Share

11

Pita langsung tersentak dengan pertanyaan Aristela yang dirasanya sangat lancang itu, sementara menurut Aristela sendiri, dia takkan peduli jika perasaan Pita akan sakit atau teriris akan kalimat sadisnya, karena dia sudah terlanjur buruk mood-nya, ditambah lagi dengan dua wanita songon yang tambah memanas-manasinya.

"Kenapa diam? Apa ucapanku bener yah? Kalau memang bener, miris banget demi duit sampai segitunya mempermalukan diri sendiri, bahkan harga dirimu dapat ditukar dengan iphone," lanjut Aristela semakin sinis menatap Pita, Pita ingin membalas wanita itu, akan tetapi ... suasana di toko roti semakin ramai dengan hadirnya para pelanggan yang sedang menyaksikan adu mulut mereka.

Aristela yang merasakan situasi makin ramai, segera menghindari mereka yang terus menatapnya dan memilih untuk masuk ke dapur saja agar dapat menenangkan diri sejenak.

"Pagi-pagi langsung disemprot sama bos, nasib ... nasib," gumam Aristela. Karena semprotan tersebut, dia jadi mengingat hari-hari yang lain, di mana dirinya selalu saja dijadikan sumber masalah oleh karyawan yang cari muka, terutama Asma dan Pita, keduanya bagaikan ular yang kompak dan terus menatapnya sebagai mangsa yang harus disingkirkan atau dimusnahkan dari tempat ini, tetapi Aristela selalu kuat menghadapi gangguan mereka dan tidak akan menyerah sampai mereka sendiri yang mengibarkan bendera putih.

Namun, pada akhirnya dialah yang kalah karena terlalu lelah dengan semua tekanan yang menumpuk dalam batinnya, di lubuk hati gadis tersebut, dia merasa ada niatan untuk resign saja dari tempat kerjanya ini.

Tapi, nanti Aristela dapet duit dari mana? batin Aristela membuat dirinya sendiri berpikir keras untuk memilih, jika dia berhenti, maka ayahnya akan bertanya apa alasan untuk menentukan putusan tersebut.

"Tidak masalah sih, soalnya Ayah kan juga banyak duit, sementara aku sambil nyari kerja yang lain juga, atau enggak ... gimana kalau aku kuliah aja?" ujar Aristela berbicara sendiri, hingga sebuah tepukan dari belakang mengagetkannya, dan tak lain dan tak bukan, orang yang membuatnya seperti itu adalah bosnya sendiri.

"Kamu ngapain di sini, Aristela? Bukannya bekerja malah melamun sambil bergumam sendiri, atau ... kamu merencanakan sesuatu?" tanya sang bos dan Aristela menggeleng cepat.

"Tidak, Pak, saya hanya berpikir dan merasa ada niatan untuk resign," jawab Aristela, walau di dapur, lebih baik ia menyampaikannya langsung, mumpung bosnya sedang ada, jangan sampai dirinya ingin resign tapi sang bos langsung keluar kota, bisa-bisa dia menunggu lagi dalam waktu yang lama.

"Hah, resign? Apa penyebabnya? Atau ... jangan-jangan karena saya membentak kamu tadi?" tanya Pak Syahrul.

Jawaban dari seorang Aristela adalah sebuah gelengan dan disusul oleh senyum tipisnya sembari mengatakan, "Bukan itu, Pak. Saya ingin resign karena sudah lelah, lelah fisik dan batin, apalagi di tempat ini terdapat dua karyawan yang selalu cari muka, bahkan ada yang mengaku jika ingin merasakan kenyamanan di toko roti ini, kita harus menjadi simpanan," jawab Aristela dan Pak Syahrul mengerutkan keningnya karena belum bisa mencerna perkataan Aristela, terutama pada kalimat terakhir.

"Simpanan, maksudnya?"

