Runaway Bridesmaids
Runaway Bridesmaids
Author: Lysa_Yovita22
Permintaan Gila

"Ayolah, Anya. Aku tau kamu naksir setengah mampus sama Arkana," kataku seraya mengedipkan sebelah mata. 

Aku tahu bagaimana dia tidak mampu menahan reaksi setiap Arkana datang ke rumah. Mungkin karena mereka sejak dahulu ada di fakultas dan kelas yang sama. Anehnya, Arkana justru berbalik dan memberiku limpahan perhatian. 

Ah, lelaki itu terlalu lurus dan tak menantang. Aku lebih suka berpetualang dari satu lelaki ke lelaki lainnya. Mencicipi indahnya romansa cinta tanpa harus terikat hubungan "wajib lapor".

Iya, pacaran bagiku hanyalah status wajib lapor. Membosankan. Apalagi kalau lelaki yang berstatus pacar mulai cemburu dan curiga, aku pasti langsung meminta putus. 

"Apa, sih, Aline! Jangan menggodaku! Jelas-jelas Arkana hanya mencintaimu sedari awal kita matrikulasi. Dia seperti memakai kacamata kuda. Kepincut setengah gila." 

"Hei, my lovely twin, the most beautiful girl in the world, Zanna Kiranya, lelaki lempeng begitu, cocoknya ya sama kamu. Pasti kalian bakalan langgeng. Sama-sama pemakai kacamata kuda." Aku mengelak saat Zanna melempar bantal.

"Dia tidak mencintai aku, Aline. Mana mungkin aku mau menikah dengannya," keluh Zanna.

"Dia akan jatuh cinta padamu, Sayang. Kamu memiliki semua kriteria untuk dicintai sepenuh hati oleh Arkana. Ayolah, aku tidak mungkin terpasung oleh ikatan pernikahan seumur hidup. Membayangkannya saja aku sudah merinding!" 

Zanna mendesah. Aku tahu dia pasti setuju mengambil alih peran untuk menikah dengan Arkana. Selama ini dia diam-diam menulis surat cinta, bahkan sampai mengigau menyebut nama lelaki itu. 

"Bagaimana kalau dia marah dan membatalkan pernikahan?" 

"Tidak mungkin. Dia akan menikahi kamu, demi Tante Mayang. Ayolah, Anya, aku ada janji dengan Bram, tiket bulan madu ke Bali sudah menanti." Aku mendesah. 

"Apa kamu yakin, Aline? Bram itu bukan lelaki yang tepat untuk kamu. Dia terlalu Don Juan!"

"Justru karena dia Don Juan, aku klepek-klepek. Ah, aku jadi membayangkan bagaimana gayanya saat kami berciuman."

Lagi, Zanna melempar bantal dan aku tak sempat mengelak. Aku tertawa lebar. Zanna itu perempuan yang memegang teguh prinsip, pacaran hanya dengan lelaki yang resmi menjadi suami. Sepanjang hidup, dia hanya jatuh cinta pada Arkana saja.

"Aku akan mencoba untuk memberi pengertian pada Arkana, ya. Kalau kamu belum mau menikah dengannya." 

"Astaga, aku ini sedang membuka jalan untukmu menikah dengan satu-satunya lelaki yang pernah mengisi mimpi. Ayolah, Anya, aku akan kabulkan apa pun yang kamu mau," pintaku.

Zanna menghela napas berat. Namun, raut wajahnya terlihat tak bisa menutupi rasa cinta yang menguar kuat. Menikah dengan Arkana pasti sudah lama ia impikan.

"Baiklah. Kamu berhutang satu permintaan padaku, ya!" 

Aku memekik keras dan menghambur ke pelukannya. "Aku melakukan ini karena gak tega. Itu tumpukan surat cinta biar ada gunanya." 

Zanna menggelitiki pinggangku. Titik kelemahan yang aku punya. Kami tertawa sampai berurai air mata. Aku memeluknya erat. Terbayang masa kecil kami yang menyenangkan dan penuh cinta. 

"Wah, sepertinya Mami ketinggalan sesuatu. Seru sekali melihat kalian akur dan berpelukan begini," ucap Mami yang tiba-tiba muncul di pintu kamar. 

"Ah, Mami. Akhirnya ingat pulang," sindirku.

"Kenapa kamu tidak pernah lagi bermulut manis kepada Mami, Zeline Zakeysha?" Mami berkacak pinggang.

Aku ingin mendebat perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat memukau itu. Namun, Zanna mencekal lenganku dan menggelengkan kepalanya. Selalu seperti ini. Satu-satunya alasan aku bertahan di rumah ini adalah Zanna.

Apa memang kehidupan semua keluarga kaya raya seperti ini? Papi dan Mami sibuk mengejar harta, untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sementara hati dan hari kami sebagai anak, terabaikan. Tidak ada pelukan hangat, tertawa bersama, atau kegiatan apa pun yang menimbulkan percikan cinta. Semua hanya membuatku muak dan marah.

