Part 5

Hari ini Lintang terlambat ke sekolah. Bukan hanya Lintang, melainkan Vanka juga.

Sebenarnya, Vanka tidak terlambat ke sekolah, tapi karena ia menunggu Lintang untuk menjemputnya jadilah ia ikut terlambat. Dan, sekarang mereka sedang menjalani hukuman mereka. Yaitu, berlari memutari lapangan sebanyak sepuluh kali.

"Capek banget," keluh Vanka.

"Lemah banget sih jadi cewek. Baru satu putaran aja udah ngeluh," ejek Lintang.

"Ih Lintang! Ini semua juga gara-gara lo tahu. Coba aja kalau lo jemput gue cepat, pasti kita gak bakal telat kayak sekarang," omel Vanka.

"Bisa diem gak lo? Salah lo sendiri, gue kan udah nyuruh lo berangkat duluan. Lo aja yang ngotot mau nunggu gue. Jadi, jangan salahin gue kalau sekarang lo dihukum," ucap Lintang masih terus berlari.

Vanka terdiam. Ia kembali berlari, tapi tidak bersuara lagi. Hal itu membuat, Lintang menoleh ke belakang memastikan apa Vanka baik-baik saja atau tidak.

"Kenapa diam?" tanya Lintang masih terus menoleh ke Vanka, hingga ia tidak menyadari kalau di depannya ada tiang. Alhasil, kepalanya membentur tiang tersebut. 

"Hahaha," tawa Vanka pecah saat itu juga.

Lintang menatap tajam ke arah Vanka. Ia mengusap-usap dahinya yang memerah.

"Makanya jadi cowok jangan cuek ke pacarnya. Kena batunya, kan?" kekeh Vanka.

"Ck! Dasar cewek nyebelin. Gara-gara lo gue kebentur."

"Ih kok malah nyalahin gue sih? Kan lo sendiri yang nabrak tiangnya."

"Pokoknya gara-gara lo. Udah jangan ngajak gue ngomong lagi."

"Dih, siapa juga yang ngajak lo ngomong sih? Kan, lo sendiri yang noleh ke gue," ucap Vanka.

"Berisik! Ngomong lagi kita putus ya?" ancam Lintang.

Vanka menghentikan larinya sejenak. Ia mencebikan bibirnya kesal.

"Ish. Hobinya ngancam putus mulu. Niat gak sih pacaran sama gue?"

Lintang berhenti sejenak kemudian membalikan badannya menghadap Vanka.

"Gak niatlah," ucap Lintang sembari tersenyum puas membuat Vanka semakin kesal.

"LINTANG NYEBELIN!"

"Kalian berdua! Lanjutin hukuman kalian! Awas saja kalau kalian berhenti, saya tambah hukumannya!" Itu adalah suara Bu Reni. Dia adalah guru BK yang terkenal paling galak di sekolah. 

"Iya Bu," ucap Vanka dan Lintang kemudian kembali berlari.

*****

Lintang dan Vanka sudah selesai menjalani hukuman mereka. Kini, mereka sedang berada di kantin. 

Vanka meneguk air mineralnya hingga sisa setengah.

"Haus Neng?" sindir Lintang.

Vanka hanya menyengir. "Haus lah. Kan habis lari gimana gak haus coba."

"Makanya, lain kali kalau gue bilang gak usah tuggutun gue, ya gak usah. Jadinya lo dihukum, kan."

Vanka hanya mengangguk.

"Iya. Gue juga gak tahu kalau kita bakal telat."

"Maaf udah buat lo dihukum," ucap Lintang.

Vanka tersenyum. Ia merasa senang karena Lintang meminta maaf padanya. Setidaknya, Lintang masih peduli padanya.

"Iya gak papa kok. Lagian, ini bukan salah lo kok. Gue juga salah."

Vanka menatap dahi Lintang yang memerah karena menabrak tiang tadi.

Ia menyentuh dahi Lintang. "Sakit ya?" tanya Vanka.

"Lumayan," jawab Lintang singkat.

"Gue ambil es batu dulu, ya. Biar gue kompresin takutnya malah bengkak," ucap Vanka yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Lintang.

Vanka berjalan ke pedagang dan meminta beberapa es batu. Setelahnya, ia kembali ke Lintang.

"Ya ampun Lintang! Ini kenapa dahi Lo merah gini? Siapa yang udah bikin dahi lo merah kayak gini?" tanya Lisa khawatir.

"Em, gue gak papa kok," jawab Lintang.

Vanka yang melihatnya merasa tidak suka. Ia segera menggeser Lisa dan duduk di samping Lintang.

