Share

My Alien Boyfriend
My Alien Boyfriend
Author: Carmen Irene

Bab 1

Stefani memandangi langit malam yang dipenuhi dengan banyaknya bintang yang bertebaran di langit. Dia mengarahkan tangannya ke arah salah satu bintang yang menarik perhatiannya; berwarna merah kebiruan dan cahayanya yang terlihat agak samar, berbeda dengan bintang lainnya yang dia lihat.

"Andai bintang yang aku lihat saat ini itu nyata. Mungkin aku bisa berharap sesuatu dengan bintang itu. Misalnya, keabadian atau sihir?"

Kamu yakin dengan pilihanmu itu?

"Siapa itu?" tanyanya, menoleh ke belakangnya. Namun dia tidak menemukan siapa pun di sana. Merasa kalau itu hanya sekadar perasaannya, dia kembali mengarahkan pandangannya ke bintang berwarna merah kebiruan yang entah bagaimana terlihat lebih terang dari sebelumnya, hingga dia terpaksa harus memicingkan kedua matanya karena sinarnya terlalu menyilaukan matanya.

Perlahan, bintang itu semakin mendekat ke arahnya, disusul dengan sinarnya yang semakin terang. Saat dia berusaha untuk lari menjauh dari sinar itu, dia merasakan kalau kedua kakinya terasa sulit untuk digerakkan. Begitu juga dengan seluruh tubuhnya yang terasa begitu kaku dan berat, seolah tidak ingin membiarkannya menghindar dari bintang itu.

Lalu, bintang itu bergerak semakin dekat dan mulai masuk ke dalam tubuhnya. Seluruh tubuhnya kini terasa begitu panas, sampai dia berteriak kesakitan. Anehnya, dia sama sekali tidak bisa mendengar suaranya, sekeras apa pun dia berteriak. Saat dia membuka matanya, dia mulai menyaksikan tubuhnya yang kini berwarna sama seperti bintang yang dilihatnya tadi; seluruh tubuhnya kini berwarna merah kebiruan. Panik, dia berusaha menggosokkan tubuhnya agar warna yang dilihatnya itu hilang. Tetapi semakin dia berusaha menggosoknya, sinar itu justru semakin kuat dan mulai menghisap energinya.

"Sebenarnya... apa yang... sedang terjadi?" tanyanya, merasakan energi tubuhnya yang mulai berkurang. Ia mulai merasakan pandangannya yang kabur dan gelap, disusul oleh suara tubuhnya yang jatuh menghantam tempatnya berdiri tadi.

#

"Kamu baik-baik saja?"

Saat mendengar suara yang sepertinya tengah memanggilnya itu, dia mulai membuka kedua matanya. Perlahan, dia bisa melihat seorang laki-laki dewasa yang tengah menatapnya dengan wajah khawatir.

"Syukurlah kamu baik-baik saja. Sepertinya memang intuisiku tidak salah, kalau kamu adalah orang yang tepat untuk mendapatkannya."

Dia mencoba untuk bangun dari tempatnya berbaring, yang baru disadarinya kalau dia kini berada di tempat yang berbeda dengan tempatnya tadi. Kepalanya masih terasa agak sakit, namun dia tidak menghiraukannya. Laki-laki itu lalu menawarkan diri untuk membantunya duduk, yang segera ditolaknya.

"Aku bisa duduk sendiri. Daripada itu..." katanya, mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. "Kita sekarang ada di mana?"

Laki-laki itu terdiam beberapa saat, ikut melihat ke arah matanya memandang. "Saat ini kamu berada di rumahku. Kenapa?"

"Ru-rumahmu?" tanyanya gelagapan. Dia membelalakkan matanya, terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh orang yang ada di depannya. "Kenapa aku bisa ada di rumahmu? Bukankah..."

"Iya, aku tahu. Memang tadi kamu berada di taman. Dan maafkan kelancanganku karena telah membuatmu pingsan tadi. Tapi, berkat bantuanmu, sekarang aku tidak perlu lagi kesulitan untuk beradaptasi di sini."

