Revenge
Revenge
Author: Yani Santoso
Di Jual

"Dimana aku ... kenapa aku ada di sini?"

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, semua terasa asing baginya.

Karena, ruangan itu bukanlah ruangan tempat terakhir yang dia datangi.

Gendis, nama gadis itu.

Mengerjap-ngerjapkan matanya, sembari mengingat peristiwa terakhir yang dia lakukan.

"Bukankah aku saat ini harusnya berada di rumah, menerima tamu undangan pernikahanku. Kenapa aku ada disini, dan dimana ayah dan ibuku."

Gendis melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke pintu, untuk membukanya. Namun gagal.

Ternyata pintu itu dalam keadaan terkunci.

Sementara dia berada di dalam ruangan itu sendiri. Lalu, dimana Dirga?

Laki-laki yang baru saja menikahinya dan berjanji akan membahagiakannya ketika berada di hadapan orang tuanya.

"Dirga ... Dirga ... dimana kamu?"

Panggil Gendis, dia mulai merasa panik. Setelah beberapa saat tidak ada jawaban atau tanda-tanda ada orang lain selain dirinya di sana.

Gendis kembali berusaha membuka pintu, namun usahanya terasa sia-sia. Pintu itu tidak dapat dibuka tanpa menggunakan kunci.

Lalu, gadis itu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di sisinya. Dia mulai terisak.

"Bapak ... Ibu ... tolong Gendis," rintihnya. 

Dia memperhatikan baju yang melekat di tubuhnya.

Semua masih lengkap, baju kebaya putih yang dia kenakan ketika ijab kabul dengan Dirga.

Gendis berusaha mengingat-ingat kembali, kejadian disaat dia menikah dengan Dirga.

Saat itu, setelah acara ijab kabul, hampir semua keluarga besar Dirga hadir, termasuk teman-temannya yang dia sendiri tidak kenal.

Hampir semua keluarga Dirga hadir dengan mengendarai mobil.

Namun, ada dua orang tamu yang menurutnya berbeda dengan yang lain.

Tamu itu datang dengan seorang sopir dan mengendarai mobil mewah. Semua teman Dirga sepertinya menaruh hormat padanya.

Tapi, dia tidak begitu mengingat wajah pria tersebut, tapi satu hal yang dia ingat. Pria itu bertubuh gendut dengan kepala sedikit botak.

Setelah para tamu satu persatu pulang, orang tua dan keluarga Gendis pun akhirnya berpamitan pulang, meninggalkan gedung tempat Gendis dan Dirga mengadakan resepsi pernikahan.

Hingga tinggal beberapa orang saja yang masih ada di sana. Termasuk pria gendut dan beberapa orang.

Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu, dan sesekali menatap ke arah Gendis yang duduk di temani oleh seorang keponakan yang menjadi pagar ayu.

Hingga akhirnya, Dirga menghampirinya dengan membawa segelas air minum dan menyerahkan padanya.

"Sayang ... minumlah, kamu pasti haus dan lelah."

Dirga menyodorkan segelas air putih ke tangan Gendis.

Tanpa rasa curiga, Gendis meminum air tersebut hingga habis.

Dirga memperhatikan Gendis yang telah menghabiskan minumnya, lalu tersenyum.

"Pinter." Dirga berkata sambil mengusap pucuk kepala Gendis.

Gendis menepis pelan tangan Dirga, karena merasa risih dengan apa yang dia lakukan. Walau mereka telah resmi menikah, namun mereka tidak saling mengenal sebelumnya. 

"Hei ... kita sudah menikah sayang, jangan memperlakukanku seperti itu," protes Dirga.

"Aku menikahimu karena permintaan ayahku, kamu ingat itu, kan?" 

"Semua akan berubah setelah malam ini, percayalah."

Lalu, Dirga meninggalkan Gendis untuk kembali bergabung bersama teman-temannya. Terlihat mereka tertawa-tawa sambil menenggak minuman.

Di saat yang bersamaan, Gendis merasakan kalau kepalanya tiba-tiba merasa pusing dan seolah berputar.

Dia memejamkan matanya sambil tangannya memegang erat kursi tempat dia duduk.

"Gendis, kamu kenapa?" Tanti, saudara sepupu yang bersamanya saat itu bertanya ketika melihat Gendis seperti mengalami sesuatu.

"Aku tidak apa-apa." Gendis menjawab.

"Kamu istirahatlah, biar Gendis bersamaku." 

Dirga berkata pada Tanti dan menyuruh gadis itu pergi. Lalu, Dirga duduk di sebelah Gendis yang sudah kehilangan separuh kesadarannya.

"Dirga, kamu ...."

Gendis tidak melanjutkan ucapannya, karena semua berubah menjadi gelap.

Namun dia masih bisa merasa, seseorang kemudian membopongnya keluar.

"Apakah aku pingsan, lalu seseorang membawaku ke sini ... tapi, siapa orang yang telah membawaku?"

Gendis berteriak menutup mulutnya begitu menyadari apa yang terjadi dan mengingat sebagian yang dia alami.

Dan disaat bersamaan, seseorang membuka pintu.

Gendis melihat ke arah pintu dengan dada berdebar.

Dan debaran di dadanya meredd begitu melihat siapa yang membuka pintu ruangan itu.

"Dirga!" teriaknya.

Namun Dirga tidak menjawab, dia melangkah mendekati Gendis yang masih mengenakan baju kebayanya.

"Kamu sudah sadar, Sayang ...."

"Apa yang akan kamu lakukan padaku."

Gendis melangkah mundur begitu Dirga mendekatinya.

"Bukan aku yang akan melakukannya malam ini, sayang. Tapi dia."

Seorang pria bertubuh tambun dengan kepala sedikit botak, muncul di belakang Dirga. Dia menyeringai ke arah Gendis.

"A--apa maksudmu, Dirga?"

"Kamu tidak akan menghabiskan malam pertamamu bersamaku, tapi ... dengannya."

"Kamu ... kamu."

"Jadi, menurutlah padanya, dia sudah membayar mahal untuk malam pertama ini."

Gendis merapatkan tubuhnya ke dinding. Sementara, Dirga melangkah keluar dari ruangan itu. Meninggalkan dirinya bersama laki-laki tua yang dia lihat di resepsi pernikahannya

"Tenanglah Manis ... aku tidak akan menyakitimu."

Pria bertubuh tambun itu semakin mendekat ke arah Gendis.

*****

Comments (1)
goodnovel comment avatar
lysayovita22
Kasian banget Gendis.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status