6

Warrior dan beta diperintahkan langsung untuk mengejar Bardolf, sementara orang yang dikejar hanya santai saja sembari membawa Poni yang diam dalam dekapannya.

"Aku tahu, kau masih menyukaiku, gadis kecil. Tapi, jangan harap jika aku akan membalas perasaanmu," ujar Bardolf, tidak sudi.

Poni tidak membalas, dia sudah tahu bahwa harapannya terhadap si pria yang menggendongnya, tidak ada lagi.

Mereka keluar dari pack, beta dan warrior yang mengejarnya, dihabisi Bardolf secara sadis, tapi, untunglah pria itu tidak membunuh mereka.

"Kembalilah ke pack, aku berbaik hati untuk meloloskan nyawa kalian!"

Setelah itu, Bardolf berlari dengan cepat, mengurung pergerakan mereka dengan aura gelapnya.

Poni tetap diam, laju Bardolf semakin memelan, dan dia berhenti ketika sampai di suatu perumahan yang kosong.

"Tidak ada penghuninya, kita bisa tinggal di sini."

Bardolf menurunkan Poni, kemudian membuka pintu rumah tersebut. Ketika masuk, mereka tidak menyangka jika rumah tersebut tidaklah kosong, ada perapian, kamar tidur, ruang tamu, bahkan dapur pun juga ada.

"Wah, ada tamu!" Pekik seseorang, mengagetkan Poni, tapi tidak untuk Bardolf.

Dia Elf. Peri kecil dengan telinga yang panjang menghampiri mereka.

"Tersesat di tengah luasnya hutan?" tanya peri kecil itu.

"Tidak juga, kami terus berlari dan akhirnya menemukan rumah yang kusangka kosong ini, tapi ternyata, tidak."

"Ha ha ha, memang tidak. Di luar, penampakan rumahku sangatlah gelap dan terlihat kosong, itu sebagai minimalisir saja, agar terhindar dari serangan bangsa liar," balasnya.

"Beberapa hari, kami akan menginap di sini, boleh?"

"Tentu, bahkan selamanya juga boleh," jawab Elf tersebut.

"Terima kasih."

Poni, gadis tersebut duduk di depan perapian untuk menghangatkan diri, dia kedinginan dan badannya pun sedikit panas. Entahlah, Poni tidak tahu apa penyebabnya.

Hawa yang dia rasakan semakin menjadi, perapian tak membuatnya hangat karena rasa dingin lebih membaluti.

Elf yang merasakan hal itu, mengernyit curiga, dia menghampiri Poni dan menyentuh dahinya.

"Kau demam, dan ini bukan demam biasa."

"Hanya demam," balas Poni, dengan badan yang menggigil, tak tahan dengan dinginnya hawa rumah ini, padahal, tidak sama sekali, Elf tetap menjaga kehangatan rumahnya.

Elf yang bernama Fluffy, mengambil sebuah ramuan dan menuangkannya dalam mulut Poni.

"Minumlah, ramuan ini dapat menyelamatkanmu."

Poni mengantuk, efek dari ramuan Fluffy, akhirnya bekerja setelah beberapa saat dia meminumnya.

"Siapa namamu?" tanya Fluffy.

"Bardolf."

Fluffy tersenyum, Bardolf memiliki arti serigala, dari auranya pun kelihatan bahwa dia seorang alpha. Fluffy mencoba menebak, dan dia salah, karena Bardolf telah turun tahta.

"Aku mantan Alpha, yang diturunkan oleh ayahku sendiri, miris bukan?"

"Kau memang pantas mendapatkannya. Takdir dari Dewi Bulan kau permainkan, gadis yang tertidur di kursi sana, adalah mate-mu," balas Fluffy, menyerang Bardolf secara perbincangan.

Tepat sekali! Bagaimana bisa, dia tahu? Tanyanya dalam benak.

Tentu Fluffy tahu, dia peri yang dapat membaca masa lalu seseorang, ketika seseorang masuk dalam rumahnya, ramuan yang berada dalam sebuah teko besar akan memberi penjelasan langsung pada telinganya, secara membisik. Bagaimana cara teko tersebut membisik? Hanya kawanan peri saja yang tahu rahasianya.

Prosesnya adalah, ramuan akan membaca aura yang dimiliki oleh setiap bangsa yang masuk dalam rumah Fluffy, kemudian, sejenis arwah menulis dalam kertas lalu membacanya tepat di telinga kanan peri tersebut. Dari mana arwah tersebut berasal? Arwah itu merupakan makhluk yang diciptakan olehnya, yang di mana, dia membuat sebuah ramuan dan mencampurkannya ramuan lain yang dapat membentuk sebuah makhluk tak kasat mata.

Ramuan tersebut tidak sembarangan, karena Fluffy membutuhkan waktu yang lama dengan berbagai mantra yang telah dikumpulkan dari para leluhurnya.

"Kau tetap seorang Alpha. Hanya saja, statusmu ditahan oleh ayahmu untuk sementara waktu. Bagaimana aku tahu? Karena aku dapat membaca masa lalu, mau pun masa depan, Anak Muda."

Bardolf terdiam, masih kurang percaya dengan ucapan peri itu.

"Kau tidak percaya? Kau adalah Bardolf, anak dari seorang Alpha yang bernama Jeavy dan Luna Erinka. Kalian berasal dari Black Moon Pack, dan gadis yang tengah tertidur adalah seorang maid atau omega. Alasanmu memutuskan takdir adalah, malu dengan statusnya."

ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ)


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status