5

Masih bersantai dan menikmati pemandangan dari jendela, sampai tidak sadar bahwa Jeavy dan Erinka ada di belakangnya.

"Poni."

Poni berbalik menatap Erinka bersama suaminya, dia tersenyum begitupula kedua orang di depannya.

"Kami mencarimu, dan kamu ada di sini ternyata," beritahu Erinka.

"Ada apa Luna? Maaf telah membuat Anda mencari saya," balas Poni.

"Seharusnya kami yang meminta maaf, Poni. Bardolf sangat keterlaluan, aku telah memarahinya dan dia tidak menyesal sama sekali. Memang sialan anak itu!" geram Jeavy.

Kemarin, setelah Bardolf mengumumkan semuanya, Jeavy memarahi anaknya di istana, bahkan memberinya sebuah bogeman mentah. Akan tetapi, Bardolf malah tersenyum dan berterima kasih kepada ayahnya, bogeman tersebut menyadari dirinya, bahwa dia tidak salah langkah. Bardolf yang mendengar hal tersebut, semakin menjadi dan menyangka bahwa putranya sudah gila.

Kembali pada Poni, gadis itu hanya tersenyum pilu, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menegarkan diri. "Tidak masalah, Alpha. Saya percaya kepada Dewi Bulan, dia merencanakan takdir lain untukku," balas Poni.

"Ucapanmu, semakin membuat kami bersalah, Nak. Huft, andai Bardolf ada di sini, ke mana anak itu?" tanya Erinka.

"Eum, dia bersama seorang wanita, Luna. Mereka menuju istana," jawab Poni.

Tanpa berlama-lama, Jeavy-Erinka menuju kamar anaknya, mereka berhenti sesaat kemudian menarik tangan Poni untuk ikut bersama.

Poni dilanda ketakutan yang besar, di hadapannya, pertengkaran terjadi antar ayah dan anak.

Jeavy menatap marah Bardolf dan menunjuk-nunjuk Carlotte dan mengatainya sebagai wanita penggoda.

"Karena dia, kau me-reject mate-mu?"

"Bukan, aku memutuskan tali takdir karena murni kemauanku, bukan karena siapa-siapa pun," jawab Bardolf.

"Yah, tanpa siapa-siapa pun. Karena kau bebas bermain bersama wanita lain, bukan? Cih, tidak mencerminkan seorang Alpha yang bijaksana. Cabut gelarmu sekarang juga!"

Erinka dan Poni terkejut mendengar hal tersebut, begitupula dengan Bardolf dan Carlotte.

Bardolf tersenyum kemudian, dia siap melepaskan gelar alpha di hadapan ayah dan para rakyatnya. Tanpa ba bi bu, Bardolf mengumumkan hal tersebut kepada semua orang, melalui beta dan warrior yang dia perintahkan.

"Terima kasih, turunnya jabatanku, putusnya pula tali keluarga kita."

"Bardolf!" teriak Erinka.

"Biarkan dia pergi!"

Bardolf mengabaikan ibunya, begitupula dengan Carlotte yang selalu mengikutinya. Merasa kesal, dia menampar wanita tersebut dan menyuruhnya pergi, karena sekarang, emosi menguasai pikirannya.

Bardolf fokus pada seseorang, yaitu Poni. Poni sendiri pergi saat keadaan semakin merunyam, dan Bardolf mencari keberadaan gadis tersebut.

"Ck, ke mana dia? Karenanya, seluruh jabatanku, harus kumusnahkan, begitupula dengan ayah dan ibu, ha ha ha."

Gotcha! Poni ditemukan di kamarnya, sebelumnya Bardolf menendang pintu kamar dalam sekali dan membuatnya roboh seketika.

"Jangan lari dariku, gadis kecil. Ikutlah bersamaku, kita akan melanglang buana mulai sekarang!"

Bardolf menyeringai, dia menarik  Poni yang meronta-ronta ingin dilepaskan. Tak dibiarkan, pria tersebut menggendongnya dan mendekap bibir Poni dengan lumatan yang kasar.

"Diam, aku muak mendengar teriakanmu!" bentaknya.

Berta, sang ketua maid, melihat itu semua. Rasa iri berkecamuk dalam dirinya, dia tidak terima, dia ingin pula merasakan bibir Bardolf dan membalasnya tak kalah bernafsu.

"Kenapa gadis itu selalu melangkahiku?" kesal Berta.

Di sisi lain, Keanu khawatir dengan keadaan Poni. Setelah mendengar akibat dari turun tahtanya Sang Alpha, itu disebabkan oleh Poni yang melaporkan kebersamaan Bardolf bersama seorang wanita.

Banyak rakyat yang membenci Poni, mengapa gadis itu mengganggu kehidupan orang yang telah lepas darinya? Jika ditelusuri, bukan Carlotte yang penggoda, tetapi Poni.

Keanu terus mencari, hingga melihat Poni digendong oleh Bardolf menuju pintu gerbang pack.

ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ)


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status