7 || Pertemuan kembali

Rara merasa tidak asing dengan suara wanita itu, dia seperti pernah mendengar suaranya. Tatapan Rara kembali mengarah pada Aldebaran yang menyentak tangan wanita itu dengan kasar.

“Aku masih sama. Tidak berubah!” jawab Al tegas.

Rara mengingatnya. Dia wanita yang pernah menelepon Aldebaran. Raut Rara berubah ketika mengingat perkataan Angga waktu itu.

Dia pasti Monika, batin Rara menerka.

“Aku merindukanmu, Al. Bisakah kita bicara berdua saja?” tanyanya. Dia menoleh ke arah Rara.

Rara menyadari maksud tatapan wanita itu, mencoba untuk melepaskan diri. Tidak berhasil. Aldebaran makin mengencangkan cengkeramannya. Rara bahkan meringis dengan suara tertahan. Rasa perih menjalar di area pergelangan tangan.

“Aku sibuk! Tidak punya waktu untuk bicara denganmu!” kata Aldebaran tanpa menatap wanita itu.

“Sekali ini saja, biarkan aku menjelaskan semuanya!”

“Aku tidak membutuhkan penjelasan apa pun darimu, Nyonya Monika David Bailey!” sentak Aldebaran dengan penuh penekanan.

Aldebaran kembali melanjutkan langkahnya. Wajahnya memanas, asap kemarahan sudah mengepul. Dia membuka pintu mobil lalu mendorong tubuh Rara masuk ke dalam dengan kasar. Hampir saja kepala Rara terbentur dashboard.

Rara meringis kesal. Dia memperbaiki posisi duduk dan memasang sabuk pengaman.

Aldebaran segera memutar menuju pintu kemudi, lalu menutup pintu dengan keras tanpa memedulikan Monika yang terus mengetuk kaca mobil.

Aldebaran menginjak pedal gas dan membiarkan Monika sendirian di tempat.

Aldebaran melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Rara hanya berpegang erat, dia merasa takut. Aldebaran tidak bisa mengendalikan kemarahannya. Kenapa harus semarah itu? Rara bahkan kena imbasnya.

“Pak Al, pelankan mobilnya. Kita sedang berada di jalan raya. Tolong tenangkan dirimu, Pak. Aku masih muda, Pak. Belum mau mati!” teriak Rara takut.

Aldebaran tidak menggubris, dia menambah kecepatan mobilnya. Rara sangat ketakutan, jantungnya seakan mencelos melihat Aldebaran yang sama sekali tidak bisa dibujuk. Dia terus menyalip beberapa kendaraan di depan. Sebagian pengendara lain memekik klakson karena ulah Aldebaran yang hampir membuat kecelakaan lalu lintas.

Rara hanya bisa berdoa, berharap ibunya akan baik-baik saja jika terjadi apa-apa padanya.

“Pak Al, aku mohon, hentikan mobilnya!” teriak Rara lagi.

Dari kejauhan, lampu lalu lintas sudah berwarna hijau dan sebentar lagi akan berganti warna. Aldebaran makin menggila, dia menyalipkan mobilnya hingga tubuh Rara meliuk-liuk. Rara mencengkeram sabuk pengaman. Kedua matanya terpejam menerima hasil akhir dari ujung perjalanannya. Dia pasrah. Menyerahkan hidup pada yang Mahakuasa.

Seakan melayang, nyaris sepersekian detik. Mobil Aldebaran lolos dengan selamat. Suara rem berdecit, Aldebaran berhenti mendadak tepat di bahu jalan. Mereka benar-benar beruntung. Beberapa kendaraan yang melintas, melayangkan sumpah serapah padanya. Aldebaran tidak mengindahkan. Napasnya memburu, seluruh puncak kemarahan ia lampiaskan tanpa memperhitungkan risiko yang berakibat fatal.

Rara masih mencoba menenangkan diri, dia melirik takut ke arah Aldebaran yang kemarahannya mulai menyusut—reda dengan perlahan-lahan.

Jantung Rara berpacu cepat, masih terasa takut walau dia mengembuskan napas berulang-ulang. Situasi menegangkan pertama kali baginya. Rara membuka pintu, kakinya gemetaran tidak kuat berpijak. Rasa mual mulai menjalar di kerongkongan. Perutnya yang kosong membuat Rara makin lemas.

“Apa yang kaulakukan di situ? Cepat masuk!” perintah Aldebaran.

Rara mengangkat lima jari ke udara. “Satu menit saja, Pak. Aku hanya perlu udara segar sebentar!”

Rara membuka botol kemasan air mineral yang masih dia pegang sejak tadi. Dengan tergesa-gesa Rara meneguk hingga hampir habis. Rara mendesah lega, merasa lebih baik. Mendadak, dia menyadari air yang baru saja diminumnya itu milik Aldebaran. Rara lantas berdiri dengan sigap. Dia segera masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang.

