PESONA
PESONA
Author: Rustama123
P E S O N A -1-

Seorang perempuan dewasa dengan baju piyama berwarna biru laut itu sedang tertidur di atas kasur berukuran king size. Awalnya dia tertidur dengan tenang namun tidurnya menjadi terganggu saat mimpi buruk dua belas tahu lalu kembali berputar. Bukan mimpi namun masa lalunya yang kelam.

"Aku mencintaimu."

"Jangan lakukan ini padaku."

Tubuh perempuan itu bergerak ke kanan dan ke kiri, keringat dingin membasahi pelipisnya dan dia pun mulai mengigau seakan dia sedang mengalami kejadian dua belas tahun lalu. Air mata menetes dari matanya yang terpejam dan mengalir di kedua pipinya, pertanda bahwa mimpi itu membuatnya sedih.

"Aku mohon terima cintaku."

Wajah perempuan itu terlihat pucat dan ketakutan. Sang ibu yang mendengar suara dari kamar puterinya oun segera masuk ke dalam dan langsung menghampirinya lalu memeluknya dengan lembut dan berusaha menenangkannya. Raut wajah sedih dan iba terpatri di wajah perempuan paruh baya yang sudah keriput itu. Sudah kesekian kalinya dia melihat puterinya masih berkabung dalam kesedihan dan trauma.

Pria bajingan itu tak bisa melepaskan puterinya sejenak saja. Kehidupan puterinya masih terpatok pada masa lalu bahkan saat tidur pun dia tak bisa tenang akibat pria itu.

"Nandini, tenang. Ini Ibu, jangan takut, pria itu tak akan bisa menyakitimu lagi."

"Bangun, Sayang. Sadar, itu hanya mimpi."

Perempuan paruh baya itu berusaha membangunkan puterinya karena tak kuasa melihat puterinya sedih dalam keadaan tak sadar. Namun percuma karena kejadian kelam itu masih membekas dengan sempurna di otak puterinya hingga ia sendiri tak bisa melakukan apapun untuk menyadarkannya.

"Tidak."

"Jangan tolak aku!"

"JANGAN!"

Akhirnya Nandini terbangun dan sadar bahwa tadi hanya mimpi, dia menatap ke arah kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tadi benar-benar mimpi. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut. Ia baru sadar jika ada ibunya di sini ketika ibunya menyodorkan segelas air padanya yang langsung ia terima dan ia minum sampai habis. Walaupun sudah minum namun pengaruh mimpi itu masih sangat nyata baginya.

"Dia kembali."

"Dia menghantuiku lagi dalam mimpi."

"Pria itu tak akan pergi dari hidupku."

Ia langsung memeluk ibunya dengan lembut untuk meminta perlindungan dari mimpi buruknya. Isak tangisnya pecah saat ia merasa begitu lemah karena tak bisa melupakan kejadian dua belas tahun lalu saat pria itu mempermalukannya di depan umum dengan cara paling sadis untuk ukuran remaja Sekolah Menengah Atas dan hal itu dilakukan di depan umum.

"Pria itu akan pergi jika kau siap membuka hatimu. Ibu akan jodohkan kau dengan pria pilihan Ibu. Tolong katakan iya kali ini, Ibu tak kuat melihat kondisimu seperti ini."

Aku spontan menggelengkan kepalaku pertanda menolak perkataannya, bagaimana bisa aku membuka hati saat masa laluku membuat hatiku mati. Sudah lama aku menolak semua pria pilihan ibuku bahkan tak mau melihat mereka karena aku takut akan merasakan penolakan kedua kalinya saat aku mencintai pria lagi.

"Tapi, Nak. Lihat kondisimu, kau selalu menangis dan bermimpi buruk setiap malamnya. Sedangkan pria itu sedang bersenang-senang karena akan menikah."

"Dia akan menikah?"

Sungguh aku tak menyangka jika pria itu akan menikah, aku tak lagi merasakan sakit hati atau cemburu namun aku merasa dendam karena kelakuan pria itu aku menjadi seperti ini sedangkan pria itu akan bahagia dengan hidupnya.

Tanganku mengepal kuat karena tak terima dengan ketidakadilan ini, harusnya pria itu juga menderita sepertiku. Harusnya bukan hanya aku yang menderita di sini. Setelah menorehkan luka di masa remajaku, pria itu memperoleh kebahagiaan. Aku tak akan membiarkannya.