Dia menaikkan sebelah alisnya. "Maksudnya?"

Laki-laki tadi melegakan tenggorokannya. "Ada baiknya kalau aku menjelaskannya perlahan. Sebelum itu, nama kamu siapa?"

Dia menatap laki-laki itu dengan wajah bingung. "Stefani. Stefani Wilhelmina. Kamu sendiri?"

"Aaron. Oke, Stefani. Langsung saja kita ke topik utama. Karena sekarang kamu sudah memiliki sebagian dari kekuatanku, sekarang kita bisa terhubung satu sama lain. Jadi, kalau ada apa-apa atau kamu butuh bantuanku, aku bisa segera mendatangimu. Tapi, sebagai bayarannya, aku membutuhkan energimu untuk bisa tetap berada di sini."

"Tunggu dulu. Ini maksudnya apa? Aku... punya... sebagian kekuatanmu?"

Dia menganggukkan kepalanya. "Tepat sekali. Di luar dugaan, kamu cepat tanggap juga. Jadi kita sepakat, ya? Sebelum itu..."

Sebelum dia menyadari apa yang tengah terjadi padanya, laki-laki itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arahnya dan segera mencium bibirnya. Yang membuatnya heran, dia sama sekali tidak bisa marah saat laki-laki itu melakukannya. Justru dia menikmati cara laki-laki yang tadi memperkenalkan diri sebagai Aaron tadi menciumnya. Cepat, intens, dan terasa seperti magnet. Rasa manis dan sensasi seperti tersengat listrik segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Namun di saat bersamaan, dia juga merasakan tubuhnya yang mulai kembali terasa lemas, seperti sebelumnya.

"Selesai. Terima kasih atas makanannya." ucap Aaron, setelah melepaskan ciumannya dari Stefani. "Stefani?"

Dia memegangi bibirnya yang tadi dicium oleh Aaron. "Makanan? Maksudmu ciuman tadi itu makananmu?"

Aaron tersenyum sambil mengelus rambutnya. "Iya. Tadi sudah kujelaskan, bukan? Sebagai ganti atas kekuatan yang kamu miliki saat ini, kamu harus memberikan energimu padaku."

"Tapi kamu nggak bilang kalau caranya seperti itu!" protesnya, melayangkan tamparan ke wajah Aaron. Sepertinya dia menampar laki-laki itu terlalu keras, karena suara tamparannya seakan menggema di seluruh ruangan, disusul dengan tubuh Aaron yang terhempas beberapa meter dari tempatnya berbaring saat ini.

Aaron memegangi pipinya yang tadi ditampar Stefani dan mulai menyunggingkan senyumannya. "Bisa tampar yang satunya lagi?" tanyanya, menunjuk ke arah pipi kirinya yang belum ditampar olehnya. Aaron segera bangkit dari tempatnya jatuh tadi dan berjalan dengan cepat menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya.

Dia memegangi tangan yang dipakainya tadi untuk menampar laki-laki itu dengan wajah ketakutan, mengabaikan pertanyaan Aaron tadi. "Tadi... Tadi itu apa? Bagaimana bisa aku melakukannya sejauh itu?"

"Itu salah satu kekuatan baru yang kuberikan padamu. Kamu bisa mengaktifkannya kapan saja, asalkan kamu memberikanku energi kehidupanmu setiap pagi. Bagaimana? Kamu suka?"

Dia menganggukkan. "Suka banget!"

"Jadi aku boleh minta hadiahku kan?" tanya Aaron, mengarahkan wajahnya mendekat padanya. Dia bisa mencium aroma manis yang menempel pada tubuh Aaron, yang membuatnya merasa ingin menyerang laki-laki. Bukan ke arah perkelahian pastinya.

"Hadiah apaan? Baru jelasin sedikit saja berlagak banget." sahutnya, menjauhkan wajahnya dari laki-laki tadi.

