Share

Kenapa?

“Ngomong-ngomong.” Kata Alfi. ”Apa kau tahu seberapa kuat musuh kita nanti?” Tanyanya.

“Iya,” Balas Kartika mengeluarkan kotak yang ia temukan di pertempuran sebelumnya. ”Driver ini menunjukan informasi mengenai musuh kita. (aku tidak bisa menemukan nama lain atau pun padanannya, oleh karena itu sebut saja driver ya)” Lanjutnya.

“Benarkah? Beri tahu aku.” Pinta Alfi.

“OK. Tinggi: 165 Cm, berat: 56 Kg, zodiak: Virgo, makanan kesukaan: seblak basah.” Jelas Kartika.

“Bukan informasi itu!” Seru Alfi kesal.

Kartika pun tertawa lepas dan dengan heran berkata, ”Jangan tegang begitu fi, santai saja. Aku juga bingung kenapa informasi seperti ini tercantum disini.”

“Jadi yang tadi itu informasi asli?!” Tanya Alfi heran.

“Iya.” Balas Kartika mengotak-atik drivernya (karena Taye sudah mati, secara teknis drivernya jadi milik Kartika kan?) dengan Irunya mencari informasi penting mengenai musuh yang akan mereka hadapi nanti.

“Ketemu!” Seru Kartika.

Sementara itu, di sebuah ruangan yang gelap tanpa secercah cahaya pun meneranginya dan dingin bagaikan kehidupan tanpa jiwa yang bebas dan dipenuhi kesedihan tak berujung. Terdapat meja hitam yang besar dan lebar berbentuk segi enam di kelilingi orang - orang berjubah polkadot dengan warna dasar yang berbeda - beda, ada yang bewarna hitam, merah, biru, hijau, kuning, dan putih dengan pola lingkaran bewarna hitam (warna dasar biasa menggunakan pola lingkaran bewarna putih) duduk nyaman di kursi panasnya masing-masing.

“Kita sudah menyebarkan pasukan kita ke seluruh pelosok negri ini.” Lapor si jubah kuning. ”Mereka akan mulai bergerak untuk membangun daerah kekuasaan mereka sendiri.” Lanjutnya.

“Aku mendapat laporan bahwa Taye, yang menguasai kota Bandung telah terbunuh baru-baru ini.” Potong si jubah biru.

“Siapa yang mengalahkannya?! Tidak mungkin seorang anggota yang handal seperti dia dapat dibunuh semudah itu.” Tambah si jubah merah.

“Walaupun begitu, dia tidak terlalu kuat. Ini hanyalah masalah sepele.” Tambah si jubah hijau remeh.

“Yang membunuhnya adalah Yang Mulia Alfa.” Potong si jubah biru.

Suasana pun menjadi tegang.

“Tidak mungkin!” Seru si jubah merah emosi.

“Jadi, legenda omong kosong itu benar rupanya.” Kata si jubah hitam.

Sepertinya si jubah putih tidak peduli akan hal ini.

“Jangan khawatir.” Potong si jubah putih. ”Taye merupakan anggota golongan merah muda yang merupakan golongan terlemah dalam Waku-waku. Lagian, kita masih punya banyak anggota yang lebih kuat daripada dia.” Lanjutnya.

“Benar!” Tambah si jubah hitam. ”Kita, Waku-waku akan menghancurkan dunia yang menyedihkan ini dan membangun negri ideal yang kita impikan!” Lanjutnya mengangkat cangkir hitamnya diikuti dengan semuanya mengangkat cangkir mereka masing-masing sesuai warna jubah mereka.

“Oh, jadi itu toh kekuatannya.” Sahut Alfi.

“Iya, dia pasti lebih kuat daripada Taye. Ditambah lagi, agenda Waku-waku adalah menghancurkan seluruh pelosok Indonesia dengan menguasai Landmark (serius, aku bingung harus memakai kata apa untuk padanan kata ini) tiap daerah dengan mengaliri Iru mereka pada Landmark tersebut.” Jelas Kartika.

“Apa yang akan terjadi jika hal itu terjadi?” Tanya Alfi.

