Kisah Kasih Perjodohan
Kisah Kasih Perjodohan
Author: Meyyis
Hampir Bertemu

Judul : Dipertemukan

Seorang wanita muda berusia duapuluh satu tahun. Dia berpakaian layaknya wanita berandalan. Kaos longgar dengan celana jeans sobek-sobek menjadi ciri khasnya. Motor gede dengan suara berisik baru saja masuk garasi, sehingga mamanya yang cantik jelita menutup telinganya karena kelakuannya.

“Zeline!” Kirana ibu Zeline sudah teriak tujuh oktaf karena putrinya tersebut. Hingga sore itu dalam rumah mewah tersebut sudah riuh rendah karena ulah dari Zeline. Wanita berambut panjang itu hanya cuek saja sambil mengunyah permenkaretnya dan sesekali meniupnya sehingga melembung dalam mulutnya.

“Hai, Mamaku yang semox.” Seperti biasa Zeline hanya nyengir dan menggoda mamanya yang sudah naik darah karena kelakuan putri tercintanya itu.

“Kurang ajar kamu sama orang tua. Tidak sopan!” Kirana memukul anaknya di pantatnya. Wanita itu rasanya dongkol memiliki putri yang tomboynya bukan main. Papa Zeline yang sedang membaca koran sorenya di teras belakang menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar istri dan anknya ribut-ribut.

“Ck, mereka berdua selalu saja ribut kalau bertemu. Yang satu sensitif, yang satu nyelelek.” Fakhri hanya dapat menghembuskan nafasnya pasrah.

“Ma, jangan suka marah-marah. Nanti kerutan nambah lho. Mama tahu tidak, kalau mama cantik tanpa marah. Tapi tambah seksi kalau lagi marah.” Zelin mengambil apel di meja kemudian berlari menaiki tangganya, karena memang kamarnya ada di atas.

“Zeline!” Kirana memegang dadanya sendiri yang kembang kempis karena kelakuan anaknya tersebut. Tapi Zeline hanya tertawa cekikikan melihat mamanya yang sangat marah karena digoda oleh dirinya.

“Ada apa, Ma? Jangan marah-marah mulu. Entar cantiknya hilang.” Fakhri masuk dan membujuk istrinya agar tidak marah-marah lagi.

“Ih, papa. Tau tidak itu si Zeline pulang-pulang bikin kesel.” Sedang berbincang satai di ruang keluarga, ponsel Fakhri terdengar nyaring di meja. Fakhri segera melihat layar yang berkedip-kedip, ternyata disana terlihat nama tertera di layar ponselnya. Dia tersenyum dan langsung menscrol tombol warna hijau itu.

“Hallo, selamat sore, Angkasa apa kabar?” Fakhri dengan sumringah menyambut sahabat lamanya tersebut.

“Selamat sore, Fakhri. Gue mau nagih janji lo. Katanya mau jodohin anak-anak kita. Gue mau kerumah lo bertemu dengan anak lo.” Fakhri dengan semangat menyambutnya. Sedangkan Kirana yang mendengarnya disampingnya hanya mengerutkan keningnya saja. Mereka berbicara sangat lama membicarakan tentang kelebihan dan kekurangan anaknya masing-masing.

Senja telah tiba, malam telah datang. Zelin turun dengan pakaian dan dandanan ala roker. Jaket ulit sepatu boot dan celana amburadul. Wanita itu turun dari lantai dua.

“Zeline, bisa tidak sih jangan memakai seperti itu? Pakai pakaian tidak pernah benar.” Kirana mengkritik putri kesayangannya itu soal pakaiannya.

“Ini gaul, Ma. Mama sih, jadi anak mami terus. Jadi wanita itu harus strong, dan berwibawa di depan laki-laki. Jangan menyek dan lemah, hingga diperbudak laki-laki.” Zeline duduk di depan papanya dengan kaki diangkat satu.

“Zeline, sejak kapan kamu tidak sopan. Turun kakimu!” Kali ini Fakhri yang bicara. Lelaki itu ikut naik pitam karena putrinya duduk tidak sopan.

“Tidak usah teriak napa? Zeline masih waras tidak budeg. Kalau kalian marah-marah nanti kerutan nambah nggak cantik lagi, nggak ganteng lagi. Entar mama ngelirik cowok-cowok ganteng yang ada di mall lho, Pa.” Seharusnya Fakhri marah. Tapi malah terdengar lucu di telinganya hingga dia malah tertawa.

“Zeline! Emang bener-bener nih anak. Nggak ada sopan-sopannya sama orang tua.” Kirana meletakkan capcay yang baru saja matang. Kirana duduk di sebelah Fakhri dan mulai mengambilkan nasi untuk Fakhri. Sedangkan Zeline mengambil nasi sendiri. Dia menyingkirkan sendok dan garpunya, makan menggunakan tangan.