Aku beranjak dan ingin keluar dari kamar Zanna. Mami menghadang dan bersedekap di depanku. 

"Bagaimana tentang rencana pernikahan? Satu bulan itu bukan waktu yang lama," kata Mami.

"Aline akan menikah, Mami. Tenang saja. Mami berhasil menyingkirkan Aline dari rumah ini!" ketusku.

Mami mengangkat tangannya, ingin menamparku. Aku peduli? Tidak. Luka hatiku sudah berparut. Tidak masalah jika ditambah dengan satu tamparan lagi. 

"Kenapa, Mami? Bukannya mahar yang mereka berikan melebihi keinginan Mami? Masih kurang puas?" Aku semakin emosi.

Beberapa detik kemudian, aku mengaduh. Tamparan keras melayang sudah. Teriakan tertahan dari Zanna membuatku sedih. Tidak seharusnya ia melihatku begini. 

"Anya, aku pergi. Jangan tunggu aku! Maaf, kamu harus makan malam sendirian," ucapku.

Aku pergi meninggalkan Mami yang masih membuang muka. Rasa marah ini menyakitkan, karena sebenci apa pun aku, tetap saja merindukan hangatnya pelukan Mami.

Dahulu, beliau adalah sosok penyayang dan sangat hangat. Semua berbeda saat Mami mempergoki Papi menggoda baby sitter kami. Mereka bertengkar hebat. Hak asuh kami pernah menjadi perdebatan sengit. 

Zanna jatuh sakit, kedua orang tua kami tidak jadi berpisah. Namun, sejak saat itu, Mami menjadi sosok yang tegas dan gila kerja. Membalas perbuatan Papi dengan memiliki penghasilan yang jauh lebih besar. Membentang jarak dengan suami dan kedua putri kembarnya. 

Aku dan Zanna kesepian. Keadaan membuat kami saling menguatkan dan menjaga satu sama lain. Saat melihatnya jatuh cinta dan tak bisa berpaling dari Arkana, aku rasa adalah hal yang wajar untuk bertukar posisi. 

Aku mengemudikan mobil kesayangan hadiah dari Papi dengan hati panas. Keluar dari komplek perumahan, aku menepi sejenak di pinggir jalan. Menarik hembus napas berharap sekadar melegakan hati.

Ah, sial, aku sampai lupa mengganti pakaian. Pantas saja beberapa pejalan kaki bersiul nakal memandangi aku. Tank top biru muda dipadu dengan hotpants memamerkan lekuk tubuhku dengan sempurna. Berbanding terbalik dengan sendal bulu yang biasa aku pakai di kamar. Gila, aku salah kostum. 

Kuputuskan untuk berbelanja saja. Toh, kartu kredit dari Papi jumlahnya bisa kupakai dengan bebas. Saat hendak melaju kembali, ponselku berdering. Bram. Detak jantungku meningkat. 

"Ya, Sayang,"sahutku menggoda.

Suaranya yang seksi membuatku rindu. Aura maskulin yang selalu menjadi candu saat berada dalam pelukannya, memenuhi isi kepalaku. 

Aku berbincang sebentar dengannya. Kusebutkan nama butik langganan, berharap dia datang untuk melepas rindu. Aku harus tampil sempurna di hadapannya, tidak seperti sekarang ini. Gegas, aku memasukkan persneling lalu tancap gas. 

Aku mematut diri di depan cermin. Mencoba pakaian model terbaru dari butik langganan ini. Harga tidak masalah. Pilihanku jatuh pada sepotong kemeja polos lengan panjang berpotongan leher rendah, rok mini berbahan kulit, high heels tujuh centi berwarna merah darah. Mirip penampilan sekretaris yang seksi. 

Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Aroma parfum maskulin bercampur dengan tembakau membuatku bisa menebak dengan mudah siapa dia. 

"Sayang," desahku manja.

"Oh, Babe. You look so hot. Rasanya, aku ingin melumatmu saat ini juga," bisiknya parau di telingaku.

"Jangan gila. Ini tempat umum!" Aku mencubit hidungnya yang mancung. 

"Tentu saja aku hanya bercanda. Sudah selesai belanja?" Bram melingkarkan tangannya di pinggang rampingku.

"Belum. Menunggu ditraktir pujaan hati," jawabku.

"Baiklah. Ayo, silakan pilih sepuasnya, lalu kita bayar dan pergi melepas rindu," ajak Bram.

Lelaki ini adalah candu. Aku rela menukar isi dunia, demi mereguk manisnya madu cinta bersamanya. Lelaki yang mampu menghapus semua resah. Pelukannya adalah penawar gundah. Menukar Arkana demi Bram adalah hal yang sepadan. 

🌹🌹🌹

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status