OBSESSIVE LOVE
OBSESSIVE LOVE
Author: Reinee
SALAH KIRIM PESAN
[Uang semesteran udah aku transfer ya, Sayang.]

Itu bunyi pesan whatsapp yang baru saja aku terima dari nomer HP Mas Reyfan, suamiku. Uang semesteran? Kapan aku pernah bilang butuh uang buat semesteran? Sedangkan anak kami saja, Keenan, usianya baru 3 tahun dan belum bersekolah.

Sayang? Kapan juga suamiku itu pernah memanggilku dengan sebutan manis seperti itu? Panggilannya untukku kan 'Mama', dan itu pun lebih karena membiasakan panggilan untuk anak kami. 

Saat kami sedang berdua saja, dia bahkan hanya memanggilku 'Hani'. Bagus sih kalau itu Bahasa Inggris, jika terdengar di telinga orang maka seolah-olah dia sedang memanggilku 'Sayang'. Tapi sayangnya, itu namaku, Hanifa. Jadi, siapa itu yang sedang dia kirimi pesan sebenarnya?

Hanya sepersekian detik aku memandangi pesan dengan dahi berkerut sebelum kemudian tulisan itu mendadak hilang dari layar ponselku. Aku kaget bukan kepalang, kenapa pesannya dihapus? Tapi karena sudah terlanjur penasaran, akhirnya kuberanikan diri untuk mengetikkan sesuatu padanya.

[Uang semesteran apa ya, Mas?]

Dari status akunnya, Mas Reyfan terlihat masih online. Tapi pesan yang kukirim barusan tak jua dibacanya. Baru sekitar 3 menit berikutnya dia terlihat sedang menuliskan sesuatu.

[Itu Han, tadi ponsel Mas dipinjem sama temen buat kirim pesan ke adiknya. Ponsel dia ketinggalan di rumah.]

[Oooh gitu ya?]

[Iya, ngomong-ngomong, uang bulanan kamu masih kan?] 

Dia tiba-tiba bertanya, yang justru membuatku semakin curiga. Tumben dia nanyain uang bulananku masih apa enggak. Biasanya juga langsung dia kasihkan tunai tanpa basa-basi. Entah apakah itu cukup, kurang, atau apapun, dia bahkan tidak pernah bertanya. Mendadak aku merasa seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan suamiku. Tapi apa itu?

Sore harinya saat Mas Reyfan pulang dari kantor, aku berniat memeriksa isi ponselnya. Meskipun hal itu adalah sesuatu yang tak pernah sekalipun kulakukan selama hampir 5 tahun hidup bersamanya.

Dan saat Mas Reyfan sedang mandi, kuputuskan untuk mengambil ponselnya yang seperti biasa diletakkannya di atas nakas kamar kami. Perlahan mulai kunyalakan ponsel itu, tapi sebuah notifiķasi yang muncul membuatku kaget.

[Masukkan PIN]

Apa? Jadi dia mengunci ponselnya? Sejak kapan ya? Sayangnya, aku tak bisa menemukan jawaban dari pertanyaanku itu. Tentu saja tidak, karena selama ini aku tak pernah iseng membuka-buka ponselnya. Apakah biasanya juga dia mengunci ponselnya sebelum kudapati pesan aneh yang nyasar ke nomerku tadi siang? Segala prasangka buruk tiba-tiba saja menggelayuti pikiranku. Jika kutanyakan  padanya berapa PIN ponselnya, dia pasti akan curiga, dan pasti akan lebih sulit untukku menyelidiki kebenarannya. 

Dengan kecurigaan yang menggunung, alhasil aku tak bisa memejamkan mata malam itu. Sampai hampir jam 12 malam, mataku hanya kelap-kelip memandangi langit-langit kamar. Sementara itu, Mas Reyfan sudah terlelap sedari 2 jam yang lalu. Sedikit putus asa karena tak jua bisa memikirkan langkah selanjutnya yang bisa kulakukan, iseng kutulis sebuah status di akun whatsapp ku. 'Semoga saja tidak' dan langsung ku post.

Setelah itu, aku memejamkan mata mencoba menenangkan pikiran agar segera bisa terlelap. Namun aku terkejut ketika tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselku.

[Han, belum tidur?]

Sebuah pesan dari seorang teman lama sontak membuatku terkejut. 

Aku dan Adam adalah teman satu SMA dan rumah orang tuanya juga satu kompleks dengan rumah orang tuaku. Tapi selama aku mengenalnya, belum pernah sekalipun kami bertegur sapa lewat dunia maya. Kami sama-sama menyimpan nomer kontak pun, itu karena dulunya kami pernah berada dalam satu organisasi kepemudaan di daerah kami.

[Belum, Dam.] 

Aku menjawab cukup singkat. Bingung juga harus bicara apa dengannya. Selain juga karena aku tak biasa melakukan chat dengan lawan jenis setelah menikah, kecuali hanya dengan suamiku.

[Kamu nggak ada rencana pulang ke rumah orang tua kamu dalam waktu dekat, Han?]

Ini lebih aneh lagi. Kenapa dia tiba-tiba bertanya hal yang bernada perhatian seperti itu?

[Belum ada Dam, bapak ibuku sehat kan?]

[Alhamdulillah, sepertinya sehat. Tadi sore aku ketemu mereka jalan-jalan di depan kompleks.]

[Syukurlah kalau gitu.] 

[Oya, Han. Suamimu sekarang ambil kuliah lagi ya?] 

Setelah tak ada chat beberapa menit setelah itu, lagi-lagi pertanyaannya membuatku kaget. Kenapa mendadak perasaanku mengatakan jika dia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu padaku?

[Setauku nggak tuh, Dam. Ada apa memangnya?]

[Oooh, nggak sih. Nggak ada apa-apa.]

Mendengar jawaban 'tidak' nya itu aku justru semakin curiga. Aku yakin ada sesuatu yang dia ketahui tentang suamiku.

[Dam, pliss katakan ada apa? Jika kamu mengetahui sesuatu, tolong kasih tau aja.] 

Aku begitu yakin Adam memang mengetahui sesuatu. Lama dia tidak membalas pesan dariku, hingga akhirnya beberapa menit kemudian kulihat dia mulai mengetikkan sesuatu lagi.

[Nggak ada apa-apa kok, Han, aku kira suami kamu kuliah lagi, soalnya beberapa kali aku lihat dia di kampusku. Mungkin sedang ada urusan, atau aku saja yang salah lihat.]

Ya Tuhan, adakah semua ini ada hubungannya dengan isi pesan yang dikirimkan suamiku padaku tadi siang? Tidak, aku yakin Adam tidak salah lihat. Naluriku berkata itu memang benar suamiku. Aku pikir aku harus menemui Adam secepatnya. Mungkin dia bisa membantuku mengungkap rahasia yang sedang disembunyikan suamiku saat ini. 


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status