The Line Between Us
The Line Between Us
Author: Risna Pramesti
01

Fatmawti-Jakarta Selatan, 2004

Mia nyaris menangis. Pipinya terasa panas dan dia tahu, pasti juga berawana merah padam. Tangannya terlihat gemetar sibuk mencari satu dokumen fotokopi yang hilang. Di sudut Sekolah Menangah Atas itu, gadis yang bernama lengkap Hanamia Kagumi dibantu ibunya membolak-balik kertas lain dan hasilnya masih nihil.

"Kan, Mama udah bilang. Sekolah yang deket-deket rumah aja. Gak nurut, sih!" Ibunya Mia, terus mengomel sedari tadi. Sedangkan anak gadisnya hanya bisa menunduk tak bisa menjawab, karena sadar bahwa ini memang kesalahannya.

Sebulan yang lalu Mia baru lulus SMP. Tapi hingga kini dia belum mendaftar sekolah. Padahal pendaftaran tahun ajaran baru sudah hampir habis dan minggu depan kegiatan belajar mengajar akan dimulai. Semua itu karena ada negosiasi alot anatara Mia dengan orang tuanya. Mia anak bungsu dari dua bersaudara itu, ingin sekolah di Jakarta. Dia ingin mandiri katanya. Sedangkan orangtua mia bersikukuh tak mengijinkan. Bagi mereka, jarak anatar Pamulang dan Jakarta Selatan yang paling dekat, itu sudah terlalu jauh. Dengan berat hati Mia mengalah. Akan tetapi semua sudah terlambat. Rasanya semua sekolah di daerah Pamulang-Ciputat sudah ditelusuri Mia bersama orang tua dan ternyata semua sudah tutup pendaftaran.

Pilihan pun jatuh pada SMA BAKTI NUSA yang berlokasi di Fatmawati. Alasannya bukan karena lebih dekat ke rumah, melainkan karena dekat dengan kantor tempat ayah Mia bekerja. Jadi Mia tak perlu naik angkutan umum untuk pergi dan pulang sekolah. Mereka akhirnya meraih kata sepakat. Untung saja pihak sekolah masih membuka pendaftaran.

Sayangnya Mia kembali dalam masalah. Dia terancam untuk tidak bisa melanjutkan sekolah karena hari ini terakhir pendaftaran. Sedangkan fotokopi ijazah SMP Mia hilang entah kemana! Padahal seingat Ibu Yenny, kertas itu selalu ada di dalam plastik bersama dokumen lain. Ibu dan anak itu makin panik mencari dikumen yang hilang.

"Coba kalau dari awal nurut! gak bakal nih, kaya begini! Sekarang kalo gak ketemu gimana? Balik ke rumah dulu, kan, gak mungkin!" Mamanya Mia terus mengomel. 

Karena kesal dan panik yang makin menjadi, Mia akhirnya berdiri. Dia menunduk ke bawah bangku kayu tempat mereka duduk. Lalu celingak-celinguk dan melempar pendangan sejauh mungkin, berharap melihat seonggok kertas entah di ujung yang mana. Tapi sepanjang penglihatan Mia, semua lantainya bersih. Akhirnya dengan berat hati Mia harus mengetari sekolah. Mia yakin ibunya tak lupa membawa semua dokumen. 

Mia mulai berjalan meninggalkan ibunya. Sesekali dia masih menengok, karena Si Anak Manja ini jelas takut mengitari tempat asing yang terbilang sepi. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Masa dia jadi putus sekolah hanya karena fotokopi ijazah yang hilang. Jika perlu dia juga akan mencari ke luar sekolah. Bisa saja terjatuh saat mereka baru tiba tadi, bukan?

Sepanjang pencarian Mia berusaha untuk tidak nangis agar bisa fokus. Namun tetap saja dia panik hingga tangan kakinya terasa dingin. Dia bahkan tak peduli dengan seorang pria yang duduk di bangku kayu di depan sebuah ruangan. Jika laki-laki yang Mia duga seorang guru itu melihat muka paniknya saat ini dia juga tak peduli. Mia terus saja berjalan  sambil mengigit bibir bawah. Laki-laki itu nampak berdiri setelah Mia melewatinya, lalu dia masuk ke dalam sebuah ruangan.

