PANGGUNG HEBOH
PANGGUNG HEBOH
Author: Marthino Mawikere
Berubah Jadi Apaan?

“Wow.”

Tanpa sadar BJ melontar kekaguman. Ia kini berada di depan gerbang sebuah mall. Mungkin bukan mall terbesar ibukota namun bagi seorang bocah kampung, bagi BJ itu adalah mall terbesar yang pernah dimasuki. Dengan sedikit ragu, ia melangkah masuk.

Dan lagi-lagi sebagai seorang bocah kampung, ia ternganga. Begitu berjibun orang yang ada di dalamnya. Di pelataran lobby, di tangga-tangga eskalator, di depan aneka counter, di dalam banyak restoran,  showroom mobil, semuanya. Seisi kota kecamatan Bayung di Sumatera Selatan yang ia pernah tinggali pun warganya tidak sebanyak ini. Keadaan di dalam mall secara sekilas menurutnya mirip keadaan di dalam sarang semut di Simpang Pauh. Sama-sama padat dengan makhluk hidup dengan labirin mengular kesana-kemari.

BJ terus berkeliling. Berpindah dari satu lantai ke lantai lain. Sampai ia tiba di lantai teratas mall yang dipenuhi ratusan kios ponsel.

Matanya tiba-tiba terpaku pada seseorang. Ia memicingkan mata. BJ tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Tanpa ragu ia menyapa orang yang tengah duduk di depan sebuah kios ponsel.

“Bayu?”

Orang itu menoleh. Seketika matanya membelalak.

“Nathan?”

"Haloooo wong kito," kata BJ. Keduanya nampak terkejut dengan pertemuan yang tak terduga. Laiknya saat Tinky Winky dan Dipsy melakukan pertemuan, keduanya serta-merta langsung berpelukan.

“Ya ampun, apa kabarnyo? Wah, kurus nian kau, Bay.”

Rekan BJ itu tersenyum kecil. “Atletis maksudmu, Nathan?”

BJ mencibir. “Di sini gue dipanggil BJ.”

Bayu sedikit tersedak. “Wow, mentang-mentang di Jakarta sekarang ngomong lu-gue.”

“Masih suka salah-salah, Bay. Kadang terpeleset, campur-campur logat Melayu juga.”

“Kalo gitu langsung ngomong lu-gue aja,” Bayu mengedip mata. “Jadi sekarang ini, di Jakarta, Benny Jonathan maunya dipanggil BJ?”

“Begitulah.”

BJ kemudian duduk di sebuah kursi kosong. Berdampingan dengan Bayu yang sepertinya sudah mau melakukan transaksi pembayaran di kios ponsel itu.

Jakarta adalah kota asing bagi BJ. Kota yang ia dan keluarganya baru saja tinggali sejak akhir 2019 ini memiliki banyak hal dimana ia perlu beradaptasi. Perbedaan bahasa, budaya, gaya hidup,  lingkungan, teknologi kadang membuatnya sedikit tergagap. Ada yang cepat teratasi, ada yang sedikit butuh waktu. Hingga satu bulan keberadaannya di Jakarta rasanya hanya masalah bahasa dan benturan budaya yang terkadang menjadi sandungan. Dibandingkan dengan Palembang yang sebelumnya ia tinggali selama setahun pun ibukota tetap menampilkan wajah dingin dan angkuh. Perbedaan itu melebar jika dibandingkan dengan kehidupannya di kota kecamatan yang belasan tahun ia tinggali.

“Gimana kabar temen-temen di SMP?” tanya Bayu setelah keduanya bicara banyak hal.

“Temen-temen kita pada berubah, Bay. Apalagi Trio Kwek-kwek.”

“Emang gimana kabar Dedi, Nunung, sama Jumali?”

“Si Dedi berubah gara-gara dapet warisan. Si Nunung juga berubah gara-gara salah operasi mulut. Apalagi Jumali, dia berubah gara-gara salah pergaulan.”

“Coba cerita satu-satu. Dedi kenapa?”

“Dia berubah jadi sombong.”

“Nunung?”

“Dia berubah jadi monyong.”

“Jumali?”

“Dia berubah jadi bencong.”

*

            Di dalam sebuah rumah yang sebagian disulap menjadi sebuah toko, kesibukan malam terjadi.

