4 PENCARIAN

AUTHOR POV

Kabar mengenai lukisan leontin berjudul Promise itu terdengar di berbagai kalangan atas, termasuk keluarga Anderson. Pihak mereka ingin mengetahui siapa pelukis tersebut, apa yang dia tahu tentang leontin itu, siapa yang memiliki leontin itu dan berada di mana leontin itu sekarang.

Phia tidak tahu, bahwa karena leontin itu, dia menjadi incaran banyak orang, terutama keluarga Anderson dan Julio.

“Bagaimana pun caranya, cari tahu semua hal tentang pelukis itu!”

Jhon, yang merupakan tangan kanan keluarga Anderson langsung menjalankan perintah atasannya. Yang dia tidak tahu, mencari tahu keberadaan Phia tidak semudah yang dia kira, karena selama ini Phia sering berpindah-pindah tempat.

Phia bukanlah sosok yang ingin kehidupan pribadinya mudah dicari tahu oleh orang lain. Itu sebabnya dia selalu menggunakan nama yang berbeda-beda dalam berbagai keadaan. Dia akan menggunakan nama Aruna dalam lukisannya dan Phia untuk orang-orang yang dia temui.

Di tempat lain ...

Seorang pria mengamati sebuah lukisan yang dia beli dengan tiba-tiba di dalam pesawat. Di kanan bawah lukisan itu terdapat inisial A. Dia masih sangat ingat wajah pelukis itu. Sangat cantik, batinnya.

“Kamu belum bisa menemukannya?” tanyanya pada asisten pribadinya.

“Belum, Tuan.”

“Ini sudah sangat lama.”

“Maafkan saya, tapi sepertinya wanita ini sengaja menutupi identitasnya.”

“Cari sampai ketemu!”

“Baik, Tuan. Saya juga ingin mengingatkan bahwa besok Anda akan mengunjungi pameran lukisan.”

“Bagaimana dengan lukisan Promise itu?”

“Masih diselidiki, Tuan.”

“Baiklah, besok aku akan melihat sendiri lukisan itu.”

Keesokan harinya

Seorang pria bernama Ziko memasuki galery, dia menjadi pusat perhatian terutama kaum hawa. Tujuan utama Ziko adalah lukisan Promise. Mata elangnya menelisik setiap inci lukisan Promise. Dia melihat nama Aruna pada bagian kanan bawah. Semakin lama dia meneliti lukisan itu, semakin lebar senyum di wajahnya.

“Akhirnya satu langkah lagi aku menemukanmu!”

Dia melihat huruf A pada kata Ayura. Bentuk A itu sama dengan bentuk A pada lukisan yang dia beli di pesawat itu. Ya, yang membeli lukisan Phia di pesawat adalah Ziko.

My A, aku ingin segera bertemu denganmu ...

“Selidiki gadis itu dengan nama Ayura!” perintah Ziko pada asistennya.

“Elphia Ayura ... “ gumam Ziko pelan. Ya, Ziko tahu bahwa namanya adalah Elphia Ayura, hanya saja keberadaan Phia yang selalu berpindah-pindah dan sangat tertutup membuat orang-orang, termasuk Ziko sangat kesulitan menemukannya.

Lagi-lagi Ziko membayangkan wajah cantik Phia yang dia sebut sebagai My A. Wajah dengan bola mata bening dan bulat, alis tebal, hidung mancung, bibir merah alami, kulit putih mulus, dagu lancip dan lesung pipi. Belum lagi bentuk tubuh yang seksi meskipun saat Ziko melihatnya, Phia hanya menggunakan pakaian kasual biasa. Setiap malam Ziko selalu membayangkan bagaimana kalau dia mencium bibir seksi itu, bagaimana kalau dia memeluk erat tubuh itu dalam ikatan yang halal dan menjadikannya istri. Pikiran-pikiran gila itu terus membayangi Ziko setiap harinya.

☆☆☆

“Dari hasil penyelidikan, saat ini nona Ayura masih ada di London, namun tidak diketahui dia tinggal dimana.”

“Kamu sudah selidiki asistennya?”

“Sudah, Tuan. Dia bernama Lila, mereka bertemu di bis saat nona Ayura akan menuju Bandara. Nona Ayura sempat tinggal di desa Sila hampir dua tahun. Pada awalnya orang-orang menganggap dia tidak bisa bicara.”

