Alpha Black Moon Pack
Alpha Black Moon Pack
Author: Mhammadtaufiq

1

PROLOG

Hari di mana pelantikan Alpha Black Moon tiba, setelah mengumumkan diri bahwa dia yang memimpin pack, ia mengumumkan suatu kenyataan yang memilukan untuk seseorang, bahwa dia .... .

"Mereject mate-nya."

Yang di-reject, tersenyum pedih. Menahan pilunya, berusaha tetap tegar agar orang yang menghina melihatnya, bahwa dia kuat dan tidak lemah.

"Aku hanyalah maid, tidak pantas bersanding dengannya, hahaha."

CHAPTER 1

Aponi, maid yang bekerja di Black Moon Pack. Ayah dan ibunya seorang warrior di sana, tetapi, dia tidak dianggap oleh mereka, dibuang dan tidak diperhatikan. Poni, menjalani kesehariannya, yaitu membersihkan istana, memasak, memanggil Alpha dan para beta untuk makan, dan lain sebagainya, yang bersifat budak.

"Aponi, jangan sampai nampan itu terjatuh. Bukan hanya kau yang dimarahi, tetapi aku!" Peringat ketua maid, dia Berta, wanita tua yang sangat garang dan ditakuti oleh maid-maid lainnya.

Poni mengangguk, dengan pelan dia meletakkan nampan tersebut pada tempatnya, selanjutnya adalah, tinggal memanggil calon alpha dan pengawal pribadinya.

"Kau ingin ke mana?!" Berta menahan tangan Aponi.

"Ingin memanggil, Putra Alpha. Nyonya," jawabnya.

Berta, ketua maid tersebut diam-diam menyukai calon alpha, hanya Aponi saja yang tahu setelah dia berkaca di cermin dan berbicara sendiri mengenai dirinya yang merasa cantik,  akan bersanding dengan calon alpha.

"Ingat, panggil seperti biasa. Jika aku melihatmu menggodanya, habislah kau!"

"A-aku, tidak pernah seperti itu. Aku punya malu, dan tidak layak bersanding dengannya," balas Aponi, sakit mengucapkan kalimat itu, mengetahui bahwa dia adalah mate calon alpha, tapi, dia menutupi agar alpha tidak malu.

"Bagus, kau harus tahu diri!" Setelah itu, Berta meninggalkan Aponi yang lega karena selamat dari bentakan nenek sihir itu.

Sesuai tugas yang dijalani, Aponi mengetuk ruangan alpha dan beta yang sedang berdiskusi, suara berat yang merespon, merupakan perintah.

Aponi membuka pintu, sangat pelan. Masuknya di tempat tersebut, ia menunduk hormat agak lama, orang-orang yang berada di ruangan tersebut, mengedutkan dahi, mereka tidak tahu bahwa Poni memejamkan karena menikmati aroma hujan yang meneduhkan.

"Kenapa lama?!" bentak seseorang.

"Maaf," Poni kikuk sendiri, kemudian, "makanan telah tersaji, sila-"

"Pergilah."

"Ba-baik." Jantung Poni berpesta, takutnya semakin jadi ketika suara berat itu mengusirnya, Poni sempat merona karena dia melirik calon alpha tersebut sekilas kemudian keluar dari ruangan tersebut.

"Oh, Dewi Bulan. Kenapa tampan sekali? Aku tidak menyangka, jika dia adalah takdirku." Semburat pipinya masih ada, Poni malu sendiri jadinya.

Tak ingin larut dalam halusinasi, Poni kembali dengan tugas utamanya, yaitu ... membersihkan kamar seseorang.

Kamar Luna Erinka dan Alpha Jeavy. Kedua orang tersebut berada dalam ruangan itu, Poni membersihkannya dengan tenang, sembari memerhatikan pasangan yang romantis tersebut tengah berbincang mengenai, hari pelantikan putra sulung mereka.

"Besok, dia menjadi Alpha. Kenapa waktu sangat cepat? Putra kita sudah besar saja, padahal ... kemarin-kemarin, kita menggendongnya, merawat dan memerhatikan perilaku nakalnya," ujar Erinka. Sementara Jeavy, memeluk mesra mate-nya, dan menghirup aroma teh yang menyergarkan dari Erinka.

"Yah, putraku yang nakal, akan menjabat sebagai Alpha esok hari. Aku penasaran, siapa mate-nya nanti? Umurnya sudah 24 tahun, sayang," balas Jeavy, dan melontarkan pertanyaan.

Masalah mate, Poni tersenyum sendiri dan tidak sadar jika Alpha-Luna tersebut menatapnya penuh heran. "Poni, ada apa denganmu?"

Poni salah tingkah, bahkan kemoceng yang digenggamnya terjatuh, dengan kikuk, dia memungutnya lagi, tak dapat dibayangkan, betapa malunya Poni di hadapan mereka.

"Eum, tidak apa-apa. Aku ... hanya berkhayal tentang mate, Alpha," jawab Poni, menggaruk tengkuknya.

Luna Erinka tersenyum, menghampiri Poni dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Kau akan mendapatkan mate. Tunggulah waktunya, lagipula, kamu masih muda. Kira-kira, berapa umurmu, Nak?"

"Hari ini, menginjak 18 tahun, Luna," jawab Poni.

"Selamat ulang tahun, sayang. Walau orang tuamu tidak ada, anggap kami sebagai keluargamu. Melihatmu, aku ingin sekali memiliki anak perempuan." Erinka tidak sadar mengucapkan kalimat akhirnya, Poni sedikit sedih, desas desus mengenai anak perempuan, sudah tersebar di seluruh pack. Banyak yang menawarkan diri, tetapi Erinka menolak, bukan apanya, yang menawarkan diri memiliki tujuan yang berbeda, yaitu ... ingin berlama-lama di samping putra mahkota. Tetapi, itu tidak berlaku untuk Poni yang hanya maid di sini. Karena dia sudah tahu, bahwa putra dari Sang Alpha, merupakan takdirnya, yang diberikan oleh moongodnes.

ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ)

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status