“Zeline? Apa yang kau lakukan?” tanya Kirana.

“Tudur! Makanlah, Ma. Memang mau apa?” Zeline dengan santai memungut nasi dan memasukannya ke mulut.

“Iya, mama tahu. Tapi kenapa menyingkirkan sendok?” Zeline cuek saja. Dia melanjutkan makannya sambil sesekali menjilati ujung jarinya yang terdapat bulir nasi dis ana.

“Ini ya, Ma. Saya kasih tahu. Kata pak ustad, sunah kalau makan pakai tangan. Jadi aku hanya ingin dapat pahala saja.” Zeline memang benar. Selama sering ikut pengajian, dia mulai melakukan sunah.

“Ck, tetap saja jorok. ... kau ini menjilati jemarimu seperti itu.” Fakhri menghembuskan nafasnya sangat jera mendnegar dua bidadarinya selalu saja bertengkar seperti itu.

“Sudah, tidak baik berisik di depan rejeki. Makan yang benar. Kamu juga Zeline dan mama. Papa pusing setiap saat mendengar kalian berdebat.” Setelah Fakhri angkat bicara, anak dan mama itu diam. Mereka menikmati makanan mereka masing-masing. Sedagkan Zeline masih dengan gayanya yang makan tanpa sendok. Mereka makan dalam diam. Setelah makan, Zeline pamit sama kedua orang tuanya untuk pergi.

“Mau kemana?” tanya Fakhri sang papa.

“Zeline ada manggung, Pa. Pamit, Ma.” Zeline menyalami mamanya dan mencium pipi kiri dan kanan.

“Hati-hati. Ngapain kamu masih kerja nyanyi sih? Apa uang dari papa dan mama kurang?” tanya Kirana.

“Bukan begitu, Ma. Ini passion. Bicaranya nanti lagi ya, Ma. Takut telat. Da mama-papa.” Zeline keluar setengah berlari.

“Pulangnya jangan malam-malam.” Teriakan Kirana tidak di gubris lagi. Suara keras moge milik Zeline sudah terdengar. Kirana menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Dia paling sebal mendengar suara motor bising milik putrinya tersebut. Tapi mau bagaimana lagi? Sifatnya yang keras kepala membuat kedua sejoli itu pasrah. Makin ditentang makin menjadi. Demikian sifat Zeline.

Zeline menggendong gitarnya dengan angkuh di belakang. Dia menyusuri jalanan kota yang ramai lancar saat ini. Suara bising motornya berbaur dengan suara deru mesin kendaraan yang lain. Dia hampir saja tabrakan dengan mobil sport keluaran terbaru warna putih. Untung saja remnya pakem sehingga insiden itu tidak terjadi.

Orang dalam mobil itu melirik sedikit ke arah Zeline. Setelah itu tancap gas tanpaminta maaf sama sekali. Zeline merasa jengkel, tapi biarlah kali ini tidak dia gubris karena kali ini dia mau manggung. Zeline tancap gas lagi menuju ke tempat pertunjukan. Wanita itu mengerutkan keningnya melihat mobil putih tersebut ada di parkiran. Dia mengangguk-angguk, berarti yang mau tabrakan dengannya yang mengerem mendadak adalah pengunjung kafe ini juga.

“Hai, melamun saja. kita akan tampil sepuluh menit lagi. Cepetan siap-siap.” Zio teman satu bennya yang pegang gitar memperingatkan Zeline agar segera siap-siap. Zeline segera mengikuti Zio ke ruang ganti. Setelah siap dengan kostum manggungnya, dia keluar karena teman satu bandnya sudah ada di atas panggung.

“Satu buah lagu slow rock akan kami persembahkan. Yang suka lagu tahun sembilan puluhan, merapat segera.” Sebuah lagu mengalun merdu dari bibir mungilnya. Kini lagu slow rock mengalun merdu dengan iringan musik yang menggema. Semua penguncung terpesona dengan lantunannya, tidak terkecuali seorang pria muda yang duduk di bangku pojok paling depan.

“Aku menginginkan wanita itu, Dion!” Lelaki itu mengatakan kepada asisten pribadinya sekaligus sahabatnya. Karena memang tidak ada yang betah bekerja padanya, karena dia sangat dingin dan perfecsionis.

Dion sang asisten menuruti untuk bernegosiasi dengan manager kafe itu. Dia melangkah masuk ke dalam ruangan pimpinan untuk mendapatkan negosiasi agar dapat bertemu dengan Zea, nama panggung dari Zeline.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status