5 || Kemarahan yang Membingungkan

Rara berjalan terhuyung-huyung sambil memegang barang belanjaan milik Aldebaran. Tangannya sudah tidak kuat lagi memegang paper bag dan beberapa dus yang berisi sepatu. Sebisa mungkin, Rara membawa dengan hati-hati. Dia tampak kelelahan, sejak tadi Rara berputar-putar mencari barang yang ditulisnya sesuai perintah Aldebaran. Sudah hampir sejam lebih, Rara berada dalam sebuah pusat perbelanjaan. 

“Pria arogan itu membuatku harus bekerja keras untuk ini. Mana semuanya berat. Ya, ampun tanganku tidak kuat lagi.”

Rara melepaskan beberapa paper bag dan dus sepatu ke lantai begitu saja. Dia duduk bersandar pada pembatas pagar untuk melepas penat sejenak.

Ponsel Rara berdering, pria arogan itu menelpon. Segera Rara menggeser icon berwarna hijau.

“Iya, Pak.”

“Sudah semua, Pak. Aku istirahat sebentar. Kakiku sangat lelah, sejak tadi berputar-putar mencari daftar barang yang Pak Al inginkan.”

“Sekarang, Pak? Baik, Pak.”

Rara menutup telepon. Dia bergegas mengumpulkan barang belanjaannya.

“Mana bisa aku sampai dalam waktu lima menit. Ini saja aku kesulitan membawanya. Ah, pria arogan itu membuatku kesal!” keluh Rara.

Dia mengambil langkah cepat walau harus dengan sangat berhati-hati. Aldebaran tidak akan menerima jika ada yang lecet sedikit saja.

Rara mendapat ide ketika melihat seorang wanita mendorong troli menuju keluar.

“Permisi, Bu!”

Wanita itu menoleh, sedikit terkejut karena tidak melihat wajah orang yang berbicara kepadanya. Hanya tumpuan dus yang dia lihat. Rara memutar sedikit badannya.

“Apa aku boleh menitip beberapa barang belanjaan ku ke dalam troli itu?Setidaknya sampai tempat parkir,” pinta Rara, berharap wanita itu membantunya.

“Iya, silakan saja. Punya saya juga tidak banyak,” sahut wanita itu.

“Terima kasih, Bu.” Wajah Rara berbinar senang, dia segera menaruh belanjaannya ke dalam troli lalu mengambil alih dan mendorong keluar.

“Apa ini belanjaan punyamu ya, Dek?”

“Bukan, punya bos aku. Aku bekerja sebagai asisten pribadi.”

Wanita itu mengangguk-angguk. “Banyak sekali, ya.”

Rara tersenyum kikuk. Dia dari tadi tidak berhenti melirik jam di tangannya. Sudah lima menit berlalu. Aldebaran pasti akan menyemburnya habis-habisan.

“Ini mobil saya,” kata wanita itu mengambil kantung belanjaannya.

“Terima kasih. Aku pergi, ya, Bu.”

Wanita itu melambaikan tangan. Rara segera mendorong dengan cepat. Dari kejauhan, Aldebaran sudah menunggunya dengan melipat tangan di depan dada sambil bersandar di badan mobil.

“Kau terlambat lima menit. Gajimu aku kurangi!” semburnya.

“Aku kesulitan membawanya, Pak. Mana bisa dalam lima menit membawa barang sebanyak ini. Tidakkah Pak Al lihat?” Rara memasang wajah memelas. Walau dalam hatinya menahan kesal.

“Aku tidak menerima alasan! Bawakan itu ke lokasi syuting," tutupnya angkuh dan masuk ke dalam mobil.

Rara mengangkat satu kepalan tangan ke udara. Ingin rasanya dia menonjok pria arogan itu.

“Dia menyuruhku membeli ini semua dan menyusahkanku juga. Lalu, seenaknya mengurangi gajiku di hari pertama bekerja,” omel Rara menaruh di bagasi belakang dengan kesal.

Mobil Aldebaran kemudian meninggalkan lahan parkir. Tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan.

***

Rara mengeluarkan pakaian yang diperlukan Aldebaran untuk syuting. Aldebaran sudah bersiap-siap. Begitu instruksi dari sutradara, mereka mulai beradu akting.

Aldebaran tampak mendalami perannya. Rara bahkan tidak mengalihkan pandangannya sejak tadi.

Tiba-tiba, ponsel Aldebaran berdering. ‘Monika’ itulah nama yang tertera dilayar ponselnya. Rara tidak mengindahkan. Dia tidak mau menyentuh barang milik Aldebaran tanpa izin.

Ponsel itu kembali berdering. Rara menatap layar benda pipih itu. Dia menarik napas dalam lalu menggeser icon berwarna hijau.

“Halo!”

“Who are you?”

Rara menjauhkan ponselnya. “Aku tidak paham dia bicara apa.”

“Aku tidak mengerti apa yang Anda bicarakan. Pak Al sedang syuting.”

Rara lantas memutuskan panggilan. Dia segera menaruh ponsel Aldebaran di meja.

