Share

7

Author Pov

"Nikah sama Adnan? Enggak ah, aku enggak mau sama brondong, maunya sama yang dewasa."

Adnan mengembuskan napas ketika mendengar kata 'dewasa' ia mengerti akan hal itu, karena yang dimaksud oleh Aristela selain dewasa, juga yang mapan, padahal Adnan ada ketertarikan pada gadis tersebut walau umur mereka berjarak beberapa tahun.

Hal yang dipercayai oleh Adnan untuk mendapatkan Aristela adalah, jodoh takkan ke mana bila Tuhan telah menakdirkan, jika status saudara tiri menghalangi, Adnan rasa itu tidak cukup, karena mereka bukan saudara sepersusuan, jadi tidak ada masalah.

"Adnan? Ngapain ngelamun? Ayo balas perkataanku dong," pinta Aristela.

Adnan tersenyum kemudian menunjukkan ekspresi berpikirnya, tidak lama kemudian, ia pun menjawab dengan berupa pertanyaan pula, "Kalau Kak Aristela maunya sama yang dewasa, berarti ada tiga pilihan, yaitu Kak Abraham, Kak Agam, sama Kak August, ayo pilih yang mana?"

"Enggak ada, mending sama kamu yang asyik diajak ngobrol, mereka mah bikin jengkel, apalagi pas ngobrol sama ayah dan mamah kamu di ruang tamu, jujur ... Kakak malu banget loh tadi, walau pada awalnya Kakak mengagumi suaranya Abraham," jawab Aristela, beberapa detik selanjutnya, ekspresi menjerit dengan nada kegemasan mengagetkan Adnan.

"Adnan, suara Kakakmu tuh keren banget sih? Aku ngefans jadinya, mana sih dia? Walau ketus enggak apa-apa deh, yang penting ganteng sama suaranya bagus," ujar Aristela lalu terkekeh menatap Adnan yang juga menatapnya malas.

"Huft, enggak apa-apa ketus atau menyebalkan, yang penting ganteng. Ini mendasar kepada: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakya Good Looking," balas Adnan dan Aristela tak setuju akan hal tersebut.

"Enggak juga, ganteng bukan hal yang utama untuk wanita, kenapa? Semakin dewasa seseorang, maka yang dia cari adalah: pasangan yang dapat melengkapi kekurangan masing-masing serta memiliki tujuan yang jelas setelah melakukan pernikahan, sampai di sini paham?" tanya Aristela dan Adnan mulai mengerti maksud dari perkataan Aristela, walau ia tidak pernah berpacaran, dirinya senang karena ucapan Aristela bisa menyadarkannya, bahwa tampilan yang bagus belum tentu mencerminkan hatinya. Inilah yang dia tangkap dalam sisi yang lain.

"Kak, Adnan pinta sesuatu ke Kakak boleh, kan?" tanya Adnan tiba-tiba, Aristela menjadi curiga dibuatnya, apakah permintaan Adnan itu aneh-aneh atau malah lebih aneh lagi.

"Boleh, tapi enggak aneh-aneh yah, kalau aneh-aneh bakalan Kakak smackdown," jawab Aristela.

"Boleh enggak Kakak nganterin Adnan ke sekolah besok? Atau perlu berangkat bareng gitu."

"Buat apa, Adnan?" tanya Aristela penasaran.

"Biasa, Kak. Buat pamerin ke temen kalau Adnan enggak jomlo, mumpung Kak Aristela cantik, pasti teman-teman gue pada ngiri dan melongo mukanya," jawab Adnan kemudian tersenyum lebar karena berharap penuh kepada Aristela. Namun harapan tersebut harus sirna saat Aristela menolaknya dengan mentah-mentah.

"Iddih, Kakak cuman dijadiin objek pembohongan atas  status kamu gitu? Enak aja, enggak mau aku, cari cewek lain sana," ogah Aristela dan Adnan menampakkan ekspresi kekecewaannya.

"Sebenarnya bukan itu doang sih, sederhana malahan, Adnan cuman pengen ngerasain diantar sama Kakak tuh gimana, maksudnya ada yang ngantar, karena terakhir kali Adnan diantar sama Mamah yah waktu kelas tiga sd, selebihnya dianter sama Pak Raden, please ... boleh yah?" pinta Adnan dengan tulus, Aristela yang mendengar itu berpikir berkali-kali karena sedikit ragu dengan alasan Adnan yang ini, karena dia tahu bahwa Adnan orangnya suka bercanda, akan tetapi, tatapan Adnan berhasil menembus tembok tebal yang ada di hati Aristela sehingga Aristela merasa luluh juga.

