P E S O N A -6-

Kami dulu pernah memiliki hubungan yang indah saat masa sekolah. Namun dia memutuskan hubungan kami, tapi saat kami bertemu lagi, dia ternyata masih mencintaiku, seperti kekasih pada umumnya, kami melakukan hubungan itu. Ini bukan hal yang tabu lagi di masyarakat. Doakan saja pernikahan kami akan lancar, lagi pula sekarang aku sedang mengandung anaknya. Hasil dari cinta kami.

Adakah yang lebih gila dari Wanita Sialan ini?! Apa Nandin tidak malu mengatakan hal itu di depan media? Apa urat malu wanita itu sudah putus? Dia bahkan dengan mudah mengatakan tentang hubungan ranjang dan hamil, mana mungkin dia bisa hamil jika disentuh seinci saja tidak?! Karangan yang sangat indah!

Ingin rasanya aku melempar remote di tanganku ke layar televisi yang menampilkan klarifikasi dari Nandin akan postinganku di media sosial milikku. Wanita itu berbohong dan terlalu melebih-lebihkan apa yang terjadi di antara kami sehingga kami terlihat bagaikan sepasang kekasih yang saling mencintai dan dimabuk cinta hingga lupa daratan, wanita itu memasang raut wajah bahagianya di wajah cantik dengan riasan natural dengan senyum manis di depan wartawan yang meliputnya, namun ia tahu itu senyum penuh kepalsuan demi menjebak semua orang agar percaya jika yang terjadi di antara kami adalah cinta lama yang kembali bersemi.

Akhirnya wanita itu sukses membius semua orang dengan senyum palsu itu. Tanganku mencengkeram kuat remote di tanganku hingga membentuk kepalan yang kuat dan tanganku mulai merah, jika saja tak ada sepasang suami istri lain di sini mungkin layar televisi itu sudah retak dibuatnya. Kini ia bisa melihat ayahnya dan istri mudanya sedang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam dan menyalahkan, mereka sudah tertipu dengan karangan indah Nandin.

Tak mau menjelaskan atau meladeni mereka yang pastinya akan mengamuk dan marah-marah tak jelas, ia pun hendak berdiri, namun baru saja ia mengangkat bokongnya, ayahnya sudah berteriak, ia berharap pita suara pria tua itu akan putus hingga tak bisa meneriakinya lagi.

"Diam di tempatmu, Tama!"

Sekarang suasana di ruang tamu mulai mencekam karena teriakan dari kepala keluarga, istri muda ayahnya langsung mematikan saluran televisi, mungkin agar dia bisa lebih menikmati pertengkaran anak dan ayah ini. Pasti dia senang jika suaminya dan anak tirinya berkelahi.

Aku tak menyahut ucapannya namun tetap diam di tempat, menyandarkan punggungku ke sofa lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan santai seakan tak ada masalah, menunggu dia lanjut bicara. Sudah sejak lama kami lupa bagaimana hangatnya hubungan ayah dan putera kandung, lebih tepatnya sejak istri muda ayahnya ini masuk dan menghancurkan pernikahan ayah dan ibunya.

"Suruh kekasihmu itu menghentikan skandal murahan ini!"

"Skandal yang membawa namamu apalagi skandal buruk akan membuat namaku dan nama perusahaanku menjadi buruk juga!"

"Jika kau tidak bisa bersikap baik di depanku dan ibu tirimu, maka bersikap baiklah di depan media!"

Pria tua ini apa tidak capek dan sakit tenggorokannya karena terus berteriak dan melotot ke arahku? Ia sudah terbiasa mendapatkan teriakan dan tatapan melotot hingga ia tak lagi terpengaruh dan kini malah menggosok-gosok kupingku dengan jari-jari tanganku agar kupingku ini tidak rusak karena mendengar teriakannya itu. Aku masih diam dan belum merespon apapun, hal itu menambah kadar amarah pria tua ini hingga dia berdiri dan menarik tanganku agar berdiri dengan paksa lalu menampar pipiku dengan keras dan kuat. Tamparan itu menimbulkan suara yang cukup nyaring, menandakan betapa sakitnya bekas tamparan itu, setelahnya aku yakin akan ada bekas merah di pipiku. Bukannya mengeluh sakit, atau menjadi takut pada ayahku, aku malah mengambil ponsel di saku celanaku lalu menelepon asistenku.

"Nela, tolong belikan salep buat bekas luka, bawa ke rumah secepatnya, hari ini ada syuting iklan."

"Baik, Bos."

Setelahnya aku pun mematikan sambungan panggilan dan menaruh kembali ponselku yang berharga puluhan juta ke saku celanaku sebelum ponsel mahal ini akan menjadi korban amarah ayahku karena sikapku.