Mia terus berjalan hingga mulai merasa capek. "Kayanya gak mungkin kertas itu ada di lantai atas," gumam Mia yang ngos-ngosan setelah mengitari sekolah hingga sudut paling gelap sekalipun. Akhirnya Mia memutuskan untuk balik arah dan mencarinya di luar pagar sekolah. 

Belum lama berjalan, Mia melihat laki-laki yang tadi. Kebetulan tatapan mereka bertemu. Kali ini pria tersebut langsung menghampir Mia. Sedangkan Mia yang merasa aneh, terus saja melangkah.

"Ini gak beres! Ngapain dia ngikutin??" Mia mulai ketakutan saat menyadari pria yang mengenakan kemeja cokelat dengan lengan digulung setengah itu mengikutinya. 

Langkah Mia kian cepat untuk menghindari Si Pria saat akan melewati lorong kelas yang sepi. Tapi dia terus mengikui Mia. 

"Hanamia!" seru lelaki itu, "kamu Hanamia, kan?"

Mia menoleh entah untuk ke berapa kali. Tapi yang sekarang membuat Mia makin ketakutan. "Darimana dia tau namaku?"

"Tunggu! Ini ijazahmu, kan?"

Mia langsung berhenti dan berbalik badan. "Kok?" Hanya itu yang keluar dari mulut Mia.

Pria itu menghampiri Mia yang diam mematung sambil membawa kertas di ke dua tangannya.

"Hanamia Kagumi." Dia membaca nama Mia pelan-pelan, persis di hadapan Mia.

"Nama yang bagus. Punyamu, kan?" Pria itu menyodorkan sebuah kertas.

Mia melirik kertas itu sebelum mengambilnya. Benar, itu fotokopi ijazah Mia yang hilang. Apakah Mia harus senang? Dia tidak tahu pasti. Perasaannya begitu campur aduk. Setelah dibuat panik mencari kertas, sedetik yang lalu dia ketakutan setengah mati karena diikuti oleh pria asing.

"Tadi, ada OB yang menemukannya. Terus dia kasih ke saya." Pria itu menjelaskan. Sementara Mia diam saja memandangi ijazah di tangannya. "saya cari di data komputer, ternyata gak ada."

Mia masih diam memandangi kertas di tangannya. Dia seoalh tidak menganggap lelaki di hadapoannya itu ada. Tak lama air mata Mia mulai menggenang.

"Lho, kamu, kok, nangis?" Laki-laki yang berusia tujuh tahun lebih tua dari Mia agak kaget.

"HUAAAAA..." Tangis Mia tiba-tiba pecah seiring dengan tangannya yang turun.

"Eh, lho. Jangan nangis!" Laki-laki itu mulai panik sambil celingukan. Khawatir ada yang melihat dan terjadi salah paham.Tapi Mia tak juga meredakan tangisnya.

Mia masih tersedu, sampai penjaga sekolah yang ruangannya ada di paling ujung lorong sana--tepat di depan kantin, memunculkan kepalanya dari dalam. Pak Seno, nama penjaga sekolah itu langsung menghampiri. Sedangkan Si Pria, sudah pasrah dengan apapun yang Pak Seno pikirkan.

"Kenapa, Pak?" Tanya Pak Seno dengan santai. Tapi sesantai-santainya, tetap saja membuat pria itu gusar melihat sosoknya.

"I-ini. Tadi OB nemuin kertas fotokopi legalisir ijazah SMP punya dia. Terus saya kasih, eh, dia malah nangis." Pria tersebut menjelaskan panjang lebar.

"Lho, kenapa nangis?" Pak Seno bertanya pada Mia.

