6. Amanda Harper

Sarapan pagi Andrew Chayton tanpa kehadiran kedua anaknya. Lelaki dengan uban di pelipis kanan dan kiri itu hanya menatap piring kosong di depannya. Tangannya memegang tepi meja. Marcus yang berada di dekatnya, sibuk mengawasi pelayan yang menghantarkan piring demi piring.

Agenda makan keluarga Chayton adalah agenda yang nyaris sakral bagi Andrew. Harus dilalui dengan doa khusuk bersama, tanpa ada percakapan sia-sia hingga makan selesai. Terkadang, Andrew mengundang beberapa teman dekatnya, hanya sekedar untuk menjalin hubungan baik dan mengenalkan pada kedua anaknya.

Marcus punya catatan khusus siapa saja yang pernah diundang untuk makan bersama. Karena Andrew terkadang bertanya padanya, siapa saja temannya yang belum diundang. Di lain waktu, Andrew sesekali mengundang semua pelayannya untuk makan bersama di meja makan.

Dia tipe lelaki yang ingin dihormati dan disegani, dan dia memang membuktikannya.

“Levin masih sakit kepala?” tanya Andrew pada Marcus.

Marcus mengangguk hormat. “Tuan Levin hanya minta susu diantar ke kamarnya. Pagi ini dokter Bella akan datang untuk mengganti perbannya. Beliau tidak mau dirawat pelayan.”

“Tidak. Aku tidak menginjinkan Bella menyentuhnya. Panggil dokter Artwater saja.”

Marcus mengangguk sembari menyatakan akan menghubungi dokter Cleve Artwater, setelah Andrew Chayton menyelesaikan sarapan.

“Aku mau makan di kamar Devin.”

Andrew bangkit dari duduknya, sembari melepas sapu tangan dari kerah lehernya.

“Tuan Devin masih tidur. Beliau tidak tidur semalaman.”

Andrew tidak mengindahkan informasi Marcus. Baginya, begadang hanya untuk melihat kembang api, seharusnya tidak membuat tidur di pagi hari. Kecuali semalaman telah melakukan pekerjaan berat, menguras pikiran dan tenaga. Apakah para pialang yang ditemui anak sulungnya telah membuat Devin sulit tidur?

“Kurasa aku harus membantunya menghadapi para pialang dari kota. Mungkin itu yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.”

“Sepertinya bukan karena itu, Tuan,” sahut Marcus sembari berjalan di belakang majikannya, mengiringi seorang pelayan yang membawa nampan sarapan Marcus dan Andrew. Mereka melintasi kamar Levin dan melihat pintunya terbuka separuh.

Andrew berhenti melangkah sejenak, menoleh ke arah pintu Levin. Marcus menduga, majikannya akan berbelok. Namun dia salah. Andrew hanya melihat sekilas, lalu menuju kamar si sulung. Tanpa mengetuk pintu, langsung menarik handle.

“Terkunci?” Andrew mengerut kening. “Sejak kapan dia mengunci pintu kamar?”

Marcus bergegas mengeluarkan serumpun anak kunci dari saku celananya. “Sebenarnya sudah lama Tuan Devin selalu tidur dengan mengunci pintu kamar. Itu karena beliau ingin tidur tanpa diganggu.”

“Memangnya, siapa yang sering menganggunya?”

Marcus memasukkan anak kunci, dan sejurus kemudian pintu pun berhasil dibuka. Andrew mendorong daun pintu itu perlahan, memindai kamar dengan curiga. Apakah Devin ketularan Levin menyembunyikan perempuan di dalam kamarnya? Sehingga dia merasa perlu untuk menguncinya? Tidak hanya sekali Levin melakukan hal itu. Sehingga Andrew memutuskan pintu kamar Levin tidak boleh dipasang kunci.

Andrew melangkah ke dalam kamar dan keningnya semakin mengernyit heran. Kamar Devin sangat berantakan.Sepatu dan sandal berserakan di sudut, bahkan ada yang berlumpur. Baju ada yang menggeletak di sandaran kursi, ada yang di ujung tempat tidur. Lemari pakaian, sebelah daun pintunya menganga. Dan tirai jendela yang berkibar tertiup angin dari jendela yang terbuka separuh.

Bekas bungkus makanan, memenuhi tempat sampah dan sebagian jatuh berceceran. Tidak hanya Andrew, Marcus juga membeliak melihat ruangan paling kacau balau seMansion Batista.

