P E S O N A -2-

Sudah berulang kali aku mengirim pesan pada akun instagram milik gadis sialan yang telah membuat citraku yang selama ini aku jaga dengan baik menjadi buruk dalam semalam. Namun hanya satu pesanku dibaca setelahnya tidak ada pesanku yang dibaca.

"Gadis sialan!"

"Apa maksudnya melakukan ini?!"

Sungguh aku kesal dan marah karena kejadian tadi malam, tadinya aku tak mengenal siapa gadis yang mengunggah fotonya denganku melalui rekaman video apalagi puisi-puisi cinta itu atas namaku. Aku kira tadinya itu kebohongan atau editan namun ketika aku amati wajah cantik profil akun media sosial itu, aku pun tahu dia salah satu korban yang pernah aku bohongi dengan iming-iming cinta.

"Tama, bagaimana ini media meminta kau melakukan konferensi pers untuk menjelaskan dan memberia klarifikasi tentang masalah ini?!"

"Bahkan beberapa kerja sama iklan dan film mengancam akan membatalkan kerja sama kita jika masalah ini akan mempengaruhi ketenaranmu!"

Sedari tadi manajerku terus saja mengomel dan menjelaskan semua masalah berulang kali hingga aku kesal, belum lagi aku sudah lelah mengirim pesan dan menunggu pesanku dibalas oleh Nandin. Ponsel di tanganku pun terlempar ke tembok hingga pecah berkeping-keping karena luapan amarahku. Hal itu membuat manajerku diam karena tahu aku sudah tak bisa menahan amarahku, namun percuma karena aku butuh dia untuk melampiaskan amarahku. Aku pun menghampiri pria dengan setelan kemeja dan celana bahan hitam itu lalu mendorongnya ke dinding dengan keras hingga kepalanya terbentur dinding cukup kuat lalu mencekik lehernya.

"Sekali lagi kau menasehatiku maka aku akan buat kau dimakamkan hari ini juga, mengerti?"

"Iya .... lepaskan aku, ini sakit."

Dia merintih kesakitan karena tak mampu lagi bernafas akibat aku mencekiknya, aku pun melepaskan tanganku dari lehernya lalu mengambil kunci mobil dan pergi dari sini. Aku bisa melihat sekilas dia bernafas lega karena berhasil selamat dari amarahku dan tak berani lagi mengatakan apapun apalagi mencegah aku pergi.

Mulut manajerku mungkin sudah diam namun tidak dengan mulut ibuku, dia langsung berteriak dan mengejarku saat melihat aku keluar dari kamar. Rasanya kepalaku ingin pecah akibat semua permasalahan ini, tak akan aku ampuni gadis sialan itu karena membuat karirku dia bang kehancuran dalam satu malam.

"Tama!"

"Ayahmu sedari tadi meneleponmu, dia begitu marah saat kau malah membuat rencana pernikahanmu dengan Laura menjadi berantakan karena kekasihmu itu. Kendalikan kekasihmu!"

"Dia bukan kekasihku! Dia hanya sepenggal masa lalu sialan dalam hidupku! Dan jangan berani mengaturku! Kau hanya ibu tiri!"

Aku sudah muak dengan ocehannya, sepertinya dia harus diingatkan tentang posisinya. Aku menatap tajam ke arahnya yang terlihat kesal dengan perilaku aku yang mungkin tak sopan padanya, namun buat apa kasihan pada pengacau kehidupan orang tuaku? Wanita ini bahkan lebih muda dariku, dia lebih cocok jadi adikku namun dia merayu ayahku dan membuat ayahku mencampakkan ibuku hingga ibu sakit keras dan meninggal setahun setelah perceraian terjadi. Hal itu juga yang membuat aku frustasi dan menderita dalam keluarga penuh kepalsuan ini.

Aku pun langsung keluar dari rumah ini yang lama-lama bisa membuat aku gila. Dia berteriak memanggil namaku agar aku berhenti namun aku tak mempedulikan teriakannya dan langsung mengemudikan mobilku menuju tempat gadis sialan itu.

"Nandin, kau berani bermain api denganku?"

"Kau pikir dirimu hebat setelah memposting masa lalu kita?"