"Yah, sayang banget. Padahal aku suka waktu kamu menamparku seperti tadi. Belum pernah ada yang menamparku selama ini, jadi kamu mesti senang karena kamu menjadi orang pertama yang berhasil menamparku sampai seperti tadi."

Wajah Aaron terlihat begitu senang saat menjelaskan hal itu, membuatnya bertanya-tanya apakah seharusnya dia merasa takut karena mendapatkan kekuatan baru dan menjadi orang pertama yang berhasil menampar Aaron seperti tadi, atau merasa senang karena orang yang ada di hadapannya ini memiliki bakat tersembunyi yang sudah menjadi impiannya sejak lama.

"Tapi kelihatannya kamu tuh, yang senang banget abis aku tampar tadi. Kayaknya tadi ada yang ngomong sama aku kalau ada yang ingin ditampar lagi. Siapa ya?"

"Kamu mau menamparku lagi?" tanyanya dengan mata berbinar.

Dia tidak menjawab pertanyaan Aaron tadi, dan mulai beranjak dari tempatnya berbaring. Rasa sakit di kepalanya kini sudah hilang tak berbekas, dan dia merasakan seluruh tubuhnya kini terasa lebih ringan dari sebelumnya. Lalu dia menoleh ke arah Aaron, yang masih duduk di sebelahnya, sambil mengarahkan jemarinya menelusuri wajah laki-laki tadi. Kulit laki-laki itu terasa begitu dingin, namun dia mengabaikan sensasi dingin itu dan menatap mata Aaron.

"Kamu tahu kan, kalau kamu tidak bisa langsung mendapatkan hadiahmu?"

"Kalau begitu, aku harus melakukan apa agar kamu mau menamparku seperti tadi?" tanyanya dengan wajah bingung.

Jemarinya lalu berhenti tepat di bibir laki-laki itu, yang terasa begitu dingin. Dia mengusap bibir laki-laki itu perlahan. "Panggil aku Nona Stefani. Dan tundukkan kepalamu setiap kali kamu berbicara denganku. Paham?"

Laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan menunduk, persis seperti yang dimintanya tadi. Dia tersenyum puas melihat reaksi laki-laki tadi, dan menjauhkan jemarinya dari wajah Aaron.

"Nona Stefani. Tolong tampar makhluk hina yang ada di hadapan Nona saat ini. Tampar saya sampai Nona merasa puas menampar saya." ucapnya, tetap menundukkan kepalanya seperti yang dimintanya tadi.

"Bagus. Sekarang angkat kepalamu dan tatap kedua mataku."

"Baik, Nona Stefani." jawab Aaron, mendongakkan kepalanya ke arahnya dan menatap kedua matanya. Lalu tangannya dengan cepat menampar laki-laki itu hingga kembali terhempas beberapa meter hingga punggungnya menghantam dinding ruangan itu seperti sebelumnya.

Rasanya dia mulai menyukai kekuatan barunya itu, pikirnya ketika melihat Aaron berusaha keras untuk bisa berdiri dan kembali berlari ke arahnya. Begitu Aaron kembali berdiri di hadapannya dengan menundukkan wajahnya, dia kembali melayangkan tamparannya ke pipi laki-laki itu berkali-kali hingga dia merasa puas.

"Masih mau lanjut?" tanyanya, menaikkan kepala laki-laki tadi hingga menghadap ke arahnya, yang dijawabnya dengan anggukan kepalanya. Dia segera menjauhkan tangannya dari laki-laki tadi dan berjalan menuju pintu ruangan ini.

Lalu berbalik menatap laki-laki tadi. "Nggak deh. Nanti kamunya keenakan."

"Kok gitu sih? Padahal lagi seru-serunya juga." dengus Aaron, terlihat kecewa dengan penolakannya. Dia tidak menggubris perkataan Aaron tadi dan mencoba untuk membuka pintu ruangan ini.

"Pintunya kenapa terkunci?" tanyanya saat membuka pintu tersebut. "Aaron, kamu sengaja mengun-"

Belum sempat dia mengakhiri pertanyaannya, laki-laki itu tahu-tahu sudah berada tepat di hadapannya, membuatnya nyaris melompat saking kagetnya. "Iyalah. Kalau nggak begitu, nanti kamu bakal pergi dari tempat ini."

