Share

7

Pemuda berkaus Bonek berjalan terpincang-pincang mendekati perempuan yang ditabraknya. Perempuan itu terlihat tak mengalami cedera serius, meski roda depan motornya terlihat sedikit bengkok

“Kau baik-baik saja? Aku rasa begitu! Seharusnya kau perhatikan jalanmu!” bentak sang pemuda dengan kesal. “Kau wartawan? Tak perlu menjawab karena terlihat dari kartu persmu!”

Pemuda itu menangkap gerakan para pengejarnya yang semakin mendekat. Wartawan perempuan yang dikerumuni para pejalan kaki itu sudah bisa bangkit, bahkan bersiap memaki dan mengamuk pada sang pemuda.

“Aku benci wartawan!” bisik sang pemuda sambil menegakkan kembali motor sport-nya dengan tergesa. Sebelum kembali memacu motor, dia sempat mengambil sebuah kamera Canon EOS 5DS R milik si wartawan perempuan yang terlempar tanpa sepengetahuan siapapun. “Kau harus membayar atas kelalaianmu dalam berkendara, Nona!” bisiknya penuh kemenangan sambil melaju meninggalkan lokasi tabrakan saat sirine mobil patroli mulai terdengar di kejauhan.

Petugas keamanan berbadan besar itu terkejut dan gelagapan.

“O, maaf jika saya mengejutkan Anda.”

“Ada urusan apa?” tanya sang petugas dengan nada tak suka.

Jun yang semula merasa senang, kini mulai tak nyaman karena sambutan yang dingin itu. “Saya hanya ingin bertanya alamat. Di mana tempat ini berada?” tunjuk Jundi pada layar ponselnya. “Saya sudah berputar empat kali, tapi tak menemukan nomor bangunan yang sesuai.”

Petugas keamanan itu hendak menjawab ketika seorang rekannya tiba-tiba muncul sambil menyeret si Kinca yang terluka.

Jun terperangah. “Apa dia terluka? Kita harus panggil ambulans!” ujar Jun sambil melakukan panggilan di ponselnya.

“Dia baik-baik saja!” pekik sang petugas keamanan sambil merebut ponsel Jun dengan kasar. “Ini hanya perkelahian antar pengunjung bar. Sebaiknya kau pergi saja dari sini, Tuan!” bentak si petugas keamanan sambil menyorongkan ponsel Jun kembali ke dadanya.

Kinca mulai tersadar. Di antara matanya yang bengkak, dia masih bisa melihat dan mendengar ada seseorang di sana. Kinca berusaha berteriak dan meminta bantuan, “Hubungi polisi!” sebelum dia dimasukkan paksa ke dalam mobil oleh petugas satunya.

Jun menarik lengan petugas keamanan gedung itu dengan wajah tegang. “Pemuda itu meminta bantuanku. Aku tidak bisa menonton dan membiarkannya begitu saja,” desis Jun.

Petugas itu mengempaskan tangan Jun dan beranjak. Akan tetapi, Jun  segera menariknya lagi dan melayangkan tinju pertamanya pagi itu. Tinggi badan mereka hampir sama sekitar 180 cm, tetapi Jun memiliki tubuh yang ramping. Dia bergerak dengan gesit dan mudah saja untuk melumpuhkan kedua petugas keamanan itu.

Saat dua pria itu tersungkur dengan ulu hati yang hampir pecah, Jun melihat si pemuda berwajah lebam tadi berlari terhuyung-huyung meninggalkan lokasi kejadian. Jun berusaha mengejar dan menawarkan bantuan. Pemuda itu menolak.

“Aku pasti akan membayar kebaikanmu, Tuan Jundi!”

Jun menganga, “Bagaimana kau tahu siapa aku?”

Pemuda itu hanya tersenyum yang sangat dipaksakan. Bahkan, senyum itu membuat wajahnya tampak mengerikan. Lebam dan darah terlihat mulai mengering di wajahnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status