4

Berdamai dengan kenyataan yang ada, membuatnya dapat menanggulangi rasa sakit atas penolakan mantan mate.

Seperti sekarang ini, Aponi kembali dengan tugasnya sebagai pembantu pack. Orang-orang memandangnya rendah, tak seperti yang ditulis di buku hariannya, tentang indahnya bersanding dengan Bardolf.

Rutinitas di pagi hari, adalah membersihkan kamar Jeavy dan Erinka, setelah itu, beralih ke kamar selanjutnya, yaitu, kamar Bardolf.

"Permisi, saya harus membersihkan kamar Anda, Alpha," sahut Poni di luar kamar. Sedangkan Bardolf, masih setia di ranjang empuknya.

"Kenapa lama? Tidak biasanya seperti ini," heran Poni, sekali lagi diketuknya pintu tersebut hingga mendengar erangan dalam kamar.

Pintu dibuka oleh pria yang menolaknya kemarin, tampak jelas dia masih mengantuk dan kembali ke tempat tidur, merebahkan diri.

Poni menggelengkan kepala, ternyata Bardolf pemalas sekarang ini, padahal, dia baru dilantik kemarin.

"Seandainya Anda bersanding denganku, tidak kubiarkan Anda masih terlelap di pagi ini," gumam Poni.

Bardolf mendengar gumaman Poni, dia beranjak dari ranjang dan menghancurkan cermin di samping gadis tersebut, serta menatapnya dengan tajam. "Keluar dari kamarku sekarang juga, sialan!"

"Baiklah."

Poni keluar, tanpa merasa bersalah sama sekali, malah, dia senang karena pekerjaannya menjadi mudah dan dapat bersantai untuk sementara waktu. Tetapi, waktu bersantainya tidak lama, karena Berta datang dengan suara lantangnya yang menggetarkan seruangan.

"Kenapa kau tidak bekerja?!"

"Maaf, tetapi Alpha menyuruhku keluar dari kamar, dan di sinilah aku, menikmati waktu luang yang ada, sembari menatap jendela dengan suguhan pemandangan indah di luarnya," jawab Poni.

"Benar juga. Kau harus menikmati indahnya di luar sana, untuk menutupi rasa malu dan sakitmu saat ditolak kemarin, apalagi di hadapan seluruh rakyat Black Moon Pack, menyedihkan sekali," balas Berta, meninggalkan Poni kemudian.

Luka yang dibalutinya dengan hiburan, malah menganga kembali. Selalu saja, ada orang yang mengingatkannya pada kejadian kemarin, jujur, Poni sangat sedih akan hal itu. Seberapa cerianya dia, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sedihnya.

Poni ingin pergi dari pack ini, tetapi, perginya dia malah memancing bangsa liar di luar sana, untuk membunuhnya.

Sekarang apa? Tidak ada. Poni menatap jendela, di luar sana, Bardolf berjalan bersama perempuan di sampingngnya yang saling bergandengan tangan.

"Yah, semakin sakit hati ini," lirih Poni.

Di umurnya yang 18 tahun, tidak ada tanda-tanda serigala dalam dirinya. Seorang werewolf, memiliki serigala ketika dia berumur 17 tahun, setahun telah dilaluinya, dan Poni tidak mengalami perubahan, yaitu: dapat berganti shift.

"Takdir yang direnggut oleh seseorang, akan mendapat ganti oleh Dewi Bulan, kapan tibanya?"

Tidak ada, jangan berharap lebih. Lubang selanjutnya, banyak sekali. Kau sudah jatuh, jangan memancing tangga untuk menimpamu, Poni. Batinnya.

Di sisi lain, Bardolf bersama Carlotte, wanita cantik yang memiliki bodi bak model internasional, sangat elok dipandang, tak heran, banyak yang mengincarnya untuk pemuasan nafsu.

Berbicara masalah mate, Carlotte belum menemukannya, sedangkan Bardolf sudah tidak ada, Bardolf pun senang, dengan ketiadaan mate-nya, dia melanglang buana dalam dunia percintaan, tidak peduli jika wanita tersebut menemukan mate-nya nanti, karena, wanita mana pun tidak akan menolaknya.

Dia Alpha, orang yang paling berkedudukan di sebuah pack, yaitu pemimpin yang tak terbantahkan.

Sekarang. Bardolf dan Carlotte, berada dalam kamar. Mereka melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan, mereka lakukan! Terutama Carlotte, karena mate-nya akan merasakan rasa panas yang menjalar, dan merupakan tanda jika dia telah dicicipi oleh pria lain di luar takdirnya.

Satu orang lagi, melakukan kesalahan besar kepada MoonGodnes.

ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ)


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status