2

Luna Erinka dan Alpha Jeavy keluar dari kamar mereka, sementara Poni masih setia membersihkan kamar tersebut, dengan mengusap keringat di dahi, Poni mengendusnya dan ia mengerutkan kening karena sedikit bau.

"Haish, aku harus mandi," gumam Poni. Aponi memerhatikan kamar, tidak ada orang sama sekali, Alpha dan Luna sepertinya sibuk, dan dia mengambil kesempatan untuk mandi di kamar tersebut.

Bisa dikatakan, Poni sangat nekat, untunglah Jeavy dan Erinka belum datang ketika dia selesai mandi. Jika ditanya persoalan handuk, Poni tidak punya, dia hanya mengusap bulir air di badannya menggunakan bajunya sendiri, siapa yang peduli? Dia hanya maid di sini, hal-hal jorok sudah biasa untuk dirinya.

Poni pun keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya untuk mengganti baju.

Malamnya, semua orang sibuk, tetapi tidak dengan Poni yang bersantai di kamar, dia menulis sesuatu, yang di mana calon alpha mengumumkan bahwa ia adalah mate-nya, dengan seulas senyum, Poni merasa puas dengan akhir tulisannya.

Brak! Pintu terbuka, datanglah Berta dengan kemoceng yang dibawanya, wanita tersebut menghampiri Poni dan memukulnya dengan keras.

"Semua orang sibuk, sedangkan kau? Menulis sesuatu yang tidak berguna di sini? Jangan manja, gadis kecil! Keluarlah, sebelum aku mengamuk dan melukaimu!"

Poni langsung beranjak, tak lupa menyimpan kertas tulisannya di laci meja, kemudian keluar dengan cepat.

Poni menghela napas, dia disuruh oleh Beta Brave untuk memanggil Bardolf (Calon Alpha) di kamarnya. Tentu Poni tidak mau, bukan apanya, dia malu dan tidak ingin terjebak dalam aroma hujan yang menenangkan itu, dan juga ... Poni sangat takut dengan mate-nya, mendengar suara beratnya saja membuat Poni merinding, apalagi bentakannya, bisa-bisa, Poni menangis di hadapan Bardolf.

Pasrah, itulah yang dipaksakan oleh Poni, karena Brave memandangnya penuh tajam, dia melangkah menuju kamar calon alpha dan mengetuknya pelan.

Poni pun masuk, dan menyampaikan pesan yang diperintahkan oleh Brave. "Tu-Tuan, Anda dipanggil oleh Beta Brave."

"Hm."

Tanpa sepatah kata pun, Poni keluar dari kamar tersebut, aroma hujan itu sangat disukainya. Sampai-sampai, dia ingin memeluk Bardolf dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria tersebut, tapi, Poni tahu diri, dia hanya berkhayal tingkat tinggi, dan itu adalah hal yang mustahil.

"Ayolah, Poni. Jangan terlalu berharap. Cukup dia menjadi mate-mu saja, terlalu banyak mengkhayal bisa-bisa sesuatu hal membuatmu tidak menyangka, semacam kejutan, namun ... baik atau buruk, waktu yang akan menjawabnya."

Ke esokan harinya, para rakyat menanti calon alpha yang akan dikandidatkan oleh ayahnya sendiri, dan resmi menjadi pemimpin di Black Moon Pack.

Bardolf, pria tersebut menuju altar, jalannya penuh wibawa dan auranya memancarkan cahaya sementara waktu, akan tetapi, ketika dia berada di altar, auranya redup menggelap, semuanya diam dan terintimidasi dari tatapan calon alpha itu.

"Saya, Bardolf, Putra dari Alpha Jeavy dan Luna Erinka, siap menjadi posisi Ayahku sebagai Alpha. Janjiku adalah: Rakyat dan pack, akan kulindungi dengan nyawaku sendiri."

Tepukan tangan beramai-ramai memuja Bardolf yang telah resmi menggantikan ayahnya, begitupula dengan Poni yang berteriak histeris.

"Sebagai penutup, ada hal yang harus kusampaikan," ucap Bardolf, suasana hening seketika. Terlihat pria tersebut menghela napasnya dan menatap satu titik di tengah keramaian sembarik menunjuknya.

"Dia maid di pack ini, dan dia adalah ... mate-ku," umumkan Bardolf, orang-orang terkejut, termasuk orang tuanya sendiri.

Poni? Dia menahan air matanya untuk tidak menetes, bahkan, Poni berpikiran bahwa hari ini, semua orang tidak akan menyakitinya lagi, terutama pada Berta, sang pemimpin maid yang menatapnya tidak percaya.

Senang bukan main, tanpa diperintahkan, Poni berjalan menuju altar dan berdiri di samping pria yang telah mengakui dirinya, sebagai pasangan.

"Berdirinya dia di sini, adalah hal yang luar biasa untukku," ucap Bardolf, dengan wajah yang teramat dingin.

"Terima kasih," cicit Poni, senang bukan main.

"Mengapa luar biasa?" Bardolf menatap Poni sementara, kemudian melanjutkan ucapannya, "karena, aku Bardolf dari Black Moon Pack, me-reject-nya sebagai mate-ku, mulai sekarang ini, dia bukan siapa-siapaku lagi. Hal yang luar biasa bukan? Lunturan senyumnya, merupakan hari bahagia untukku."

ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ)


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status