Tanganku mencengkeram kuat setir mobil dan selalu membunyikan klakson setiap ada kendaraan di depanku agar kendaraan itu menyingkir dan aku bisa membalapnya. Suara dering panggilan dari ponselku membuat konsentrasiku terganggu.

"Siapa lagi yang menelepon?"

Aku mendengus kesal saat melihat nama tunanganku, dia pasti akan berteriak dan marah-marah seperti yang lain dan aku sudah bosan dan malas mendengar kemarahannya sehingga aku langsung mematikan ponselku agar tak lagi mendengar dering panggilan dari ponselku karena dia akan terus menelepon.

"Jika saja aku tidak membutuhkan Laura untuk menunjang popularitasku karena statusnya yang senior di dunia entertainment. Sudah aku pastikan, aku akan langsung meninggalkannya."

"Gadis sialan itu sangat merepotkan sekarang."

Akhirnya mobilku sampai di rumah lantai dua yang tak berubah banyak sejak dua belas tahun lalu, aku tahu jika gadis itu masih berada di rumahnya yang dulu. Aku pun langsung mengetikkan pesan di akun media sosialnya, aku tak punya nomornya yang dulu dan aku yakin jika pun punya nomornya yang dulu pasti sudah tidak aktif.

'Keluar sekarang! Aku ada di depan rumahmu!'

Aku menunggu sejenak di sini, jika dalam lima belas menit gadis itu tak keluar, maka aku akan menerobos masuk ke dalam rumahnya dan tak lagi memikirkan sopan santun karena dia telah mengganggu privasiku duluan.

Tak lama kemudian gadis itu keluar dan berjalan ke arahku. Aku tak menyangka jika gadis yang dulu culun dengan kepan, kacamata, dan baju kedodoran. Sekarang terlihat anggun, elegan, dan menawan dengan rambut bergelombang berwarna cokelat, sepatu hak tinggi berwarna putih dan gaun katun berwarna cokelat. Dulu aku tak menyadari mata gadis itu sangat indah karena ada kacamata jeleknya namun manik mata biru laut itu terlihat begitu indah tanpa kacamata. Aku masih terpesona akan perubahannya sampai tak menyadari dia sudah berada di depanku dengan tatapan bingung.

"Tama."

"Kau ingin bicara apa?"

"Hah?"

"Kau ingin bicara apa denganku sampai meminta aku keluar rumah?"

Karena tak konsen sehingga aku tak mendengar pertanyaannya yang sebelumnya dan memintanya mengulang lagi pertanyaan itu, tak mau dia tahu jika aku terpesona dalam perubahannya. Aku pun langsung memasang raut wajah datar andalanku.

"Apa maksudmu memposting masa lalu kita?"

Seketika aku kembali emosi saat mengingat kelakuannya, apalagi ketika melihat responnya yang malah tersenyum manis seakan tak merasa bersalah telah melakukan itu. Apa otak pintar gadis ini saat sekolah dulu sudah tidak ada hingga dia tak mengerti jika dia telah melakukan kesalahan fatal?

"Hanya mengenang perbuatan bajinganmu dulu. Bagaimana? Kau suka dengan kenangan kita dulu?"

"Aku tak menyukainya! Hapus postingan itu atau aku akan buat kau menderita!"

"Takut."

Aku yakin dia sedang bercanda saat mengatakan itu karena apa yang dia ucapkan berbeda dengan apa yang terlihat, dia malah terlihat senang karena aku sudah emosi. Benar saja dugaanku karena selanjutnya dia tertawa begitu puas di depanku.

"Jika penggemarmu saja sangat suka dengan foto kita, kenapa kau tidak suka? Lagi pula sudah cukup kau membuat aku terluka di masa lalu, kenapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama di masa sekarang?"

"Kau akan menyesal telah mencampuri urusanku!"

"Aku tidak akan menyesal. Aku malah bahagia. Ini baru permulaan. Kau belum melihat permainan intinya."

Sungguh, aku sebenarnya terkejut dan tak menyangka dengan perubahan sikapnya, dulu dia adalah gadis lugu, polos, dan baik hati namun sepertinya masa lalu pahit yang aku ukir di masa remajanya membuat dia berubah menjadi gadis arogan, jahat, dan licik.

