Part 3

Saat ini, Vanka, Sela, dan Lia sedang berada di mall. Sela dan Lia memaksa Vanka untuk pergi ke mall agar bisa bersenang-senang. Padahal, Vanka sudah mati-matian menolak ajakan mereka, tapi tetap saja kedua sahabatnya itu terus memaksanya dan akhirnya ia menuruti mereka.

"Jangan lama-lama ya. Soalnya gue masih mau ngerjain tugas Fisika," ujar Vanka.

"Ya ampun Van, hari ini libur loh. Masih aja lo mikirin tugas," sahut Lia.

"Iya. Kita kan mau senang-senang. Sekali-kali jangan belajar mulu. Kita juga butuh refreshing kali," timpal Sela.

"Iya gue tahu. Tapi kan kita ini udah kelas dua belas. Kita kelas ujian loh, harus persiapin diri sebelum ujian. Emangnya lo berdua gak mau lulus?"

"Udah lah gak usah mikirin itu. Kita mau lulus kok. Lo tenang aja. Gue yakin kita bakal lulus."

"Iya emang lulus. Tapi, kalau nilainya jelek gimana? Lo berdua mau nilai kalian jelek?"

"Udah deh nanti aja bahas nilainya. Sekarang kita senang-senang dulu." Lia menarik Vanka dan Sela menuju tempat game.

****

"Makasih ya, Tang lo udah mau nemenin gue shopping," ucap Lisa sembari tersenyum.

"Sama-sama. Kalau lo butuh bantuan gue, telfon aja," ucap Lintang.

"Serius?" tanya Lisa dengan wajah berbinar-binar.

"Iya. Serius."

"Makasih Tang."

"Em, gue ke toilet dulu, ya. Titip belanjaan gue."

"Oke."

Sembari menunggu Lisa, ia membuka ponselnya dan membalas beberapa pesan masuk.

Saat mereka bertiga sedang asyik bermain game, Lia tidak sengaja melihat Lintang.

Ia langsung menepuk pundak Vanka. 

Vanka yang sedang melempar bola basket untuk memasukkan bola ke dalam ring pun, menoleh pada Lia.

"Kenapa Ya?" tanya Vanka.

"Itu Lintang bukan sih?" tanya Lia sembari menunjuk ke arah Lintang yang sedang memegang ponselnya.

Vanka ikut melirik ke arah Lintang. 

"Iya. Itu Lintang. Gue ke sana dulu, ya." Belum sempat Lia dan Sela menahan Vanka, gadis itu sudah pergi mendekati Lintang.

"Lintang," panggil Vanka.

Lintang yang sedang sibuk dengan ponselnya pun mendongakkan wajahnya. Ia cukup terkejut karena ternyata Vanka yang memanggilnya.

"Kok lo di sini?" tanya Lintang pada Vanka.

Tentu saja Lintang merasa aneh karena Vanka yang tiba-tiba berada di mall. Ia tahu betul kalau Vanka sangat malas pergi ke mall. Gadis ini tidak begitu suka pergi ke mall untuk berbelanja kecuali untuk beli buku. Dan, Lintang tahu karena Vanka lebih suka menghabiskan waktunya di rumah untuk belajar.

Lintang ingat betul, waktu itu hari libur dan Lintang pergi ke rumah Vanka untuk mengajak gadis itu pergi ke mall menemaninya pergi membeli kado untuk sepupunya. Namun, Vanka menolak dengan alasan ingin mengerjakan tugas.

"Gue dipaksa Sela sama Lia ke sini buat main game. Lo sendiri ngapain ke sini?" tanya balik Vanka.

Lintang terdiam sejenak. Bagaimana ini? Apa ia harus menjawab yang sebenarnya? Tapi, bagaimana kalau nanti Vanka marah padanya?

Vanka melirik beberapa paper bag yang ada di samping Lintang.

"Lo habis belanja? Banyak banget belanjaannya. Udah kayak cewek aja," kekeh Vanka.

Lintang ikut melirik ke sampingnya. Belanjaan ini bukan miliknya, melainkan milik Lisa. Tapi, ia tidak berani mengatakannya.

"Tang, ayo gue udah selesai," ucap Lisa yang baru saja kembali dari toilet.

"Lisa?" Vanka menatap Lisa sedikit terkejut.

"Vanka? Lo ngapain di sini?" tanya Lisa heran.

Vanka melirik Lintang yang masih diam. 

