8 || Kekesalan

Range Rover hitam milik Aldebaran melaju di atas jalan bebas hambatan. Guratan tegas di wajahnya yang tampan sedang tidak baik-baik saja. Pikiran-pikiran meresahkan mulai tumbuh lebat di kepalanya. Semenjak pertemuan kembali dengan Monika setelah tiga tahun, Aldebaran tidak bisa mengontrol diri. Dia bahkan mengabaikan panggilan masuk dari Firman yang sejak tadi berharap cemas di tempat lain. Aldebaran melewatkan syuting hari ini. Pikirannya kalut, dia butuh tempat untuk menenangkan diri.

Setelah membela jalanan lenggang ibukota, mobil mewah Aldebaran memasuki pelataran sebuah tempat yang tentunya masih sepi pengunjung, lalu menepikan mobilnya.

Aldebaran segera masuk ke dalam, dia mengedarkan pandangannya, lalu menuju tempat yang biasa ia duduki, di sudut ruangan yang tenang dan nyaman.

Seseorang datang dengan nampan berisi sebotol minuman dan gelas kaca. Sudah menjadi hal lumrah jika Aldebaran sudah datang berkunjung, tanpa diminta pemilik tempat itu langsung membawakan minuman berkadar alkohol yang biasa ia minum.

“Apa harus di jam seperti ini kau datang kemari? Ini bahkan masih pagi, Al,” ujar Dion.

Dion sahabat Aldebaran sejak zaman sekolah dulu. Dia mengelola sebuah bar mini yang terletak di pusat kota.

“Kau tahu aku tidak menerima pelanggan yang datang minum di jam begini. Bukankah kau ada syuting hari ini?!” Dion mencerca dengan tatapan tegas.

“Aku butuh pengalihan! Hari ini aku tidak bisa syuting.” Aldebaran menuangkan setengah gelas minuman berkadar alkohol itu lalu meneguk dengan cepat.

Lagi, Aldebaran menuangkan ke dalam gelas. Dia meneguk tanpa memedulikan tatapan menusuk dari Dion yang mulai hilang kesabaran.

Dion bahkan tidak bisa mencegahnya. Sekali Aldebaran meneguk minuman, dia tidak akan berhenti hingga merasakan sensasi panas yang menerjang tubuhnya.

Wajah Monika kembali memenuhi isi kepalanya. Dia menggelengkan kuat, menepis bayangan sialan itu yang terus mengusiknya.

“Apa lagi masalahmu sekarang?” Dion menahan tangan Aldebaran yang hendak menuangkan lagi minuman ke dalam gelas.

“Wanita jalang itu kembali!” Aldebaran menggeser tangan Dion dan meminum dengan satu kali tegukan.

“Maksudmu Monika?” Alis Dion menekuk tajam.

“Jangan sebut nama wanita itu! Aku bahkan tidak sudi mendengarnya!” Aldebaran mengeraskan suaranya.

Beberapa pengunjung yang datang sekedar untuk bersantai, menoleh kaget ke arahnya.

Dion melempar senyum canggung, merasa tidak enak dengan pengunjung lain.

“Kau jangan membuat keributan, Al. Lebih baik kau pulang saja, saat ini suasana hatimu sedang tidak baik. Apa perlu aku menelepon Firman untuk menjemputmu? Kau bahkan tidak bisa menyetir sendiri.”

Wajah Aldebaran mulai memanas, garis-garis merah mengitari iris oranye kecokelatan  miliknya. Dia tidak mampu mengontrol diri, tatapannya liar—mengarah ke sembarang arah. Dion memegang tulang hidungnya, mengembuskan napas panjang.

“Kau sangat merepotkan, Al. Apa yang harus kulakukan dengan sikap keras kepalamu?!” Dion berusaha menahan tubuh Aldebaran yang hampir terjatuh.

Getaran ponsel mengalihkan atensi Aldebaran, dia melihat nama yang terpampang di layar menjelma menjadi bentuk tidak beraturan. Senyumnya tersungging, berusaha menggeser tombol berwarna hijau.

Dion menggelengkan kepala, melihat tingkah Aldebaran yang bahkan menjawab panggilan saja dia tidak bisa. Dion menarik ponsel dari tangan Aldebaran—menjawab panggilan.

“Kau di mana, Pak?”

Dion kembali melihat nama yang tertera di layar, “Asisten baru”.

“Apa dia memperkerjakan orang baru?” Dion berkata sendiri. Dia kembali menempelkan ponsel pada telinganya.

“Ini dengan siapa, ya?” tanya Dion.

“Ini Rara, apa ini bukan Pak Al?”

“Bukan, aku Dion temannya Al. Al sedang tidak bisa menerima telepon. Bisakah kau mengirim seseorang untuk menjemputnya pulang?”

“Aku tidak tahu harus mengirim siapa? Aku disuruh Pak Firman untuk meneleponnya.”

