37

"Gotcha! Aku mendapatkanmu, honey!" Nyaris, Bardolf hampir terkena serangan Carlotte.

Untunglah dia cekatan dan menghindar secara otomatis melalui naluri kewaspadaannya.

"Jangan meremehkanku, penyihir bodoh, ha ha ha."

Carlotte mendesis, dia menatap tangannya yang hampir menyentuh tubuh Bardolf dan melepuhkan tubuhnya detik itu pula.

"Sedikit lagi."

Carlotte langsung menyerang, tangannya yang memerah memiliki sebuah artian bahwa jika kau menyentuhnya, tubuhmu akan terbakar dan menjadi abu seiring berjalannya waktu.

Bardolf menyeringai, dia maju secara ceroboh dan Carlotte berhasil meraih tangan pria tersebut.

"Kau meremehkanku?" tanya Carlotte, tersenyum menang.

"Tentu."

Bardolf menarik tangan Carlotte kemudian memutarnya sampai terlepas dari bahu wanita tersebut. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, tangan kiri Carlotte pun mendapatkan hal yang sama.

"Kau tidak lihat di atas sana?"

Carlotte menengok, Fluffy ada di atas sebagai penyembuh Bardolf.

"Sial, pantas dia kebal!"

Rasa sakit mulai menjalar pada tubuh Carlotte, dia meringis kesakitan, namun, di tengah ramainya pertarungan dia melihat seseorang yang sangat penting dalam hidup Bardolf.

Carlotte memanfaatkan moment tersebut dengan memejamkan mata dan merapalkan sebuah mantra yang membuat tongkatnya menyerang target yang telah ditandai.

Ujung tongkat milik Carlotte menjadi runcing, tak hanya itu, ujung tongkatnya dibaluti oleh racun yang mematikan.

"Habislah dia, ha ha ha!"

Bardolf berbalik, tongkat tersebut mengarah ke mate-nya, dia berlari dengan cepat, bahkan Wolfe mengambil alih Bardolf dan berubah ke wujud serigalanya, akan tetapi, itu tidak cukup karena laju tongkat itu lebih melesat darinya.

"Aponi!"

Fluffy, pria tersebut telah mengetahui rencana Carlotte saat wanita tersebut merapalkan mantra, jangan lupakan dirinya yang dapat membaca masa depan. Dan inilah waktu yang tepat untuknya, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memusnahkan tongkat tersebut.

"Bardolf, ini tidak akan sempat! Sialan, Aponi, menghindarlah!" teriak Wolfe.

Aponi terdiam kaku di tempatnya, dia tak dapat bergerak, seolah-olah kakinya ditahan oleh sesuatu.

Sebelum tongkat tersebut menembus tubuhnya, beruntung, beruntunglah Fluffy menghalangi tongkat tersebut dengan tubuhnya.

"Ck, di luar dugaanku, ha ha ha. Tapi, aku berhasil menghentikannya," ucap Fluffy, kemudian terjatuh di tanah.

Carlotte, wanita itu berteriak kencang, usahanya sia-sia, Aponi tidak mati dalam genggamannya karena peri tua yang datang menggagalkan serangannya.

"Sialan!"

Percuma, Carlotte sudah kehabisan kekuatan. Seluruh pasukan yang dia kerahkan, juga dia yang mengendalikannya dan wanita itu tidak menyadari jika kekuatannya terus terkuras begitu banyak.

"Tidak, Fluffy!"

Aponi membawa Fluffy dalam pangkuannya, Aponi tidak menangis karena dia harus menjernihkan pikiran.

"Ayo, berpikir--berpikir dan berpikir!"

Aponi mengingat sesuatu, yaitu ramuan kuning milik Fluffy, dia membuka botol kecil tersebut dan menuangkannya dalam mulut peri tersebut, namun, sebelum itu, dia menyabut tongkat yang menancap pada tubuh ayah angkatnya.

"Ayo, bekerjalah! Fluffy bilang bahwa ini ramuan yang dapat mengembalikan nyawa seseorang yang telah mati."

Semuanya berkumpul melihat pemandangan tersebut, terutama pada petinggi pack, yaitu Bardolf-Wolfe, Jeavy, Erinka, beta, dan para tetua.

"Bangunlah, jangan meninggalkan kami Fluffy, kami merindukanmu," lirih Aponi.

"H-ha ha ha, te-tenanglah, Nak. Aku telah kembali, dan berhentilah merindukanku."

Suara itu, menggema dalam telinganya. Fluffy benar-benar kembali ketika Aponi membuka matanya. Aponi memeluk erat peri tersebut.

"Terima kasih."

"Aku tak menyangka, kau menggunakan ramuan yang telah kuberikan, pada diriku sendiri," ujar Fluffy.

"Aku memanfaatkannya dengan baik bukan?"

"Tepat sekali, ha ha ha."

.THE END.


DMCA.com Protection Status