MANTAN BANCI
MANTAN BANCI
Author: Nyi Ratu

Bab 1. Dikejar Satpol PP

Ambyar ewer ewer ambyar

Lem beurit lem panci, hayang irit kawin ka banci. (Lem tikus lem panci, pengin hemat kawin sama banci)

Ikan asin ikan tongkol, Neng isin ngolomoh … ( ikan asin ikan tongkol, Neng malu ngulum ...)

Sebelum Yoyi melanjutkan nyanyiannya, sekumpulan anak muda yang ia hampiri tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa ketawa? Emang kalian ngerti?” tanya Yoyi dengan suara manjanya sambil tersenyum genit.

“Ngertilah,” jawab salah satu pemuda yang memakai kaus berwarna hitam,”Saya orang sunda,” imbuhnya.

“Apa coba yang mau aku nyanyiin?” Yoyi bertanya dengan suara yang dibuat semanja mungkin.

“Itu ‘kan anu,” jawab seorang pemuda yang memakai kaus hitam, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Anu apa?” tanya Yoyi sambil mencolek hidung mancung pemuda berkaus hitam itu.

“Punyaku,” jawab pemuda yang berambut pirang.

Cucok markuco,"( cocok sekali ) jawab Yoyi sambil mengambil botol air mineral pemuda itu.

“Yi … Yoyi …!” teriak Yanti. Teman Yoyi sesama banci yang mengamen di malam hari berlari menghampirinya sambil menjinjing high heels.

Yoyi menoleh ke samping, ia melihat Yanti, temannya sesama banci berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.

Adinda rejongan, yiuk lerong!” ( Ada razia, ayo lari ) kata Yanti dengan napas ngos-ngosan. Tidak menunggu persetujuan Yoyi, ia langsung menarik tangan teman sesama kosnya.

Eh botol. Indang botol minangan organ.” ( Eh botol. Ini botol minuman orang ) Yoyi melemparkan botol air mineral ke arah pemuda yang berambut pirang.

Yoyi berlari sambil memegangi kecrek dan sumpalan di dadanya.

“Ti … tunggang! Eike mawar lepose sparta dulang.” ( Ti … tunggu! Aku mau lepas sepatu dulu ) Yoyi melepas high heels-nya. Lalu berlari lagi menyusul Yanti.

Yiuk, Yi! Yey lambreta bangetos sih. Nanda kaledonia kitkat ketengtongan, tinta bis kota lolos lenggang,” ( Ayo. Yi! Kamu lama banget sih. Nanti kalau kita ketangkap, tidak bisa lolos lagi ) keluh Yanti pada Yoyi yang berlari sangat lambat menurutnya.

“Ti, bukit candu eike jatara sebelantara.” ( Ti, bukit canduku jatuh sebelah ) Yoyi berlari sambil memegangi buah dadanya yang kempes sebelah karena sumpalannya jatuh.

Yey, lambreta bangetos, Yi,” ( Kamu, lama banget, Yi ) keluh Yanti pada sahabatnya. “Kitkat pisangan anjas, ya.” ( Kita pisah aja, ya ) Yanti berlari dengan cepat meninggalkan Yoyi.

“Ti, eike ke menong ini?” ( Ti, aku ke mana ini ) Yoyi berlari sambil menjinjing sepatu hak tinggi dan kecrek, alat musik kesayangannya yang selama ini jadi teman hidupnya.

Kitkat ketumbar di kosidahan, Yi!” ( Kita ketemu di kosan ) teriak Yanti yang sudah berlari jauh meninggalkan Yoyi.

Yoyi berlari tak tahu arah, sampai akhirnya ia menabrak seorang gadis tomboy yang memakai kaos berwarna putih, dan kemeja motif kotak-kotak berwarna merah dengan garis biru yang tidak dikancingkan dipadukan dengan celana jeans yang robek di bagian lututnya. Ia sedang bersandar di motor sport berwarna merah sambil menikmati segelas kopi panas.

“E busyet … bibir gue panas banget dah!” Jo mengelap mulutnya yang kena tumpahan kopi panas. “Untung nih bibir asli, coba kalo hasil oplas, bisa meleleh nih bibir gue.” Jo meraba bibirnya yang masih terasa panas.

“Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja,” ucap Yoyi dengan suara manjanya yang sedang berdiri di belakang Jo.