"Atau jangan-jangan kamu yang khawatir bakal kutinggal sendirian?" tanyanya, menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum ke arahnya. Aaron seketika terdiam saat mendengar pertanyaannya tadi.

"Kenapa diam? Apa jangan-jangan kamu benar-benar khawatir bakal kutinggal sendirian?" tanyanya, mengulang pertanyaannya tadi. Jemarinya segera bergerak menelusuri kemeja dengan warna hitam di sebelah kanan dan putih di sebelah kiri yang dikenakan oleh laki-laki itu. Tangannya lalu bergerak membuka kancing kemeja itu satu per satu hingga memperlihatkan otot dada laki-laki itu yang terlihat begitu menggoda di matanya.

Sambil menjilati bibirnya, dia mengarahkan pandangannya ke Aaron, yang kini memalingkan wajahnya. "Kamu sengaja mengunci kamar ini agar aku bisa menyerangmu saat ini?"

Aaron lalu mengarahkan wajahnya ke arah Stefani. "Iya. Nggak boleh?" jawabnya sambil menatap lurus ke arah Stefani.

Dia terkejut dengan tanggapan Aaron yang terdengar begitu jujur itu. "Kamu... Sama sekali nggak mengelak dari pertanyaanku ya?"

Dia memiringkan kepalanya. "Untuk apa aku mengelak?"

"Begini ya. Orang biasa nggak akan mengakuinya sejujur itu. Yang ada, mereka akan berusaha mengelak dari pertanyaan itu dan mencari alasan yang masuk akal agar tidak dianggap aneh."

Aaron terlihat mengerutkan keningnya mendengar jawabannya tadi. "Memang kenapa kalau dianggap aneh?"

"Kamu akan dijauhi orang-orang. Mungkin akan dirisak, atau yang paling parah, kamu akan berada dalam bahaya yang bisa mengancam nyawamu." ucap Stefani mengarahkan tangannya dan mengelus otot dadanya yang terlihat begitu menggiurkan sampai dia nyaris meneteskan air liurnya.

"Hmm... Kamu bisa banget sih. Sentuhanmu... Hmmm..."

Aaron tidak melanjutkan kembali perkataannya; sepertinya dia sudah tidak bisa lagi mengikuti arah pembicaraan mereka dan menikmati gerakan tangannya. Dia mengeluarkan suara desahannya yang terdengar seksi di telinganya, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mencium laki-laki tadi.

Stefani melepaskan ciumannya dan tersenyum puas begitu melihat reaksi laki-laki itu. Dia segera menarik tangannya dari dada laki-laki tadi. Sebelum Aaron sempat protes menanyakan alasan dia menghentikan gerakan tangannya, dia segera menarik tangan laki-laki itu dan mendorongnya hingga jatuh di atas kasur. Dia lalu menyusul Aaron yang sudah terbaring di atas kasur dan duduk di atas perutnya.

Tangannya kembali memainkan otot dadanya, perlahan turun hingga mencapai pinggangnya. Lalu dia mengarahkan pandangannya ke arah Aaron, yang kini kembali mengeluarkan suara desahannya yang terdengar jauh lebih seksi dari sebelumnya.

"Nona Stefani... Tolong lanjutkan yang tadi. Hmmm..."

"Kamu suka sekali ya? Padahal aku baru menyentuhmu seperti tadi." ujarnya, mendekatkan wajahnya ke arah dadanya dan menggigit dada kanannya sekuat mungkin. Suara jeritan laki-laki itu semakin menambah keinginannya untuk menandai dada laki-laki itu dengan gigitannya.

"Hmm… Nona Stefani…"

Stefani menjauhkan wajahnya dari dada Aaron. Tampak bekas gigitan yang kini menghiasi sekitar puting laki-laki itu, membuatnya merasa begitu puas dengan hasil gigitannya tadi. Matanya lalu mengarah pada Aaron, yang kini menatapnya seakan memohon agar dia kembali menggigitnya.