"Oh jadi, lo sama Lisa? Gue pikir lo sendiri," ucap Vanka sembari tersenyum miris.

"Gu... Gue---" Belum sempat Lintang menyelesaikan ucapannya, Lisa langung menyelanya.

"Kenapa kalau Lintang sama gue? Gak suka lo? Cemburu?" sela Lisa tersenyum miring.

"Gue duluan. Selamat bersenang-senang," pamit Vanka. Ia melirik Lintang sejenak berharap cowok itu menatapnya. Namun, Lintang sama sekali tidak menatapnya. Membuat hatinya sedikit sakit.

Ia berjalan menjauhi mereka.

Lintang hendak menyusul Vanka, namun Lisa langsung menahannya.

"Ayo pulang, Tang. Gak usah peduliin dia," ucap Lisa.

Lintang hanya mengangguk dan berjalan bersama Lisa.

****

Vanka baru saja sampai di rumahnya. Sela dan Lia tadi mengantarnya pulang.

"Vanka," panggil Lintang.

Vanka yang hendak masuk ke dalam rumah menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.

Ia cukup terkejut saat tahu kalau Lintang yang memanggilnya.

"Ngapain lo ke sini?" ketus Vanka.

"Gue cuma mau jelasin ke lo biar lo gak salah paham," ucap Lintang.

Vanka tertawa miris. "Jelasin? Gak ada yang perlu lo jelasin."

"Bisa dengerin gue dulu gak?"

"Ya udah buruan ngomong. Gue gak punya banyak waktu."

"Soal tadi, gue diminta sama Lisa buat nemenin dia belanja. Jadi, lo gak usah cemburu sama Lisa," ucap Lintang.

"Gimana gue gak cemburu? Lo aja mau nemenin dia ke mall, sedangkan gue yang minta lo nemenin gue ke toko buku aja lo gak mau."

"Ya gue gak suka ke toko buku."

"Iya gue tahu. Tapi, kalau ke mall sama Lisa mau, kan?" sindir Vanka membuat Lintang terdiam.

"Gue bingung sama lo, Tang. Sebenarnya pacar lo itu gue atau Lisa sih? Di saat gue butuh lo, lo gak pernah ada. Tapi, di saat Lisa butuh lo, lo selalu ada buat dia," lirih Vanka.

"Udah deh gak usah drama. Gitu aja marah. Lain kali, kalau lo mau ke toko buku gue temenin deh."

"Ini bukan soal lo temenin gue ke toko buku, Tang. Tapi, ini soal hubungan kita. Kita itu pacaran, tapi lo gak pernah anggap gue sebagai pacar lo."

Lintang meraih tangan Vanka membuat Vanka terkejut.

"Gue minta maaf. Udah ya jangan marah lagi," ucap Lintang sembari mencium tangan Vanka.

Hal itu membuat pipi Vanka bersemu merah. Ia merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Kenapa ia mudah luluh pada Lintang hanya karena perlakuan romantis dari cowok ini? Seketika amarahnya langsung hilang.

Vanka segera menarik tangannya dari Lintang.

"Udah sana pulang," usir Vanka.

"Gue gak mau pulang sebelum lo maafin gue," ucap Lintang.

"Apaan sih lo? Udah sana pulang."

"Maafin gue dulu baru gue pulang."

Vanka memutar bola matanya malas. 

"Oke gue maafin lo. Sekarang lo pulang."

"Kok lo ngusir gue?" tanya Lintang sedikit tidak terima karena Vanka yang mengusirnya.

"Udah sana pulang. Gue mau masuk. Masih banyak tugas yang harus gue kerjain."

Lintang tersenyum membuat Vanka menatapnya bingung.

"Kenapa lo senyam-senyum?" tanya Vanka.

"Bisa kerjain tugas gue juga gak? Kebetulan gue ada tugas Kimia. Dan, soalnya susah banget. Gue gak bisa ngerjainnya," pinta Lintang.

"Enggak! Lo kerjain aja sendiri. Emangnya gue pembantu lo apa?" Vanka langsung masuk ke dalam rumahnya.

Ia segera berlari ke dalam kamarnya.

Vanka menatap tangannya yang tadi sempat dicium oleh Lintang. Senyumnya langsung terbit. Ketika mengingat kembali kejadian tadi.

"Demi apa Lintang tadi cium tangan gue? Gila! Gue gak akan cuci tangan gue," gumamnya seraya melompat kegirangan.

******

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status