BEAUTIFUL PSYCHO
BEAUTIFUL PSYCHO
Author: Dreamer Queen
1 - PROLOG

Toronto, Canada

______________

Gadis itu mengangkat dagunya tinggi. Lipstik merah yang membalut senyum sinisnya yang kemudian berubah menjadi gelak tawa. Tawanya menggema di sudut ruangan rumah sakit.

Seolah merasa menang, lega, merdeka. Namun, ada sesuatu yang tiba-tiba menyambar matanya dan membuat mata itu kini berair.

"Cih!" Dia menyeka wajahnya dengan kasar. "Untuk apa air mata ini." Dadanya bergetar hebat seolah tak singkron dengan otaknya.

Bukankah dia harus merasa senang?

Lelaki yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun, lihat pria itu. Dia sedang terbaring lemah di atas bangsal rumah sakit, bukankah itu hal yang pantas dia dapatkan?

"Aku bahkan mengalaminya selama bertahun-tahun."

Wanita itu terus bermonolog. Ia terus membenarkan perbuatannya, tapi pada siapa? Dia hanya berbicara sendiri. Apakah wanita itu sedang mencoba membohongi dirinya sendiri?

"Anna!" teriak seorang wanita dari jarak yang cukup jauh. Dia berjalan cepat. Berlari sampai tiba di depan wanita yang namanya baru saja di panggilnya.

PLAK

Sebuah tamparan mendarat di pipi wanita bernama Anna itu.

"Kau!" pekik wanita yang baru saja datang itu. Dia menunjuk Anna dengan jarinya yang bergetar. Matanya nyalang. Wajahnya merah padam.

"Apa yang sudah kau lakukan pada suamiku, hah?!" bentak wanita itu dengan suara yang bergetar. Anna tidak menjawab. Dia diam dengan wajah tanpa ekspersi. "Jawab aku, Anna!" jerit wanita itu, tapi Anna masih tidak menggubrish hingga wanita itu mendorong tubuh Anna.

"Dasar jalang!" makinya tepat di depan wajah Anna. "Awalnya kau merayu suamiku, lalu kau menyuruhnya menjadi pelayanmu dan sekarang kau ingin membunuhnya? Kau ini lebih rendah dari binata-"

Ucapan wanita itu terhenti saat Anna berhasil memegang tangannya. Anna mencekal pergelangan tangan wanita itu. Kelopak matanya mengecil memandang sinis wanita di depannya.

"Awh!" Wanita di depan Anna meringis kesakitan. Ia menatap Anna dengan tatapan penuh kebencian.

"Kau ...." Kini, Anna mulai membuka bibirnya. Seketika tubuh wanita itu bergetar saat matanya bertemu dengan mata gelap milik Anna. Wanita itu terdiam. Bahkan batinnya bergidik ngeri ketika sepasang manik hazel di depannya tiba-tiba mengingatkan wanita itu akan sesuatu.

"Kau dan suamimu pantas mendapatkan hukuman ini. Ini bahkan belum seberapa."

"Ap- apa ... Apa maksudmu?" gumam wanita itu. Suaranya memelan, rendah dan tidak berdaya.

"Akan kuingatkan kau pada sesuatu. 27 Januari 2010."

"Wanita gil-" Ucapan wanita itu kembali terhenti. Ia meringis saat Anna tiba-tiba memutar tangannya hingga ke belakang punggung.

Anna menarik lengan wanita itu semakin ke atas hingga menyentuh pundaknya. Wanita itu menjerit kesakitan.

"Ingat baik-baik tanggal itu," bisik Anna tepat di depan telinga wanita itu.

Suaranya begitu berat membuat wanita di depannya bergidik ngeri. Wanita itu mengerutkan dahinya. 27 Januari 2010? Itu sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ada apa dengan tanggal itu?

"Altar gereja, gaun pengantin."

DEG

Jantung wanita di depan Anna seolah berhenti berdetak. Matanya membulat sementara tubuhnya membeku. Keberaniannya lenyap saat otaknya berhasil mengingatkan wanita itu tentang apa yang terjadi di tanggal 27 Januari 2010.

"Halo, Luna. Kamu ingat aku?" tanya Anna dengan bahasa Indonesia.

"Tidak mungkin ...." Wanita bernama Luna itu menggelengkan kepalanya. "Ca, Cana ... Nad-" Bibirnya bergetar dan sontak membuatnya menggagap.

Wanita itu berusaha keras menggerakkan bola matanya. Ia menoleh. Seringaian di wajah Anna tampak begitu jelas walau hanya meliriknya dengan ekor mata. Luna kembali bergidik ngeri. Sudut bibir Anna terangkat membentuk senyum yang berubah menjadi seringaian iblis. Ia kembali menarik lengan Luna semakin ke atas dan membuat wanita itu menjerit. Napas Anna yang memburu, meniup hingga ke kulit wajah Luna. Seolah mengantarkan rasa sakit yang luar biasa pada wanita itu.

