2 - Beginning of the End

Jakarta, Indonesia

7 Januari 2010.

_________________

"Tahan napasmu sebentar, Nona."

Canadia menarik napasnya sambil mengangkat dagu lalu menahannya sebentar. Dadanya berhenti berdebar selama beberapa detik ketika dia melakukannya.

"Selesai," ucap wanita yang sedang membantu Canadia memasang gaun putih yang merupakan gaun paling indah bagi setiap wanita.

Semua wanita yang memakai gaun ini akan merasa menjadi wanita paling beruntung. Apalagi ketika yang meminangnya adalah teman seperjuangan sekaligus kekasih, tentu tak ada kalimat yang mampu menggambarkan betapa gadis blasteran Indo-Amerika itu sangat dan teramat bahagia.

"Huh ...." Canadia kembali mengembuskan napasnya. Jantung yang sempat berdetak normal itu kembali berdegup kencang. "Astaga, aku sangat gugup, Mama."

Julia menghampiri putri semata wayangnya itu. Dia meraih kedua tangan putrinya lalu memasangkan sarung tangan putih sambil wajahnya tidak berhenti tersenyum.

"Anak Mama akan menikah muda rupanya," ucap Julia.

Canadia terkekeh. "Kan, Mama yang terus nanyain kapan Marvin bakalan nikahin Nadia," ucap Canadia.

Julia mengulum bibir membentuk senyum simpul. Matanya mulai bergetar ketika dia telah selesai memakaikan sarung tangan itu pada tangan putrinya. Setelah itu, asisten Julia memakaikan tudung berwarna putih transpran di kepala Canadia.

"Mama masih gak nyangka kalau Nadia akan ninggalin rumah dan pindah ke rumah Marvin. Nanti siapa yang bakalan pakein masker buat Mama? Mama juga bakalan kesepian gak ada temen berantem."

"Ah ... Mama." Nadia meraih tubuh ibunya lalu memeluknya erat. Julia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia menangis di atas pundak putrinya.

Seseorang mengetuk pintu membuat ibu dan anak itu sontak melepaskan pelukan mereka. Momen haru itu terpaksa terhenti ketika Vincent Smith, ayah Canadia menghampiri keduanya.

"Why are you crying? Ini kan hari bahagia, come on ...," ucap Vince. Dia meraih tubuh anak dan istrinya lalu memeluk mereka dengan erat.

"Mama, berhenti nangis dong, nanti make up Nadia luntur," keluh Nadia. Julia pun menarik dirinya dan menyeka air mata putrinya dengan hati-hati takut membuat riasan di wajah cantik putrinya akan luntur.

"Acaranya akan dimulai, apa kamu sudah siap?" tanya Vince. Nadia mengangguk sambil tersenyum. "Kalau begitu ayo."

Vincent Smith dan Julia Amariah segera membawa putri semata wayang mereka memasuki sebuah tempat sakral di mana tempat tersebut akan menjadi tempat mengucap janji suci.

Hari ini adalah hari yang telah di tunggu-tunggu Canadia Smith selama lima tahun. Akhirnya, di sinilah dia membuktikan dirinya yang selalu mendapat julukan 'beast' di sekolahnya dahulu.

Dia akan membuktikan bahwa pria yang sejak dulu menjadi temannya, menjadi teman berbagi dan satu-satunya orang yang tidak pernah mempermasalahkan berat badannya hari ini akan meminangnya.

Marvin Aditiya Wijaya, nama mempelai pria yang hendak membawa hubungannya dengan gadis blasteran Indonesia - Kanada itu ke jenjang yang lebih tinggi yaitu pernikahan.

Canadia terus tersenyum ketika kakinya berjalan di koridor bangunan. Beberapa orang tampak sibuk mengambil gambarnya dan yang lain berdiri menyambut pengantin wanita yang diapit oleh kedua orang tuanya.

Canadia kembali menarik napas panjang ketika matanya menangkap sepadang pintu raksasa yang telah terbuka siap menunggunya. Canadia merasa jika jantungnya kembali berdegup kencang saat langkah kakinya semakin memasuki pintu tersebut.

"Calm down, Dear." Vince mengusap lembut lengan putrinya. Dia paham betul bagaimana perasaan putrinya saat ini.

"I'm trying on it." Nadia mempererat kepalan tangannya saat kakinya berhasil melewati pintu gereja.

"Sssttt ...." Seseorang memberi isyarat.

Nadia mengerutkan dahi saat melihat altar di depannya. Tidak ada siapa pun di sana. Di mana sang mempelai pria?

"Marvin mendadak ingin buang air, sepertinya dia sangat gugup," bisik paman Marvin yang berdiri di samping altar.

Vince tersenyum. Dia terus membawa putrinya ke altar walau mempelai prianya belum ada di sana.