"Okey, besok pagi berangkat jam berapa? Biar Kakak jemput kamu di sini, okey?"

"Setengah tujuh, bisa enggak?" tanya Adnan dengan nada yang meremehkan Aristela.

"Jam setengah tujuh doang? Kakak berangkat kerja malah jam enam ke toko roti, kamu bisa enggak jam segitu, atau di jam enam itu kamu masih kebo?"

"Enggaklah, di jam segitu Adnan dah bangun."

"Iyah kamu bangun, tapi baru bangun dari tempat tidur, ha ha ha."

"Ngadi-ngadi, di jam segitu Adnan dah gangguin Abang-abang yang lagi mau makan, tapi yang paling seru tuh si Bang August, dia sering lupa kunci kamarnya, kadang kalau mau mandi, handuk tuh diletakkan di atas ranjangnya, alhasil, gue sembunyiin," jelas Adnan menyeritakan aktifitas di pagi hari yang terbilang seru untuk membalas perbuatan kakaknya yang begitu laknat.

"Kamu cocok mendapatkan penghargaan dalam kategori adik yang durhaka, rasanya mantap banget."

Keduanya tidak menyadari jika empat pria yang berada di tempat yang berbeda sedari tadi mendengar percakapan mereka, terutama pada si sulung yang tertawa konyol mendengar candaan adiknya.

"Ada-ada saja si Adnan," kekeh Abraham masih di posisi yang sama sembari memerhatikan keduanya sedang sibuk berbincang di sana.

"Heduh ... Adnan, malah ngumbar aib gue di depannya Aristela, pas udah kumpul keluarga auto malu gue, haish," resah August, sekaligus kesal terhadap adik bungsunya itu.

Di sisi lain, ada Aderald dan Agam yang bersebelahan memerhatikan Aristela dan Adnan, mereka tersenyum-senyum sendiri, hingga akhirnya si Agam menyahut.

"Anak dari calon Ayah baru kita ternyata tidak seburuk yang diduga, buktinya Adnan begitu mudah dan terlihat nyaman saat bercengkrama dengannya," ujar Agam, Aderald mengangguk.

Sebenarnya, ada yang ingin disampaikan Aderald karena pria itu masih mengingat ucapan adiknya yang begitu ingin diantar oleh Aristela, apalagi fokus pada alasan Adnan yang harus dituruti kemauannya, di mana dirinya terakhir kali diantar jemput oleh sang mamah, yaitu kelas tiga sekolah dasar.

"Bang, lo enggak kasihan sama si Adnan?" tanyanya yang ingin membahas perasaan Adnan yang ingin sekali diantar oleh Aristela.

"Buat apa kasihan? Adnannya baik-baik aja tuh."

"Bukan itu, yang ngebuat gue sampai tertegun sama perkataan adik kecil kita itu, adalah pas dia ngomong ke Aristela atau lebih tepatnya tuh curhat, kalau dia pengen banget diantar karena mengingat mamah yang udah berhenti nganter jemput dia waktu kelas empat sd, karena terakhirnya itu kelas tiga sekolah dasar," ujarnya menjelaskan, dan Agam tiba-tiba ikut merasakan apa yang dirasakan oleh adiknya ini.

"Adnan tipe orang yang susah buat curhat, bahkan gue baru tau kalau dia butuh sosok yang memerhatikan dia lebih lagi, terutama kasih sayang dari seorang perempuan," gumam Agam dan Aderald mendengar ucapan tersebut.

"Haish, Mamah gue, lo dan abang lainnya terlalu sibuk bekerja, sampai-sampai lupa sama Adnan."

"Tenang aja, Adnan bakalan ngerti, dan sekarang gue bersyukur kalau si Aristela ini hadir di tengah-tengah kita, bahkan gue juga pengen berterima kasih sama Pak Adibal, cuman gue masih canggung aja."

"Gue pun sama, jangan-jangan kita jodoh Bang?"

"Gue jadi jijik." Agam langsung meninggalkan Aderald yang tertawa puas melihat abangnya yang merinding kegelian.

Related chapters

DMCA.com Protection Status