"Tang, sini gue kompresin dahi lo," ucap Vanka. Baru saja ia ingin mengambil plastik berisi es batu yang ia taruh di meja, Lisa sudah mengambilnya duluan.

"Lisa! Siniin es barunya!" titah Vanka.

"Enggak. Udah lo minggir aja. Biar gue yang kompresin Lintang." Lisa mendorong Vanka hingga gadis itu terjatuh. Ia langsung duduk di samping Lintang dan mengompresi dahi Lintang.

Vanka berdecak sebal. Berani-beraninya Lisa mendorongnya dan sengaja mencari kesempatan untuk dekat dengan Lintang.

"Van, lo gak papa, kan?" tanya seorang cowok. Ia membantu Vanka bangkit berdiri.

"Makasih Dean," ucap Vanka.

"Sama-sama, Van."

Dean Pradipta adalah cowok yang cukup terkenal di sekolah selain Lintang. Banyak gadis yang tergila-gila padanya, tapi ia masih di bawah Lintang. Lintang lebih populer di sekolah ini. Itulah kenapa Vanka sangat tergila-gila dengan Lintang.

Dean memang menyukai Vanka, ia bahkan pernah menyatakan perasaannya pada Vanka, namun gadis itu menolaknya dengan alasan tidak ingin berpacaran. Tapi, ia kecewa begitu mendengar kalau Vanka menerima Lintang menjadi pacarnya.

"Lo belum makan?" tanya Dean pada Vanka.

"Belum."

"Ya udah, kita beli makanan yuk. Daripada lo nungguin Lintang. Dia kan lagi diobatin sama Lisa," ucap Dean sembari melirik Lintang yang juga sedang menatapnya.

"Em, gue---"

Belum sempat Vanka menyelesaikan ucapannya, Lintang langsung bangkit dan menarik Vanka menjauh dari cowok itu.

"Jangan ganggu cewek gue!" ketus Lintang.

Dean tersenyum miring.

"Sorry bro. Gue bukannya mau ganggu cewek lo. Tapi, gue cuma kasihan aja sama dia. Pasti dia kesel liat cowoknya mesra-mesraan sama cewek lain," ucap Dean.

"Maksud lo apa ngomong gitu hah? Lo gak berhak ngurusin urusan gue!" 

"Santai dong. Gue cuma kasih tahu aja. Kalau lo sia-siain cewek lo, mendingan lo putusin aja deh." Setelah berucap demikian, ia langsung pergi.

Vanka menatap wajah Lintang yang memerah menahan amarah.

"Udah Tang. Lo duduk dulu, ya." Vanka membawa Lintang untuk duduk di bangku. Lisa yang dari tadi diam, menatap mereka tidak suka.

"Lo sengaja mau cari perhatian sama dia, hah?" ketus Lintang.

"Kok lo ngomong gitu sih? Gue kan tadi jatuh karena Lisa. Dean cuma nolongin gue," ucap Vanka membela diri.

"Gak usah salahin Lisa deh. Jelas-jelas lo sengaja jatuh kan biar Dean nolongin lo? Dasar cewek suka cari perhatian! Kalau lo udah gak mau pacaran sama gue ya bilang! Jangan malah cari perhatian sama cowok lain!" omel Lintang.

Vanka membulatkan kedua matanya. Kenapa Lintang jadi marah-marah padanya? Dan, kenapa Lintang menyebutnya cewek suka cari perhatian? 

"Kok lo ngomong gitu sih sama gue? Gue kan udah jelasin ke lo."

"Udah deh, gak usah masang wajah gak bersalah kayak gitu. Gak mempan tahu gak."

"Ayo Lis, kita ke kelas aja. Malas gue liat muka cewek suka cari perhatian kayak dia," ucap Lintang kemudian meraih tangan Lisa dan keluar dari kantin.

"Kenapa Lintang jadi marah sama gue sih? Padahal, gue gak salah," lirihnya.

****

"Tang, lo kenapa sih marah sama Vanka sampai segitunya? Lo cemburu sama dia?" tanya Lisa sedikit tidak suka.

Ia merasa Lintang tadi cemburu pada Vanka dan Dean.

"Cemburu? Ya enggaklah. Buat apa juga gue cemburu sama dia," elak Lintang.

"Bagus deh kalau lo gak suka sama dia. Gue masih nunggu lo, Tang."

Lintang terdiam. Apa benar ia cemburu pada Vanka? Lintang menggelengkan kepalanya cepat. Tidak mungkin ia cemburu. Ia pasti hanya sedang kesal pada Vanka. Hanya itu.

************

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status