Kita Keturunan Penyihir Sayang

The Magic of Friddenlux

Episode 4

Dicari pelayan paruh waktu, shift sore dari jam 3 sore hingga jam 11 malam. Laki-laki/perempuan. Dibutuhkan 2 orang. Gaji menjanjikan.

-Nail's Cafe and Coffe-

Langkah Audrey terhenti di sebuah papan pengumuman yang ada di depan kafe. Kalau ia mendaftar sebagai pelayan disini, tidak akan menganggu jam belajarnya.

"Audrey!" seru Andrew yang datang dari belakang Audrey.

"Hei, gimana sudah ketemu?" tanya Audrey.

"Iya sudah, aku ceroboh sekali. Jika tidak di amankan petugas keamanannya bisa hilang ponselku," jawab Andrew.

"Lain kali hati-hati. Adik tampan aku ini pintar tapi pikun hahaha," ujar Audrey sambil memeluk kepala Andrew.

Audrey dan Andrew pun berjalan pulang ke rumah. Sepulangnya di rumah Audrey langsung membuatkan cokelat panas untuk Andrew.

Karena ini adalah malam minggu, itu artinya besok adalah akhir pekan. Mereka bisa menikmati malam tanpa harus memikirkan pelajaran dan drama sekolah.

"Andrew, aku pikir aku akan melamar pekerjaan paruh waktu," kata Audrey.

"Ha! Kenapa? Apa uang dari nenek tidak cukup?" tanya Andrew sambil menoleh ke arah Audrey.

"Bukannya seperti itu. Nenek kan sudah tidak ada. Uang dari nenek itu lama kelamaan akan habis juga. Mau tak mau kita harus belajar cari uang. Dan aku tidak mau belajar cari uang disaat memang kita membutuhkan uang," jawab Audrey.

"Wah hebat sekali kau bisa sadar itu. Lalu bekerja dimana?" tanya Andrew sambil menyeruput cokelat panasnya.

"Haha kita kan keturunan keluarga Jo," jawab Audrey sambil bercanda.

"Audrey, ada yang ingin aku katakan jujur padamu," sambung Andrew sambil meletakkan gelasnya.

"Aku punya kemampuan diluar nalar manusia. Kemampuan itu membuat aku bisa berkomunikasi dengan orang terkasih kita," kata Andrew yang serius.

"Apasih. Aku juga bisa berkomunikasi dengan orang terkasih. Kau contohnya hahahaha," balas Audrey sambil menepuk punggung Andrew.

"Audrey aku serius! Maksudku orang terkasih kita itu adalah yang telah meninggal," ujar Andrew.

"Apa! Jadi maksudmu bisa berkomunikasi dengan telah meninggal, kalau begitu dengan nenek juga?" tanya Audrey.

Andrew pun mengangguk. Ia belum terlalu yakin dengan kemampuan ini. Tapi jujur pada Audrey adalah hal yang terbaik saat ini.

"Paling itu hanya mimpimu saja Andrew. Terkadang aku juga begitu. Kita kan manusia normal, tentu saja mengalami hal seperti itu adalah hal yang biasa," kata Audrey yang tertawa tidak jelas dan pergi meninggalkan Andrew.

Audrey pergi ke kamarnya. Kemudian ia menutup pintu dan menyandar di pintu kamarnya. Ia tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. 

"Apa!? Andrew juga bisa. Kemarin diserang zombie, sekarang Andrew juga bisa masuk ke mimpi. Apa setelah meninggalnya nenek, kehidupan kami menjadi tidak normal. Mungkin aku terlalu bersedih saat ini." kata Audrey sambil menepuk pipinya.

Audrey akhir nya pergi ke kamar mandi dan berniat menyikat giginya. Ia depan cermin ia masih terdiam sambil memegang sikat giginya. Tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi.

"Hai! Kau keturunan Johanson. Masa kejayaanmu sudah berakhir, sekarang sudah waktunya kau melayani kami."

Kyaaa.

Terdengar suara teriakan Audrey. Kemudian Audrey melemparkan sikat giginya ke cermin. Dan sosok yang berbicara seperti tadi telah menghilang.

"Audrey ada apa?" tanya Andrew yang terengah-engah karena langsung berlari.

"Ada hantu Andrew. Ada hantu di kamar mandi!" seru Audrey sambil berlari keluar kamar mandi.

Akhirnya Andrew keluar dari kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi. Kemudian ia melihat Audrey yang bersembunyi di dalam selimutnya.

"Sementara jangan pakai kamar mandi dikamarmu ya, takutnya hantu itu masih tinggal disana," kata Andrew sambil membuka selimut Audrey.

"Andrew, besok tolong panggilkan penghusir hantu kesini. Aku tidak bisa selamanya tidak ke kamar mandi kan," pinta Audrey sambil menutup kembali selimutnya.

"Baiklah besok aku akan panggilkan, tidurlah, aku akan kembali menonton film," ujar Andrew sambil keluar dari kamar Audrey.

Kemudian Andrew mematikan lampu kamar Audrey. Andrew melanjutkan film yang sedang ia tonton. Di tengah-tengah film, Andrew tiba-tiba mendengar suara jendela diketok.

Tok..tok..

Saat Andrew menoleh, ia melihat sosok zombie yang menyerang Audrey. Andrew terjatuh karena syok.

Kembali ke kamar Audrey.