“Kalau begitu kau saja yang kemari menjemputnya!”

Tidak ada jawaban, Rara terdiam sejenak. Dia tampak berpikir. Dion melihat lagi layar ponsel Aldebaran, panggilan masih terhubung.

“Halo! Nona Rara? Apa kau mendengar suaraku?” Dion mengernyitkan alis. Memastikan.

Terdengar helaan napas dari seberang sana. Sepertinya, Rara tidak punya pilihan lain.

“Baik, Pak. Kirimkan alamatnya lewat pesan.”

Rara memutuskan panggilan. Dion segera mengirim alamat pada Rara dan menaruh kembali ponsel Aldebaran di atas meja.

Dion berdecak. “Kau benar-benar menyusahkanku, Al!”

Tak lama kemudian, Rara baru saja sampai. Dia memandang tempat yang sangat asing baginya.

“Apa ini tempatnya?” Rara melihat beberapa orang berdatangan dan pergi.

Rara mengambil langkah cepat dan masuk ke dalam. Dia menyapu pandangan. Beberapa pengunjung hanya menoleh sekilas ke arahnya, ada yang berbisik mengenai cara berpakaiannya berbanding terbalik dengan parasnya yang cantik—tidak ada kesan girly, sangat mencerminkan gadis tomboi.

Dion yang baru saja melayani pelanggan, segera menghampirinya.

“Apa kau Nona Rara?” tanyanya.

“Iya, Pak. Aku Rara, asistennya Pak Al. Di mana dia?”

Dion menatap Rara dari atas sampai bawah. Dia tidak habis pikir dengan isi kepala Aldebaran yang memperkerjakan gadis tomboi seperti Rara. Namun, dia tidak menampik, wajah Rara sangat cantik. Mungkin itu sebabnya Aldebaran menjadikan Rara asisten pribadinya.

“Pak!” Rara melambaikan lima jarinya di depan wajah Dion.

“Eh, maaf. Itu, Al ada di sebalah sana.”

Pandangan Rara mengikuti arah tunjuk Dion. Aldebaran sudah tertidur di atas meja. Rara mengulas senyum singkat sebelum melangkah pergi.

Rara mengendus bau alkohol yang menyengat. Dia menutup hidungnya, tidak tahan dengan aroma yang menelisik indera penciumannya. Rara menyentuh tangan Aldebaran, memastikan pria itu masih bergerak atau sudah tidak sadarkan diri.

“Bagaimana aku bisa membawanya? Tubuhnya lebih besar dibanding aku yang ramping ini. Menyusahkan saja pria ini!” gerutu Rara berusaha mengangkat tubuh Aldebaran.

Rara tidak kuat, Aldebaran terlalu berat. Rara menoleh ke arah Dion yang masih sibuk melayani pelanggan. Tempat ini sangat berkelas, ruangan yang didominasi dengan material kayu, rak minuman yang dibingkai dengan emas dan tembaga yang berkelas menambah kesan elegan. Rara mendongak melihat langit-langit berupa kaca bening, sungguh pemandangan yang baru dijumpai Rara pertama kali, suasana yang mewah dan maskulin sangat cocok untuk orang yang ingin memanjakan diri dengan alkohol, salah satunya pria arogan ini. Rara berdecak kesal. Dia melambaikan tangan pada Dion agar bisa membantunya.

 “Maaf, tadi aku harus menangani beberapa pelanggan dulu. Aku akan membawanya ke mobil. Apa kau bisa menyetir?”

Rara mengangguk. Dion hanya memandang takjub. Apa yang tidak bisa dilakukan gadis ini. Aldebaran tidak salah memilih asisten. Tentu saja, Rara belajar mengendarai mobil dari Ivan setahun yang lalu. Rara ingin menjadi sopir angkut dulu, hanya saja usianya belum cukup umur untuk mendapatkan SIM. Saat dia sudah lancar mengendarai mobil, Nirmala malah melarangnya bekerja sebagai sopir angkut karena takut akan keselamatan Rara mengingat dia seorang gadis. Rara tidak bisa membantah, dia tidak ingin ibunya khawatir. Akhirnya, Rara hanya bekerja serabutan untuk membiayai uang sekolah dan kebutuhan hidup mereka.

Dion meregangkan tubuhnya, dia hampir kewalahan membawa Aldebaran.

“Kau membuat punggung dan bahuku sakit, Al,” keluh Dion setelah membaringkannya di kursi belakang.

“Apa kau bisa menanganinya sampai ke apartemen?”

“Aku sudah menghubungi Pak Firman untuk segera menuju apartemennya.”

“Baguslah! Hati-hati di jalan.” Dion menepuk bahu Rara yang hendak masuk ke mobil.

“Aku pergi, Pak.”

Dion melambaikan tangan, memandang mobil Aldebaran yang perlahan hilang dalam pandangan. []

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status