Pencarian Jawaban

The Magic of Friddenlux

Episode 10

"Andrew!" seru Audrey yang berlari ke arah Andrew.

"Kenapa kau lama sekali?" tanya Andrew.

"Iya maafkan aku, tadi guru memanggilku dan memintaku membantu menyusun laporan. Ku pikir sebentar, ternyata memakan cukup waktu juga," jawab Audrey.

"Sudahlah ayo pergi, sebelum hari semakin sore," kata Andrew.

Audrey mengangguk dan mereka berangkat dari gerbang sekolah. Tapi saat Audrey melangkah, tiba-tiba ia menabrak Xavier yang sedang berjalan bersama Julian dan ia terjatuh ke tanah.

"Audrey!" seru Andrew sambil membantu Audrey bangkit.

"Hei kau minta maaf, kau menabraknya," kata Andrew pada seseorang yang menabraknya.

"Hei, kakakmu lah yang menabrak dia. Kenapa kau menyuruh dia? Kakakmu lah yang seharusnya meminta maaf," ujar Julian dengan tegas.

"Apa? Berani-beraninya kau.."

"Andrew sudah lah, bukankah tadi kau bilang kita harus segera berangkat?" kata Audrey yang memotong perkataan Andrew.

"Hei kataku minta maaf!" teriak Julian.

"Julian sudahlah," kata Xavier.

"Tapi.."

"Kita kan juga punya urusan. Ayo cepat pergi," sambung Xavier.

Julian pun mengikutinya dari belakang. Sekarang baik Audrey dan Andrew atau Julian dan Xavier mempunyai urusannya masing-masing.

Audrey dan Andrew langsung pergi menuju  perpustakaan kota. Mereka berharap hari ini akan menemukan petunjuk lebih. Tentanh semua permasalahan dan juga solusinya, sehingga mereka bisa hidup dengan tenang.

Sekarang mereka telah sampai di sebuah gedung tua, berdesign kuno tapi juga megah. Sewaktu kecil mereka sering datang ke perpustakaan dengan neneknya.

Mungkin karena itu lah mereka bisa menjadi murid terpintar di sekolah. Didik dengan baik oleh sang nenek. Diberi bekal yang terbaik oleh sang nenek. Hal itu sudah lebih dari cukup bagi mereka.

"Audrey, kita harus mencari melalui komputer dulu ya," kata Andrew.

Audrey pun mengangguk. Lalu mereka pergi menuju komputer untuk mencari nomor buku yang menjelaskan tentang pertanyaan mereka.

Andrew langsung mengetikkan zombie. Lalu muncul beberapa jurnal dan buku beserta nomor dan pengarang bukunya. Ketika mendapati informasi yang mereka butuhkan, mereka langsung pergi meninggalkan meja komputer.

Audrey dan Andrew berpencar untuk menemukan buku-buku yang mereka cari. Karena di perpustakaan ini terdapat ribuan buku, jadi mereka membutuhkan waktu untuk menemukannya.

Di waktu yang sama, di sebuah bukit kecil di dekat sekolah Remeny. 

Terlihat Xavier dan Julian mengeluarkan mirvon milik mereka. Mirvon adalah sebuah pita yang bisa mengeluarkan pakaian dan senjata sihir mereka.

Pakaian dan senjata sihir itu bisa melekat pada tubuh mereka, jika mirvon di letakkan di dada mereka. Maka pita itu akan langsung mengeluarkan dan membentuk pakaian sihir dan senjata sihirnya.

Zwingg..

Terdengar suara dari reaksi aktif nya mirvon.

Pada dasarnya pakaian sihir berwarna putih. Karena melambangkan kesucian. Tapi setiap penyihir memiliki list warna tambahan pada pakaian sihirnya. Sesuai dengan karakteristik warna sihir mereka.

Xavier adalah penyihir biru, jadi list warna pada pakaian sihirnya adalah putih dan biru. Sedangkan Julian adalah penyihir merah, jadi list warna pada pakaian sihirnya adalah putih dan merah.

Kemudian Xavier menggunakan energinya pada mirvon untuk membuka portal menuju Friddenlux. Mereka harus kembali untuk melaporkan beberapa hal pada Raja.

Kembali kepada Audrey dan Andrew. Beberapa menit kemudian mereka telah menemukan beberapa buku dan jurnal. Mereka mengumpulkan semua buku dan jurnal itu di meja panjang. Kini mereka mulai membacanya.