Dia tidak menghiraukan tatapan mata Aaron dan mengarahkan pandangannya ke dada kiri laki-laki itu dan menggerakkan jarinya memutar ke sekitar puting kiri laki-laki itu, yang tegang akibat sentuhannya tadi. 

"Aaron… dengan tubuh yang seindah ini, kamu pikir perempuan mana pun akan mengabaikanmu?" tanya Stefani, mencubit puting kiri Aaron hingga laki-laki itu kembali menjerit kesakitan akibat ulahnya.

"Saya tidak tahu, Nona. Tapi kalau Nona menyukai tubuh saya yang kotor dan hina ini, saya akan menyerahkan seluruh tubuh dan jiwa saya pada Nona." jawab Aaron, di tengah-tengah erangannya.

Puas dengan jawaban Aaron tadi, dia melepaskan tangannya dari puting kiri laki-laki itu dan menggantinya dengan gigitan di sekitar puting laki-laki itu. Lidahnya sesekali menari di sekitar dada kirinya, sambil giginya sesekali mencubit putingnya. Lalu dia melirik sekilas ke arah Aaron, yang tubuhnya kini bergetar hebat akibat sensasi yang diberikannya tadi. 

Setelah beberapa kali menggigit dan memainkan lidahnya, dia menjauhkan wajahnya dari dada Aaron. 

"Aaron…" bisiknya, mengarahkan jarinya dari kedua dadanya menuju lehernya. Dia mengelus leher laki-laki itu dan menyibakkan sedikit rambut Aaron yang menutupi leher laki-laki itu. 

"Nona… Hng…" desah Aaron, mengarahkan kedua tangannya ke pinggang Stefani dan bergerak semakin ke atas hingga mencapai punggung Stefani. "Bolehkah saya melepaskan pakaian Nona?"

Stefani menatap kedua matanya dan tersenyum ke arah Aaron. "Aku izinkan."

"Terima kasih, Nona Stefani." ucap Aaron. Tangannya dengan cepat bergerak melepaskan seluruh pakaian Stefani dan melemparkannya begitu saja ke lantai. Kedua mata laki-laki itu tampak terperangah melihat penampilan Stefani yang ada di hadapannya saat ini dan berkali-kali menelan ludahnya.

"Kenapa diam saja?" tanya Stefani, menatap Aaron yang masih bengong melihat penampilannya saat ini.

"Nona Stefani… sempurna sekali. Cantik. Benar-benar seperti dewi yang turun dari langit."

"Suka pemandangannya ya?" tanya Stefani, yang dijawab dengan anggukan kepala Aaron. Stefani lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Aaron dan kembali mengarahkan jemarinya ke leher Aaron.

"Nona… hmmm…."

Dia mengabaikan suara desahan Aaron. Aroma manis yang timbul dari tubuh laki-laki itu, khususnya daerah leher, entah mengapa menarik keinginannya untuk menggigitnya dan menghisap darah laki-laki itu. Wajah Stefani bergerak semakin mendekat ke arah leher Aaron, membuat laki-laki itu memandanginya dengan perasaan cemas.

"Nona… apa ya- Ah! Ah! Ah!"

Tanpa sempat melanjutkan perkataannya, Stefani sudah mengarahkan bibirnya ke leher Aaron dan menggigitnya sekuat mungkin. Bahkan dia mulai merasakan darah laki-laki itu kini mulai masuk ke dalam mulutnya. Sensasi manis segera menjalar ke seluruh tubuhnya, dan dia menyukai rasa yang ditimbulkan oleh darah Aaron.

"Nona… Hmm… Ah…"

Suara desahan Aaron yang semakin terdengar seksi di telinganya membuat Stefani semakin cepat menghisap darah Aaron, hingga tubuh Aaron yang sudah tidak tahan lagi dengan sensasi itu segera membalikkan tubuh Stefani.

