8. Gadis Tanpa Selimut

Marcus melirik Irene. Wanita separuh baya itu sangat hafal tabiat anak majikannya. Semakin dilarang, dia justru akan semakin melawan. Beda dengan Devin yang penurut, bahkan pada anjuran pelayan.

Seperti dugaan Marcus, larangan Irene membuat Levin justru melangkah lebar menuju ruang kerja ayahnya, yang terletak di bawah kamar tidur Andrew Chayton. Marcus melirik Irene, memintanya membantu Devin di kamarnya. Amanda pasti membutuhkan bantuan. Sementera Marcus mengikuti langkah Levin menemui ayahnya.

Lelaki muda itu, membuat Marcus selalu keheranan. Seolah dia mempunyai memory yang sangat pendek. Kejadian kaca jendela pecah itu, bila Devin yang mengalami, akan membuatnya mengurung diri di dalam kamar selama sepekan. Tak hendak menyahut bila ayahnya memanggil.

Namun tidak bagi Levin. Meski seluruh pelayan begitu khawatir, dia seolah melihat kucing lewat di depannya. Sama sekali, tidak teringat apa yang sudah terjadi, apalagi mengambil sikap atau prinsip. Pantas saja, wanita-wanita berseliweran dalam hidupnya, karena dia memang tidak pernah memasukkan dalam hati apapun kejadian yang membuat gadis-gadisnya patah hati.

“Mana Devin?” tanya Levin pada Marcus sebelum membuka pintu ruang kerja ayahnya.

“Tuan Devin sedang istirahat, Tuan. Semalam beliau …”

“Lihat kembang api lagi? Huh. Lain kali kau harus membuat kembang api sendiri di halaman rumah kita Marcus.”

Marcus hanya mengangguk hormat. Setelah memastikan Levin masuk dan menutup pintu ruang kerja ayahnya, Marcus bergegas masuk ke dalam kamar Devin dan mengunci pintunya. Tuan mudanya tampak kebingungan mengamati Irene yang berusaha membuka baju Amanda. Seragam Mansion Batista yang dikenakan Amanda semakin pekat warnanya, karena lukanya semakin deras mengalirkan darah.

Irene sudah membuka baju Amanda, membuat Devin membalikkan badan. Sempat melihat bahu Amanda yang putih polos dan kembali menerbitkan desiran aneh di dadanya. Baru kali ini ada perempuan hanya memakai pakaian dalam di kamarnya. Sejak kecil, dia tak pernah dekat dengan wanita selain pelayan yang silih berganti. 

“Pakaikan selimutku, Irene,” perintah Devin gugup sembari menghadap lemari pakaian. Marcus meliriknya sembari tersenyum, lalu membantu Irene menyelimuti Amanda. Perban di lengan gadis itu sudah memerah, dan darah mengalir hingga ke tangannya. Sprei putih Devin pun memerah.

“Sepertinya, kita harus membawa dia ke rumah sakit, Tuan,” ucap Marcus, mendekati Devin yang masih memunggungi ranjang. Devin melirik ke belakang, dan dilihatnya Amanda sudah berselimut. Hanya bagian bahu dan lengannya yang terbuka dengan darah segar memerahi sprei. Irene membereskan pakaian Amanda dengan cekatan, juga membuka sepatu gadis itu. Semua yang dikenakan Amanda hari ini adalah pakaian Irene. Untung saja ukurannya sama. 

Devin mendekat dan menggenggam dagunya, berpikir keras. Melihat kondisi Amanda, gadis itu bisa kehilangan banyak darah. Wajahnya sudah semakin memucat. Bahkan lukanya bisa jadi akan mengalami infeksi. Tapi, mengantar gadis itu ke rumah sakit, sama saja dengan melanggar ketentuan The Vow. Devin yakin, banyak mata sedang mencari gadis ini. Komisaris bukan tanpa alasan mendatangi Mansion Batista dan meminta pertolongan keluarga Chayton untuk bekerja sama. 

Mansion ini adalah pemukiman terdekat dari lokasi kecelakaan--seperti yang disebutkan Komisari Hoggart. Devin sendiri belum memastikan apakah kecelakaan yang dimaksud Hoggart adalah TKP pekerjaan kecilnya. 

Sekeliling Mansion adalah perkebunan dan ranch. Sebagian milik Chayton adalah yang menuju ke arah kota, tepat di sebelah utara, memanjang dari selatan. Di selatan, baru ada perumahan penduduk lokal. Mansion Batista ibarat gerbang pertama dari arah kota menuju pemukiman penduduk desa.

The Vow, sudah pasti sedang kebakaran jenggot. Karena targetnya tidak ada di TKP, baik hidup ataupun mati. Mereka akan mengerahkan pekerja lain dan menepikan Devin.

“Saya yang akan mengantarnya Tuan ….”

“Tidak,” tukas Devin memotong kalimat Marcus. “Dia sudah meminta pertolongan pada kita. Membawanya keluar dari sini sama saja dengan menyerahkan dia pada siapapun yang mengejarnya di luar sana.”

Kamar menjadi senyap.

