P E S O N A -3-

Aku tersenyum puas ketika membaca koran hari ini yang memuat berita tentang kejadian kemarin yang menghebohkan seluruh Negeri ini apalagi penggemar dari Tama. Saat menyalakan televisi, yang aku lihat juga adalah Tama yang dikerumuni oleh para wartawan yang bertanya dan memintanya untuk menjawab. Namun pria itu memilih menjauh dan pergi dari tempat konferensi pers dengan bantuan dan perlindungan dari pengawalnya.

Aku yakin gosip ini akan sulit dihilangkan bagaikan angin yang berlalu. Apalagi penjelasan pria itu dan manajernya di konferensi pers tidak bisa memuaskan berbagai kebingungan dan pertanyaan dalam benak wartawan, media berita, penggemar, sesama artis lainnya, dan rakyat biasa.

"Akhirnya hidupmu sama sepertiku, kau tidaka akan pernah tenang setelah menanamkan trauma terberat dalam hidupku yaitu ketakutanku akan pria."

Rencanaku berhasil, hanya perlu dinyalakan percikan apinya maka api itu akan menyebar sendirinya dan membesar dengan cepat karena status pria itu sebagai artis yang sedang naik daun. Aku menoleh ke samping saat merasa sofa yang aku duduki sedikit bergoyang, ternyata ibuku baru saja duduk di sampingku dan menghela nafas kasar saat melihat berita yang sama selama beberapa hari ini, soal hubungan masa laluku dengan Tama. Ibu langsung mematikan televisi dan menatapku dengan tatapan tajamnya.

"Ibu tahu rasanya menyakitkan saat cinta kita dijadikan permainan. Tapi apa pantas menghancurkan seseorang dengan cara yang sama pula? Lalu apa bedanya mereka dengan kita?"

"Tidak ada. Aku tidak ingin berbeda dari pria itu. Biarkan kami sama-sama kejam, Bu."

Ini sudah kesekian kalinya ibuku mencoba menjelaskan dan menasehatiku dengan berbagai cara agar aku mengerti jika yang aku lakukan ini salah. Karir, hubungan, dan reputasi serta nama baik seseorang dan keluarga besarnya dipertaruhkan dalam balas dendamku. Namun bagiku ini masih kurang, dua belas tahun penderitaanku tak akan pernah cukup dengan beberapa hari melihat pria itu menderita.

"Mungkin Tama yang menorehkan luka dengan mempermainkan cintamu. Namun kau yang membesarkan luka itu dengan terus mencintainya dan tak mencoba menjalin hubungan dengan pria lain. Kau yang membuat hatimu terus dengan tidak memaafkannya dan lebih memilih menaruh dendam."

Kali ini aku diam, tak menjawab atau membalas jawaban ibuku karena yang dia ucapkan adalah kebenarannya. Tanganku mengepal kuat saat hatiku kecilku menertawakan diriku yang membenarkan ucapan ibuku. Aku sudah tak tahan berada di dekat ibuku atau nantinya aku akan lemah dan luluh dengan menghentikan permainan ini karena nasehat ibuku. Saat aku hendak pergi, ibuku menarik pergelangan tanganku hingga aku terduduk lagi. Aku langsung mengalihkan pandanganku agar tak melihat tatapan matanya yang sendu.

"Ibu bisa bicara itu dengan mudah karena Ibu engga merasakan yang aku rasakan. Aku sakit setiap saat ketika ingat bagaimana dia menanamkan cinta di hatiku dengan begitu dalam hingga rasanya aku ingin merobek hatiku sendiri agar cinta itu keluar dari tubuhku."

"Ibu tidak mengerti perasaanmu? Ibu tidak merasakannya? Kau lupa tentang Ayahmu?"

