Share

12

Para karyawan yang bekerja di toko roti, tak bisa bertanya apa-apa lagi tentang nasib Asma dan Pita, karena keduanya otomatis diberhentikan atau dipecat oleh Pak Syahrul secara kejam di sana.

Bahkan Asma mengeluarkan air matanya sembari memohon-mohon kepada bosnya itu untuk tidak memecatnya. Namun, Pak Syahrul tak mengucapkan apa-apa selain menunjukkan ekspresi wajah yang tidak bersahabat, sementara Pita? Wanita itu sudah pasrah dengan apa keputusan Pak Syahrul, karena perasaannya sekarang ini hanya bisa menanggung penyesalan serta emosi yang besar terhadap si Aristela itu.

"Untuk apa lagi kalian berada di sini? Cepat keluar dari tokoku, aku tak sudi melihat wajah kalian berdua, cepat angkat kaki!" bentak Pak Syahrul dan keduanya pun langsung pergi dari tempat tersebut dalam keadaan malu nan menunduk.

"HUU" sorak-sorakan dari para karyawan yang puas atas perginya mereka berdua yang akhirnya membuat karyawan-karyawan di sini menjadi lega karena penjilat sudah berakhir masanya.

...☆▪︎☆...

Aristela menghela napas, ia sendiri di rumah sembari merenung, di mana lagi dirinya harus bekerja? Apakah dia harus kembali ke toko roti itu? Jawabannya adalah tidak, karena Pak Syahrul pun telah meminta kesempatan untuk memikirkan berulang kali mengenai niatannya untuk berhenti di sana, akan tetapi ... kesempatan tersebut ia tolak mentah-mentah lantaran muak dengan sifat Asma dan Pita yang sungguh merugikan untuk karyawan lain, walau harus mengorbankan pekerjaannya, tidak apa-apa memusnahkan dua parasit dari pada korban akan semakin banyak.

Sekarang, pikiran Aristela melayang-layang sampai dirinya stuk di rumah Tante Cahyani, bagaimana jika dirinya ke sana? Cuman ... Aristela ragu dan merasa bahwa Cahyani tidak ada di sana. Keraguan tersebut semakin besar hingga membuatnya mencoba-coba untuk menghubungi Adnan melalui sms, lebih tepatnya mengirim pesan.

Adnan, nanti pas istirahat, kamu telepon aja Pak Raden kalau enggak usah ngejemput kamu, bilang aja kalau Kak Aristela yang jemput, dan ngomong-ngomong ... aku mau ke rumahmu sambil nunggu waktu pulang kamu gitu, soalnya Kakak bosan di rumah sendiri, nah ... di rumah kamu cuman ada Pak Raden sama Bibi Malika, kan?

Setelah pesan tersebut terkirim, Aristela melihat jam di ponselnya yang menunjukkan baru setengah delapan, sementara istirahat seorang anak sekolah menengah atas itu biasanya setengah sebelas, jadi ... kemungkinan dia harus menunggu sedikit lama.

Namun, Aristela tidak perlu menunggu selama itu, karena tidak lama kemudian Adnan membalas pesan Aristela, dengan mengatakan: Okey, Kak. Nanti Adnan telepon Pak Raden, mumpung guru lagi keluar bentar jadi ada waktu bisa ngecek hp. Kalau Kak Aristela mau ke rumah, pergi aja, cuman ada Pak Raden sama Bibi Malika di sana kok. Duh, jadi pengen pulang juga biar bisa nemenin Kak Aristela, dan btw Kak Aristela enggak kerja?

Aristela cepat-cepat melihat pesan tersebut dan tersenyum melihat balasan dari Adnan, segera ia membalas: Kakak berhenti he he, ada alasan tertentu dan nanti bakal Kakak ceritain kalau kamu udah pulang sekolah.

Tak ada balasan dari Adnan selama beberapa menit menunggu dan Aristela pun memilih untuk ke rumah pria itu karena dia amat bosan di sini, mumpung di rumahnya Cahyani ada Raden dan Malika sehingga Aristela bisa berbincang-bincang bersama mereka serta ingin mengulik lebih jauh mengenai keluarga Adibrata.

Yah ... nama almarhum ayah dari Adnan dan keempat saudaranya, adalah Toro Adibrata.

☆▪︎☆

Tak membutuhkan waktu yang lumayan lama, akhirnya Aristela sampai di halaman rumah Cahyani dan segera memarkirkan motornya di depan garasi, kebetulan pula Pak Raden sedang menyabut rumput dan Aristela memiliki ide jahil yang berhasil membuat Raden terkejut.