"Andrew, beritahu aku jika kau menemukan sesuatu oke," kata Audrey. Dan Andrew pun mengangguk.

Khusyuknya mereka membaca hingga tidak menyadari perpustakaan kota mulai sepi. Sangkin tenangnya mereka membaca, sampai suara saat membuka lembaran buku saja tidak terdengar.

Sudah tiga jam terlewati, tapi mereka belum mendiskusikan apa-apa. Mereka masih sibuk dengan buku masing-masing. Mereka akan terus begitu hingga salah satu dari mereka menemukan sesuatu.

"Hei Audrey, dari semua buku dan jurnal yang aku baca, zombie itu tidak nyata. Zombie itu cuman ada di film, dengan kata lain zombie itu hanya fiktif," kata Andrew yang berbisik kepada Audrey.

"Lalu apa yang mengejar kita?" tanya Audrey sambil berpangku tangan.

"Mungkin selama ini kita hanya berhalusinasi Audrey. Mungkin semua yang kita alami ini, hanya mimpi. Mungkin saja kita masih tertidur karena terlalu bersedih atas meninggalnya nenek kita," jawab Andrew.

"Hei bicara yang masuk akal! Aku tidak mau memikirkan hal yang barusan kau katakan," kata Audrey yang kesal dengan Andrew.

Kemudian Audrey dan Andrew kembali membaca buku dan jurnal lain. Terlalu fokus dengan membaca buku dan jurnal. Audrey Jo seperti melupakan sesuatu.

"Rou!" seru Audrey bersemangat.

"Hhssstt!" seru pengunjung perpustakaan yang lain.

"Ups maaf." balas Audrey.

"Rou Andrew. Nama zombie itu Rou," kata Audrey sambil berbisik.

"Rou? Kau tahu dari mana?" tanya Andrew.

"Dari nenek, yang memberitahuku," jawab Audrey.

"Seharusnya kau tanya saja dengan nenek semuanya," ujar Andrew.

"Nenek kan bukan tipe orang yang akan membocorkan rahasia dan lagi pula pemakaian kekuatan nenek itu ada batasan waktunya, jadi tidak bisa seenaknya," ucap Audrey.

"Iya benar juga. Lalu apa lagi yang dikatakan nenek?" tanya Andrew mendekat kepada Audrey.

"Kata nenek kita harus mencari mereka yang dari Friddenlux," jawab Audrey.

"Friddenlux?" tanya Andrew yang kebingungan.

Syyuuutt...

Tiba-tiba terdengar suara buku yang tersibak oleh angin. Hal itu membuat Audrey dan Andrew menengok ke arah buku itu.

Dengan ekspresi setengah ketakutan dan setengahnya lagi terkejut. Audrey dan Andrew pun saling melirik. Yang mereka takutkan adalah jika ada serangan zombie yang bernama Rou secara tiba-tiba.

"Audrey bukannya ruangan di perpustakaan ini menggunakan pendingin ruangan?" tanya Andrew.

"Iya aku juga berpikir seperti itu," jawab Audrey.

"Kalau begitu apa yang membuat buku itu tiba-tiba terbuka?" tanya Andrew.

"Entah lah, mungkin sebaiknya aku lihat dulu," jawab Audrey.

"Hati-hati Audrey," ucap Andrew.

Audrey pun berjalan perlahan menuju buku itu. Buku bersampul coklat dan memiliki tebal seperti kayu ini, terlihat sangat kuno.

Saat Audrey melihat buku itu, Audrey langsung terkejut. Pupil matanya yang membesar dan mulutnya setengah membuka. Melihat Audrey seperti itu membuat Andrew cemas.

"Audrey ada apa?" tanya Andrew.

"Buku ini adalah jurnal milik ayah. Axel Jo," jawab Audrey.

"Apa? Ada buku ayah disini? Audrey buku ini terlihat lebih kuno dari semua buku ayah yang kita baca," balas Andrew.

"Andrew, coba kau katakan kata tadi," pinta Audrey.

"Kata apa? Friddenlux?" tanya Andrew.

Dan Syuut..

Terdengar suara seperti buku yang tertutup dengan cepat.

Kejadian aneh baru saja terjadi. Bukan cuman aneh, tapi ini juga hal yang baru bagi Audrey dan Andrew. Semoga saja si buku itu ada sesuatu yang bisa menjawab semua pertanyaan mereka.

"Kak, apa ini semua adalah sihir?" tanya Andrew yang membuat Audrey terkejut 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status