“Kau ingat kan apa yang terjadi pada Gedung Sate di pertempuran selanjutnya?” Tanya Kartika.

“Iya.” Balas Alfi.

“Itulah yang akan terjadi jika seseorang mengaliri Irunya pada suatu Landmark.” Jelas Kartika.

“Dia bisa mengubah suatu benda menjadi daging sate?” Tanya Alfi.

“Bukan itu dasar bodoh! Dia bisa mengubah bentuk dari Landmark itu sesuai kehendaknya, dan saat ia berhasil menguasainya dia akan menjadi sangat kuat seperti Taye yang berubah menjadi monster sate.” Jelas Kartika.

“Aku baru tahu kalau Iru bisa digunakan untuk hal seperti itu.” Kata Alfi kagum.

“Iru adalah ilmu dasar dalam penggunakan Doki-doki yang diproses oleh imajinasi liar seseorang dan dihasilkan oleh Jowa.” Jelas Kartika.

“Itu berarti aku bisa menggunakan Iruku untuk mengubah ruang ganti perempuan menjadi terlihat dong! Kata Alfi cengengesan.

Tiba-tiba raksasa biru berlengan besar dan bertangan besar muncul dari kalung Kartika dan memukul kepala Alfi dengan keras.

“Dasar mesum.” Kata Kartika kesal.

Alfi pun bangun dan tertawa. ”Iya, iya, Maaf Kartika. Aku cuma bercanda kok.” Katanya cengengesan.

“Dasar, kamu ini ada-ada aja deh.” Kata Kartika iba.

“Tunggu, makhluk apa yang melayang di atasmu?” Tanya Alfi menunjuk raksasa biru bermata kuning menyala yang berdiri tegak di atas Kartika.

“Kartika, apa kau yakin dialah Yang Mulia Alfi yang sebenarnya? Aku ragu.” Kata sosok raksasa itu meremehkan Alfi.

“Wow! Dia bisa bicara juga!” Seru Alfi kagum.

“Lihat, bukan cuma tampangnya saja yang terlihat bodoh, dia memang benar - benar bodoh. Kau pasti salah lihat, Kartika.” Ejek sosok itu.

Megumi pun keluar dari gelang Alfi dan dengan kesalnya dia berseru, ”Siapa yang kau bilang bodoh?! Jaga mulutmu!”

“Siapa lagi si cebol ini? Lancang sekali dia bicara seperti itu padaku!” Seru sosok itu dengan angkuhnya.

“Siapa yang kau sebut cebol?! Dasar asap limbah pabrik!” Seru Megumi terpicu.

“Siapa yang kau bilang asap limbah pabrik?!” Seru Cakra terpicu.

“Sudahlah Cakra!” Seru Kartika mematikan Irunya, menyebabkan Cakra lenyap kembali ke kalungnya. ”Maafkan Cakra ya Alfi.” Lanjut Kartika menyesal.

“Iya, dia benar-benar menyebalkan.” Keluh Megumi.

Alfi pun tertawa, mengelus rambut Megumi dan berkata, ”Terima kasih ya Megumi! Aku senang kamu membelaku seperti itu.”

“Alfi..” Ucap Megumi. ”Aku jadi malu.” Lanjutnya malu-malu.

Kartika merasa senang melihat betapa dekatnya Alfi dan Megumi, namun di saat yang sama, ia juga merasa sedih karena sebenarnya Megumi hanyalah imajinasi Alfi yang dipaksa hidup belaka.

“Kartika.” Ucap Alfi.

Kartika pun terbangun dari lamunanya dan berkata, ”Ya?”

“Apa yang terjadi pada Cakra? Sepertinya dia benar-benar membenciku.” Tanya Alfi.

“Sudahlah Alfi, jangan buang-buang waktumu untuk memikirkan makhluk menyebalkan seperti dia.” Bujuk Megumi kesal.