"Haduh, ternyata anaknya Pak Adibal, toh, namanya siapa? Biar Bapak tau, he he."

"Maaf yah, Pak, Aristela udah ngagetin," balas Aristela sekaligus memberitahu namanya.

"Non Aristela, untung saya enggak ada riwayat penyakit jantung, kalau sampai ada, tamat saya." Aristela pun terkekeh mendengar kalimat tersebut kemudian menunjukkan wajah sedih karena merasa bersalah.

Raden menyelesaikan pekerjaannya dan menyuruh Aristela untuk masuk ke dalam rumah, masuknya mereka di sana, Aristela pun berbincang-bincang dengan bapak itu.

"Bapak udah berapa lama kerja di sini?"

"Udah lama banget, Non. 30 tahunan lebih," jawab Raden dan Aristela terpukau.

"Berarti segala seluk beluknya Bapak tau dong." Raden mengangguk mendengarnya semakin membuat Aristela senang karena ia akan bertanya agak banyak untuk mengetahui sisi-sisi dari sifat keempat saudaranya Adnan.

"Gini, Pak. Saya mau tanya sesuatu tapi jangan kasih tau keempat saudaranya Adnan yah, Pak. Soalnya saya mau nanya tentang mereka, karena mereka tuh misterius lalu rada cuek, dan saya ada niatan untuk akrab sama mereka, tapi ... karena kedua sifat mereka yang amat menjengkelkan itu, jadi ... saya agak ragu untuk mencoba lebih dekat lagi, kecuali dengan Adnan yang ramahnya minta ampun, sampai-sampai saya dibuat geleng-geleng karena gombalannya," curhat Aristela dan Pak Raden tertawa, Pak Raden pun dengan senang hati ingin memberitahukan sifat keempat putra Cahyani.

"Dengar baik-baik yah, jangan dipotong. Untuk Abraham, merupakan anak pertama dengan sifat tegas tapi sangat menyayangi adik-adiknya, walau rasa sayang itu selalu disamarkan olehnya, memang dia anak yang cuek dan dingin, tapi hatinya itu rapuh jika terkait dengan keluarganya, bagaimana dengan Agam? Anak kedua yang memiliki sifat ambisius tinggi untuk mendapatkan apa yang dia mau, dan sifatnya dengan Abraham pun sebelas dua belas, yang berbeda hanyalah satu: cueknya tidak seberlebihan Abraham. Lanjut ke August, dia jahil dan sedikit mesum, begitupula dengan Aderald dan Adnan, walau yang sebenarnya mereka berlima sama-sama mesum juga. Singkatnya sifat mereka yah seperti itu, Nak. Tapi inti dari segala inti, keempat inilah yang sulit ditebak karena dapat berubah-ubah di sela-sela waktu, kecuali Adnan yang sudah memfrontalkan sifatnya, sekarang sudah puas?" tanya Pak Raden dan Aristela mengangguk senang.

"Terima kasih, Pak. Infonya udah lebih dari cukup, saya hanya bertanya karena sebentar lagi pasti saya akan bergabung dalam keluarga mereka, he he."

"Bagus, Non. Saya jadi seneng kalau ada yang semakin meramaikan rumah ini, ngomong-ngomong ... bukannya Non Aristela mau kerja yah setelah ngantar Den Adnan?"

"Tadi sih Aristela kerja, Pak, hanya saja ada masalah sehingga Aristela harus berhenti, nah karena di rumah sepi sekali, jadi saya memutuskan ke sini, oh iya, sekalian saya kasih tau kalau yang jemput Adnan pas pulang nanti, biar saya saja, Pak," jawab Aristela.

"Enggak ngerepotin, Non?"

"Enggak kok, Pak. Malah saya seneng, terus ... saya juga mau bantu-bantu kerja di sini, daripada bosen dan Pak Raden enggak boleh ngelarang karena enggak enak, karena ini kemauan saya sendiri, okey?"

"Eh, makasih banyak loh, Non, kebetulan Bibi Malikanya tadi lagi pulang karena ada panggilan mendadak dari keluarga kampung."

"Yeay, berarti Aristela datang di waktu yang tepat."

Kegirangan Aristela disaksikan oleh Aderald yang sedang menguping di suatu tempat, di mana keduanya tidak sadar akan kehadiran pria tersebut, yang terpenting adalah ... Aderald menyunggingkan senyumnya dan mengatakan, "Welcome to the home, Aristela Baby."


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status