Air mata langsung menetes dari kelopak mataku dan mengalir di kedua pipiku saat ingat tentang satu bajingan lagi di hidupku. Ingatkan aku untuk membalas perbuatan bajingan yang memiliki status sebagai ayahku itu. Ibu kembali mengingatkan aku tentang kejadian dua puluh tahun lalu, ketika aku berumur sepuluh tahun. Aku yang masih anak-anak dengan pemikiran polos dan lugu melihat kegiatan menjijikan ayahku dengan bibiku sendiri yang merupakan adik ibuku yang sudah menjadi janda sejak dua tahun. Mungkin bibiku tidak tahan dengan nafsu birahinya hingga kakak iparnya sendiri ia jadikan pelampiasan nafsu yang selama ini ditahan selama dua tahun jadi janda akibat suaminya meninggal. Ayah meminta aku diam dan aku yang tak mengerti arti selingkuh pun mengangguk dan setuju untuk diam dengan pemberian cokelat darinya. Hingga ibu yang melihat sendiri kelakuan mereka dan meminta cerai lalu hak asuhku jatuh pada ibu karena umurku masih di bawah umur untuk memutuskan tinggal dengan siapa dan aku bersyukur tinggal bersama ibu.

Saat beranjak remaja, aku akhirnya tahu dan mengerti bahwa ayahku dan bibiku bukan bermain dokter dan pasien melainkan berzinah di rumah kami sendiri dan sejak saat itu aku tak mau bertemu dengan pria itu dan membencinya sampai darahku mendidih ketika ibuku mengungkit tentangnya. Penderitaanku tak seberapa dengan penderitaan ibuku namun masih sulit untuk memaafkan karena aku tak sebaik ibuku.

"Maaf, Bu. Aku tidak bermaksud menyakiti Ibu. Tapi rasa sakitku dan traumaku tak akan pernah hilang sebelum melihat penyebab dari kedua hal itu hancur di depan mataku."

Kali ini aku benar-benar pergi dan ibu tak lagi mencegah diriku. Aku memutuskan untuk keluar rumah agar aku bisa menenangkan diri sejenak. Aku tahu ibu terluka melihat aku menjadi pendendam, dia ingin aku seperti dirinya yang memiliki hati yang pemaaf.

Dengan keadaan yang buruk dan tak terkendali, aku mulai mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa peduli lagi dengan bahaya yang akan mengintai aku dan pengemudi lain karena tindakanku ini. Aku hanya butuh pelampiasan agar aku tak terus memikirkan ucapan ibu.

"Aku juga akan melupakan tentang apa yang dia lakukan padaku jika dia mau meminta maaf sekali saja padaku. Tapi sampai gosip ini semakin menyebar, Tama bahkan tak merasa bersalah atau meminta maaf. Pria itu memang tak punya hati dan tak pernah menyesali apa yand dia lakukan."

Aku meluapkan apa yang aku rasakan saat ini lewat kata-kata. Mataku mulai berkaca-kaca dan kembali menangis. Aku mulai tidak konsentrasi menyetir hingga tak melihat ada mobil pribadi yang berbelok di perempatan dan aku pun tak bisa mampu lagi menghentikan mobilku hingga terjadi benturan antara mobilku dan mobil pribadi itu. Tubuhku condong ke depan dan kepalaku membentur setir mobil hingga keningku berdarah, aku tak tahu bagaimana kondisi pengemudi mobil pribadi itu. Namun kondisiku sangat buruk dan sialnya aku malah menyebut nama pria bajingan itu sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.

"Tama."

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

Saat aku terbangun, aku menyadari jika aku berada di rumah sakit dan melihat ada suster yang sedang menulis catatan medisku serta memeriksa selang infusku. Aku langsung bangun dan dia terkejut saat aku sudah sadar, dia pun langsung membantuku bangun dan menanyai keadaanku.

"Bagaimana keadaan Anda? Apa ada yang terasa sakit?"

"Iya, kepalaku sangat sakit."

"Itu hal yang wajar, tidak ada masalah serius, hanya efek dari benturan kecil akibat kecelakaan itu."