Petter terus menyampaikan informasi yang dia dapat.

“Apa dia sudah memiliki kekasih atau suami?”

“Belum, Tuan. Menurut informasi, dulu nona Ayura pernah memiliki kekasih bernama Alex, namun dia berselingkuh dengan sahabat nona Ayura, lalu nona Ayura memutus hubungannya dengan mereka berdua.”

“Bagaimana dengan keluarganya?”

“Hubungan nona Ayura tidak baik, nona Ayura pergi meninggalkan rumah saat masih SMA kelas satu dan belum pernah pulang ke rumah itu lagi.”

“Ada masalah apa diantara mereka?”

“Belum diketahui dengan pasti, Tuan. Nona Ayura hanya dekat dengan kakeknya yang sudah meninggal saat nona Ayura kelas tiga SMP.”

Ziko menghela nafas berat. Biasanya jika dia menginginkan informasi tentang seseorang, paling lama dia hanya perlu menunggu waktu satu hari saja. Kali ini dia merasa sangat penasaran akan seseorang namun sangat sulit untuk mengetahui tentang dirinya.

Apa akan sulit juga jika aku menginginkan dirinya?

Entah mengapa semua yang ada pada diri Phia membuatnya penasaran. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Banyak wanita yang cantik dan seksi, dari keluarga terpandang dan yang pasti mengejar-ngejarnya, namun dia tidak pernah peduli. Kali ini yang terjadi justru sebaliknya, dirinyalah yang mengejar-ngejar, walau hanya sebatas informasi pribadi.

☆☆☆

Satu bulan kemudian

Phia sedang berjalan-jalan di kota Samarinda. Dua puluh menit sudah dia menikmati pagi ini setelah sebelumnya sarapan nasi kuning di salah satu warung makan.

Dari jauh dia melihat jembatan Mahakam yang berdiri kokoh di atas sungai Mahakam.

Entah kenapa kali ini dia memilih Samarinda. Baru dua hari dia dan Lila berada di kota ini. Tiba-tiba saja hujan turun, Phia berlari kecil sambil menutupi kepalanya dengan telapak tangannya. Dia memasuki warung makan soto dan memesan air jeruk hangat. Phia mengusap-ngusap tangannya, mencoba memberikan kehangatan untuk dirinya sendiri.

Di tempat lain di kota yang sama,

Ziko sedang melihat hujan yang turun dari balik jendela. Ziko sedang melakukan peninjauan untuk proyek baru yang akan dia mulai lakukan di kota ini. Dia ingin semua hotel yang dia dirikan memiliki perbedaan dengan hotel-hotel lain.

Ziko adalah seorang pengusaha yang bergerak di segala bidang. Saat dia pertama kali bertemu dengan Phia, dia baru saja meninjau lahan yang akan dia jadikah hotel. Ziko juga seorang yang perfeksionis, dia ingin memastikan  secara langsung apa saja yang berhubungan dengan bisnisnya setelah asistennya sendiri yang memantau. Sama seperti saat ini, dia ingin melihat secara langsung proses pembangunan hotel yang baru dilakukan dua bulan ini.

Ziko menikmati hujan dengan segelas wine putih. Entah kenapa sejak tadi dia ingin sekali keluar. Dia mengambil kunci mobilnya lalu meninggalkan apartemennya, tidak peduli bahwa hujan semakin deras, yang dia rasakan bahwa dia harus keluar.

Guyuran hujan  membuat kaca mobil berkabut. Ziko masih mengelilingi kota tanpa tujuan. Dia melihat warung makan yang menjual soto. Entah kenapa perutnya tiba-tiba saja lapar melihat gambar makanan di warung itu, mungkin karena tadi dia hanya memakan roti dan segelas kopi hitam kesukaannya.

Ziko memarkirkan mobilnya di pinggir warung itu.

Penampilan Ziko yang berwajah bule dengan kaos dan celana hitam berkacamata menarik perhatian orang-orang yang ada di warung makan tersebut.

Wajah tampan dengan rahang kokoh, alis tebal, hidung mancung dengan sedikit jenggot dan kumis ditambah bibir yang juga merah alami.

Ziko mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk yang nyaman. Wajahnya langsung terlihat berbinar saat yang dia mimpikan setiap hari kini tengah duduk menikmati jeruk hangat.

My A ... gumamnya dalam hati.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status