Aku masih menatapnya dengan tatapan setajam elang yang siap menerkam mangsanya namun dia tetap bersikap biasa saja dan tidak takut, gadis itu malah balas menatapku dengan tatapan menantang.

"Jangan menatap tajamku seperti itu, pergi dari sini. Urusanmu dan aku sudah selesai."

Dulu aku yang mengusirnya namun sekarang dia berani mengusirku dan masuk kembali ke rumahnya, meninggalkan aku dengan harga diri yang tercoreng akibat kelakuannya. Aku tak akan membiarkan dia menang dariku. Aku akan membalasnya nanti.

Aku pun langsung pergi dari sini dan mengemudikan mobilku, aku tak tahu harus kemana sekarang. Ke rumah bukanlah solusi yang tepat sehingga aku memilih berhenti di depan restoran untuk menenangkan diri sejenak, tak lupa aku memakai masker, topi, dan jaket sebelum akhirnya keluar dari mobil. Aku tak mau ada yang mengenali diriku sebagai artis, bukannya mendapat ketenangan nantinya aku malah mendapat kebisingan.

"Capuccino satu."

Aku menyebutkan pesananku saat sudah berdiri di depan kasir lalu memilih tempat duduk di dekat dinding agar aku bisa menyender dan menenangkan otakku dulu sejenak. Tak lama kemudian pelayan datang mengantar kopiku dan meletakkannya di atas meja.

"Ini pesanannya, Pak. Saya permisi, Pak."

Aku hanya mengangguk sebagai respon lalu mulai menyesap kopi pesananku dengan perlahan-lahan karena masih panas. Namun hampir saja aku tersedak kopi karena melihat gadis yang baru aku temui beberapa menit lalu, sekarang ada di restoran ini bersama seorang pria berjas rapi khas pria kantoran.

"Sejak dia memposting postingan sialan itu, Nandin selalu berada di mana pun aku berada hingga aku muak melihat wajahnya."

Aku menggerutu tak jelas karena kesal melihat gadis itu lalu memutuskan untuk berdiri dan pergi dari sini setelah menaruh selembar uang berwarna merah di atas meja. Namun langkahku terhenti saat sebuah ide cemerlang hinggap di kepalaku ketika aku ingat satu hal.

Aku menoleh ke arah Nandin dan pria berjas itu, aku yakin pasti mereka sedang berkencan dan pria itu adalah kekasih Nandin. Senyum licik pun terbit di bibirku saat melihat pria itu terlihat tertarik pada Nandin, sudah dipastikan dia adalah kekasih mantanku.

"Nandin, sekarang lihat permainanku."

Aku langsung menghampiri meja dia dan berdiri di antara mereka. Mereka menoleh ke arahku saat menyadari kehadiranku, pria itu terlihat bingung dengan kehadiranku namun Nandin terlihat terkejut dengan bola matanya yang melotot ke arahku.

Dia terlihat salah tingkah, bukan karena kehadiranku namun karena takut pria di depannya ini tahu tentangku. Tanpa permisi, aku pun langsung duduk di sampingnya dan merangkulnya layaknya kekasih. Nandin berusaha melepaskan tanganku dari bahunya dan pria itu terlihat mulai emosi dengan apa yang aku lakukan. Sedangkan aku tersenyum kemenangan.

"Maaf, Anda siapa ya? Kenapa mengganggu Nandini?"

"Perkenalkan, saya ...

Aku terdiam sejenak karena hampir saja lupa kalau aku adalah artis dan memperkenalkan diriku sebagai Tama hanya akan mencoreng namaku lagi. Aku pun memutuskan untuk memakai nama tengahku.

"Saya Andrian, kekasih dari Nandin."

Aku mengulurkan tangan untuk mengajaknya berkenalan dan dia terlihat terpaksa menerima uluran tanganku lalu memperkenalkan dirinya. Aku hampir saja menjerit kesakitan karena gadis sialan ini menginjak kakiku dengan sepatu hak tingginya. Namun rintihan itu aku tahan di dalam mulutku agar aku tidak memancing perhatian orang di restoran ini.

"Saya Bram, rekan kerja Nandini."