“Cakra sudah melayani keluargaku selama ini. Dia telah berjuang dalam banyak pertempuran bersama leluhur-leluhurku. Dan saat ia melihat kenyataan bahwa Alfa adalah kau, dia merasa usahanya selama ini sia-sia karena dia mengira bahwa Alfa adalah sosok pemimpin yang amat bijaksana dan kuat.” Jelas Kartika. ”Tolong maafkan dia ya Alfi, dia hanya kecewa karena kamu benar-benar berbeda dari sosok yang ia dambakan. Dia selalu menyemangatiku untuk mencarimu. Dia selalu bilang "Kita pasti akan menemukan Yang Mulia Alfa! Dia adalah orang yang luar biasa! Pemimpin yang hebat, kuat dan bijaksana! Bahkan seluruh umat manusia akan tunduk padanya! Kita harus menemukannya tak peduli apa yang akan terjadi pada kita!"“ Lanjut Kartika sedih.

Alfi pun terdiam. Ia memikirkan bagaimana sakitnya perasaan Cakra saat ini. Alfi mengerti betul sakitnya kekecewaan yang Cakra rasakan itu.

“Memang benar.” Ucap Alfi. ”Memang benar aku bukanlah sosok yang ia dambakan. Tapi kenyataannya, aku adalah Alfa, orang yang akan menyelamatkan dunia ini. Aku tidak akan mencoba berubah menjadi orang yang dia dambakan, tapi aku akan terus berjuang untuk menyelesaikan tugas ini untuk membayar semua kerja keras kalian selama ini!” Lanjutnya tersenyum lebar pada Kartika.

Megumi pun tersenyum, begitu juga Kartika.

“Nah! Itu baru Alfiku! Dia hebat kan?” Kata Megumi senang.

Kartika pun tersenyum dan mengganggukan kepalanya.

"Kau dengar kan Cakra? Dia memang hebat, bahkan lebih hebat dari sosok yang kau dambakan." Ucap benak Kartika.

"Dasar mulut besar! Jangan sampai termakan omongannya!" Balas Cakra kesal.

“Terserah kau mau bilang apa. Aku percaya padanya, aku benar-benar mempercayainya." Balas Kartika memandang Alfi yang tengah asik mengobrol dengan Megumi.

"Memalukan! Inikah orang yang pantas menikahimu? Aku memang menghormati keluarga terhormat ini, tapi aku tidak akan mengakui dia sebagai Yang Mulia Alfa!" Seru Cakra kesal.

"Sudahlah Cakra! Jangan bahas itu lagi!" Balas Kartika kesal.

“Sebentar lagi kita sampai!” Seru Pinto menghancurkan keheningan itu.

Alfi pun berlari ke arah kepala Pinto melepas lengan bagian kanannya seperti biasa. Megumi pun menarik seleting jaket Alfi sampai ke atas perut Alfi saja.

Alfi pun mengangkan kedua lengannya dan dengan riangnya dia berteriak, ”Kita sampai!!”

"Dia memang tidak seperti yang kau bayangkan, tapi dia memiliki hal yang lebih penting daripada sekedar keberanian dan kebijaksanaan. Dan itu adalah rasa kesetiakawanan yang amat besar!!" Ucap benak Kartika tersenyum melihat Alfi yang riang seperti itu.

Alfi dan Kartika pun turun dari Pinto melalui Iru milik Pinto.

Mereka berdua melihat disekeliling mereka. Terlihat tenda-tenda putih berdiri di sepanjang alun-alun Kota Garut yang menjual berbagai makanan dan pernak-pernik khas Garut. 

Terlihat banyak orang yang sedang menikmati acara ini. Anak-anak terlihat asik berlari sambil memegang balon dengan erat, para pemuda-pemudi tengah asik mengobrol dan bersenda gurau, ada juga yang tengah sibuk menawar harga.

“Festival kah?” Tanya Alfi.

“Bagaimana kita menemukan musuh kita disini?” Keluh Kartika.

"Sayang sekali hari ini ada acara yang bagus. Kalau saja Waku-waku tidak menyerang tempat ini, aku pasti bisa berkencan dengan Alfi." Keluh Kartika dalam benaknya.

Tiba-tiba Kartika mendengarkan Alfi berkata, ”Sayang sekali ya, hari ini ada acara yang bagus. Kalau saja Waku-waku tidak menyerang tempat ini, aku pasti bisa berkencan denganmu.”