"Kau dan Marvin. Kalian sudah cukup bahagia selama sepuluh tahun," gumam Anna tepat di depan telinga Luna.

Anna membalikkan tubuh Luna lalu mendorongnya membuat punggung wanita itu menabrak dinding. Ia kembali meringis.

Anna tak tinggal diam. Ia kembali menghampiri Luna. Menyandera rahang wanita itu dengan satu tangannya. Manik berwarna hazel itu melebar dengan tatapan yang menyala seolah sanggup menghanguskan Luna saat ini juga.

Luna tidak bisa berbuat apa-apa. Tatapan itu mengintimidasi dirinya. Sangat. Ia ketakutan hingga tak sanggup mengeluarkan sepatah kata.

"Bersiaplah, kehancuran kalian akan segera dimulai," ucap Anna dengan nada penuh penekanan.

Anna mengempaskan tangannya membuat Luna terlempar hingga tubuhnya ambruk di atas lantai. Wanita itu meringis ketika lututnya menabrak lantai dengan sangat kuat. Matanya tepat berada di depan sepatu hak tinggi berwarna merah milik Anna.

'Dia tidak mungkin Nadia. Jelas-jelas tubuh Nadia tidak seperti dirinya,' batin Luna tak percaya. Alam bawah sadarnya menolak mempercayai perkataan wanita di depannya, akan tetapi nalurinya menyetujui bahwa wanita di hadapannya memiliki tatapan yang sama dengan Nadia.

"Luna ...," panggil Anna lagi. Dia menunduk kemudian meraih kepala Luna. Dengan cepat ia menarik rambut panjang blonde itu. Anna menjambak rambut Luna membuat kepalanya mendongak.

"Aku hanya ingin mengambil milikku. Milikku yang pernah kau curi. Ini mungkin akan terdengar sulit, tapi tenanglah, aku sudah menyiapkan banyak amunisi dan kali ini aku tidak akan kalah." Anna menutup kalimatnya dengan seringaian iblis.

"Kamu bukan Nadia. Nadia tidak akan mungkin seperti ini."

"Ya!" bentak Anna. Matanya kembali terbuka, melotot menatap Luna. "Nadia yang kamu kenal sudah mati. Yang berdiri di depanmu adalah Anna Smith. Ingat namanya A-N-N-A!" tegasnya. "Anna. Anna Smith."

Anna mengempaskan kepala Luna bagai mengayunkan tongkat golf. Luna mendesis kesakitan.

"Kau pikir kau sudah menang hanya karena bentuk tubuhmu yang baru? Kau pikir suamiku akan tertarik walau kau telah mengubah dirimu? Cih!" Luna membuang ludahnya dengan kasar.

Anna tekekeh sinis melihat tingkah Luna. "Tentu saja dia tertarik. Dia bahkan berlutut dan mencium kakiku." Anna kembali menyeringai.

Luna tertawa terbahak-bahak. "Omong kosong macam apa itu, hah?!" cibirnya. Keberaniannya kembali. Seolah semua rasa sakit yang saat ini ia rasakan memaksa wanita itu untuk bisa melawan.

"Setidaknya kau bisa lihat memar di sekujur tubuh suamimu setiap kali dia kembali ke rumahmu," ucap Anna.

Luna kembali terdiam. Memorinya memutar pada kejadian di mana dia pernah mendapati tubuh suaminya penuh tanda bekas cemeti.

"Hahahahaha ...." Gelak tawa Anna kembali menggema saat melihat raut wajah Luna yang berubah pucat. "Oh astaga, aku bahkan ingat betul bagaimana otot-ototnya mengejang di balik tiang dengan tubuh yang terikat. Dia meneriakkan namaku saat mencapai klimaks." Anna mengangkat wajahnya saat gelak tawanya semakin menjadi-jadi.

"Tidak mungkin ...." Luna bergumam sambil menggelengkan kepalanya. Dia tentu paham betul memar-memar di sekujur dada suaminya. Bahkan ada beberapa tanda bekas cambuk di bagian tubuhnya yang lain.

Anna tersenyum penuh kemenangan. Betapa indahnya pemandangan ini. Ia puas membuat dua orang yang telah menyebabkan hidupnya rusak akhirnya mendapatkan ganjaran mereka. Anna kembali menunduk. Ia menarik dagu Luna lalu memaksanya untuk mendongak.

"Kau tahu, dia paling suka dengan flogger, jadi aku terus memberikan tanda itu di tubuhnya." Anna kembali menyeringai.

"Kau sakit ...," lirih Luna. Sebulir air bening jatuh begitu saja di pipinya.

"Ya ...." Anna mengangguk lambat-lambat. "Aku sakit. Kau benar," ucap Anna.