“Mungkin dokter Bella bisa membantu?” tanya Marcus. “Kita bisa mengatakan kalau pelayan baru Tuan Devin terluka dan membutuhkan pengobatan. Sedangkan dia tidak mungkin keluar dari Batista karena kondisinya yang masih lemah, akibat keguguran.”

Devin mendelik. “Keguguran?”

“Itu cerita yang dia sampaikan pada Tuan Andrew, makanya dia diterima.”

Devin mendekati tempat tidur dan mengamati Amanda yang memejam mata dengan rapat. Alis lebatnya nyaris beradu, dia mengernyit kesakitan dalam pingsannya. Irene sudah membalurkan minyak gosok untuk menghangatkan badannya, tapi dia belum siuman.

“Apalagi yang dia ceritakan?”

“Suaminya berselingkuh dan kabur dengan selingkuhannya saat dia hamil. Dia depresi dan keguguran. Dan saat ini dia perlu pekerjaan agar bisa makan.”

Devin memindai wajah Amanda. Apa benar gadis ini sudah menikah dan pernah mengandung? Devin sama sekali tidak bisa mengetahui hal itu hanya dengan melihat wajahnya.

“Bila kita memanggil Bella, dia jelas akan curiga. Seorang dokter pasti tahu, bekas luka seperti itu disebabkan oleh apa. Dan aku tidak ingin Bella terjebak dalam situasi yang kurang menyenangkan, apabila nanti Dokter Cleve mengkonfirmasi kondisi kesehatan Amanda. Dia pasti tahu, gadis ini habis keguguran atau tidak.”

Marcus terdiam. Sepertinya, Devin tidak akan bisa menghindari hal itu. Bella selalu menyerahkan pasien manusia dalam kondisi gawat ke ayahnya. Karena dia dokter hewan.

“Hm, mohon maaf, Tuan. Tuan Andrew tadi menelpon dokter Artwater dan memintanya datang untuk memeriksa luka Tuan Levin. Sekalian, hari ini memang jadwal kunjungan beliau untuk mengecek kondisi kesehatan semua pelayan.”

Devin melirik Marcus tajam, seolah berkata kenapa Marcus baru memberitahunya sekarang.

“Sekarang akhir bulan, Tuan,” jawab Marcus sembari mengangguk hormat.

“Sial!” maki Devin. Kenapa dia bisa lupa kalau sekarang akhir bulan. Ayahnya selalu mendatangkan dokter Cleve Artwater untuk memeriksa kondisi kesehatan seisi Mansion Batista. Dan tentu saja Bella Artrwater harus ikut untuk memeriksa kondisi kesehatan beberapa kuda dan hewan penjaga peternakan dan perkebunan. Biasanya para pekerja sudah mengisolasi beberapa ternak yang sakit di akhir bulan.

“Tidak ada yang boleh tahu kondisi Amanda, Marcus.”

Marcus menanti kalimat selanjutnya. Tapi majikan mudanya itu tampak berpikir lebih keras. Dia mondar mandir di dalam kamar, sembari melipat satu tangan di ketiak dan tangan satunya meremas dagu. Marcus sangat hafal bahasa tubuh Devin sejak kecil. Dan dia tidak ingin menyela apapun yang berkecamuk dalam kepala majikannya, kecuali diminta.

“Masukkan dia ke mobilku.”

“Tuan mau membawanya ke rumah sakit? Atau ke klinik dekat perumahan penduduk.”

Devin tidak menjawab. Dia mendekati Amanda, tepat saat gadis itu membuka mata. Dia hanya bisa terdiam ketika Devin membopongnya, beserta selimut lebar yang menutupi dirinya.

“Marcus. Siapkan mobilku dan jangan sampai ada yang tahu.”

Amanda merasa tubuhnya begitu hangat dalam bopongan tangan yang kokoh itu. Aroma lembut dan segar menguar dari dada Devin, membuatnya merasa sangat nyaman. Sakit luar biasa di tangannya seakan hilang ketika dia menyandarkan dadanya di dada bidang Devin.

Dalam sekejap, setengah berlari Devin membopongnya. Marcus membukakan pintu mobil dan mereka kesulitan memasukkan Amanda di kursi belakang dengan selimut lebar melingkupinya.

“Sepertinya selimut ini harus dibuka, Tuan.” Tanpa mendapat persetujuan majikannya, Marcus langsung menarik selimut yang menutupi Amanda membuat gadis itu merintih, entah karena  terkejut atau selimut itu menggores lukanya. Devin merasa jantungnya berlompatan melihat Amanda hanya mengenakan pakaian dalam. Dia tertegun beberapa detik menatap sepasang mata pekat Amanda yang membeliak menatapnya. Sejurus kemudian matanya bergerak turun dan melihat Amanda dalam dekapannya tanpa selimut.

“Tuan, sepertinya anda harus bergegas.” Marcus menepuk bahunya, menyadarkan majikannya. Dia tahu, ini pertama kalinya Devin memeluk wanita dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Pasti jiwa lelakinya memberontak tak karuan.

Devin memasukkan Amanda di bangku belakang. Meraih selimut di tangan Marcus dan menyelimuti Amanda hingga ke lehernya. Lalu bergegas menghidupkan mobil dan melaju kencang meninggalkan garasi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status