"Soalnya, hari ini terakhir pendaftaran. Kalo gak ketemu, saya bisa gak sekolah. Minggu depan kan udah mulai belajar," jawab Mia sesegukan.

"Oooalaahh." Ke dua pria merespon bersamaan.

"Ya, udah. Kan, sekarang udah ketemu. Yuk, saya antar," Ujar laki-laki bertubuh tinggi dan kurus itu.

Mia mengangkat kepala, lalu menatap Si Pria lekat-lekat dengan mata bulatnya yang masih berkaca-kaca. Mia menaruh curiga, karena dia tadi malah mengejarnya diam-diam bukannya langsung memanggil. Tapi, siapa sangka, tatapan itu mampu membuat hati sang guru berdesir.

"Udah, tenang aja. Saya bukan orang jahat. Ya, kali orang jahat pakai baju rapih begini di lingkungan sekolah," kata Si Pria sambil membungkukan badannya yang tinggi hingga wajahnya dekat dengan wajah Mia.

Perlakuannya itu hampir membuat jantung Mia berhenti mendadak. Belum pernah ada laki-laki yang mendekatkan wajahnya sampai sedakt ini. Apalagi kalau dilihat-lihat, dia manis juga. Eh, bukan. Tapi sangat manis.

Mia mengangguk samar, memalingkan badan dan berjalan begitu saja tanpa pamit dengan Pak Seno yang tersenyum penuh arti. Sedangkan sang guru langsung mengiringi langkah Mia.

Sepanjang perjalanan yang tak sampai satu menit itu, Mia hanya diam dan menunduk. Sedangkan laki-laki di sampingnya berjalan santai. Sebenarnya Mia ingin bilang makasih, tapi saat melihat gaya guru muda di sebalahnya yang tergolong keren, nyali Mia menciut.

Saat sudah hampir sampai ke ruang pendaftaran, Mia berhenti. Guru muda di sebelahnya pun berhenti dan memperhatikan Mia yang buru-buru menghilangkan jejak bekas dia menangis. Mamanya Mia bisa ngamuk sama laki-laki yang mengantarkan Mia kalau melihat hidung merah, dan sisa air mata di wajah Mia. Baru setelah itu Mia berani menghampiri mamanya ditemani sang guru.

"Ketemu?" Tanya ibu Mia yang langsung berdiri.

Mia mengangguk sambil menyodorkan kertas.

"Alhamdulillah," ujar mamanya Mia, "makanya nurut! Dibilangin sekolah deket rumah aja!" lanjutnya sambil mengecek ijazah.

Lelaki di sebelah Mia tersenyum simpul lalu berkata, "Ibu tenang saja. Sekolah ini adalah tempat yang tepat untuk anak ibu."

Semburat merah langsung menguar di pipi ibu Mia. "Eh, maaf, Pak. Saya kira gak ada siapa-siapa. Maksud saya jaraknya terlalu jauh kalau sekolah di sini, pak. Belum lagi tawurannya."

"Oh, Ibu tenang saja. Kami ada layanan khusus untuk melindungi anak murid kami dari tawuran. Saya yang jamin Hanamia akan aman. Saya langsung yang akan menjaganya."

Bagai balon tiup yang bocor, perasaan Mia langsung terbang ke sana kemari mendengar kalimat barusan.

"Ya udah bagus kalau begitu." Ibu Mia merasa tak enak untuk menyangkal.

"Kalau begitu silahkan langsung masuk ke pendaftaran," ujar lelaki tersebut, "saya pamit dulu, ya."

Mia ditemani mamanya masuk ruang pendaftaran, dan lelaki itu kembali ke ruangan.

Sepanjang proses mendaftar, Mia tak hentinya memikirkan laki-laki tadi. Hati kecilnya sibuk sekali bertanya, siapa dia? Apa dia guru? Tapi, masa semuda itu? Atau dia karyawan di sini? Lalu, perasaan bahagia macam apa ini?

Hanamia Kagumi, hidupmu akan berubah sebentar lagi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status