“Aku bahkan tidak jago bahasa Inggris,” gerutu Rara memandang ponsel Aldebaran yang kembali berbunyi. Kali ini ada sebuah chat masuk. Yang pasti Rara tidak mau tahu itu. Bukan urusannya.

Beberapa menit kemudian, Aldebaran berjalan menuju tempat duduknya. Syuting di break sebentar.

Rara memberikan botol minuman kemasan. Aldebaran hanya mengambil dengan diam. Dia meraih ponselnya melihat notifikasi chat yang kembali berbunyi.

“Kau menyentuh ponselku?” Tatapan Aldebaran menyorot marah. Rara mengangguk pelan.

“Berani sekali kaumenyentuh barang milikku!” bentak Aldebaran dengan menggebrak meja.

Rara tersentak. Suara Aldebaran mengalihkan pandangan orang di sekitar menatap ke arah Rara.

“Ma-maf, Pak. Tadi ponsel Anda berdering terus, jadi aku hanya bilang kalau Pak Al sedang syuting,” jawab Rara sedikit terbata. Bukan rasa takut dari tatapan marah Aldebaran. Rara merasa tidak nyaman dengan tatapan kasihan dari mereka yang melihatnya. Rara tidak suka dengan tatapan seperti itu.

“Tetap saja, kau tidak berhak menyentuh apa pun tanpa izin dariku!” Aldebaran membanting ponselnya dengan keras.

Rara membelalak melihat ponsel Aldebaran menjadi retak berkeping-keping. Apa harus semarah itu? Dia hanya menjawab telepon. Kenapa harus melampiaskan kemarahan pada ponsel?

Aldebaran menarik tangan Rara. Hanya berjarak beberapa senti, bahkan embusan napas Aldebaran menerpa wajah Rara.

Mata Aldebaran menunjukkan kemarahan dan kebencian. Rara membalas tatapan Aldebaran. Jantungnya berpacu seperti lomba lari. Entah kenapa, keberanian itu muncul begitu saja.

Aldebaran menyentak tangan Rara dengan kasar. Tanpa berkata apa pun, dia pergi begitu saja—membiarkan Rara yang terdiam di tempat.

Rara menatap punggung Aldebaran, tangannya mengepal samar. Sikap pria arogan itu membuatnya menjadi pusat perhatian. Di mana salah Rara? Bukankah dia harus menjelaskan, apa hanya karena mengangkat telepon dari wanita itu atau ada hal lain yang membuatnya semarah itu? Setidaknya, dia mengatakan sesuatu. Rara mengacak rambutnya frustasi, dia segera meninggalkan tempat yang membuatnya sesak napas.

***

Aldebaran menepikan mobilnya. Dia memukul kemudi dengan kesal. Pikirannya diliputi amarah yang tidak bisa ia kendalikan. Dia mengambil ponsel lain yang ada dalam dashboard mobil. Sepertinya itu ponsel cadangan miliknya.

Aldebaran mengirim pesan singkat lalu melepas ponsel begitu saja di kursi sebelah. Dia melempar punggung, menyisir rambut dengan jemari ke belakang. Sedetik kemudian Aldebaran memutar balik menuju lokasi syuting.

Sementara Rara, saat ini berada di sebuah taman yang tak jauh dari lokasi syuting. Dia pergi untuk menenangkan diri. Rara berjalan dengan satu tangan ia masukkan ke dalam saku celana jeans-nya. Beberapa lelaki yang berpapasan dengannya mencoba menegur. Tatapan sangar Rara membuat mereka bergidik seraya berlalu.

“Dasar pria arogan. Hanya karena punya banyak uang seakan-akan barang apa pun bisa dibuang begitu saja!” Rara menahan langkahnya. “Apa yang salah dengan aku menjawab telepon? Bukan berarti aku mengutak-atik ponselnya. Aku hanya melakukan tugasku. Salah?!”

Rara menendang kaleng kosong yang berada di depannya dengan kesal.

“Aww!” rintih seseorang yang berada tak jauh di hadapannya.

Rara terkesiap. Dia segera menghampiri seorang pria yang mengusap dahinya.

“Pak Angga!”

“Jihan!”

Rara tersenyum kikuk. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Maaf, Pak. Aku tidak melihat ke depan.”

Angga tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Aku hanya kaget, ini juga sudah baik-baik saja.”

“Syukurlah.” Rara mendesah lega.

“Tapi kenapa kau menendang kaleng malang itu?” tanya Angga.

“Oh, soal itu ....”—Rara menggaruk tengkuknya—“aku hanya sedang kesal.”

“Pasti karena Al 'kan?”

Rara mengangguk ringan.

Angga tersenyum. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku sembari menapak  dengan santai. Rara lantas menyamakan langkah. Wajahnya kembali berseri berjalan bersama Angga. Sepertinya suasana hatinya sudah membaik.

"Pak Angga suka datang ke taman, ya?" 