Kini posisi mereka berbalik; Stefani terbaring di kasur dengan giginya yang masih menancap di leher Aaron dan Aaron yang menindih tubuh atasnya. Laki-laki itu lalu memeluk tubuh Stefani yang meski terlihat kecil namun kuat itu dan mencium bahunya.

"Nona… saya tidak tahan lagi. Hngg… ingin keluar sekarang…"

Stefani melepaskan gigitannya sesaat. "Ya sudah, keluar saja. Biarkan aku kembali menikmati lehermu." ucap Stefani, kembali menggigit leher laki-laki itu.

"Tapi saya harus mengeluarkannya di mana?" tanya Aaron, kebingungan karena tidak tahu di mana ia harus mengeluarkannya.

Stefani melepaskan kembali gigitannya dan menjauhkan tubuhnya dari Aaron. Tangannya lalu melepaskan celana jeans dan celana dalam yang dikenakannya, lalu melepaskannya dan melemparkannya ke lantai.

"Sekarang kamu masukkan ke dalamku. Aku ingin merasakan cairan milikmu di dalam tubuhku sekarang juga."

"Baik, Nona." jawab Aaron, mengarahkan miliknya ke selangkangan Stefani dan memasukkannya perlahan. Stefani tampak menikmatinya; kedua matanya kini terpejam sambil menggigit bibir bawahnya. Tubuh Stefani kini bergerak ke atas dan ke bawah, sementara pinggulnya bergoyang tidak beraturan menikmati sensasi yang diberikan oleh Aaron.

"Hngg… kenapa punyamu bisa senikmat ini? Ah… Hmm… Teruskan…" ucap Stefani, yang dibalas dengan Aaron yang semakin mempercepat gerakannya. 

"Nona, saya ingin keluar sekarang. Apakah saya boleh keluar sekarang?"

Stefani hanya menjawabnya dengan anggukan, sementara Aaron semakin mempercepat gerakannya dan memuntahkan cairannya ke dalam tubuh Stefani. Stefani kini merasakan kenikmatan yang membuat seluruh tubuhnya mengejang hebat, merasakan orgasme yang jauh lebih memuaskan dibandingkan dengan yang pernah dia rasakan sebelumnya. Berkali-kali dia mengumpatkan kata kasar sambil menarik tubuh Aaron dan memeluknya, sementara seluruh kukunya dia tancapkan ke punggung laki-laki itu, hingga laki-laki itu kembali menjerit disusul suara desahan Aaron yang semakin keras namun terdengar seksi di telinganya itu.

Setelah beberapa saat, Stefani melonggarkan tancapan kukunya dan menurunkan kedua tangannya di atas kasur. Dia berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah, sementara kedua matanya menatap lurus ke arah Aaron, yang juga menatapnya dengan wajah kelelahan.

"Nona Stefani…" bisik Aaron. "Bolehkah saya melepaskan milik saya dari selangkangan Nona?"

"Nggak. Tetap biarkan itu di dalam tubuhku."

"Tapi Nona…"

"Tidak ada tapi. Lakukan atau aku tidak akan memberikan energi kehidupanku padamu."

"Jangan Nona! Nanti kalau saya mati bagaimana?"

Stefani memutarkan kedua bola matanya. "Makanya, lakukan seperti yang kuminta. Terus kita tidur sekarang." ujar Stefani, mendorong laki-laki itu hingga berbaring di sampingnya dan memeluknya. Tangannya sibuk menyisir rambutnya yang terlihat begitu berantakan saat ini dan bergerak ke bawah hingga mencapai leher laki-laki itu yang masih menyisakan bekas gigitannya.

"Tolong cium leher saya lagi seperti tadi, Nona." pinta Aaron.

"Dengan senang hati." sahutnya, mencium leher laki-laki itu dan kembali menggigit lehernya, membuat laki-laki itu kembali mengeluarkan suara desahannya.

Stefani lalu menjauhkan wajahnya dari leher Aaron dan mencium bibir Aaron. "Kita tidur sekarang."

"Baik Nona."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status