Anggap aku kurang aja, durhaka, atau anak tidak tahu diri karena mengabaikan ayahku dengan cara yang tidak sopan. Dulu aku tidak begini, dulu aku adalah anak yang sopan, ramah, penurut, dan sangat menyayangi ayah serta ibu kandungku. Tapi pria tua ini juga yang mengubah aku menjadi Malin Kundang yang durhaka. Dia membawa ular betina ke rumah ini dan membuat jiwaku mati rasa.

Akhirnya aku kembali menoleh ke arahku yang semakin marah sekaligus tak menyangka dengan tingkahku ini, sebentar aku melirik ke ibu tiriku yang menatap kesal ke arahku. Sedangkan aku kembali memusatkan pandanganku ke arah Tuan Tafir Thomas yang terhormat, memberikan dia senyuman miring yang mengejek.

"Sudah puas menamparku? Apa sekarang aku boleh kembali ke kamarku Tuan Tafir?"

"Anak durhaka! Kau lupa siapa aku? Aku ini ayah kandungmu, aku yang merawat, menjaga, melindungi, dan mendidikmu dari bayi sampai sekarang. Lalu ini balasanmu padaku?! Ini sifat dan kelakuanmu pada ayah kandungmu?!"

Akhirnya doaku terwujud juga, pria tua ini yang memiliki riwayat sakit stroke ringan dan asma, mulai memegang dadanya yang mungkin terasa sesak dan nafasnya yang mulai tak teratur, seperti orang yang baru lari ratusan kilometer.

Aku tetap diam di tempat, tak mau bahkan tak sudi membantunya, dia tak butuh aku, sama seperti dia tak butuh ibuku ketika sudah sukses. Ada istri mudanya yang langsung sigap membantunya duduk di sofa dan memanggil para pelayan dengan nada berteriak dan panik yang dibuat-buat. Padahal aku sangat yakin dia menunggu saat-saat ketika pria tua ini mati agar bisa mengeruk harta ayahku yang tak akan habis hingga sepuluh turunan sekali pun.

"Pelayan!"

"Iya, Bu. Ada apa?"

"Kau tidak lihat suamiku sedang sakit?! Cepat ambil obatnya yang biasa dia pakai di tempat obat!"

Memang benar slogan jika ibu tiri lebih kejam dari pada kerasnya ibu kota, melihat dia yang marah-marah pada pelayan tak berdosa yang betanya tugasnya setelah dipanggil, membuat aku yakin dia cocok untuk slogan itu jika nantinya ada film ibu tiri, maka dia pemeran terbaik dan aku akan merekomendasikan dirinya pada produser film.

"Iya, Bu."

"Dan kau cepat panggil dokter pribadi kita!"

Dia menunjuk ke arah pelayan lainnya dengan jari telunjuknya yang diwarnai warna merah cabai yang sangat cocok dengan kepribadiannya yang norak, penggoda, dan jalang.

"Baik, Bu."

Aku mulai melangkah maju ke arah ayahku dan menatapnya dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat sebelum akhirnya tersenyum manis menandakan aku senang melihat keadaannya saat ini. Memajukan wajahku agar dia bisa mendengar dengan jelas perkataanku, dia menatapku dengan tatapan sendunya dan mengulurkan tangannya kepadaku berharap aku akan menggenggam tangannya dan berusaha menguatkannya, namun itu hanya ada dalam mimpinya karena aku mengabaikan uluran tangan itu dan bukan itu tujuanku menghampirinya.

"Aku memang anak durhaka. Namun kau yang mengubah aku. Lihat kondisimu sekarang, kondisimu mirip seperti ibuku dulu. Dia sekarat dan selalu menanti kau datang lalu menemaninya. Namun kau tidak melakukan itu. Kau mengabaikannya. Sekarang kau berharap putera ibuku yaitu aku akan menggenggam tanganmu dan menguatkan dirimu? Aku tak sudi melakukannya. Aku ingin mengatakan jika ini karma untukmu. Selamat tinggal, aku harap kau sudah mati saat aku kembali."

Aku melambaikan tanganku padanya lalu berbalik badan dan pergi dari ruang tamu dan keluar dari rumah ini, mengabaikan panggilan pelan dari ayahku dan teriakan yang memanggil namaku dari istri muda ayahku. Waktunya menyelesaikan satu masalah lain yaitu Nandini Safira.

Aku akan menghentikan skandal yang dibuat wanita itu, bukan untuk ayahku namun untuk nama baikku sebagi seorang aktor, penyanyi, musisi, dan model terkenal. Aku tak mau usahaku sia-sia untuk membuat karirku menanjak dan cemerlang di dunia entertainment hancur karena skandal murahan ini.

Tangerang, 03 Februari 2021


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status