"Dia seorang Aktor, semua mengenalnya. Rencana pernikahannya sudah ada di televisi."

"Bu, tinggalkan aku sendirian. Aku butuh waktu sendiri."

"Kau yakin?"

"Iya, Bu."

Aku menatap ibuku dengan tatapan yakin agar bersedia pergi dari kamarku. Akhirnya ibuku pun keluar dari kamarku dan menutup kembali pintu kamarku. Aku langsung bergegas turun dari kasur dan membuka pintu lemariku, lalu mengambil sebuah kotak kayu yang berisi banyak kenangan manis dengan pria bajingan itu.

Memegang kotak ini saja sudah membuat tanganku bergetar karena mengingat setiap waktu yang kami habiskan bersama. Tetes demi tetes air mata mengalir dan jatuh ke atas kotak ini. Aku langsung menghapus air mataku karena ini bukan waktunya menangis namun waktunya menunjukkan kekuatanku pada pria itu.

"Kuat, Nandini. Kau pasti bisa membuat pria itu sama menderitanya seperti dirimu."

Aku pun kembali duduk di meja dan menaruh kotak itu di pangkuanku lalu membuka kotak itu. Karena sudah lama tersimpan, kotak ini jadi berdebu namun untung isinya masih tersimpan dengan baik. Foto sepasang insan yang sedang tersenyum, naik sepeda, tertawa, makan bersama, dan lain-lain. Siapa pun yang melihat foto ini pasti mengira sepasang insan manusia itu adalah kekasih, bahkan sang perempuan pun merasakan yang sama namun sang pria tidak.

"Aku tak bisa menghilangkan trauma pada pria karena dirimu. Maka aku juga harus membuatmu hancur bukan, Sayang?"

Senyum miring terbit di bibirku, aku pun mulai merekam semua kenangan ini mulai dari foto, boneka, cincin, tulisan lalu mengunggahnya di akun instagram asliku dengan menandai nama akun pria itu yang memiliki puluhan juta pengikut. Tak lupa aku berikan caption yang menyedihkan untuk menyempurnakan rencanaku.

"Dua belas tahun berlalu sejak kau mempermainkan hatiku, sekarang dengan bahagianya kau menikah dan meninggalkan aku dengan duka teramat dalam." -Sayangku-

Tak perlu sampai berjam-jam atau menunggu pagi untuk mendapat respon dari para penggemar pria itu karena sekarang sudah banyak yang memberikan reaksi atas unggahanku. Mereka memenuhi kolom komentar postinganku dan mengirim pesan lewat instagram. Ada yang bingung, kasihan, marah, emosi, bahkan sampai menghinaku karena berniat merusak hubungan idola mereka. Namun aku tak mempermasalahkan hal itu karena yang terpenting image pria itu juga hancur bersama image diriku.

"Selama ini aku diam, bukan karena aku masih mencintaimu dan tak ingin kau menderita. Namun karena aku sedang menunggu waktu yang tepat."

Hanya butuh lima belas menit untuk pria itu kembali berkirim pesan padaku setelah dua belas tahun menghilang. Aku hanya memasang senyum kemenangan saat pria itu terpancing akan umpanku. Sekarang aku menyesal karena tak membalas pria itu.

"Hapus postinganmu. Kita sudah selesai dua belas tahun lalu. Aku dan kau hanya orang asing."

Aku mengabaikan pesannya dan mematikan ponselku, tinggal tunggu saja besok bagaimana postinganku akan menggemparkan seluruh Negeri ini. Pria itu tak akan lolos dengan mudah dariku.

Seketika ingatan akan perbuatan bajingan itu kembali terlintas di otakku. Bagaimana pria itu membuat hatiku hancur berkeping-keping setelah mengucap berbagai pujian manis yang membuat aku terlena.

Dua belas tahun lalu ....

"Tama, aku mencintaimu. Apakah kau mau menjadi kekasihku?"

Tanpa rasa malu saat itu aku berdiri di depan pria tertampan dan tercedas di sekolah kami. Aku terlena akan pesonanya dan kedekatan kami apalagi usahanya yang membuatku langsung jatuh hati. Hari ini aku memberanikan melamar dia duluan karena aku tak mau kehilangannya dan mau meresmikan hubungan kami.

"Kau sedang bermimpi, Nandin?!"