Canadia kembali menarik napas panjang ketika kedua kakinya hampir sampai di altar. Dia bisa mengerti kegelisahan yang dirasakan oleh calon suaminya itu. Bahkan Nadia harus berusaha menahan keinginannya untuk buang air sebab rasanya benar-benar gugup.

'Aku gadis yang beruntung bisa menikah dengan pria seperti Marvin. Selangkah lagi, dan kami akan menjadi suami istri yang sah. Kami akan mewujudkan keinginan kami untuk memiliki banyak anak, rumah kecil, berbagi dalam suka dan duka. Marvin selalu antusias saat menceritakan kisah itu. Wajar saja dia sangat gugup sekarang,' batin Nadia.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit.

Canadia terus menghitung dalam hatinya. Gadis itu melirik ke belakang mendapati banyak orang yang tengah menatapnya dengan berbagai macam tatapan. Mulai timbul bisikan dari para undangan.

"Di mana si Marvin?"

"Tau ... lama amat, ke toilet doang."

"Jangan-jangan kabur lagi."

"Haha ... iya kali."

"Dia kayaknya mikir lagi buat nikahin si goliath."

"Hush ... diam. Orangnya lagi liatin kita, tuh."

Kepala Canadia tertunduk. Tangannya mengepal dengan kuat. Dia menggeleng. 'Gak. Marvin gak mungkin kayak gitu. Dia gak mungkin ninggalin aku,' batin Canadia. Gadis itu masih terus burusaha untuk mempercayai pernikahannya dan menunggu pria yang sudah berjanji akan menikahinya itu.

"Mr. Smith ...."

Seorang pria menghampiri Vincent. Wajahnya berkeringat dan matanya terlihat was-was melirik sekeliling.

"Ada apa, Josh?" tanya Vince.

Josh mendekatkan wajahnya pada Vince lalu berbisik, "Aku melihat tuan Marvin pergi terburu-buru. Aku mengikutinya lalu kulihat sebuah mobil van berwarna putih menghampiri tuan Marvin dan dia pergi dengan mobil itu."

"Apa?!" Vince nyaris memekik. "Cepat cari dia!" titahnya dengan nada menekan.

"Baik, Mr. Vince," ucap Josh. Dia pergi dari sana dan bergegas melakukan perintah tuannya.

"Nadia ...," panggil Vince. Dia memutar pandangan. Pria itu berharap putrinya tidak sampai mendengar perkataan Josh.

"Apa dia benar-benar pergi, Dad?"

Perkataan Josh terlalu jelas di telinga Canadia. Dia mendengar semuanya dan dia tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi padanya.

"Don't worry, Daddy can handle this." Vincent masih berusaha meyakinkan putrinya. Dia meraih tubuh Canadia dari samping lalu mengelus lengan gadis itu.

Vince menoleh, mencari istrinya. Dia memanggil Julia lewat isyarat mata. Julia yang mengerti maksud tatapan Vince, segera mengambil langkah menuju ke altar. Seketika Julia merasa gelisah. Naluri memberitahu jika telah terjadi sesuatu pada putrinya.

"Nyonya Smith ...." Seorang wanita tiba-tiba menghampiri Julia dan mencegat jalannya.

Juliah mendongak untuk melihat siapa wanita itu.

"Apa yang sedang terjadi? Sampai kapan kami harus membuang waktu untuk menunggu drama ini selesai?" tanya wanita itu dengan tatapannya yang sinis mengintimidasi Julia.

"Maaf saya harus pergi," tolak Julia dengan halus. Dia tidak harus menyahuti perkataan wanita itu sekarang. Canadia jauh lebih membutuhkannya

"Makanya ... kalau punya suami seorang dokter bedah plastik, suruh aja dia bedah muka anakmu biar mirip bule dikit lah ...," cibir wanita itu. Ia menutup kalimatnya dengan tawa yang mencemooh.

Ucapan wanita itu bagaikan peledak yang membakar darah Julia. Tangannya mengepal dengan kuat dan kakinya sontak berputar dengan cepat. Dia berjalan menghampiri wanita itu kemudian mengayunkan tangannya.

PLAK

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita itu.

"Jangan pernah menghina putriku!" kecam Julia.

Wanita itu masih tidak menyerah. Dia terkekeh sinis sambil perlahan memutar wajahnya. "Kau marah?" Dia melotot sambil memegang pipinya. "Jelas kau marah karena apa yang kukatakan barusan adalah sebuah kebenaran yang bahkan kau sendiri tidak bisa menerimanya. Anak buruk rupa-"

PLAK

Julia kembali menampar wanita di depannya. Tanpa mereka sadari, seluruh pasang mata tengah memperhatikan mereka. Seketika, Julia dan wanita itu menjadi pusat perhatian semua orang. Para undangan bahkan harus berdiri karena mereka begitu penasaran dengan yang sedang terjadi.