“Maaf, Pak. Aku tidak sengaja meminumnya.”

Aldebaran tidak menanggapi. Dia kembali menjalankan mobilnya.

“Pak Al tidak akan melakukan hal seperti tadi ‘kan?” Tangan Rara refleks menyentuh punggung tangan Aldebaran.

“Pindahkan tanganmu! Aku bahkan tidak membawa hand sanitizer.” Guratan tidak suka tercetak jelas di wajah Aldebaran.

Rara melepaskan tangannya. Dia merutuk kesal dalam hati.

“Hari ini kau pulang saja!” kata Aldebaran lagi. Pandangannya lurus ke depan. Mobilnya melaju sedang. Rara hanya mengangguk, dia memilih diam tidak ingin berkata apa pun. Suasana hati Aldebaran sedang tidak baik. Gara-gara wanita bernama Monika, nyawanya hampir melayang. Wanita itu sangat meresahkan. Dia pasti melakukan kesalahan besar sehingga Aldebaran semarah tadi.

Aldebaran menepikan mobilnya di halte bus. Rara segera turun. Belum sempat Rara mengucapkan sepatah kata, mobil Aldebaran sudah lebih dulu pergi.

“Dasar pria arogan. Aku mau ucapkan terima kasih.” Rara berdecak. “Dibalik sikapnya yang angkuh, dia memiliki hati yang rapuh. Wanita itu pasti sangat menyakitinya.”

Langkah Rara menuju kursi yang tampak kosong. Dari kejauhan seseorang mengambil gambarnya dengan diam-diam. Orang itu segera pergi begitu mendapatkan yang dia inginkan.

***

Rara baru saja sampai di rumah. Sebelumnya, dia singgah di apotek terdekat membeli obat untuk Nirmala dan membeli mie instan juga beberapa butir telur. Rara berusaha menghemat pengeluarannya sampai tanggal penerimaan gajinya.

“Assalamualaikum, Ibu. Rara pulang!”

Nirmala yang berada di dapur, berjalan perlahan untuk menyambutnya.

“Rara sudah pulang? Ibu kira sore nanti.” Nirmala lantas duduk di kursi tua yang sudah lapuk.

Rara mengulum bibir. Dia lupa kalau belum memberitahukan Nirmala mengenai pekerjaannya. Rara sudah harus berkata jujur hari ini.

Rara mendekat, duduk bersimpuh di kaki ibunya. Rara memegang kedua tangan Nirmala seraya menarik napas dalam.

“Sebenarnya Rara tidak jujur sepenuhnya sama Ibu.” Rara menatap lekat kedua iris cokelat bening milik Nirmala.

“Apa ada yang Rara sembunyikan dari ibu?”

Rara mengangguk pelan. Dia mencium punggung tangan Nirmala dengan lembut. Menelungkupkan wajahnya dengan rasa bersalah yang membuncah.

“Rara tidak lagi bekerja di perusahaan yang menerima Rara. Rara dipecat atas kesalahan kecil dan ....”

“Rara dipecat?” Nirmala menyela. Tatapannya terlihat sendu. Rara mendongak, menatap wajah Nirmala.

“Tapi Ibu tidak usah khawatir. Rara diperkerjakan kembali oleh orang yang sudah memecat Rara menjadi asisten pribadinya.” Rara menjelaskan, berharap Nirmala bisa menerima itu. Dia sangat takut jika pengakuannya membuat kesehatan Nirmala terganggu, mengingat kondisi jantung Nirmala yang tidak baik.

Senyum Nirmala tersimpul hangat. Tangannya mengusap rambut Rara dengan lembut.

“Rara sudah berjuang keras. Pekerjaan apa saja Rara lakukan hanya untuk mencari makan. Sekalipun menjadi asisten pribadi, ibu tetap mendukung pekerjaan yang Rara lakukan, asalkan mendapat uang yang halal,” tutur Nirmala memeluk anak semata wayangnya itu.

“Terima kasih, Bu. Rara lega sudah memberitahukan pada Ibu. Sebelumnya, Rara takut karena memikirkan kondisi jantung Ibu. Tapi sekarang Rara akan berjuang keras mengumpulkan uang agar Ibu bisa di operasi,” pungkas Rara memeluk Nirmala.

“Rara juga jangan bekerja terlalu keras, ibu tidak ingin kalau Rara sampai sakit.”

Rara menggeleng. Dia makin mengeratkan pelukannya. “Rara cuma punya Ibu dan Rara akan terus berjuang agar Ibu bisa sembuh.

Nirmala terenyuh—mengusap punggung Rara dengan senyum yang terukir. []

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status