Wanita itu kembali menarik kerah baju Luna memaksanya untuk berdiri kemudian mendorong tubuh Luna dengan kuat.

BUK

"Sial!" Luna meringis lagi. Tulang belakangnya seolah retak. 'Sialan. Bagaimana bisa seorang wanita bisa memiliki tenaga seperti itu,' batin Luna.

Anna belum puas. Ia meraih leher Luna lalu mencekiknya.

"Kau tahu betapa menderitanya aku? Bagaimana mentalku jatuh di hari pernikahanku dan calon suamiku meninggalkan aku hanya demi seekor jalang sepertimu? Aku ...." Anna menunjuk dadanya dengan kasar. "Aku bahkan tidak bisa mengangkat kepalaku saat itu. Orang-orang mencemooh diriku. Mereka mengutuk aku hanya karena berat badanku dan mulai mengaitkan berat tubuhku dengan pernikahan yang berubah menjadi petaka. Kau pikir aku akan melupakan semua itu?" Anna menggeleng. "Aku depresi. Menderita dan dikurung selama bertahun-tahun di rumah sakit jiwa kau pikir aku akan memaafkan kalian?!" teriak Anna. Dia menggeleng lagi.

"You are not human, bitch!" bentak Luna dengan suara terputus-putus.

"Ya!" Anna menjerit. Ia menarik leher Luna lalu mendoronganya lagi. Luna hanya bisa menutup mata. Kepalanya menabrak dinding dengan sangat kuat hingga membuat telinganya pening. Anna belum berhenti. Darahnya terpompa keseluruh tubuh. Ia terbakar. Napasnbergemuruh di depan wajah Luna.

"Aku memang bukan manusia lagi. Kemanusiaanku telah dibunuh dua belas tahun yang lalu dan yang sekarang berdiri di hadapanmu adalah iblis betina yang siap membawa kau dan suamimu ke neraka," raung Anna dengan nada menekan.

"Akhhh!"

Anna menarik tangannya dari leher Luna dan Luna langsung memegang lehernya. Tenggororkannya sakit. Ia meringis.

"Ingat, aku akan kembali. Permainan baru dimulai." Anna menutup kalimatnya dengan senyum iblis. Lututnya berputar, melangkah meninggalkan Luna yang masih menggeram di tempatnya. Anna puas. Kini tiba saatnya untuk melakukan rencana kedua.

"Sialan kau Canadia Smith!" Luna berteriak. Dia menarik rambutnya dengan kuat.

***

Ini kisah Canadia Smith. Perempuan berumur 30 tahun. "Pretty Savage" itulah julukan yang ia dapatkan di dunianya. Gadis dengan ambisi yang kuat untuk balas dendam.

Gadis lugu yang berubah menjadi iblis hanya karena trauma masa lalu. Ini kisah Canadia Smith yang lebih senang di panggil Miss Anna. Wanita yang bertindak menjadi dominan dan terobsesi pada kegemaran barunya setelah rehabilitasi kejiwaan.

Berteman dengan penderitaan selama bertahun-tahun membuatnya menjadi wanita tanpa perasaan. Dia cerdas, tapi dingin. Haus akan kekuasan. Arogan dan gila kontrol. Semua julukan itu tersemat di belakang namanya. Namun, pria mana pun yang melihatnya begitu ingin memilikinya sebab bentuk tubuhnya bak Dewi Yunani. Wajah yang seolah dipahat dengan sempurna.

Tidak ada yang tahu apa yang telah dilalui oleh Canadia sebelum dia menjadi Anna Smith. Namun, di tengah upayanya untuk balas dendam, tanpa disadarinya dalam waktu dekat ini kisah cintanya akan segera dimulai.

Ini proses kehidupan yang dialami Canadia Smith. Wanita yang memiliki sisi gelap yang sebenarnya hanya menantikan seseorang yang sanggup mengeluarkan monster itu dari jerat ambisinya.

Ini bukan kisah cinta biasa di mana seorang gadis bertemu dengan prianya lalu jatuh cinta, menikah dan hidup bahagia. Ini tentang kisah seorang gadis yang kehilangan cintanya, tapi berusaha mendapatkannya kembali. Walau tidak ada yang tahu apakah dia akan berhasil mendapatkannya.

Ini kisah Anna Smith sang miliuner muda yang berusaha memasang jerat demi membalaskan sakit hatinya.

Apakah ia akan berhasil?

______

KISAH ini DIMULAI dari SEBUAH AKHIR.

Dreamer Queen

Ayoo~ tekan VOTE-nya ;) Oh ya, sekedar info, NOVEL ini bernuansa Romansa Dewasa, jadi beberapa bagian akan menyuguhkan adegan dewasa. Hal-hal yang berhubungan dengan konten kekerasan, rokok, alkohol dan seksualitas (explicit) pastikan kamu sudah 18+ ya Dear ;)

| 1

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status