Shadow
Shadow
Author: Fit
01. Anak Pemberani

Di tengah dinginnya kota Buford, terlihat seorang anak berbaju lusuh tengah bersimpuh di atas gundukan salju. Beberapa anak datang mengenakan pakaian mewah dan mulai mengerumuninya.

"Kau yang merusak sepedaku! Cepat akui kesalahanmu!" ujar salah satu anak yang bernama Ryan.

Anak itu menggelengkan kepalanya. Ia masih terus pada pendiriannya. Hal itu membuat mereka menjadi geram. Salah satu dari mereka mulai melayangkan tendangan ke arah perut si anak berbaju lusuh itu hingga ia tersungkur. Anak-anak lainnya ikut berpartisipasi dengan mendaratkan pukulan dan tendangan kepada anak berbaju lusuh tersebut.

"Kau hanya orang miskin. Tugasmu hanyalah bersujud dan memohon!" ujar Ryan.

Anak berbaju lusuh itu lagi-lagi menggeleng. Bahkan ia melemparkan salju ke arah Ryan. Mendapat perlakuan seperti itu, Ryan segera mengambil sebatang kayu lalu menghantamkannya ke tubuh anak tersebut.

"Mati kau, Jason!" Teriak Ryan.

"Haaaah ...."

Helaan nafas lolos begitu saja saat ingatan masa lalu nya tiba-tiba muncul. Ia menghentikan BMW i8 Roadsternya saat melihat seorang anak tengah dipukuli dengan teman-temannya. Jason menatap anak itu dari dalam mobilnya. Tak ada niatan untuk membantu, hanya sekedar melihat sekilas karena waktu sudah cukup larut malam. Tubuhnya juga sudah sangat lelah. Jason pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah.

~~~

Keesokan harinya saat Jason hendak pergi bekerja, ia memilih jalan yang sama seperti kemarin. Ia mengurangi kecepatan mobilnya saat melihat sosok yang tidak asing. Lagi dan lagi ia melihat anak itu dalam keadaan yang sama. Ia menghentikan mobilnya lalu keluar. Anak itu menatap Jason dengan mata yang mulai membengkak. Darah segar perlahan mengalir dari hidungnya.

Bugh!

Anak itu terbatuk saat sebuah pukulan keras mendarat di perutnya. Tanpa disadari sudut bibirnya tertarik hingga membentuk senyuman.

"Tunggu aku," gumam Jason pelan sambil tersenyum ke arah anak itu.

Jason segera menghampiri mobilnya dan bergegas menuju tempat kerjanya. Sejak berusia 9 tahun, Jason meninggalkan Buford dan mulai menetap di Chicago bersama orang tuanya. Jason juga mendapatkan pekerjaan sebagai dosen di universitas milik ibunya.

Tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat kerjanya dengan mengendarai BMW kesayangannya tersebut. Kini ia sudah tiba di University of Chicago. Ia keluar dari mobilnya dan disambut hamparan rumput hijau yang tertata rapi.

"Selamat pagi, Mr.Niko."

Begitu banyak sapaan dari mahasiswa dan mahasiswi disana. Jason hanya menanggapi nya dengan senyuman. Sejak menjejakan kaki nya di Chicago, ia resmi mengubah namanya menjadi Niko Alexander karena suatu hal. Jason memasuki gedung luas tersebut, lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan ibunya.

"Nik."

Jason menolehkan kepalanya saat mendengar seruan tersebut. Ia melihat wanita cantik dengan keriput di wajahnya itu sedang tersenyum. Dia adalah ibu Jason yang bernama Eliza. Jason tersenyum dan menghampiri ibu nya.

"Aku baru saja ingin ke ruanganmu, Mom," ujar Jason.

Eliza tersenyum dan memberikan setumpuk kertas yang sudah ia siapkan.

"Jangan pulang sebelum tugasmu selesai," ujar Eliza.

Jason menyambar tumpukan kertas itu dengan malas dan melangkahkan kakinya entah menuju kemana.

~~~

Jason tak bisa berhenti tersenyum di dalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.

"Semoga kau belum mati," gumam Jason.

Tak lama, ia sudah berada di tempat tujuannya. Ia melihat anak yang dipukuli itu sudah terkapar lemah seorang diri. Jason nampak kecewa karena tidak menemukan anak lainnya.

"Dimana teman-temanmu?" Tanya Jason.

"Me—mereka, di—sana ...," jawab anak itu dengan terbata-bata dengan tangan yang menunjuk ke seberang jalan.

Jason duduk di samping anak itu. "Apa mereka akan kembali?"

Anak itu mengangguk, lalu Jason tersenyum.

Tak lama kemudian, datang 3 anak dengan membawa balok ditangannya. Jason tersenyum lebar dan menghampiri mereka.

"Berbaikanlah. Aku tidak suka ada keributan," ujar Jason.

Cuih!

