Obsesi Liar
Obsesi Liar
Author: Ndracogan
Bab 1

Keluarga Jin, Anna & Tris

Usia pernikahan Jan dan Anna telah berusia empat bulan. Anna belum hamil, karena wanita itu memang tidak ingin hamil sebelum lulus sidang akhir dan wisuda, yang jika lancar, akan terlaksana dua bulan mendatang itu.

“Kasihan si calon bayi, nanti ikut stres memikirkan sidang, lagi!”

Jan setuju. Namun dengan alasan yang berbeda,

“Mengganggu performa. Rasanya kurang bagus aja, kalau wanita hamil pakai baju wisuda.”

Suatu hari, Jan akan tahu, betapa seorang wanita yang tengah mengandung justru terlihat lebih menawan dan seksi di mata pria.

***

Banyak yang berubah dalam kehidupan Jan dan Anna, juga orang-orang terdekatnya, seiring 4 bulan yang telah mereka jalani sebagai sepasang suami istri.

Secara alamiah, Jan dan Anna semakin jarang memanggil pasangannya menggunakan nama, hanya sesekali saja. Panggilan dengan kata ‘Sayang’, ‘Yang’, atau ‘Say’, menjadi lebih sering terdengar.

Yang lucu, Anna yang notabene keturunan Jawa, kerap memanggil Jan dengan ‘Aa’, karena sang suami asli Bandung. Sebaliknya, sebagai urang Sunda asli, Jan malah sering memanggil Anna dengan sebutan ‘Nduk’, karena ibunda sang istri berasal dari Madiun.

Jan dan Anna telah nyaman mendiami rumah sendiri. Itu adalah kediaman pribadi Jan, yang dulu ia tinggali bersama Mbak Devi, sang asisten rumah tangga. Namun, sepekan sebelum menikahi Anna, Jan memintanya untuk berhenti. Kabarnya, kini Mbak Devi membuka toko kelontong di kota kelahirannya, dengan modal awal menggunakan uang pesangon pemberian Jan.

Anna pun telah diangkat menjadi Manajer Keuangan di rumah produksi konveksi milik Jan. Hal ini dilakukan demi menghindari kecurigaan sang istri atas kondisi finansial keluarga, yang mungkin memicu pertengkaran. Meski alasan utama Jan adalah karena ingin selalu berdekatan dengan Anna, di manapun ia berada.

Dengan kondisi tersebut, maka Anna pun menjadi satu dari sedikit contoh anak muda sukses, yang berhasil menduduki posisi penting di sebuah perusahaan saat belum merampungkan kuliahnya. Yah… meski itu adalah perusahaan milik suaminya. 😀

Namun, hal tersebut memicu hadirnya pengalaman tersendiri, yang tak pernah Anna bayangkan akan dialaminya. Ia mesti fokus mengurusi keuangan perusahaan, seiring konsentrasinya terhadap skripsi dan sidang S-1-nya. Plus kesibukannya sebagai seorang istri.

Alhasil, kini Anna kerap merengek, minta agar Jan mau memijiti punggungnya setiap pulang kerja. Beruntung, ia memiliki suami sebaik Jan, yang meski sambil mengomel pendek, tetap memenuhi permintaan sang istri.

Empat bulan telah berlalu, Suzie semakin dekat dengan Ghani. Meski keduanya kompak mengaku bahwa mereka tidak berpacaran, namun porsi kedekatan antara Suzie dan Ghani menunjukkan fakta lain. Entah, apa alasan Suzie dan Ghani, hingga memilih untuk tidak mengakui hubungan asmara di antara mereka.

Melihat gaya kedekatan dua insan berlainan jenis itu, Jan teringat pada hubungan serupa antara dirinya dan Saski. Tak pernah resmi berpacaran, namun intens bercinta kapan pun mereka mau. Jan tak tahu, bagaimana kabar Saski saat ini.

Sementara, Trias tetap akrab dengan Suzie, meski keakraban itu terjadi saat tak ada Ghani. Lambat laun, sapaan ‘Téh’ atau ‘Tétéh’ mulai hilang, karena Trias memang berusia dua tahun lebih tua daripada Suzie.