Sesaat Kartika ingin mengatakan sesuatu, Alfi pun dengan menyesal berkata, ”Megumi, maaf ya, nanti kita kencan sambil makan es krim ya?”

Kartika pun memukul kepala Alfi dengan keras karena kesalnya mendengar Alfi mengatakan hal seperti itu.

“Seriuslah Alfi!” Seru Kartika kesal.

“iya sayang, nggak apa-apa kok.” Kata Megumi lembut.

“A...aku yang kenapa-napa.” Kata Alfi kesakitan.

Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda berteriak, ”Kita harus pergi dari sini! Tempat ini akan musnah!!!” berkali-kali.

Orang-orang terlihat kesal mendengarnya. Mereka pun mulai membicarakan hal yang tidak-tidak mengenai orang itu.

“Dia lagi rupanya?”

“Biarkan saja, dia pasti bohong lagi.”

“Ibu, om aneh itu datang lagi.”

“Ayo kita pergi! Dia cuma seorang pengangguran, sampah masyarakat yang tidak berguna. Gitu jadinya kalau kamu malas belajar.”

Alfi dan Kartika terlihat heran mendengar ocehan orang-orang terhadap pemuda itu. Alfi pun menghampiri salah satu dari mereka dan dengan sopan bertanya, ”Maaf, kenapa ya orang-orang merasa kesal melihat orang itu? Memangnya dia itu siapa?”

“Oh, cuma sampah masyarakat yang tidak penting kok. Kerjaannya cuma berteriak tidak jelas. Dia selalu berkoar-koar soal kelompok berjubah polkadot yang akan menyerang kota ini.” Jelasnya.

"Waku-waku?! Tidak mungkin!" Ucap benak Kartika terkejut.

“Dia selalu melakukan ini tiap festival berlangsung di alun-alun kota. Aku tidak mengerti apa maksudnya dia melakukan hal seperti ini.” Lanjutnya.

Pemuda itu terus berteriak seperti itu, malahan suaranya makin keras, namun semua orang malah mengabaikannya.

Pemuda itu berjenggot dan ia hanya mengenakan celana pendek bewarna coklat, sepatu kulit bewarna coklat, berambut lebat dan mengenakan topi ala koboi bewarna hitam. Terlihat juga 2 tato rantai peluru dari pundak kiri dan kanannya membentang ke pinggangnya membentuk huruf X di dada dan punggungnya. Pantas saja orang-orang mengganggapnya sampah masyarakat, penampilannya aja gitu.

Alfi dan Kartika pun menghampiri pemuda itu.

“Hei, apa yang kau maksud itu Waku-waku? Kelompok berjubah polkadot yang akan menyerang kota ini?” Tanya Alfi gelisah.

“Iya, tapi kenapa kau tahu?” Tanya pemuda itu bingung.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dan sekumpulan orang berjubah polkadot dengan warna dasar putih dan pola lingkaran berwarna merah muda muncul berniat untuk menghabisi masyarakat yang tidak berdosa yang tengah asik menikmati festival.

“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya! Berlindunglah dibelakangku!” Seru Alfi mengeluarkan lengan Irunya.

Kartika pun memanggil Cakra.

“Aku juga ikut bertarung ya.” Kata Kartika memanggil Cakra.

Alfi pun menganggukan kepalanya.

“Aku akan melindungi Kartika! Karena orang lemah sepertimu tidak akan pernah mampu melindunginya.” Ejek Cakra.

“Terserah!” Balas Alfi santai.

Alfi dan Cakra (dikendalikan oleh Kartika dengan cara mengikuti gerakan Kartika, contohnya kalau Kartika memukul Alfi, Cakra juga ikut memukul Alfi) pun menyerang mereka bersamaan . Mereka tidak terlihat kesulitan melawan mereka.

"Gelang itu! Tidak mungkin! Akhirnya dia muncul juga!" Seru pemuda itu dalam benaknya tidak percaya.

“Payah! Ternyata Yang Mulia Alfi tidak sekuat yang ramalan katakan ya?” Ejek Cakra.