Aku pun lantas mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasan suster itu. Sedangkan suster itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tengah menempel namaku di papan informasi di depan brankarku.

Tak lama kemudian, ibuku masuk ke ruang rawatku dan menghampiriku dengan wajah khawatir. Pasti pihak rumah sakit yang menelepon ibu dari ponselku. Aku berusaha tersenyum manis di depannya agar mengurangi rasa khawatirnya akibat mengetahui jika aku mengalami kecelakaan.

"Bagaimana ini semua bisa terjadi, Nak?"

"Kenapa kau berkendara jika kondisimu sedang buruk?"

"Apa ada luka dalam akibat kecelakaan itu?"

"Tenang, Bu."

Niat hati ingin menenangkan ibuku yang terus bertanya tanpa henti dan tidak memberikan waktu untukku menjawab. Namun dia malah menatapku dengan tatapan protes lalu memarahiku. Aku hanya bisa menghela nafas kasar dan kembali diam mendengarkan omelannya.

"Kau menyuruh Ibu diam?!"

"Ibu sangat khawatir akan keadaanmu."

"Ibu mana yang bisa tenang saat anak semata wayangnya mengalami kecelakaan dan terluka?!"

"Ibu takut hal buruk terjadi padamu. Makanya kalau menyetir itu yang fokus, jangan memikirkan hal lain."

"Iya, Bu. Aku baik-baik saja, hanya ada luka kecil di keningku yang berdarah akibat benturan dengan setir mobil. Tanya saja pada suster."

Sontak aku dan ibu menatap suster yang sedang terdiam dengan ekspresi terkejut karena respon ibuku yang berbicara cepat dan marah-marah. Dia langsung mengangguk cepat tanpa bersuara, mungkin takut juga dijadikan pelampiasan emosi oleh ibu.

Namun ibuku sepertinya lega saat melihat anggukan kepala suster itu lalu mulai memeluk lembut diriku dengan penuh kasih sayang. Aku tahu ketakutannya adalah hal yang wajar mengingat hanya aku yang dia miliki saat ini, dia tak akan bisa kehilangan aku setelah pengkhianatan suaminya dan adiknya sendiri.

"Maafkan, Ibu. Ibu marah-marah karena takut jika kau terluka. Kau mau kan memaafkan Ibu?"

"Iya, Bu. Aku tahu jika Ibu sangat menyayangiku hingga takut aku kenapa-kenapa."

"Lalu pengemudi mobil yang tabrakan dengan mobilmu itu, bagaimana keadaannya?"

Ibu melepaskan pelukannya dan menatap diriku dengan tatapan tanya. Sedangkan aku pun langsung teringat akan pengemudi mobil pribadi itu. Aku belum mengetahui keadaannya karena aku baru saja sadar dari pingsan. Sekarang aku jadi panik jika terjadi hal buruk pada pengemudi itu. Aku pun langsung menoleh ke arah suster dan bertanya padanya.

"Suster, pengemudi mobil itu, bagaimana keadaannya?"

"Kondisinya baik-baik saja. Bahkan dia yang membawamu ke sini, dia sedang keluar sebentar untuk membelikanku makanan karena dia bilang kau tidak suka bubur rumah sakit."

Keningku dan kening ibu langsung mengerut bingung dan tatapan terkejut terlihat jelas di mata kami. Apa pengemudi itu peramal hingga dia tahu tentang diriku yang tak suka bubur rumah sakut? Sekarang aku jadi penasaran akan pengemudi mobil pribadi itu. Sedangkan suster pamit keluar dari ruangan dan aku pun hanya mengangguk sebagai respon. Suster pun keluar dan secara bersamaan seorang pemuda tampan bertubuh tinggi dan kekar masuk ke ruang rawatku dan menenteng kantung plastik yang aku yakini berisi makanan.

