Bab 3

Melvin hanya bisa tercengang. Suzy selalu menurut, lemah lembut, dan patuh di hadapannya dan menuruti semua yang dia mau. Tamparan ini benar-benar membuat dia merasa terpukul.

”Suzy!”

Melvin marah karena dia merasa malu dan ingin membalas untuk menamparnya. Mata tajam Melvin tanpa sadar melihat ke arah leher Suzy. Dia langsung menarik kerah baju Suzy. Daerah lehernya terlihat bekas-bekas berhubungan dengan orang. Tiffany yang baru saja ditampar merasa kesal. Setelah melihat bekas di leher Suzy, dia mencibir dan berkata, “ Melvin, tampaknya pacarmu juga pandai bermain-main dengan lelaki.”

Wajah Melvin menjadi suram. “ Suzy, apa yang sebenarnya terjadi?”

Suzy mencibir, “Apa maksudmu?”. Suzy yang semula ingin mencari penghiburan dari pacarnya tetapi malah menangkap pacarnya sedang selingkuh. Sekarang dia tidak perlu lagi menjelaskan kepada Melvin tentang apa yang terjadi semalam.

Suzy mendorong tangan Melvin dan menarik lehernya perlahan-lahan. Dia pun berkata dengan nada yang dingin dan ketus, “ Kamu bisa di belakangku bercinta dengan orang lain begitu juga aku, aku pun bisa bercinta di belakangmu!”

”Kenapa kamu tidak tahu malu? Bersikap suci selama ini di depanku!”

Suzy menekan bibirnya dengan erat dan tubuhnya gemetar. Dia tidak menyangka ada orang yang tidak tahu malu seperti ini. Bajingan macam apa ini?

”Melvin, aku ingin putus denganmu.” Suzy berteriak saat mengatakan ini, dadanya naik turun dengan amarah. Ekspresi muka Melvin tegang dan dia ingin mengatakan sesuatu tetapi ditarik oleh Tiffany.

Tiffany mengerutkan bibirnya dan berkata mengejek, “Mulai sekarang siapa yang bermain dengan siapa tidak akan menjadi masalah.” Mendengar hal ini Melvin menganggukkan kepala tanda persetujuannya.

Setelah Suzy meluapkan amarahnya, dia menjadi tenang dan dengan mata yang suram berkata, “Karena kita sudah putus, uang 120.000 Yuan yang aku pinjamkan kepada kamu untuk membeli rumah harus kamu kembalikan kepadaku!”

Melvin tercengang. Dia sudah menggunakan uang itu dan juga meminjam uang pinjaman hipotek untuk membeli rumah, sekarang bagaimana mungkin dia mengembalikannya? Dia baru bekerja selama dua tahun dan 120.000 Yuan adalah uang yang jumlahnya tidak kecil baginya.

Melvin pun menolak untuk mengakui dia meminjam uang, “ Kamu memberikannya kepadaku secara sukarela.”

Hah? Sukarela?

”Kalau bukan kamu yang bilang rumah yang dibeli itu akan kita gunakan sebagai rumah setelah kita menikah, bagaimana mungkin aku memberikanmu uang itu?” Suzy hanyalah seorang mahasiswa yang miskin dan dia berhasil mengumpulkan uang itu dengan berhemat sambil bekerja paruh waktu dan berpartisipasi dalam kompetisi akademis.

Dasar sampah murahan!

Suzy berkata dengan dingin, “ Kamu bisa memilih untuk tidak mengembalikannya lalu bagaimana dengan masalah kelulusanmu....”

Ekspresi Melvin tiba-tiba berubah.

‘Jika itu terjadi, maka masa depanku akan...’ Melvin berkata dalam hati.

Dia menatap Suzy dengan muram dan akhirnya menggertakkan giginya sambil berkata, “Aku akan membayarmu kembali.”

Suzy kemudian berbalik dan pergi. Dia hanya ingin dengan cepat meninggalkan kantor yang menjijikkan ini sekarang. Semakin jauh dari bajingan itu semakin baik! Suzy berjalan tergesa-gesa dengan kepalanya yang tertunduk. Dia jalan ke arah pintu dan dia hampir saja menabrak orang yang mempunyai dada yang bidang.

”Maaf.” Suzy meminta maaf tanpa mengangkat kepalanya dan pergi dengan cepat.

”Tuan muda Rob, apakah kamu baik-baik saja?” Asisten yang ada di samping laki-laki itu bertanya dengan cemas.

Rob Calvin melambaikan tangannya untuk memanggil Suzy, tetapi ia hanya bisa melihat Suzy berjalan dengan cepat semakin menjauh dari pandangan matanya.

Wanita itu...

”Cepat masuk, lukamu itu perlu dibalut lagi.”

Wolter, asisten pribadinya tersenyum dan berkata lagi, “Ini adalah perintah nyonya besar, nyonya besar adalah orang tua yang sangat peduli kepadamu.”

Rob meliriknya dan berjalan masuk. Saat berjalan, dia memberi perintah pada Wolter, “Kamu bisa menghubunginya nanti.”

”Menghubungi gadis yang menyelamatkanmu?”

”Iya, nenek ingin bertemu dengannya besok. Kamu coba telpon dia dulu. Kemungkinan aku akan kembali ke lokasi kecelakaan lagi jadi akan datang ke rumah sedikit telat.”