Laki-laki itu masih kerap meminta air panas untuk menyeduh kopi, karena belum punya water dispenser. Anna akan membelikan alat pemanas tersebut, karena iba melihat sang ipar mesti terus meminta-minta.

Satu lagi, Trias semakin sering melakukan touring bersepeda, dan dengan jarak semakin jauh. Jan menduga, kegiatan ini dilakukan sang adik sepupu sebagai pelarian atas makin dekatnya Suzie dan Ghani. Meski asumsi tersebut dibantah Trias habis-habisan.

***

Lampu LED biru di atas kusen pintu berkedip, pertanda seseorang menekan tombol ‘PENTING’ yang ada di atas meja kerja Jan.

“Lampunya, ahhh… lampunya nyala, Jan… aahh…” ujar Anna, di sela napasnya yang terengah. Ia dapat melihatnya, karena posisinya saat ini adalah duduk mengangkang di tepi ranjang, tepat menghadap pintu.

Jan yang sedang intens menggarap tubuh Anna dari arah depan, menoleh ke arah pintu, lalu mengacuhkannya. “Tanggung, Nduk… kita orgasme dulu…”

“Iya, Sayang…” desah Anna. “Ayo, goyang terus… Jan…”

Jan memburu orgasme pertamanya pada sesi bercinta selepas makan siang ini. Lain hal dengan Anna, yang saat ini fokus untuk meraih sensasi ejakulasi keempatnya dalam kurun waktu kurang dari 20 menit.

Jan terus menghunjamkan penisnya dengan cepat di dalam rongga kemaluan Anna. Kedua telapak tangannya hinggap pada bukit kembar di dada sang istri. Anna hanya bisa menerima penetrasi itu sambil tak henti mencengkeram permukaan ranjang.

“Ayo… Aa… ahh… aahh… kita orgasme sama-sama…”

“Iya, Sayang… aahhh… sama-sama…”

Nyatanya, Anna lebih dulu menunjukkan tanda-tanda akan meraih orgasme. Terbukti dari rintihannya yang makin nyaring, serta gelinjang tubuhnya yang liar.

“Aku mau keluar… Sayang… aahhh, aahhh… sebentar lagi…”

“Tahan, Anna… hhmm… ahh… kita sama-sama…”

“Aahhh… nggak kuat, Aa… haahhh… aku nggak kuat… Aa, aaahhh… aku… haarrgghhh… aku keluaaaarrrr… aaahhhh!”

Sesaat Anna seolah terpaku, diam tak bergerak, diiringi bibirnya ayang menggeram. Lalu tubuhnya kelojotan tak tentu arah. Kemudian, disusul kedutan-kedutan kecil yang mengiringi pelepasan ejakulasinya.

Sementara di hadapannya, Jan menyusul mendapatkan puncak kenikmatan akibat tak kuasa membendung sensasi hebat, saat penisnya diremas-remas oleh otot vagina Anna yang berkontraksi seiring orgasmenya tadi.

Jan membenamkan penisnya dalam-dalam hingga menyentuh dasar rongga vagina Anna. Sel sperma pun memancar kuat, membasahi rahim sang istri.

Sejurus kemudian, ia ambruk di atas ranjang dan menindih tubuh Anna.

“Enak banget, Sayang… uhhh…” bisik Jan. “Ngentotin kamu selalu enak.”

“Aku juga puas, Aa…” Anna tersenyum. Dibelainya kepala belakang sang suami dengan lembut. “Makasih buat semuanya.”

“Sama-sama, Nduk,” balas Jan. Dikecupnya bibir Anna hangat. “Aku sayang kamu.”

Anna menjawab dengan dekapan erat di tubuh Jan.

Jan bangkit, lalu sedikit mengangkat tubuh Anna ke tengah ranjang. Kembali dipeluknya sang istri dengan penuh perasaan. Sama sekali tak ada nafsu birahi, meski tubuh yang dipeluknya dalam keadaan telanjang bulat. Yang ada hanyalah rasa sayang, yang dahulu tak pernah ia bayangkan akan menjadi sehebat ini.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status