengan wajahnya yang merah padam.

“Hah?” Balas Alfi terkejut. “Tumben kamu baik.” Kata Alfi padaku.

“Dodol! Aku nggak bakal ngebiarin kamu melakukan hal yang semena – mena.” Jawabku.

“Tapi ini demi pembaca.” Bujuk Alfi.

“Aku tau tapi karena kamu itu mesum dan bejat, makanya aku nggak bakal ngebiarin hal itu terjadi.” Jawabku tegas.

“Pelit!”

“Alfi?” Potong katika.

“Iya?” Balas Alfi terbangun dari lamunannya.

“Gimana? Mau nggak?” Tanya Kartika.

“Kau bilang kan kau mau terlihat keren kan? Makanya jangan norak.” Tambahku.

“Baiklah.” Jawab Alfi dengan penuh percaya diri.

“Dasar mesum.”Kataku.

“Berisik!”“ Balas Alfi.

“Baiklah, ayo.” Ajak Kartika pada Alfi.

“Ok.” Jawab Alfi dengan nada genit.

“Dasar mesum” Kataku.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka berdua sampai di rumah Kartika. Rumah yang terletak di komplek sederhana, bercat putih dengan pagar besi didepannya. Terlihat pohon mangga didepan rumahnya berdiri tegak di kebun kecil itu. Kartika menggeser pagar besi itu dengan kuat dan berjalan ke depan rumah bersama Alfi. Yang membuat Alfi heran adalah rumah ini tidak memiliki pintu. Rumah ini dipenuhi jendela di setiap temboknya.

“Bagaimana caranya kita masuk?” Tanya Alfi.

“Tenang.” Jawab Kartika santai.

Kartika menyentuh jendela terbesar yang ada di tengah tembok dangan telapak tangannya. Dia terlihat sedang membaca mantra karena mulutnya komat – kamit dan tiba – tiba jendela itu kehilangan kacanya sehingga mereka berdua bisa masuk.

“Ayo masuk.” Ajak Kartika.

Alfi masih terdiam kagum dengan apa yang baru saja terjadi.

Kartika mengajak Alfi ke ruang tengah. Tidak ada apapun yang menarik disana, hanya ruang putih dengan karpet bermotif unik bak sampul buku.

Kartika mempersilakan Alfi untuk duduk bersila di depannya. Dia pun menatap Alfi dengan tajam.

“Ya ampun, apa – apaan ini?” Tanya Alfi dalam benaknya. Tiba – tiba pikiran – pikiran kotor muncul di benaknya.

“Lebay! Ini Cuma bagian cerita, jangan berharap lebih! Dasar mesum!”” Seruku.

“Sialan.”

“Alfi.” Panggil Kartika.

“Ya?” Balas Alfi.

“Kenapa kamu muncul waktu itu?” Tanya Kartika.

“Aku nggak bisa tahan aja ngeliat kayak gituan.” Jawab Alfi singkat.

“Maksudnya?” Tanya Kartika.

“Iya, aku nggak suka ngeliat orang di bully karena aku tau sakitnya di bully itu seperti apa. Kita kan harusnya menghormati satu sama lain. Kenapa kita malah menyakiti sesama kita sendiri coba?” Terang Alfi.

Kartika pun tersenyum.

“Dia memang aneh tapi ternyata dia baik juga.” Ucap benak Kartika.

“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Tanya Kartika penasaran.

“Ya, aku suka baca buku dan nonton Anime.  Kayaknya kalau kita bisa saling menghargai bagai cerita dalam buku dan anime, dunia pasti bisa menjadi tempat yang lebih indah kan?” Terang Alfi.

“Hah?! Maksudnya apa? Aku nggak ngerti.” Tanya Kartika heran.

“Salahin penulis, aku juga nggak ngerti.” Jawab Alfi singkat.

“Kenapa malah aku yang disalahin coba?” Tanyaku kesal.

“Iya kamu memang dodol.” Balas Alfi.

“Alfi.”Panggil Kartika mencoba mencairkan suasana.

“Ya?” Balas Alfi.

“Dimana kamu mendapatkan gelang besi itu?” Tanya Kartika menunjuk gelang Alfi yang terpasang di pergelangan tangan kanannya.

“Aku membuatnya sendiri. Gelang ini sangat berharga bagiku.” Jawab Alfi menyentuh gelang besinya dengan lembut.

“Eh? Ada tulisannya. Megumi. Siapa Megumi?” Tanya Kartika.

“Waifuku.” Jawab Alfi tersenyum. (P.S waifu adalah karakter wanita dalam anime yang disukai bahkan dicintai oleh seseorang. Paling parahnya malah dianggap pasangan hidup, contoh nyata: Penulis sama Mitsuha Miyamizu dari Kimi no Na Wa.)

Kartika pun terdiam.

“Fix, orang ini high quality aneh.” Ucap benak Kartika.

“Alfi, apa aku boleh minta tolong?” Pinta Kartika.

“Minta tolong apa?” Tanya Alfi.

“Coba tempelkan telapak tanganmu pada motif karpet yang ada di tengah kita.” Jelas Kartika.

Alfi pun menempelkan telapak tangan kanannya pada motif1itu dan kemudian cahaya yang menyilaukan muncul dari seluruh ruangan. Alfi meraung keras karena pengaruh dari cahaya itu. Kartika disana melihatnya dengan takjub.

“Akhirnya! Selama berabad – abad, selama generasi – generasi. Kau datang juga!” Ucap benak kartika. “Orang aneh ini adalah penyelamat dunia!” Lanjutnya.

Kemudian cahaya itu lenyap dan Alfi tertunduk lesu.

“Apa itu tadi?” Tanyanya lemas.

“Alfi.” Panggil Kartika.

 ”iya?”Balas Alfi.

“Kau..”

“Ya?”

“Kau..”

“Ada apa Kartika?”

“Kau adalah Alfa!” Seru Kartika.

“Apa? Aku ini Alfi bukan Alfa.” Kata Alfi heran.

Kau adalah Alfa! Penyelamat dunia yang keluargaku cari selama ini!” Seru Kartika. ”Tolong aku Alfi! Dunia saat ini dalam bahaya besar!” Tambahnya tunduk pada Alfi.

“A… Apa?” Tanya Alfi tidak percaya.

“Wah mulai rame nih.” Kataku.

“Kamu nulis apaan lagi sih? Nama bagus – bagus kamu rusakin. Ingat ini udah bubur merah bubur putih nih!” Keluh Alfi.

“Suka –suka lah.”

“Sialan.”

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jasmin Mubarak
gaje thor...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status