Rob ragu-ragu, matanya berubah dingin, “Aku ingin tahu siapa yang merencanakan kecelakaan itu padaku.”

Siapapun yang berani merencanakan kecelakaan itu, orang itu sangat tidak takut mati.

Ketika Suzy berjalan ke taman yang sepi, emosi yang ditahan dari sejak tadi akhirnya bisa terlepas tanpa beban. Dia ingin uang yang telah dia habiskan untuk Melvin kembali, tapi bagaimana dengan hatinya yang tulus mencintainya? Anjing pun tahu membalas budi kepada orang yang memberinya makan dan tidak akan menggigit orang yang sudah menolongnya.

Pacaran selama lima tahun, dari SMA sampai kuliah, Melvin adalah seniornya. Dia selalu mengikuti jejaknya sepanjang jalan, menunggu dengan harapan besar untuk menikah dengannya setelah lulus dan memiliki keluarga bahagia di kota ini.

Kata-kata Melvin masih terngiang-ngiang di telinganya.

Dia tidak pernah menginap dengan Melvin setiap kali Melvin meminta Suzy untuk menuliskan laporan kerja dan mengatur catatan pasien. Dia takut kalau dia membantu Melvin dia akan terlambat masuk kelas berikutnya sehingga dia memilih untuk mengerjakan di asrama untuk bekerja lembur dan begadang. Pengorbanan ku selama ini tidak pernah dihargai Melvin.

Dia tidak pernah merias dirinya karena dia tidak mempunyai uang lebih untuk membeli peralatan rias! Dan saat itu neneknya masih terbaring di unit gawat darurat dan ia masih membutuhkan uang untuk membeli obat-obatan, pun ia masih membantu Melvin yang membutuhkan uang untuk membeli rumah, jadi mana mungkin dia mampu membeli pakaian dan peralatan rias, semua itu akan membuat pengeluarannya makin membengkak!

Suzy menggelengkan kepalanya dengan senyum masam. Ternyata apa yang dikatakan Melvin hanyalah alasan seorang bajingan, mengapa dia harus menanggapinya dengan serius? Suzy mengangkat tangannya untuk menghapus air mata dari sudut matanya lalu menghela nafas panjang. Sekarang dia telah putus, dia akan bersenang-senang dan tidak perlu memikirkan lelaki bajingan yang memuakkan itu.

...

Begitu setibanya Karen di rumah, dia tidak sabar untuk memberi tahu orang tuanya bahwa dia akan menikah dengan keluarga kaya dan akan menjadi istri dari keluarga marga Calvin.

Hanya saja dia tidak mengatakan kalau sebenarnya dia menyamar sebagai orang lain.

Victor dan istrinya, orang tua Karen, pada awalnya tidak percaya, bagaimana mungkin anaknya bisa dekat dan sampai memiliki hubungan dengan anak keluarga terpandang. Orang terpandang macam Robert Calvin, keluarga kaya raya dari marga Calvin, yang akan menikahi putri mereka? Mereka masih ragu-ragu, sampai akhirnya Asisten Wolter menelepon mereka.

“Ini asisten pribadi tuan muda Rob Calvin!” Karen menjelaskan kepada orang tuanya. Lalu menghubungkan telepon dan menekan handsfree. Victor dan istrinya takut untuk bicara duluan, jadi mereka mendengarkan dengan gugup.

"Nona Karen, tuan muda berkata bahwa Nyonya Besar marga Calvin, yaitu Nenek dari Rob Calvin ingin bertemu denganmu besok, jadi kuharap kamu bisa bersiap-siap dari sekarang."

Karen mengangguk dengan cepat: "Oke! Saya pasti bersiap-siap."

Wolter sambil tertawa kecil dan berkata: "Pakaian dan lain-lainnya akan dikirimkan kepadamu nanti, kamu hanya perlu membawa token."

“Token?” Karen terkejut.

Wolter menjelaskan: "Token adalah kalung yang tuan muda berikan padamu malam. Itu adalah tanda untuk menjadi istri dari tuan muda Calvin."

Karen panik, dia tidak punya kalung itu sama sekali!

"Jika tidak ... apa yang akan terjadi?"

Nada suara Wolter berubah tiba-tiba, "Kenapa tidak? Apa kamu tidak mempunyai kalung itu?"

Karen menyadari bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang salah dan dengan cepat mengubah kata-katanya: "Maksudku, kalau-kalau aku tidak dapat menemukannya."

"Jika hilang, nenek pasti tidak akan mengenali kamu. Coba kamu ingat-ingat dimana kamu meletakkan kalung itu ..."

“Bukan begitu!” Karen dengan cepat membantah. "Hanya saja aku baru kembali dari pelatihan, terlalu banyak barang-barang yang harus aku bawa, aku lupa menaruhnya dimana ... Ngomong-ngomong, malam itu terlalu gelap, aku tidak memperhatikan secara detail kalung itu sehingga aku tidak bisa mengingat bentuknya, Asisten Wolter, kamu—— "

"Oke, saya akan mengirimkan foto kalungnya nanti." Setelah menutup telepon, Wolter mengirim gambar kalung itu. Dia berpikir, betapa anehnya wanita ini.
Comments (1)
goodnovel comment avatar
🌹isqia🌹
ahh karen ngga jelas
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status