9

Poni tersiksa, pelukan erat di belakangnya begitu mendominasi kasur yang kecil, membuatnya hampir terjatuh. Dengkuran halus menyapa leher gadis tersebut, menciptakan rasa geli yang menggerayangi.

Bardolf bergerak, tangannya masih setia memeluk perut Poni, dia hampir terjatuh, nyaris sekali, akan tetapi, Bardolf menahan gadis tersebut dalam sekali hentakan saja, sehingga Poni berada di depan dadanya.

"Jangan khawatir, kau tidak akan terjatuh, tidurlah," ucap Bardolf dengan suara yang serak.

Sesuatu yang dirindukan oleh Poni menghilang, yaitu: aroma hujan yang berasal dari tubuh Bardolf, dia benar-benar lepas sekarang, tak sadar, dia menitikkan air mata sebelum terlelap.

Paginya, Fluffy membuka pintu kamar tamu dan melihat pemandangan yang begitu menarik, seorang pria yang bagian tubuh atasnya tengah bertelanjang, sedangkan seorang gadis yang tampak begitu mungil dipeluknya, terasa begitu pas.

"Romantis sekali, jika di lihat, mereka memang cocok untuk menjadi suami-istri, namun sayang, takdir berkata lain," gumam Fluffy, kemudian membangunkan mereka berdua.

Aponi terbangun, dia menyingkirkan tangan Bardolf dari tubuhnya dengan pelan, biarlah pria itu terlelap dalam mimpinya, sementara Poni, ia bisa bebas untuk sementara waktu.

Aponi dan Fluffy keluar dari rumah, mereka mencari bunga biru yang akan dijadikan ramuan pengobatan, sekaligus untuk bekal Aponi yang ingin belajar ilmu sihir.

"Fluffy, lihat, bunganya ada di seberang sungai!" tunjuknya pada bunga cantik yang berada di kerumunan buaya yang lapar.

"Haish, kau ingin membunuhku? Tidak perlu secara terang-terangan, Poni," balas Fluffy, kemudian tertawa.

Poni menatap tempat itu dengan jeli, memang benar, di sana ada koloni buaya yang tengah berjemur dengan mulut menganga.

"Maaf Fluffy, aku baru memerhatikan, hehehe."

Mereka mencari di tempat lain, dan menemukan bunga biru tersebut di sebuah pegunungan, tanjakannya tidak terlalu berbahaya sehingga Aponi ingin mencoba mengambilnya, Fluffy mengizinkan, namun tetap mengawasi.

"Fluffy, aku tinggal menyabutnya bukan?"

"Jangan cabut saja, perhatikan batangnya, bunga itu memiliki duri yang beracun," balas Fluffy.

Aponi menunduk, mencari celah di antara duri yang banyak, kemudian menariknya dengan pelan, dan ... berhasil, dia tersenyum kemudian kembali ke tempat lalu menyusul Fluffy yang melanjutkan pencariannya.

"Bunga biru yang cantik, tetapi berduri. Selanjutnya apa, Fluffy?"

"Kali ini, kita akan menuju wilayah Black Moon Pack, kehati-hatian yang tinggi sangat perlu, Poni. Jangan sampai ketahuan," jawab Fluffy.

Aponi menunjukan wajah yang heran, kenapa harus berhati-hati? Dia berasal dari pack itu, lalu, mengapa tidak boleh ketahuan? Sebelum Aponi bertanya, dia disambar oleh Fluffy terlebih dahulu. "Ingat kondisimu sekarang, yang kabur dari pack itu dan ikut bersama Bardolf. Bagaimana jika kau ketahuan? Mungkin, untukmu tidak masalah, tetapi aku? Aku seorang Elf, yang dicari berbagai bangsa untuk dimanfaatkan dalam perang."

"Maaf, Fluffy. Aku tidak bermaksud," ucap Aponi, dan Fluffy mengerti akan hal itu.

Sebenarnya, Fluffy ingin menjelaskan lebih lagi, tetapi, dia menahan diri, karena Bardolf sengaja membawa Aponi agar dia membalaskan dendamnya kepada gadis tersebut, bukan berniat buruk, tetapi, tidak ingin ikut campur.

Di sini, Fluffy berada pada pilihan yang sulit, berurusan dengan Alpha terkuat dari seluruh pack yang ada, atau menyelamatkan hidup Aponi dari terkaman Bardolf? Entahlah, dia bisa membaca masa depan, tetapi, dia mengabaikan untuk mengetahui kebenarannya. Karena menurut Fluffy, itu tidaklah seru dan juga menantang. Kekuatan spesialnya, hanya digunakan dalam situasi yang dibutuhkan saja.

ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ)

Sekadar pemberitahuan: Author bakalan sering ganti-ganti panggilan antara Aponi dan Poni, sebenarnya sama saja, tetapi begitulah, kadang author suka memakai Poni, kadang juga Aponi. Jadi, maklumi saja, hehehe.


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status