"Aku mana punya waktu. Tapi, kadang-kadang. Kebetulan mobilku sedang bermasalah, tiba-tiba saja mogok. Jadi sambil menunggu montir memeriksa, aku mampir ke sini. Cuaca juga sedang bersahabat hari ini, jadi aku jalan-jalan sebentar untuk melepas penat."

Rara mengulas senyum. Dia ikut mendongak memandang langit yang diselimuti awan, mendung.

“Apa Al menyusahkanmu sehingga kau merasa kesal?”

“Aku tidak sengaja mengangkat ponselnya yang berdering. Dia sedang syuting, dan wanita bernama Monika terus saja menelpon. Jadi aku—“

“Siapa kau bilang? Monika?” Angga menghentikan langkah. Dia seakan terkejut mendengar nama wanita itu.

“Iya, Monika namanya.”

Angga menarik napas kecil. Dia kembali melanjutkan langkah.

“Memangnya siapa wanita itu? Pak Al bahkan membanting ponselnya hanya karena tahu aku menjawab telepon dari wanita itu.”

“Dia masa lalu Al yang ingin dilupakan. Wajar saja dia marah, karena Al tidak pernah menjawab panggilan atau pesan dari Monika,” jelas Angga.

“Pantas saja ....” Rara mendadak terdiam di tempat. Angga mengernyitkan alisnya melihat ekspresi kaget Rara. Dia mengikuti arah pandangan Rara ke depan.

Aldebaran! Pria arogan itu berjalan mendekati mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

Aldebaran menatap Rara dengan tajam. “Kenapa tidak menjawab telepon dariku?”

Rara segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Benar saja, lima panggilan tak terjawab dari ‘pria arogan’ nama kontak Aldebaran. Rara sengaja memakai mode senyap karena kesal dengan kejadian tadi.

“Ponselku mode senyap. Maaf!” jawab Rara dengan raut datar.

Aldebaran sontak menarik tangan Rara hendak pergi. Namun, langkahnya tertahan—Angga memegang tangan Aldebaran.

“Jangan lampiaskan kemarahanmu pada Jihan. Dia tidak tahu mengenai masalahmu.”

Aldebaran menyentak. “Kau tidak perlu ikut campur! Aku tahu apa yang aku lakukan.”

Aldebaran kembali membawa Rara pergi. Rara hanya bisa mengikuti Aldebaran, jika dia menolak, kemarahan Aldebaran akan makin besar padanya.

Setelah sampai di depan mobilnya, dia melepas tangan Rara. Kali ini raut wajahnya tidak seperti tadi. Sedikit tenang tetapi tetap menyeramkan.

“Apa yang kaulakukan di sini?”

“Aku hanya datang melihat-lihat. Pak Al juga pergi begitu saja dengan kemarahan,” imbuh Rara. Pandangannya mengarah ke berbagai objek, sengaja tidak ingin menatap iris amber itu.

“Lihat aku! Aku tidak suka orang yang berbicara denganku mengalihkan pandangannya ke tempat lain!” titahnya menarik tubuh Rara sedikit mendekat.

Ada apa dengan pria ini? Dia seenak saja berlaku sesuka hati. Rara ingin melepaskan diri. Tidak kuat. Tenaga Aldebaran lebih besar darinya.

Aldebaran menarik dagu Rara, membuatnya menatap wajah Aldebaran. Pandangan Aldebaran mengarah pada satu-satunya yang kenyal dan lembut. Susah payah Rara meneguk ludah. Seakan sudah terkunci, dia tidak bisa bergerak. Dadanya bergemuruh, seketika pijakannya hampir lemas saat Aldebaran sedikit mendekatkan bibirnya mengarah pada objek yang terkunci oleh kedua netra itu. Rara menarik napas panjang, dengan sekuat tenaga yang dia punya—mendorong tubuh Aldebaran dengan keras hingga membuatnya hampir terjatuh.

“Apa aku tampak seperti mainanmu, Pak?!” sentak Rara mulai emosi.

Manusia tidak sopan itu hampir saja merenggut ciuman pertamanya. Dia bahkan tidak membiarkan Ivan mendekat, apalagi dengan Aldebaran yang hanya sebatas atasan dan bawahan. Enak saja!

Aldebaran menyunggingkan senyum. Dia mengibas bagian pakaiannya yang disentuh Rara.

Rara mendelik tidak percaya melihat tingkah pria arogan itu yang sama saat mereka pertama kali bertemu.

Dia bahkan tidak berubah sama sekali, tetap saja angkuh! batin Rara kesal.

“Setidaknya, kau bukan wanita murahan!  Aku tidak suka memperkerjakan seseorang yang mudah sekali digoda. Aku hanya mengujimu!” katanya santai lalu berbalik masuk ke dalam mobil.

Hah?! Dasar pria mesum, menguji katanya? Rara menoleh tajam ke arah kaca mobil, seakan tatapannya tembus pada sasaran, dia mengeluarkan sumpah serapah. Aldebaran menampakkan seringai tipis melihat tingkah kesal Rara di balik pintu. Dia lantas menekan klakson yang membuat Rara memekik kaget.

“Ya Tuhan, aku harus berlatih sabar demi ibu!” []

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status