33

Bardolf, senang sekali menghirup wangi sweet pea milik Aponi, begitupun sebaliknya yang sangat menyukai aroma hujan yang menenangkan dari mate-nya.

"Kenapa wangimu memabukkan sekali? Berbeda dengan biasa yang tidak terlalu menyeruak dan terkesan samar-samar, sayang." Bardolf menghirupnya semakin rakus, karena gemas dia menggigit leher Aponi dan membuat wanita (bukan gadis lagi) tersebut mengerang kesakitan.

"Ish, aku pun tidak tahu. Berhenti menggigitku, sakit Bardolf."

"Maaf."

Mereka masih bertelanjang, hanya bermodalkan selimut sebagai pembalut tubuh mereka, tak ada yang ingin beranjak hingga pintu diketuk dari luar.

"Dobrak saja, aku tidak tahu di mana kuncinya!" perintah Bardolf.

Pintu pun dirobohkan oleh sang beta, beta tersebut menunduk hormat kepada sang alpha dan memberitahu bahwa waktunya makan sore.

Sore? Itulah yang ada dalam benak Aponi, dan dia panik seketika. Seorang maid tidak boleh bermalas-malasan hingga memakan waktu berjam-jam, karena dia akan dihukum!

Saking cemasnya, Aponi hampir beranjak tanpa busana, untunglah Bardolf menahan mate-nya dan menatap beta tersebut dengan tajam yang merupakan kode pengusiran.

"Eh, maafkan saya, alpha."

Bardolf mengekang Aponi dalam dekapannya, mencegah agar wanitanya tidak pergi dari kamar.

"Jangan menahanku, aku harus bekerja, Bardolf!"

"Untuk apa bekerja? Kau mate-ku, mulai sekarang, kau adalah luna di pack ini. Tak ada yang berani memerintahmu, menghukum, bahkan marah kepadamu, tanpa izin dariku, sayang."

Sebelum Aponi membalas, dia disambar oleh Bardolf, "Kau tidak sadar tadi, jika beta melihat tubuhmu, maka aku akan memutar bola matanya hingga terlepas!"

Aponi menghela napas, pasrah dengan pria yang keras kepala tengah mengekangnya erat.

"Kau tidak lapar? Waktunya makan sore."

"Lapar, ingin memakanmu lagi."

"Bukan itu maksudku, makan makanan."

"Hm."

Hanya itu, tapi tidak ada pergerakan membuat Aponi kesal sendiri dan menunggu Bardolf sampai selesai dengan rasa nyamannya di ranjang. Bukannya selesai, pria itu malah kembali tertidur, dan sialnya lagi, Aponi ikut terlarut hingga malam telah tiba.

Di ruang makan, para petinggi pack belum ada yang menyentuh makanannya lantaran menunggu alpha.

"Biar aku yang memanggilnya, kau tetap di sini, Beta."

"Ba-baik, Luna."

Dengan cepat, Erinka menuju kamar putranya. Pintu kamar Bardolf tetap terbuka dan memperlihatkan dua orang yang masih terlelap di sana dengan tubuh yang tak berbusana.

"Ck, pasangan baru memang selalu seperti ini. Mengingatkanku pada Jeavy yang sangat ganasnya kala itu," gumam Erinka, dia pun tersadar, kenapa jadi mengingat masa mudanya?

"Bardolf, Aponi. Bangun! Kami menunggu kalian di ruang makan, jika belum bangun juga, Ibu ak-"

"Diamlah, dasar cerewet!" Bardolf melempar bantal dan mengenai wajah ibunya.

Saat bantal tersebut jatuh, wajah Erinka memerah padam, itu terjadi sebelum lengkingan dahsyat terdengar.

"Bardolf, Aponi, BANGUN!"

(★^O^★)

Mereka telah berada di ruang makan, dengan wajah yang lesu, terutama pada Aponi yang masih merasa sakit pada area kewanitaannya, namun dia menutupinya agar tidak mengganggu acara makan malam.

Duduk di antara petinggi pack, membuatnya tak enak sendiri karena ini yang pertama kali untuk dia berada di suasana kaku seperti itu.

Bardolf melirik Aponi yang masih diam tak menyentuh makanannya.

"Makanlah, sebelum kumakan," bisik Bardolf.

Aponi langsung memakan makanannya, dan dia yang paling cepat menghabiskan pula.

"Aku selesai, terima kasih."

Baru beranjak, Aponi mengeluh kesakitan.

"Milikmu masih rapat, butuh pelonggaran dari keperkasaanku."

ლ(́◉◞౪◟◉‵ლ)


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status