            Ada banyak orang yang menghuni tempat itu. Ada sepasang suami isteri yang biasa dipanggil Abah dan Emak. Ada Minel anggota termuda yang berusia tiga tahun. Ada Nyai,  ibunda Emak yang baru minggu lalu merayakan hari jadi ke-68. Ada pula seorang asisten rumah tangga bernama Mbok Min yang sudah hampir tiga tahun melayani keluarga itu.

            Malam itu di meja makan sudah ada Abah dan Nyai. Abah terlihat bahagia betul.  Kebahagiaan itu karena keberhasilan mendapat kontrak bisnis kayu dengan salah seorang pelanggan Abah. Bagi dirinya yang mejadi tulang punggung keluarga, mendapat kontrak itu benar-benar merupakan berkah karena hasilnya bisa menghidupi keluarga untuk tiga bulan ke depan. Mungkin malah bisa empat bulan jika mereka rajin berhemat. Mereka adalah keluarga dengan ekonomi menengah sehingga penggunaan keuangan mutlak dibatasi ketat.

            “BJ kok ndak keliatan. Dia di mana, Abah?“

            “Jalan-jalan ke mall.“

            Emak terlihat agak kaget. “Jalan-jalan? Abah yang kasih ijin?“

            “Iya, sekalian minta dia tolong cari-cari ponsel. Siapa tau bisa dapet ponsel tiga ratus ribuan. Lagian biarin BJ santai dulu. Besok hari Senin kan dia mulai masuk ke sekolahnya yang baru.“

“Abah, jangan sering-sering kasih kerjaan ke BJ,” Emak menyatakan keberatannya. “Kasihan dia. Angkat kayu, minta tolong BJ. Angkat cat, minta tolong BJ. Antar barang, minta tolong BJ. Bersihin kamar mandi, minta tolong BJ. Mentang-mentang rajin, Abah teruuus minta tolong dia.”

            Nyai yang duduk di samping Abah langsung menimbrung. “Kenapo?”

            “Si Abah, apa-apa

minta tolong BJ,” Emak mengadu. “Bantu pindahan barang, angkat kayu, angkat cat, beli ini-itu, angkat ini-itu.”

            “Kalo gitu kenapo ndak minta tolong ke Nyai? Pasti Nyai bantú angkat-angkat,” kata Nyai lagi. Mulutnya mengunyah-ngunyah daging rendang dari semenjak dua menit lalu. Dagingnya alot. Bisa jadi karena diambil dari sapi yang sama uzur dengan Nyai.

            “Terima kasih, Nyai. Tapi ndak sekarang. Lain kali saja.”

“Iya. Nyai memang rajin. Kemarin, sewaktu ada jemuran ketiup angin, Nyai yang angkatin,” Abah memuji-muji mertuanya. Kegembiraannya bisa jadi karena terpengarauh kebahagiaan akibat mendapat kontrak,

Nyai melepeh daging alot ke pinggir piring. Menyerah akan kealotan tetelan daging. “Biar pun wong tuo, Nyai mau rajin terus. Ndak mau malas.”

“Bagus.”

“Ado barang yang jatuh pasti Nyai angkatin. Nyai ndak mau rumah berantakan.”

“Bagus.”

“Ada pensil jatuh, Nyai angkat. Begitu juga buku, tisyu, pembalut,”

            “Hebat.”

            “Waktu itu sikat gigi Abah, Nyai jugo yang angkat.”

“Sikat gigi Abah yang warna merah-biru?” tanya Emak yang hafal bahwa sikat gigi Abah memang berbeda sendiri.

“Iya,” kata Nyai. “Nyai angkat lagi.”

Abah yang baru menyelesaikan makanannya, mendadak terdiam.   

“Lagi? Maksudnya ‘Nyai angkat lagi’ itu apa?”

“Tadi siang sikat itu Nyai ndak sengajo jatuhin ke lantai. Maaf ya.”

            “Ohhh. Ndak apo-apo, Nyai. Waktu barusan Abah pake kondisi masih bagus, gagangnya ndak patah. Cuma jatuh ke lantai toh?”

            “Jatuhnya itu mental,” kata Nyai innocent. “Mental, terus… plung! Jatuh.”

“Jatuh?”

“Ke lobang kloset.”

*

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status