“Apa-apaan ini?” tanya Andrew geram. Dia mendekati tempat tidur. Devin tidur tertelungkup di sana, dengan pakaian lengkap. Bahkan sebelah sandalnya masih terpakai. Dia benar-benar tidak peduli, apakah dia tidur di kandang kuda atau di kamarnya.

“Devin!” bentak Andrew.

Devin sama sekali tak bergerak. Hanya napas teraturnya yang naik turun. Marcus memberi kode pada pelayan untuk meletakkan nampan di meja dan membereskan ruangan.

Melihat Devin yang tak merespon panggilannya, Andrew mendelik ke arah Marcus. “Marcus! Apa kerja pelayan Devin? Anakku sampai tidak terurus seperti ini. Pecat saja dia!”

Marcus membungkuk hormat, lebih tepatnya membungkuk dengan rasa bersalah menyelimuti dirinya.

“Mohon maaf, Tuan. Liliana, pelayan sebelumnya mengundurkan diri karena menikah. Sampai saat ini, belum ada pelayan yang cocok untuk menggantikan Liliana. Dan Tuan Devin tidak ingin membebani anda, jadi …”

Andrew menarik selimut yang hanya menyelimuti sebelah kaki anaknya. Dia yakin, masih banyak yang berserakan di bawah selimut. Benar saja. Kertas-kertas dokumen dengan logo Salina Beauty. Sudut bibir Andrew terangkat. Rupanya, Devin tidak sempat mengurus dirinya karena sibuk dengan Salina Beauty yang dalam waktu dekat akan bekerja sama dengan perusahaan kosmetik dari China.

“Carikan dia pelayan, segera!” perintah Andrew.

Marcus mengangguk hormat. “Sebenarnya sudah ada, Tuan. Tapi saya masih perlu melatihnya agar dia memahami tugasnya sebagai pelayan di sini.”

“Tidak usah pakai latihan, suruh dia menghadapku.”

***

Gadis berambut coklat itu masih lemah. Wajahnya pucat, tapi dia sudah bisa duduk dan menelan bubur yang disuapkan oleh pelayan padanya. Seiring dengan semangkuk bubur itu mengisi lambungnya, Devin melihat wajahnya sedikit lebih segar.

“Jam berapa ayah menyuruhnya menghadap?” tanya Devin pada Marcus yang berdiri di sampingnya. Devin duduk di sebuah kursi kayu, berjarak dua meter dari gadis berambut coklat pekat di hadapannya. Meyakinkan dirinya, bahwa dialah wanita yang sama dengan wanita yang berada dalam fotonya.

“Setelah tamu dari Gedung Walikota pulang, Tuan.”

Devin melipat tangan. Sebenarnya dia berusaha menahan kantuk yang masih belum terbayar lunas. Marcus membangunkannya karena keputusan Andrew yang sejalan dengan perintahnya tadi pagi. Menjadikan gadis berambut coklat ini pelayan pribadi Andrew.

“Siapa lagi yang tahu tentang dia?” tanya Devin setengah berbisik pada Marcus.

“Irene dan Sabrina.”

Devin menatap pelayan yang sudah selesai menyuapi gadis berambut coklat--Irene.

“Irene, aku minta kamu merawat dia sampai sembuh. Aku yakin dia belum begitu kuat untuk menjadi pelayanku. Jadi kuminta, kau membantu dia. Aku akan memberikan fee tambahan untukmu sampai dia sembuh.” Devin melihat senyum gembira mengembang di wajah Irene. Dia mengangguk lalu pamit keluar kamar.

Devin mengangkat kursi, memperpendek jarak dengan tamu di depannya.

“Siapa namamu?”

Gadis berambut coklat itu mengangkat dagunya, hingga sepasang netra coklatnya bertatapan dengan manik mata Devin. Beberapa detik, dan Devin merasakan ada yang merayap halus di dadanya. Dia tidak memahami, apa itu. Tapi rasanya menggelitik.

“Amanda.”

Suaranya terdengar lemah, namun jelas. Devin mengangguk. Dia tahu, gadis di depannya berbohong, tapi dia akan mengikuti permainannya. 

“Hanya Amanda?” tanya Devin

“Amanda … Harper,” ucap gadis itu kemudian, sedikit tersendat.

“Bagaimana kamu mendapat luka itu? Dan kenapa datang ke sini? Ada klinik kesehatan, tidak jauh dari sini.”

Amanda menggeleng. “Aku tidak mau mereka membunuhku.”

“Siapa?”

Gadis itu menunduk, menatap lengannya yang dibebat perban. “Orang yang menembakku.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status