Audrey yang tertidur dengan tenang, tiba-tiba menjadi gelisah. Kepalanya yang bergoyang, tangannya yang mengenggam bantal, kakinya yang terus-terusan menendang. Gerakan Audrey itu terlihat seolah dirinya sedang kesakitan.

Di dalam mimpinya, Audrey sedang terbang melayang di dalam sebuah lorong. Sepanjang lorong itu Audrey merasakan tekanan yang besar, sampai membuat badannya kesakitan.

Audrey tidak tahu akan dibawa kemana dirinya oleh mimpi itu. Tapi ada sesuatu di ujung lorong. Dan ternyata di ujung lorongnya itu adalah neneknya, Ashley Jo.

"Hai Audrey. Cukup sulit membawamu kesini ya," kata Ashley Jo.

"Nenek, kenapa disini? Apakah ini sungguhan? Apakah ini nyata?" tanya Audrey.

"Iya sayang, ini nyata, ini sungguh nenekmu," jawab Ashley.

"Apa maksudnya nenek? Andrew juga merasakan hal yang sama. Aku pikir itu karena kami manusia biasa yang sedang bersedih atas meninggalnya nenek kami. Tapi Andrew juga bisa seperti itu. Sebenarnya ini apa nek?" tanya Audrey.

"Sayang. Kita bukan lah manusia biasa. Seharusnya nenek ceritakan ini sebelum nenek meninggal. Tapi baik sekarang atau yang dulu sama saja, tidak akan ada waktu yang cukup untuk menceritakan ini," jawab Ashley.

"Nenek aku sungguh tidak mengerti. Kita bukan manusia biasa? Lalu kita ini apa? Peri? Elf? Goblin? Alien?" tanya Audrey.

"Kita adalah keturunan penyihir. Oh bukan nenek adalah penyihir murni. Kau dan adikmu adalah keturuan penyihir," jawab Ashley.

"Penyihir? Apa penyihir itu sungguh ada nek?" tanya Audrey kembali.

"Iya sayang. Ini buktinya. Ini adalah salah satu kemampuan nenek, pengendali mimpi. Nenek bisa mengendalikan mimpi seseorang, nenek bisa berkomunikasi kepada seseorang melalui mimpi," jawabnya Audrey.

"Aku masih tidak mengerti, maksudnya penyihir apa nek? Yang punya hidung panjang dan bengkok? Yang memakai topi lancip dan sapu terbang? Atau yang selalu memakai tongkat dan mengucapkan kalimat mantra? Aku sungguh tidak mengerti," tanya Audrey sambil menggelengkan kepalanya.

"Sayang. Kita adalah penyihir tipe ksatria. Kita tidak memakai mantra, topi ataupun sapu terbang. Kita tipe petarung di garis depan," jawab Ashley sambil memegang bahu Audrey.

"Oke, lalu apa hubungannya dengan nenek memanggilku kesini?" tanya Audrey kembali.

"Audrey, nanti akan ada dua golongan yang datang kepada kalian. Golongan pertama yang ingin mengorbankan darah kalian untuk keegoisannya. Dan golongan kedua yang ingin melindungi darah kalian demi kemakmuran negerinya," jawab Ashley.

"Audrey. Lindungi Andrew apapun yang terjadi lindungi Andrew, setidaknya sampai golongan kedua datang melindungi kalian," sambung neneknya.

"Audrey, batas waktu nenek dalam memakai kekuatan telah habis. Sampaikan ini juga pada Andrew ya. Jaga diri kalian dan saling melindungilah, nenek sayang kalian," kata Ashley sambil memeluk Audrey.

"Terimakasih telah datang nek, aku juga sayang nenek," 

Kemudia Audrey langsung terbangun. Ia melihat sinar matahari yang menembus jendela kamarnya. Hari telah berganti, sekarang sudah waktunya untuk bersiap.

Audry membuka lemarinya dan berganti baju. Ia langsung turun ke bawah dan mendapati Andrew yang tidur di lantai.

"Hei Andrew. Ada apa? Kenapa kau tidur dilantai?" tanya Audrey yang membangunkan Andrew.

"Aw. Kepalaku pusing sekali," kata Andrew sambil memegang kepalanya.

"Tunggulah sebentar, akan ku ambilkan air," ujar Audrey sambil berlari ke dapur.

Di dapur Audrey langsung mengambilkan air dan memasukkan roti untuk di panggang. Kemudin Audrey memberikan kepada Andrew. Dan menunggu Andrew menghabiskan airnya.

Tingg..

Suara panggangan roti.

"Ah rotinya sudah matang. Tunggu sebentar, akan kuambilkan juga untukmu," kata Audrey yang berlari lagi ke dapur.

Tidak lama, Audrey kembali dengan membawa sepiring roti bakar untuknya dan untuk Andrew. Tidak menunggu dingin, Andrew langsung memakan roti panggang itu. Dan ia menceritakan kejadian semalam.

"Tadi malam aku didatangi oleh zombie yang sama seperti waktu itu," kata Andrew sambil menelan rotinya.

"Apa!? Jadi zombie itu ada dua? Atau yang waktu itu dia datang lagi mencari kita?" tanya Audrey.

"Aku tidak tahu. Dia tidak tahu, tapi waktu itu dia hanya menempel di jendela. Aku terlalu syok hingga pingsan," jawab Andrew.

"Cukup Andrew, ayo kita panggil penghusir hantu sekarang juga," kata Audrey sambil berdiri.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status