Belum selesai rasa kesalku pada Nandin karena telah membuat kakiku sakit, sekarang aku dibuat kesal dengan kenyataan bahwa pria ini bukan siapa-siapa Nandin. Percuma aku mengacau di sini, saat aku menoleh ke arah Nandin, dia malah memberikanku senyum miring dan tatapan mengejek saat aku salah sasaran. Dia pun mendekatkan wajahnya padaku dan berbisik tepat di telingaku.

"Kau ingin memakai caraku untuk menjebak diriku sendiri? Setelah dua belas tahun, ternyata kau menjadi bodoh ya? Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku ....

Dia menghentikan ucapannya dengan sengaja membuat aku penasaran. Apalagi saat dia berdiri, rekan kerjanya pun terlihat bingung dengan apa yang terjadi di sini. Namun setelahnya aku mengerti apa yang hendak dia katakan. Dia dengan sigap dan cepat mengambil topiku dan maskerku hingga wajahku terlihat jelas di restoran ini. Lalu dengan hebohnya dia berteriak hingga semua orang menoleh ke arah kami dan seketika kami menjadi pusat perhatian.

"TAMA, KAU ADA DI SINI? PASTI KAU MAU MENEMUI AKU, KEKASIHMU."

"Astaga ada Tama Andrian Thomas!"

"Dia tampan sekali!"

"Aku harus meminta tanda tangan dan berfoto padanya!"

"Tama, aku penggemar setiamu!"

Para perempuan bahkan sebagian pria berteriak histeris saat melihat aku berada di restoran ini. Mereka langsung berlari ke arahku dan seketika aku pun dikerumuni oleh penggemarku yang ingin melihatku dengan jarak dekat, meminta tanda tangan, berfoto, dan lain-lainnya.

Aku menatap kesal ke arah Nandin yang lagi dan lagi membuat aku terjebak dalam semua ini sedangkan dia malah terlihat bahagia di atas penderitaanku. Aku sudah sesak nafas akibat kelakuan penggemarku yang semakin banyak, belum lagi wartawan datang dengan kameranya dan meliput apa yang terjadi. Itu bukan masalah besar, namun wartawan itu yang meliput Nandin adalah masalah besar!

"Anda, Nandini Safira kan? Wanita yang merupakan kekasih dari artis terkenal Tama Andrian Thomas?"

"Apa yang Anda lakukan di sini?"

"Apakah Anda sedang berkencan dengan Tama?"

"Sudah berapa lama kalian menjalin kasih?"

"Lalu bagaimana dengan Laura? Bukankah mereka akan menikah nantinya? Apa kau perusak hubungan mereka?"

Para wartawan itu menyerbu Nandin dengan berbagai pertanyaan. Sekali saja gadis itu buka suara maka gosipku memiliki kekasih lain di belakang Laura akan semakin merebak di dunia entertainment. Aku menatap penuh harap padanya agar bungkam untuk saat ini karena aku tak bisa menghentikannya akibat kerumunan penggemarku ini. Namun berharap pada Nandin yang sangat membenciku adalah hal terbodoh dalam hidupku karena selanjutnya dia dengan penuh percaya diri menjawab pertanyaan wartawan, mulai merangkai kebohongan yang membuatku ingin mencekiknya saat ini juga.

"Kami sudah menjalin hubungan selama dua belas tahun dan tadinya aku sedang bekerja dengan rekan kerjaku namun dia memang pencemburu dan mengikuti aku sampai ke sini lalu memperkenalkan aku sebagai kekasihku, soal Laura. Aku tak mengenal siapa dia, tapi yang aku tahu dia hanya jalan untuk kekasihku meraih kesuksesan. Kalian pasti tahu kan dengan hubungan pura-pura di antara artis, ya seperti itu hubungan mereka. Tama akan menikah denganku beberapa hari lagi, doakan saja semoga rencana pernikahan kami lancar. Terima kasih, aku sibuk dan harus pergi."

Dia pergi dengan begitu santainya setelah menjebak aku di dalam jurang yang akan mematikan karirku. Sudah dipastikan berita yang didapat para wartawan itu pasti akan menjadi trending topic dalam beberapa hari ke depan apalagi dengan adanya aku di sini, seakan membenarkan pengakuan Nandin.

Tangerang, 03 Februari 2021


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status