Hanya dia yang aku perbolehkan memanggil namaku dengan berbeda sebagai bentuk spesial dirinya di hidupku. Namun pertanyaannya dengan nada tinggi membuat aku bingung sekaligus takut, apalagi anak-anak sekolah mulai berkumpul dan mengelilingi kami seakan kami adalah tontonan yang menarik. Aku tak mengerti kenapa pria yang aku cintai malah bertanya setelah kami cukup lama bersama. Harusnya dia langsung menerima lamaranku ini.

"Apa maksudmu? Aku tidak bermimpi, aku sadar. Kau ingatkan jika kau berkali-kali mengatakan mencintaiku, kau mengatakan jika aku harus melamarmu sebagai kekasihku di depan umum dan ini yang aku lakukan. Aku tak mau kehilanganmu."

Aku hendak menggenggam tangannya untuk mengingatkannya namun dia menghempaskan tanganku dan tersenyum miring yang mengejek aku. Aku kenal senyum itu, senyum yang sering dia berikan pada gadis lain saat gadis itu menyatakan cintanya. Membayangkan aku bernasib sama dengan gadis-gadis itu membuat aku menangis karena merasa bodoh telah terlena dalam cintanya.

"Sayangnya aku juga mencintai semua gadis di Sekolah ini."

Dia dan teman-temannya beserta seluruh siswa sekolah ini menertawai diriku yang jatuh dalam janji manisnya. Pria itu sangat oandai berakting hingga aku mengira dia benar-benar mencintaiku namun nyatanya dia hanya mempermainkan hatiku.

"Kenapa kau lakukan ini padaku? Aku mencintaimu dengan tulus, tapi kau malah menjadikan aku mainan?"

"Alasannya hanya satu, kau ingat saat pentas seni? Kau menolak bernyanyi bersamaku, sejak saat itu aku dan teman-temanku memasang taruhan atas dirimu. Semuanya dengarkan ucapanku ini, hari ini aku memenangkan taruhan atas gadis bodoh ini!"

Rasanya sulit dipercaya jika pria yang dulu terlihat begitu melindungi dan mencintaiku berubah menjadi iblis yang mematahkan hatiku. Dia menerima kunci mobil dari temannya yang pasti hadiah taruhan itu. Para siswa mencemooh, mengejek, dan menghina diriku yang tak lebih dari permainan saja. Tak ada yang peduli akan rasa sakitku.

"Makanya jadi perempuan jangan mimpi terlalu tinggi."

"Mau dapat Tama yang keren, cerdas, dan tampan? Jangan mimpi!"

"Akhirnya Tama menyadarkan dia dimana tempatnya berada."

Aku berusaha menulikan telingaku dengan pura-pura tak mendengar apa yang siswa lain katakan padaku. Aku mulai berdiri dan berjalan ke arah pria itu, mengeluarkan kunci mobilku dan mengambil tangannya untuk meletakkan kunci mobilku di telapak tangannya. Semua orang termasuk dia terkejut dengan tindakanku. Yang tadinya semua orang tertawa kini terdiam di tempat dan hanya terfokus menatap aku dan Tama.

"Ambil juga kunci mobilku, selamat atas kemenanganmu. Aku bersumpah jika suatu hari nanti, kau akan merasakan apa yang aku rasakan. Ingat namaku dengan jelas Nandini Safira, nama ini akan hadir lagi di hidupmu namun bukan sebagai gadis yang mencintaimu namun sebagai gadis yang membencimu, Tama Andrian Thomas."

Aku menatap matanya yang terlihat indah itu dengan tatapan tajam. Jika dulu aku suka binar kebahagiaan di mata pria itu namun sekarang aku membenci binar itu. Aku akan membuat binar kebahagiaan itu menjadi berkaca-kaca. Aku pun pergi dari sana untuk selamanya karena setelahnya aku pindah sekolah, bukan karena aku malu dengan penolakan Tama namun aku tak mampu melupakan pria itu. Semakin aku lama berada di tempat dimana Tama berada maka aku akan semakin merasa sakit.

Aku kira aku bisa melupakan kejadian itu namun kejadian itu ternyata berubah menjadi trauma terbesar dalan hidupku. Hidupku menjadi kacau karena pria bajingan itu dan aku tak akan melepaskan pria itu dengan mudah.

Tangerang, 03 Februari 2021

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status