Salah satu dari anak itu meludahi sneakersnya yang berharga 362 juta. Jason hanya tertawa melihat kelakuan anak tersebut.

"Ini sebabnya aku menyukai anak kecil," gumam Jason.

Jason menarik anak tersebut ke sebuah jalan yang sepi. Kemudian anak-anak lainnya mulai mengikuti mereka, terkecuali anak yang terluka parah. Setibanya mereka di jalan yang sepi, Jason memamerkan senyumannya kepada 3 anak tersebut.

"Berhenti ikut campur, Paman. Bersikaplah seperti orang dewasa," ujar anak yang meludahi sepatunya.

Jason terdiam, senyuman sirna dari wajahnya. Tergantikan dengan ekspresi datar dan tatapan mata yang menusuk. Jason menggulung tangan kemejanya yang berwarna putih. Terlihat sebuah perbedaan di sekitar sikunya.

"Aku sangat menyukai anak-anak pemberani. Kalian mengingatkanku pada teman-temanku," ujar Jason.

Anak-anak tersebut nampak tidak mengerti ucapan Jason. Mereka menatap Jason dengan mata berapi api. Hingga salah satu dari mereka mulai berlari menerjangnya dengan penuh semangat. Anak itu melayangkan baloknya ke arah Jason. Namun karena gerakannya begitu lambat, Jason dapat menghindarinya dengan mudah. Sebenarnya tanpa menghindar pun Jason tidak akan terluka hanya karena serangan lemah tersebut.

"Hei, kalian tidak adil. Aku sendiri dan kalian bertiga, dan lagi kalian membawa senjata. Sangat tidak fair play," ujar Jason.

Mereka nampaknya mengerti ucapan Jason dan melempar balok yang berada di tangan mereka. Jason terkekeh pelan melihat anak-anak sok kuat yang ada di hadapannya. Jason mulai bergerak mendekati anak yang menyerangnya. Kemudian ia meraih tangan kanan anak tersebut.

"Kau pernah kidal?" Tanya Jason tiba-tiba.

Anak itu masih terdiam dan tidak mengerti ucapan Jason.

"Jika tangan kanan tidak berfungsi, maka kau harus menggunakan tangan kiri bukan? Kau bisa memukulku dengan tangan kanan, tapi bagaimana jika tangan kanan mu tidak ada?" Lanjut Jason masih terus membingungkan anak tersebut.

Krakk!

"Aaarggh!!!" Jerit anak itu sangat keras saat pergelangan tangannya ditekuk ke arah berlawanan.

Jason segera meraih batu berukuran sedang yang berada cukup dekat dengan kakinya. Lalu ia menyumpalkan batu ke mulut anak tersebut untuk menghentikan teriakannya.

"Katanya, kau tidak akan bisa menulis jika salah satu jarimu patah. Aku masih penasaran tentang kebenaran hal itu," gumam Jason.

Anak itu terdiam menahan sakit di pergelangan tangannya. Ia sudah tidak mendengarkan racauan Jason. Akhirnya Jason kembali melanjutkan aktivitasnya untuk membuktikan kebenaran. Jason menekuk jari tengah anak itu hingga patah. Anak itu hendak berteriak, tapi berkat batu yang ada di mulutnya, ia pun hanya bisa menjerit di dalam hati. Jason tak bisa menahan lengkungan di bibirnya. Ia sangat menikmati saat saat korbannya merasakan sakit. Ia mengalihkan pandangannya ke arah 2 anak lainnya. Mereka sedang sibuk menggeser layar ponselnya untuk meminta bantuan. Jason berjalan mendekati mereka, lalu ikut bergabung menatap ponsel seolah tidak terjadi apapun.

"Kalian tau bagaimana menghubungi polisi?" Tanya Jason.

Kedua anak itu menoleh ke arah Jason. Mereka nampak bingung menjawab pertanyaan Jason.

"Hey, kalian ini tidak sekolah? Menghubungi polisi saja tidak bisa. Telepon 911," ujar Jason.

Jason segera menyambar ponsel tersebut dan mengetikan nomor 911 dimenu telepon. Kedua anak itu merasa lega karena Jason akan menyerahkan dirinya ke polisi. Namun diluar dugaan, Jason melempar ponsel tersebut tepat ke wajah anak yang meludahi sneakers mahalnya. Darah segar pun mengalir di hidungnya. Jason terkekeh melihat anak tersebut tidak bisa menahan tangisannya.

"Aku sangat menyukai anak manis seperti kalian. Mau ikut pulang bersama ku? Kebetulan hewan peliharaanku baru saja mati," ujar Jason.

Ketiga anak itu menggeleng, namun itu hanya seperti anggukan di mata Jason. Lalu ia menyeret ketiga anak itu menuju mobilnya yang terletak di sisi jalan.

"Aku tidak sabar ingin membuat kostum baru untuk kalian."

To be continue..

Comments (1)
goodnovel comment avatar
hirmaayantii
bener" bikin pusing kalo di film in pasti bikin gila
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status