Jo menoleh ke belakang. Ia terperanjat saat melihat Yoyi. “Astaga, cowok setengah matang!” ucapnya.

Kemudian ia tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Yoyi yang berantakan. Rambut palsunya sudah tidak beraturan, dadanya terlihat aneh karena kempes sebelah. “Itu buah dada satu laginya tumpeh, Bang?” tanya Jo. Ia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

“Terserah, Mbak, mau ngetawain saya sampai pagi juga tak apa, tapi tolong bantuin saya dulu, Mbak!” Yoyi memohon pada Jo dengan suara yang sangat lembut. “Ini motor, Mbak ‘kan?” tanya Yoyi pada Jo. Segera ia menaiki motor sport berwarna hijau tanpa permisi. “Ayo, Mbak!” Yoyi menarik tangan Jo untuk segera naik ke motor.

Jo merasa kasihan melihat mukannya yang sangat ketakutan. “Emangnya ada apaan?” tanya Jo pada Yoyi.

“Saya lagi dikejar satpol pp, Mbak,” jawab Yoyi.

Suaranya terdengar sangat ketakutan, keringat di pelipisnya mengucur membasahi wajah. Sudah bisa ditebak kalau riasan Yoyi sudah berantakan, mungkin penampakannya seperti pengantin dari lembah hantu.

Kelopak matanya tampak menghitam karena maskara yang luntur tersapu keringat. Maklumlah cuma pengamen jalanan yang bisanya membeli make up yang abal-abal.

“Ya udah turun dulu!” Titah Jo. Kemudian ia menunggangi kuda besinya setelah Yoyi turun. “Ayo cepetan naik lagi!” titah Jo. Setelah Yoyi kembali naik ke motor, Jo segera melajukan motornya dengan kecepatan penuh.

“Kita ke mana nih?” tanya Jo sedikit mengurangi kecepatan laju kendaraannya.

“Nanti di perempatan belok kiri,” jawab Yoyi sambil menunjuk perempatan yang sudah tidak jauh lagi.

“Iya,” sahut Jo. Ia mengurangi kecepatannya karena merasa sudah aman dari kejaran satpol pp. Jo terus melajukan kendaraannya menuju alamat yang diarahkan Yoyi.

Sesampainya di depan rumah kontrakan Yoyi, Jo melihat ada tiga orang banci yang duduk di teras depan kontrakan Yoyi.

“Bang, itu temen Abang?” tanya Jo pada Yoyi yang baru saja turun dari motornya sambil melirik tiga banci yang sedang memperhatikannya dan Yoyi.

“Iya,” jawab Yoyi pelan sambil tersenyum.

Sumpah demi matahari yang masih terbit dari arah timur, senyum Yoyi sangat manis. Andai saja ia laki-laki tulen, mungkin sudah jadi bahan rebutan para perempuan.

“Bang, aku saranin mending Abang tobat! Nyari kerjaan lain. Hiduplah dengan normal! Menikah dan punya anak, mungkin,” usul Jo. Ia menatap wajah Yoyi dengan lekat, mengamati wajah tampan Yoyi yang tertutup make up. “Maaf, Bang, cuma sekedar saran,” imbuhnya.

Yoyi diam sesaat sebelum menanggapi ucapan Jo. “Menikah?” tanya Yoyi sambil tersenyum kecut. “Mana ada yang mau menikah dengan mantan banci,” imbuhnya dengan raut wajah yang sedih.

Jo menatap wajah Yoyi dengan seksama. Hidung lancip, rahang yang tegas dengan postur tubuh yang tegap. “Kalo Abang udah tobat, cari aku! Aku mau menikah dengan mantan Banci,” ucapnya sambil tersenyum manis pada Yoyi. Lalu ia segera melajukan kendaraannya dengan cepat.

Yoyi diam mematung sambil melamun, memikirkan ucapan gadis tomboy yang sedikit menyentil hatinya.

Yoyi mengerjap, ia tersadar dari lamunannya. “Hey gadis tomboy! Siapa namamu?” teriak Yoyi dengan suara asli khas suara laki-laki.

***

Hai kakak-kakak sekalian. Salam kenal. Semoga kalian suka. Bisa follow instagramku nyi.ratu_gesrek untuk info semua karyaku.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
riasani
segini doank?
VIEW ALL COMMENTS
DMCA.com Protection Status