"Siapa kau, berani-beraninya menghina putriku, hah?!" desis Julia. Kali ini dia sudah tidak bisa menahan amarahnya yang meledak-ledak. Julia benar-benar murka.

"Hah!" Wanita itu kembali terkekeh. Dia menyapukan pandangannya menatap sekeliling. Wanita itu tahu bahwa semua orang tengah memperhatikan mereka. "Haruskah aku katakan apa yang sedang terjadi sekarang?" Lagi kata wanita itu.

Julia mengerutkan kening. Dia tahu ada yang tidak beres, akan tetapi Julia tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.

"Calon suami anakmu telah meninggalkan mempelainya. Dia pergi dan aku melihatnya langsung," ucap wanita itu dengan suara lantang.

"Hah ...." Beberapa orang turut bergumam.

"Apa yang sedang dia katakan?"

Suara-suara lebah mulai timbul. Julia membeku. Dia hanya bisa menggerakkan matanya, tapi kepalanya sangat berat untuk bisa berbalik menatap altar.

"Lelcon macam apa ini?!" Salah satu tamu undangan ikut berdiri dan memberikan pendapatnya. "Apa waktu kami yang berharga harus terbuang untuk menyaksikan semua ini?" Dia berbalik menatap altar lalu berteriak, "Mr. Smith!"

Orang-orang mulai berdebat. Walau sebagian dari mereka masih ada yang penasaran dan sebagian lagi ada yang merasa iba, tapi mereka sama sekali tidak bisa merasakan apa yang saat ini Canadia rasakan. Hatinya telah hancur berkeping-keping. Telinganya begitu pening.

Mendadak pandangan menjadi buram saat air mata mulai mengumpul di pelupuk matanya. Canadia ingin lari dari sana, tapi kedua kakinya seolah telah menancap dengan kuat. Sehingga yang bisa dia lakukan saat ini adalah menundukan kepalanya.

"Darling ...."

"No ...." Canadia menggeleng. Air mata sudah tak tertahankan. Lebih dari perasaan malu yang dia rasakan sekarang. Canadia sangat ingin menghilang dari hadapan banyak orang itu. Lenyap. Ini sunguh memalukan. Menyakitkan.

Kenapa? Kenapa Marvin harus membuat lelucon seperti ini? Ini tidak lucu.

Lima tahun adalah waktu yang diperlukan Canadia untuk meyakinkan dirinya bahwa dialah gadis paling beruntung, oleh karena ada seseorang seperti Marvin yang bersedia menjadi kekasihnya. Berbagi segala sesuatu baik suka dan duka. Menjadi teman bermain dan tempat mengadu. Canadia bahkan tidak peduli dengan semua orang yang mencemooh berat tubuhnya dan bahkan wajahnya yang tidak begitu menarik, tapi ... sekali lagi, apa yang sedang coba dimainkan oleh Marvin?

Canadia sudah cukup menderita selama ini, bisakah dia menderita lebih lama lagi? Apa salahnya hingga dia harus dipermalukan sedemikian rupa? Apakah Marvin tidak bisa menunggu sebentar saja? Setidaknya lakukanlah dulu prosesi pernikahan setelah itu, mari bicarakan apa yang sedang terjadi dan pasti Canadia akan membantunya mencari solusi.

Mengapa Marvin harus meninggalkan Canadia di hari pernikahan mereka?

"Makanya, kalau punya anak diurus baik-baik. Muka kayak gitu berharap pengen nikah."

"Ya ... mana pake ngundang kami lagi, buang-buang waktu aja."

Haruskah semua orang mempermasalahkan itu sekarang? Mengapa mereka tidak bisa menahan bibir mereka untuk tidak mencemooh Canadia? Jika mereka di posisi Canadia, apakah mereka akan tahan mendengar semua hinaan itu?

"Dad ...." Canadia memanggil ayahnya tanpa melirik ke samping. "Tolong, bawa aku pergi dari sini," pinta Canadia.

Ia menutup matanya rapat-rapat sambil memaksa rungunya untuk tidak mendengarkan suara-suara di belakang. Canadia menggeleng.

'Semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi yang tersisa. Semuanya telah hancur.'

_____________________

Send me a VOTE please :)

Dreamer Queen

Ayoo~ tekan VOTE-nya ;) Oh ya, sekedar info, NOVEL ini bernuansa Romansa Dewasa, jadi beberapa bagian akan menyuguhkan adegan dewasa. Hal-hal yang berhubungan dengan konten kekerasan, rokok, alkohol dan seksualitas (explicit) pastikan kamu sudah 18+ ya Dear ;)

| Like

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status