Seketika rasa penasaran dalam diriku dan ibu langsung hilang. Darahku rasanya langsung mendidih saat melihat Tama ada di sini. Jadi pria itu yang merupakan pemilik mobil yang bertabrakan dengan mobilku? Namun kenapa pria itu masih ingat akan apa yang aku tidak suka seperti bubur rumah sakit?

Tatapan kami bertemu saat dia mengangkat kepalanya. Aku menatap tajam dirinya dengan tangan mengepal kuat dan berusaha menahan amarah saat melihat dia ada di sini. Ibu yang sadar dengan keadaan mencekam ini langsung angkat suara.

"Sepertinya kalian butuh waktu untuk bicara berdua. Kalau bergitu Ibu pamit pulang dulu."

"Tapi, Bu ....

"Selesaikan masalahmu dengan Tama hari ini."

Baru saja aku ingin memprotes tindakan ibuku, apa ibu tidak tahu bahwa jika aku ditinggalkan berdua dengan Tama maka kami bisa saling membunuh satu sama lain? Namun sepertinya ibu tidak ingin tahu dan memotong ucapanku dan memberikanku tatapan peringatan untuk diam dan menurut. Aku pun hanya bisa pasrah dan mengangguk.

Ibu pun keluar dari ruang rawatku dan Tama berjalan mendekat ke arahku lalu menaruh kantung plastik yang dia pegang ke atas nakas.

"Aku harap kau tidak amnesia karena kecelakaan itu."

"Aku tidak selemah yang kau pikir."

"Baguslah. Jadi aku bisa memulai untuk membahas mengenai masa lalu kita."

"Sepertinya tak ada yang perlu dibahas karena masa lalu kita sudah berakhir di sekolah saat kau mempermainkan perasaanku."

Aku menatap sengit ke arahnya yang masih terlihat tenang. Jujur, aku tak suka pembicaraan akan masa lalu yang menyakitkan. Namun dia sepertinya tidak terpengaruh akan penolakanku dan lanjut bicara. Hal itu membuat aku mendengus sebal karena dia masih sama seperti dulu yang mengambil sikap sesuai keinginannya, tanpa mempedulikan orang lain.

"Aku minta maaf atas perbuatanku di masa lalu yang menyakiti hatimu. Aku tahu aku salah saat itu, sekarang aku mengerti jika yang aku lakukan sangat kejam. Aku berharap kau mau memaafkan aku dan kita bisa berdamai dengan masa lalu serta melanjutkan hidup di jalan masing-masing."

Aku tak menyangka jika ucapan itu yang keluar dari bibirnya. Entahlah dia benar-benar menyesali perbuatannya atau dia tak mau lagi berurusan denganku yang akan membuat karirnya hancur. Namun aku menghargai usahanya untuk meminta maaf karena aku tahu seberapa tingginya Ego seorang Tama. Dia akan selalu merasa rendah jika meminta maaf dan mengakui kesalahannya.

"Baiklah. Aku memaafkanmu. Aku akan berhenti mengganggu hidupmu. Sekarang keluar dari ruangan ini. Aku lelah dan butuh istirahat."

"Terima kasih."

Sebenarnya aku tidak lelah dan tidak mengantuk namun aku ingin dia segera pergi dari hadapanku sehingga aku mengusirnya dengan cara harus dan langsung kembali berbaring. Aku memaafkannya karena ingat perkataan ibu lagi pula dia sudah melakukan apa yang aku inginkan sejak dulu darinya yaitu permintaan maaf dan semuanya selesai di sini.

Dia pun pergi dari ruanganku, sedangkan aku pun akhirnya bisa menghela nafas lega saat dia sudah pergi. Hatiku pun ikut lega saat hatiku sudah mulai melunak dan siap melupakan masa lalu lalu mulai kehidupan yang baru dan lebih baik. Sepertinya aku akan memulai untuk menerima perjodohan yang ibu lalukan.

Tangerang, 03 Februari 2021


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status