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, mengetahui jika Pita adalah simpanan Bapak, tepat di detik itu pulalah saya menjadi kecewa dengan Anda, Anda sebagai pemimpin di perusahaan ini, tentunya harus objektif dan tidak membeda-bedakan, akan tetapi ... Bapak ternyata subjektif dan pilih kasih hanya karena diberikan labirin oleh karyawannya sendiri, terima kasih sebelumnya Pak karena telah menerima saya untuk bekerja di sini, maaf jika sekali lagi jika saya lancang, karena berita tersebut saya dapatkan dari Pita sendiri, kalau begitu, saya pamit undur diri dari pekerjaan ini." Jawaban Aristela begitu panjang lebar, membuat Syahrul benar-benar terkejut akan karyawannya yang mengetahui rahasia gelapnya. Dalam beberapa detik ke depan, Syahrul menggeram dengan tangan yang dikepal kuat, bahkan di dahinya terlihat urat yang sedikit menonjol karena pria tersebut menahan emosi yang hampir meledak.

"Aristela, tunggu!" teriak Syahrul, tetapi tidak ada respon di luar sana dan ia melihat di balik kaca yang ada di pintu dan tak menemukan tanda-tanda Aristela yang ada di sana, itu berarti ... Aristela benar-benar meninggalkan pekerjaannya.

"Pita, yah semuanya karena Pita," ucap Syahrul tersadar dari penyebab resign-nya Aristela, dengan langkah terburu-buru, Syahrul pun keluar dari ruangan tersebut dan mencari keberadaan wanita yang menjadi biang masalah.

Aristela tersenyam-senyum akibat kelegaannya karena telah lepas dari toko roti yang bagaikan neraka baginya, serta dirinya pun tidak akan bertemu dengan dua iblis wanita licik itu lagi.

"Semuanya," panggil Aristela yang berdiri di hadapan pintu keluar, setelah itu Aristela melambaikan tangannya kemudian menundukkan badan sebagai salam perpisahan.

"Terima kasih karena telah menjadi temanku di sini, tetapi tidak untuk dua wanita licik dan murahan itu, untuk karyawan lainnya, jangan seperti mereka berdua yah, karena sebentar lagi, kalian akan melihat akibat dari ulah mereka yang selalu saja cari perhatian bahkan sampai menghasut Pak Syahrul dengan segala godaan serta rayuan fitnah mereka untuk menjatuhkan karyawan yang berkualitas di sini, dan salah satunya aku yang menjadi korban. Mulai detik ini, aku telah resign dari toko roti, maka dari itu, kalimat ini akan menjadi salam perpisahan kita, kalau begitu, diriku pergi dulu," jelas Aristela dan semuanya terkejut begitu saja, perasaan para karyawan menjadi campur aduk dalam kesedihan serta kebahagiaan, di mana kesedihan tersebut berasal dari berhentinya Aristela, sementara rasa senang yang berada di sisi lain, disebabkan oleh kedua wanita licik Asma dan Pita itu, akan segera mendapat balasannya.

"Aristela, jangan pernah melupakan kami!"

"Tentu, kalian teman kerja yang baik, selamat tinggal!"

"Selamat tinggal!" balas para karyawan yang mulai menitikkan air mata saat punggung Aristela perlahan menghilang dari pelupuk mata.

"Pita!" Tiba-tiba, suara menggelegar dari arah dapur mendiamkan suasana di sana, tidak peduli dengan pelanggan yang menatap Pita penuh kesinisan saat Aristela mengungkap alasan dirinya berhenti bekerja dari toko roti ini.

"Kamu, temui saya di ruang kerja, sementara saya ingin mendengarkan kalimat jujur dari karyawan lainnya dan jangan ada yang takut karena akulah yang akan bertanggung jawab atas ketidaknyamanan dari dua orang yang bekerja di tokoku. Pertanyaanku adalah, selain Pita, siapa yang membuat Aristela merasa tidak betah bekerja di sini? Sampai-sampai di berhenti untuk bekerja, padahal sebelumnya saya sangat khawatir jika dia berhenti karena bentakan saya tadi pagi, ternyata tidak karena Aristela memang mengakui kesalahannya, serta sikap saya tadi pagi itu merupakan bentuk ketegasan untuk tetap di siplin, jadi ... sekarang beritahukan siapa wanita selain Pita yang selalu cari perhatian di tempat ini?"

Kompak, semuanya menunjuk arah Asma, dan detik itu pulalah, Asma menggigit bibirnya dengan penuh ketakutan, karena di saat itu pulalah nasibnya akan berakhir buruk.

...☆▪︎▪︎☆...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status