“Apa maksudmu?” Tanya Alfi kesal.

“Nyatanya, akulah yang paling banyak mengalahkan musuh! Sementara kau? Kau hanya asal memukul mereka seperti orang bodoh. Mengecewakan!” Kata Cakra angkuh.

“Kau buta apa? Malahan aku yang paling banyak mengalahkan mereka, sementara kau hanya memukul mereka dengan lembut seperti anak kecil.” Balas Alfi.

“Apa katamu?!” Seru Cakra terpicu.

“Cukup!” Seru Kartika melenyapkan Irunya sampai Cakra kembali ke kalung Kartika.

Alfi pun melihat sekelilingnya. Orang-orang melihat Alfi dengan tatapan jijik dan membicarakannya dengan kesan yang buruk.

“Dia ngapain sih?”

“Kayaknya teman orang aneh itu.”

“Dasar sampah masyarakat.”

“Apa yang terjadi?” Tanya Alfi heran.

“Orang biasa tidak bisa melihat Iru.” Jelas Kartika.

“Ditambah lagi, mereka menggunakan Iru mereka untuk membuat mereka tembus pandang.” Tambah pemuda itu.

“Dasar bodoh.” Ejek Cakra.

“Sukurin!” Tambahku.

“Itu berarti....” Kata Alfi canggung.

Semua orang pun menyoraki Alfi.

“Orang gila... Orang gila....” Sorak mereka termasuk teman-temannya.

“Kenapa kalian ikut-ikutan?!” Seru Alfi kesal dan malu.

Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap namun tidak terlihat awan sedikitpun di langit. Orang-orang pun segera pergi meninggalkan alun-alun mencari tempat berteduh. Hujan pun turun, namun hujan ini agak berbeda. Yang turun bukanlah air, melainkan benda padat.

Kepala Alfi terasa sakit saat dijatuhi benda padat itu. Dia pun memungut benda itu dan dengan terkejut berkata, ”Ini bukan air, ini intan!”

Tiba-tiba terlihat sebongkah intan besar jatuh dari langit mengarah pada Alfi dan untungnya bongkahan intan itu hancur berkeping-keping tertembak sesuatu secara bertubi-tubi.

 ”Apa anda baik-baik saja Yang Mulia?” Terdengar suara seorang pemuda di belakang Alfi.

Alfi pun menoleh ke belakang dan menemukan pemuda itulah yang menembak bongkahan intan yang besar tadi.

“Terima kasih!” Seru Alfi. ”Apa tadi kau memanggilku "Yang Mulia"?” Tanyanya.

“Iya Yang Mulia.” Katanya menundukan badannya untuk menghormati Alfi. ”Rupanya legenda itu benar! Namaku Herman. Saya sudah menunggu anda selama ini.” Lanjutnya memperkenalkan diri dengan mengacungkan telunjuk kirinya ke udara.

“Iya, maaf ya sudah merepotkanmu.” Balas Alfi tersenyum.

“Tidak apa-apa Yang Mulia, saya sudah bersumpah akan mendampingi anda dalam menjalankan tugas mulia dan berbahaya ini.” Ucap Herman tunduk pada Alfi.

“Jadi ini yang namanya Yang Mulia Alfa ya?” Terdengar suara dari Babancong.

Terlihat seorang wanita cantik. Tubuhnya sungguh menggoda berbalut gaun merah yang memperlihatkan pundak dan pinggulnya. Rambutnya terurai dan setiap rambutnya terhembus angin, dia terlihat sangat anggun. Kulit putihnya yang membuatnya semua pria jatuh hati padanya, namun anehnya, si mesum Alfi tidak merasa demikian.

“Kau itu siapa?” Tanya Alfi santai.

“Namaku adalah Anggun, anggota Waku-waku golongan merah muda yang menguasai kota Garut. Tunduklah pada penguasa baru kalian! Terutama kalian para laki-laki tolol yang tergila-gila padaku!” Seru wanita itu angkuh.

“Maaf, aku tidak tertarik padamu.” Ucap Alfi santai.

“Apa?! Tidak mungkin! Apa kamu punya kelainan?! Apa kamu pecinta sesama jenis?!” Seru Anggun tidak percaya.

“Aku sudah mencintai seorang wanita yang sangat berharga dalam hidupku. Tidak mungkin aku dapat memalingkan wajahku pada wanita murahan sepertimu.” Jelas Alfi tegas.

“Apa?! Kurang ajar! Memangnya apa yang aku tidak punya dari dia?!” Tanya Anggun kesal.

“Yang kau tidak punya adalah.” Kata Alfi menunjuk Anggun. ”Inner beauty dan cinta yang tulus! Wanita yang memanfaatkan wajah dan tubuhnya hanyalah sampah!” Seru Alfi tegas.

“Kurang ajar!!” Seru Anggun melemparkan sebongkah intan yang besar pada Alfi.

Alfi pun dengan mudah menghindari serangan itu.

“Wanita yang ada di hatiku dan akan selalu ada di hatiku adalah Megumi! Dia 100X lebih cantik daripada dirimu!” Seru Alfi tegas.

"Luar biasa! Alfi memang pria yang hebat!" Ucap benak Kartika mengagumi Alfi.

“Tapi, aku akan terus mengingatmu dan kujadikan kau asupanku sebelum tidur!” Seru Alfi tegas.

“Dasar mesum!!” Seru Kartika, Megumi dan Anggun.

"Apa benar dia ini Yang Mulai Alfa? Iya, pasti benar! Tidak salah lagi! Dia adalah orang aneh yang menggunakan gelang besi sebagai senjatanya." Pikir Herman.

“Kalau begitu, aku akan ikut bertarung melawannya!” Seru Herman membidikkan kedua telunjuknya pada Anggun.

“Senjatamu itu kuku kan? Menembakku dengan kuku? Apa kau pikir kukumu cukup kuat untuk menghancurkan intan?” Tanya Anggun angkuh.

“Tapi, kenapa kekuatannya intan? Aku pikir lawan kita adalah manusia dodol karena Garut terkenal akan Dodolnya.” Pikir Alfi. ”Eh, tunggu dulu. Benar juga, dia mungkin dodol (bego).” Simpulnya.

“Siapa yang kau bilang dodol?! Orang ini benar-benar menyebalkan!!!!” Seru Anggun kesal.

“Ada yang bilang kalau orang yang gampang marah adalah orang bodoh. Ya, benar, dia dodol.” Simpul Alfi.

“Diam kau!! Terima ini!! Hantaman Vital!!!” Teriak anggun mengacungkan telunjuknya ke udara dan menciptakan sebongkah intan yang besar dan melemparkannya ke arah Alfi.

Bongkahan intan itu melesat dengan cepat dan terbagi menjadi 8 dan tiap bagiannya  mengarah pada bagian tubuh Alfi seperti perut, kepala, lengan kiri, lengan kanan, kaki kiri, kaki kanan, leher dan ******.

Anehnya, Alfi tidak bergerak sedikitpun, ia malah menggunakan Irunya untuk membuat 8 bongkahan intan itu meleset.

Herman pun menembakan kukunya terus menerus bak senapan mesin

untuk menghancurkan bongkahan-bongkahan intan yang Anggun layangkan secara terus menerus.

Kartika yang sudah siap bertarung dengan Cakra pun berteriak, ”Alfi! Jangan main-main terus! Cepat habisi dia!”

“Maaf Kartika, aku tidak bisa.” Tolak Alfi gemetaran.

 ”Apa Maksudmu?! Jangan main-main terus!” Seru Kartika panik.

Herman sedang sibuk menghancurkan bongkahan-bongkahan intan yang Anggun layangkan.

“Yang Mulia! Aku sudah tidak kuat lagi.” Seru Herman terus menembak bongkahan-bongkahan intan yang jumlahnya makin banyak itu.

“Alfi!!!!!” Teriak Kartika panik.

“Oh, rupanya dia cuma pembual ya?” Simpul Anggun dengan angkuhnya.

“Aku.... Tidak bisa melawan wanita.” Kata Alfi gemetaran. ”Maafkan aku.” Lanjutnya berputus asa.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status